SINERGI GERMAS DAN MANASIK FISIK JEMAAH HAJI

3

Penulis: Dr. Syahrul Aminullah,.SKM,. M.Si. (Analis Kebijakan Ahli Madya, BKPK Kemenkes RI)

Ibadah haji sering kali dimaknai sebagai puncak perjalanan spiritual seorang Muslim. Namun, di balik kekhusyukan doa di depan Baitullah atau keheningan wukuf di Arafah, terselip sebuah kenyataan fisik yang tak terelakkan.

Ibadah haji adalah terkandung ibadah fisik (al-ibadah al-badaniyah). Tanpa persiapan raga yang prima, kekhusyukan bisa dengan mudah tergerus oleh rasa lelah yang luar biasa. Di sinilah letak urgensi menyinergikan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) dengan persiapan manasik fisik jemaah.

Menakar “Maraton” Spiritual di Tanah Suci

Statistik perjalanan fisik selama fase puncak haji sesungguhnya menyerupai lari maraton yang dilakukan selama berhari-hari. Berdasarkan simulasi jarak, seorang jemaah haji setidaknya harus menempuh jarak kumulatif minimal 33,65 kilometer. Angka ini merupakan akumulasi dari pilar-pilar utama ibadah yang meliputi Thawaf, ibadah mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh putaran menempuh jarak sekitar 3,5 kilometer, tergantung pada kepadatan dan radius putaran.

Sa’i, ritual berjalan dan berlari-lari kecil antara Bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali mencakup jarak sekitar 3,15 kilometer.

Lempar Jumrah ibadah fase terberat. Perjalanan dari tenda di Mina menuju Jamarat pulang-pergi selama tiga hingga empat hari bisa mencapai total 27 kilometer. Angka-angka tersebut hanyalah estimasi moderat.  Tergantung pada letak penginapan (maktab) dan kondisi arus lalu lintas manusia. Beberapa sumber mencatat jemaah bisa berjalan hingga 63 kilometer. Bagi masyarakat urban yang terbiasa dengan gaya hidup sedenter, dengan lebih banyak duduk di depan layer komputer, jarak ini adalah tantangan fisik yang nyata.

Baca Juga  Curcumin, Aman Dikonsumsi Saat Pandemi Covid-19

Mandat Negara Membudayakan Aktivitas Fisik

Kesadaran akan pentingnya ketahanan fisik ini bukan lagi sekadar urusan personal jemaah, melainkan telah menjadi perhatian serius negara. Sebagai upaya preventif menjaga kesehatan masyarakat, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan telah mengeluarkan Surat Edaran No. PR.01.01/A/2952/2025 tanggal 27 Juli 2025.

Surat yang ditujukan kepada Dinas Kesehatan Provinsi/Kab/Kota di seluruh Indonesia tersebut menginstruksikan penguatan budaya Germas dengan indikator penduduk dengan aktifitas fisik cukup terbingkai pada Rencana Induk Bidang Kesehatan (RIBK) 2025-2029 dalam RPJMD. 

Intinya adalah ajakan bagi masyarakat untuk melakukan aktivitas fisik yang cukup sebagai fondasi kesehatan bangsa. Dalam konteks haji, kebijakan ini menjadi payung hukum bagi “manasik fisik”. 

Berjalan kaki harus menjadi budaya harian, bukan sekadar latihan dadakan menjelang keberangkatan. Sinergi antara instruksi Germas dan persiapan haji memastikan jemaah berangkat dalam kondisi “siap tempur” secara fisiologis.

Baca Juga  Kurang Bergerak, Ancaman Tersembunyi Kesehatan Indonesia

Menjemput Kesempurnaan Melalui Langkah Kaki

Mengapa latihan jalan kaki di tanah air menjadi “jalan penyempurnaan”? Jawabannya terletak pada manajemen energi. Ketika fisik sudah terlatih melalui kebiasaan Germas, jemaah tidak lagi disibukkan oleh keluhan otot kaki yang kram atau napas yang tersengal-sengal di tengah prosesi ibadah. Dengan raga yang tangguh, fokus pikiran dapat sepenuhnya dicurahkan pada zikir dan perenungan.

Berlatih jalan kaki di tanah air minimal 3-6 bulan sebelum keberangkatan adalah bentuk ikhtiar memenuhi perintah agama untuk mempersiapkan bekal terbaik. Bekal bukan hanya soal materi, tapi juga kekuatan fisik untuk melaksanakan rukun haji secara mandiri tanpa membebani orang lain atau petugas lapangan yang sudah memikul tanggung jawab besar.

Strategi “Manasik Fisik” di Tanah Air

Persiapan ini harus dilakukan secara terukur. Jemaah disarankan mulai rutin berjalan kaki di pagi hari, minimal 30 menit setiap hari, dan secara bertahap meningkatkan jaraknya hingga menyerupai simulasi jarak di Mina. 

Baca Juga  Vaksin Covid19, Tiket Menuju Kehidupan Normal

Menggunakan sepatu yang akan dibawa ke Tanah Suci saat berlatih juga sangat disarankan untuk menghindari lecet akibat proses adaptasi alat kaki yang baru.

Selain itu, perlu diingat bahwa suhu di Arab Saudi jauh lebih ekstrem. Latihan fisik di tanah air juga harus dibarengi dengan kebiasaan manajemen hidrasi yang baik, sesuai dengan prinsip Germas untuk menjaga asupan nutrisi dan cairan tubuh guna mencegah dehidrasi panas (heat stroke).

Ketika Raga kita menjadi terlatih dan Kuat, nawaitu menjadikan Ibadah haji yang Mabrur. Dimana ritual ibadah haji adalah undangan Tuhan yang menuntut totalitas. Menyiapkan kaki untuk menapaki jalan-jalan di Mekkah dan Mina adalah bentuk penghormatan kita terhadap undangan tersebut. Kebijakan pemerintah melalui RIBK 2025-2029 menjadi penguat bahwa ketahanan fisik adalah pondasi bagi kelancaran ibadah.

Jangan biarkan perjalanan suci ini terganggu oleh ketidaksiapan fisik yang sebenarnya bisa diantisipasi. Mari jadikan setiap langkah kaki kita di trotoar Indonesia sebagai investasi spiritual untuk menyempurnakan ibadah. Sinergi antara kedisiplinan diri dalam beraktivitas fisik dan ketaatan pada panduan kesehatan pemerintah adalah langkah awal yang nyata menuju haji yang mabrur.