Nutri-level: Melindungi Konsumen, Menyehatkan Masyarakat, Mendukung Dunia Usaha

12

Penulis: Sri Mardikani Nugraha (Adminkes Ahli Madya Pusat Kebijakan Sistem Ketahanan Kesehatan BKPK Kemenkes)

Saat kita menelusuri aplikasi pesan-antar makanan di layar ponsel atau menatap papan menu bercahaya di restoran cepat saji, pandangan kita dibanjiri oleh foto-foto hidangan yang menggugah selera dan penawaran promo yang memikat. Namun, di balik kemudahan dan daya tarik visual tersebut, tersembunyi sebuah realitas epidemiologis yang mengkhawatirkan yaitu lonjakan tajam Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti diabetes, hipertensi, dan obesitas yang bermuara pada perubahan gaya hidup, khususnya tingginya konsumsi makanan dan minuman yang tinggi kandungan Gula, Garam dan Lemak (GGL). 

Jika makanan kemasan yang dijual di swalayan wajib mencantumkan Informasi Nilai Gizi (ING), kondisi berbeda sering ditemukan pada makanan dan minuman siap saji. Banyak konsumen tidak mengetahui berapa banyak gula dalam segelas kopi susu kekinian, atau berapa kadar garam dan lemak jenuh dalam seporsi ayam goreng krispi yang mereka pesan. Akibatnya, konsumen harus membuat keputusan tanpa informasi gizi yang memadai.

Tantangan ini menjadi semakin besar karena keputusan membeli makanan di restoran, gerai cepat saji, atau aplikasi pesan antar biasanya dilakukan dengan cepat, sering kali saat seseorang sedang lapar atau terburu-buru. Dalam situasi seperti ini, informasi gizi yang mudah dilihat dan dipahami menjadi sangat penting untuk membantu konsumen membuat pilihan yang lebih sehat.

Di sinilah nutri-level berperan. Melalui sistem pelabelan yang sederhana dan mudah dipahami, informasi gizi ditampilkan langsung pada saat konsumen memilih makanan atau minuman. Tujuannya bukan membuat masyarakat harus menghitung kalori atau memahami perhitungan gizi yang rumit. Sebaliknya, nutri-level menyederhanakan informasi tersebut menjadi panduan visual yang cepat dan mudah dipahami.

Misalnya, sebuah menu dapat diberi penanda warna atau kategori tertentu yang menunjukkan kualitas gizinya. Dengan cara ini, konsumen dapat segera mengenali pilihan yang lebih sehat tanpa harus membaca tabel gizi yang panjang. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa penyajian informasi gizi yang sederhana dan mudah dipahami dapat membantu konsumen memilih makanan yang lebih sehat dan mengurangi konsumsi kalori berlebih.

Kebijakan Nutri-Level di Indonesia

Di Indonesia, penerapan nutri-level dilakukan melalui dua jalur regulasi yang saling melengkapi dengan pembagian kewenangan yang jelas. Untuk pangan olahan kemasan, pengaturannya menjadi tanggung jawab Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Sementara itu, Kementerian Kesehatan bertanggung jawab mengatur pangan olahan siap saji, yaitu makanan dan minuman yang disiapkan dan langsung disajikan kepada konsumen, seperti yang dijual di restoran, kafe, gerai minuman, food court, maupun melalui platform pesan antar.

Baca Juga  Curcumin, Aman Dikonsumsi Saat Pandemi Covid-19

Langkah penting dalam upaya ini ditandai dengan terbitnya Keputusan Menteri Kesehatan (KMK) Nomor HK.01.07/MENKES/301/2026 pada 14 April 2026 tentang Pencantuman Label Gizi dan Pesan Kesehatan pada Pangan Siap Saji. Kebijakan ini merupakan tindak lanjut dari amanat Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024 sebagai aturan pelaksana Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan, yang mengatur pengendalian konsumsi GGL melalui penyediaan informasi gizi dan pesan kesehatan pada pangan siap saji.

Melalui kebijakan ini, masyarakat diharapkan dapat memperoleh informasi yang lebih jelas mengenai kandungan gizi makanan dan minuman yang akan dikonsumsi. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan bahwa tujuan utama kebijakan tersebut adalah membantu masyarakat mengurangi konsumsi GGL secara berlebihan sehingga dapat menurunkan risiko obesitas, hipertensi, penyakit jantung dan pembuluh darah, stroke, serta diabetes tipe 2.

Sistem Empat Level: Sederhana, Ilmiah, Tidak Bisa Dimanipulasi

Sistem nutri-level dirancang sejalan dengan berbagai model pelabelan gizi yang telah diterapkan di berbagai negara, seperti Nutri-Grade di Singapura dan Nutri-Score di sejumlah negara Eropa. Nutri-level membagi kandungan GGL pada makanan/minuman ke dalam empat tingkatan, yaitu A, B, C, dan D, yang ditampilkan dengan kode warna sederhana agar mudah dikenali masyarakat. Level A berwarna hijau tua menunjukkan kandungan GGL paling rendah, diikuti Level B berwarna hijau muda, Level C berwarna kuning, dan Level D berwarna merah yang menandakan kandungan GGL paling tinggi. Pencantuman nutri-level disertai dengan informasi jumlah GGL yang persentase kandungannya paling tinggi.

Pada kemasan atau pada menu, konsumen akan melihat salah satu huruf (A, B, C, atau D) yang ditonjolkan. Huruf tersebut mencerminkan kandungan gula total (tidak termasuk laktosa), garam (dihitung dari kandungan natriumnya), dan lemak jenuh yang persentasenya paling tinggi dalam produk tersebut. Dengan demikian, masyarakat dapat mengetahui tingkat kesehatan suatu minuman hanya dalam beberapa detik tanpa perlu membaca informasi gizi yang lebih rinci.

Sebagai panduan, setiap level memiliki makna yang berbeda. Minuman dengan Level A merupakan pilihan yang lebih sehat, sedangkan Level B masih tergolong cukup sehat untuk dikonsumsi. Sementara itu, produk dengan Level C perlu dikonsumsi secara lebih bijak, dan produk dengan Level D sebaiknya dibatasi karena mengandung gula, garam, atau lemak jenuh dalam jumlah yang lebih tinggi. Melalui informasi yang sederhana, jelas, dan mudah dipahami, nutri-level diharapkan dapat membantu masyarakat membuat pilihan minuman yang lebih sehat dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga  Komunikasi Kesehatan Berbasis Data Dalam Psikologi Publik

Nutri-Level: Hak Konsumen atas Informasi Gizi

Penerapan nutri-level di restoran, kafe, dan layanan pesan-antar makanan pada dasarnya adalah upaya memberikan hak yang sama kepada semua konsumen untuk memperoleh informasi kesehatan. Selama ini, informasi rinci mengenai kandungan gizi makanan sering kali hanya diketahui oleh produsen atau pelaku usaha. Akibatnya, konsumen harus mengambil keputusan dengan informasi yang terbatas.

Padahal, pola makan masyarakat telah banyak berubah. Makan di luar rumah atau memesan makanan secara online kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, terutama di wilayah perkotaan. Dalam situasi yang serba cepat tersebut, konsumen membutuhkan informasi yang praktis dan mudah dipahami. Dengan adanya nutri-level pada menu, masyarakat dapat lebih mudah membandingkan pilihan makanan sebelum membeli. Seorang pekerja yang sedang terburu-buru, misalnya, tetap dapat memperoleh petunjuk sederhana untuk memilih menu yang lebih sehat. 

Penelitian menunjukkan bahwa pelabelan gizi pada menu dapat memengaruhi pilihan konsumen ke arah yang lebih baik dan mendorong pola konsumsi yang lebih sehat. Selain memberikan manfaat bagi individu, langkah ini juga berpotensi mengurangi beban penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung. Dari sudut pandang kebijakan publik, upaya pencegahan semacam ini jauh lebih efektif dan efisien dibandingkan harus menanggung biaya pengobatan komplikasi penyakit di masa depan.

Bukti Sains: Bagaimana Nutri-Level Melindungi Kita?

Apakah menempelkan label sederhana ini benar-benar efektif meredam diabetes dan hipertensi? Bukti empiris dari berbagai literatur bereputasi internasional menjawab: ya.

Pertama, nutri-level memicu perubahan perilaku instan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa label gizi di bagian depan kemasan membantu konsumen dari berbagai latar belakang sosial dan ekonomi memahami kualitas gizi suatu produk dengan lebih cepat dibandingkan label informasi nilai gizi konvensional. Saat memilih produk, label ini juga menimbulkan kecenderungan konsumen untuk menghindari produk yang mendapat penilaian gizi kurang baik (fenomena yang dikenal sebagai loss aversion) dan beralih ke pilihan yang lebih sehat.

Kedua, kebijakan ini mendorong industri untuk melakukan reformulasi produk.  Berbagai studi menunjukkan bahwa pelabelan gizi di bagian depan kemasan tidak hanya membantu konsumen memilih produk yang lebih sehat, tetapi juga mendorong produsen untuk memperbaiki kandungan gizi produknya agar lebih kompetitif di pasar. Produsen makanan tidak ingin produk mereka dicap “tidak sehat” di rak swalayan. Dampaknya, sebelum aturan ini berlaku sepenuhnya, banyak perusahaan telah memperbaiki formulasi produknya dengan mengurangi kandungan gula dan garam agar mendapatkan nilai Nutri-Level yang lebih baik.

Baca Juga  MENGAKHIRI TUBERKULOSIS: ANTARA BEBAN NYATA, UJIAN SISTEM, DAN KEPUTUSAN YANG TIDAK BISA DITUNDA

Mendorong Inovasi Industri 

Sebagian pelaku usaha mungkin khawatir bahwa pelabelan gizi akan menambah beban operasional atau mengurangi minat konsumen terhadap produk mereka. Namun pengalaman di berbagai negara menunjukkan bahwa transparansi informasi justru dapat menjadi pendorong inovasi. Sebuah studi di Meksiko yang mengamati kebijakan pelabelan di bagian depan kemasan (front-of-pack labeling) menemukan adanya penurunan signifikan pada penjualan produk tinggi GGL dan kalori. Lebih dari itu, kebijakan ini mendorong reformulasi produk, yang ditandai dengan peningkatan penjualan minimal 5% pada makanan yang telah direformulasi menjadi lebih sehat. Pola keberhasilan serupa terekam jelas di Singapura, penjualan minuman grade A dan B melonjak dari 37% menjadi 71% dari total penjualan minuman.

Ketika konsumen mulai memperhatikan kandungan gizi makanan, pelaku usaha akan terdorong untuk menghadirkan produk yang lebih sehat tanpa mengurangi cita rasa. Kafe dapat menawarkan minuman dengan kadar gula yang lebih seimbang. Restoran dapat mengembangkan pilihan menu yang lebih kaya serat, lebih rendah garam, atau menggunakan bahan baku yang lebih sehat.

Dengan demikian, persaingan tidak lagi hanya berfokus pada rasa, ukuran porsi, atau promosi harga, tetapi juga pada kualitas gizi produk yang ditawarkan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menilai bahwa penyediaan informasi gizi yang jelas kepada konsumen merupakan salah satu strategi penting untuk menciptakan lingkungan pangan yang lebih sehat dan mendukung pencegahan penyakit tidak menular.

Menjaga Kesehatan Masyarakat dan Mendukung Dunia Usaha

Kesehatan masyarakat dan pertumbuhan industri makanan bukanlah dua tujuan yang saling bertentangan. Keduanya justru dapat berjalan beriringan. Nutri-level membantu konsumen memperoleh informasi yang mereka butuhkan untuk membuat pilihan yang lebih baik, sekaligus mendorong industri untuk terus berinovasi menghasilkan produk yang lebih sehat.

Pada akhirnya, masyarakat yang lebih sehat akan memiliki kualitas hidup yang lebih baik, produktivitas yang lebih tinggi, dan daya beli yang lebih kuat. Kondisi ini juga akan memberikan manfaat jangka panjang bagi dunia usaha. Karena itu, Nutri-level bukan sekadar label pada menu, melainkan investasi bersama untuk menciptakan masyarakat yang lebih sehat dan sistem pangan yang lebih berkualitas.