web analytics
Header Ads
Beranda Blog Halaman 24

Keanekaragaman Hayati Aset Berharga Indonesia

Penulis Apt. Amalia Vidhiyanti, S.Farm & Fachrudin Ali Ahmad, S.Sos.,MKM

Indonesia merupakan pusat kekayaan alam dan sumber biodiversitas dunia. Negara dengan keanekaragaman hayati yang sangat kaya, memiliki ribuan spesies tanaman yang telah digunakan secara tradisional sebagai obat-obatan.

Secara umum, tercatat bahwa Indonesia memiliki lebih dari 30.000 spesies tanaman, dan dari jumlah tersebut, sekitar 9.600 spesies diketahui memiliki nilai ekonomi dan kegunaan, termasuk sebagai tanaman obat.

Menurut beberapa sumber dan penelitian, diperkirakan sekitar 6.000 sampai 7.000 spesies dari tanaman di Indonesia digunakan dalam pengobatan tradisional untuk mengobati berbagai penyakit.

Di Indonesia, ada beberapa contoh tanaman obat yang efektif untuk pencegahan penyakit melalui upaya preventif, promotif serta kuratif. Sebagaimana yang terdapat dalam buku Vademekum Tanaman Obat Untuk Saintifikasi Jamu Jilid 1 dan 2, beberapa tanaman obat tersebut sebagai berikut :

  1. Herba Sambiloto (Andrographis paniculata Burm.f. Nees) berkhasiat meredakan demam, pengobatan diare akut, dan berfungsi sebagai imunostimulan
  2. Kulit batang Pule (Alstonia scholaris (L) R.Br) digunakan untuk pengobatan diabetes melitus, analgesik, dan antipiretik
  3. Daun dan herba Seledri berkhasiat untuk diuretik, peluruh batu ginjal, anti asam urat, penurun kolesterol, anti mikroba dan parasit serta anti hipertensi
  4. Daun dan herba Pegagan (Centella asiatica (L) Urban) berkhasiat untuk antihipertensi, antistres, antikoagulan, dan anti keloid
  5. Rimpang Kunyit (Curcuma domestica Val.) berkhasiat untuk hepatoprotektor, antihiperlipidemia, antihiperkolesterolemia, nyeri sendi dan tulang
  6. Rimpang Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) berkhasiat untuk hepatoprotektor
  7. Daun Jati Belanda (Guazuma ulmifolia Lamk.) berkhasiat sebagai pelangsing sedangkan bijinya untuk gangguan pencernaan
  8. Daun Kumis Kucing (Orthosiphon aristatus (Thunb.) B.B.S non Bth.) berkhasiat untuk diuretik, peluruh batu ginjal, dan encok
  9. Herba Meniran (Phyllanthus niruri L.) berkhasiat untuk diuretik, anti radang, pelindung hati, pereda demam, dan meningkatkan daya tahan tubuh
  10. Herba Daun Sendok (Plantago mayor L.) berkhasiat sebagai penyembuh luka, anti diare, diuretik, anti piretik, antiinflamasi, analgesik dan anti oksidan sedangkan bijinya berfungsi sebagai laksatif, antiinflamasi dan karminatif
  11. Daun Tempuyung (Sonchus arvensis L.) berkhasiat untuk diuretik dan urolitiasis
  12. Batang Brotowali (Tinospora crispa (L) Miers ex Hook. F.& Thoms) berkhasiat untuk anti diabetes
  13. Kayu Secang (Caesalpinia sappan L.) berkhasiat untuk pengobatan nyeri sendi, diare, radang mata, dan asam urat
  14. Rimpang Teki (Cyperus rotundus L.) berkhasiat untuk alergi, radang, dan nyeri
  15. Herba Rumput Bolong (Equisetum debile Roxb. Ex Vauch) berkhasiat untuk demam, nyeri sendi, air seni kurang lancar, luka pada patah tulang
  16. Rimpang dan daun alang-alang (Imperata cylindrica (L) raeuschel) berkhasiat untuk peluruh air seni, hepatoprotektor, dan anti hipertensi
  17. Bunga Kamilen (Matricaria chamomilla L.) berkhasiat untuk dispepsia, antiinflamasi, antiinfeksi, dan anti diabetes
  18. Ekinase (Rudbeckia purpurea L.) berkhasiat untuk meningkatkan daya tahan tubuh
  19. Daun Salam (Syzygium polyanthum (Wight) Walp.) berkhasiat untuk mengobati mencret, kencing manis, dan astringen
  20. Daun dan bunga Timi (Thymus vulgaris L.) berkhasiat untuk obat batuk dan anti jamur

Kelebihan penggunaan tanaman obat dan obat tradisional antara lain efek sampingnya relatif kecil jika digunakan secara tepat, komponen dalam satu bahan memiliki efek saling mendukung, pada satu tanaman obat memiliki beberapa efek farmakologi, serta lebih sesuai untuk penyakit-penyakit metabolik degeneratif. Kelemahan dalam penggunaannya antara lain efek farmakologisnya lemah, bahan baku belum terstandar dan bersifat higroskopis serta volumines, belum dilakukan uji klinik dan mudah tercemar berbagai jenis mikro organisme (B2P2TOOT, 2008).

Penggunaan Obat Tradisional Secara Tepat

Sari dalam Jurnal Majalah Ilmu Kefarmasian Volume III Nomor 1 (2006) menambahkan efek samping obat tradisional relatif kecil jika digunakan secara tepat. Tepat meliputi :

  1. Kebenaran bahan
    Tanaman obat sangat beragam dan terdiri dari berbagai spesies termasuk di Indonesia. Masing-masing spesies kadang sulit dibedakan satu sama lain. Ada tanaman obat yang memiliki kesamaan bentuk namun memiliki khasiat yang berbeda. Penentuan bahan yang benar sangat menentukan ketercapaian efek terapi. Seperti pada tanaman lempuyang yang terdiri dari lempuyang emprit (Zingiber amaricans) dan lempuyang gajah (Zingiber zerumbet) yang berkhasiat sebagai penambah nafsu makan namun ternyata berbeda dengan lempuyang wangi (Zingiber aromaticum) yang berkhasiat sebagai pelangsing.
  2. Ketepatan dosis
    Penggunaan tanaman obat secara berlebihan dan tidak sesuai takaran malah bisa dapat membahayakan dan menjadikannya racun. Karena sifat tanaman obat memiliki kandungan senyawa aktif yang hampir sama dengan obat kimia. Penggunaan tanaman obat harus mengacu pada ketepatan dosis pemakaian yang diharapkan didukung dari hasil riset sehingga berkhasiat sebagai obat dan tidak berfungsi menjadi racun yang membahayakan.
  3. Ketepatan waktu penggunaan
    Ketepatan waktu penggunaan sangat menentukan efek terapi dari penggunaan tanaman obat. Sebagai contoh kunir asam sangat baik dikonsumsi saat datang bulan (Sastroamidjojo S, 2001). Akan tetapi jika diminum pada awal masa kehamilan beresiko menyebabkan keguguran.
  4. Ketepatan cara penggunaan
    Tanaman obat diketahui memiliki banyak zat aktif yang memiliki khasiat tertentu. Masing-masing zat aktif tersebut membutuhkan perlakuan yang berbeda. Ketidaktepatan penggunaannya dapat menjadikan sebagai racun. Sebagai contoh kecubung jika dihisap seperti rokok dapat digunakan sebagai obat asma tetapi jika diseduh dan diminum dapat menyebabkan keracunan/mabuk (Patterson S, dan O’Hagan D., 2002).
  5. Ketepatan telaah informasi
    Penggunaan tanaman obat harus didukung oleh hasil riset dan diharapkan dapat di sosialisasikan secara tepat kepada pihak-pihak terkait. Informasi yang salah mengenai khasiat dan penggunaan tanaman obat dapat membahayakan bagi yang memakainya sekaligus menimbulkan efek samping yang berbahaya.
  6. Tanpa penyalahgunaan
    Penggunaan tanaman obat relatif mudah dilakukan karena tidak harus mempersyaratkan resep dokter. Apalagi banyak tanaman obat yang mudah ditemui di sekitar rumah. Pemanfaatannya dalam bentuk jamu relatif mudah, apalagi jamu yang di jual bebas di masyarakat. Penggunaan jamu maupun tanaman obat yang tidak disertai pengetahuan yang cukup dapat mengakibatkan penyalahgunaan yang dapat menimbulkan efek yang membahayakan. Seperti Jamu peluntur untuk terlambat bulan sering disalahgunakan untuk pengguguran kandungan. Resiko yang terjadi adalah bayi lahir cacat, ibu menjadi infertil, terjadi infeksi bahkan mengakibatkan kematian.
  7. Ketepatan pemilihan obat untuk indikasi tertentu
    Satu jenis tanaman obat memiliki beberapa zat aktif yang berkhasiat mengobati satu atau beberapa penyakit. Tingkat keberhasilan terapi maupun efek samping yang ditimbulkan harus diperhatikan dalam pemilihan jenis tanaman obat.

Keanekaragaman hayati Indonesia adalah aset global yang berharga. Pelestarian kekayaan alam ini tidak hanya penting untuk menjaga keseimbangan ekologis tetapi juga mendukung keberlangsungan hidup masyarakat lokal dan menghadirkan peluang ekonomi melalui pariwisata dan pemanfaatan sumber daya alam yang berkelanjutan. Salah satunya bahan alternatif mendukung obat asli Indonesia.

Sumber Foto Canva

Pengukuran IKK untuk Tingkatkan Efektivitas dan Akuntabilitas Kebijakan Kesehatan Indonesia

Jakarta – Kualitas kebijakan kesehatan memiliki peran krusial dalam menentukan arah pembangunan kesehatan nasional. Sebuah kebijakan yang baik tidak hanya harus berbasis data dan bukti ilmiah, tetapi juga harus mampu diimplementasikan secara efektif serta memberikan dampak yang nyata bagi kesejahteraan masyarakat. 

Demikian disampaikan Kepala Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Asnawi Abdullah saat memberikan sambutan pada acara Lokakarya Pengukuran Indeks Kualitas Kebijakan (IKK) yang diselenggarakan secara daring pada Senin (3/3) di Jakarta. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai persiapan pengukuran IKK Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tahun 2025 serta untuk verifikasi regulasi calon populasi pengukuran IKK 2025.

Dijelaskan Asnawi bahwa upaya memperbaiki kualitas kebijakan hingga saat ini sudah banyak dilakukan di semua sektor pembangunan. Salah satunya adalah dengan diterbitkannya Instruksi Presiden (Inpres) Nomer 7 Tahun 2017 yang menyebutkan bahwa dalam proses perumusan kebijakan harus disertai analisa dampak kebijakan termasuk analisa resiko dan juga dilakukan konsultasi publik sesuai peraturan perundang-undangan. 

“Pengukuran IKK menjadi instrumen yang sangat penting dalam menilai sejauh mana kebijakan yang telah dibuat dapat memenuhi standar kualitas yang optimal. IKK sebagai instrumen untuk mengukur kualitas proses yang semestinya dilalui dalam setiap penyusunan kebijakan, mulai dari tahap agenda setting, formulasi, implementasi, hingga evaluasi,” ujar Asnawi.

Asnawi juga menjelaskan bahwa acara ini menjadi momentum penting dalam upaya meningkatkan efektivitas dan akuntabilitas kebijakan kesehatan di Indonesia serta sebagai salah satu indikator pencapaian reformasi birokrasi nasional.

“Saya berharap kegiatan ini dapat menjadi wadah bagi kita semua untuk berbagi gagasan, pengalaman, dan solusi guna memperkuat sistem kebijakan kesehatan di Indonesia,” tutur Asnawi.

Senada dengan Asnawi, Sekretaris BKPK Etik Retno Wiyati juga menjelaskan bahwa IKK menjadi indikator salah satu komponen untuk mengukur tercapainya Sasaran Strategis I Reformasi Birokrasi yaitu terciptanya tata kelola pemerintah digital yang efektif, lincah dan kolaboratif, yang akan melibatkan seluruh unit utama pemrakarsa kebijakan di lingkungan Kemenkes.

Etik mengatakan tahun 2025 merupakan tahun keempat Kemenkes turut serta dalam pengukuran IKK yang difasilitasi oleh Pusat Pengembangan Analis Kebijakan Lembaga Administrasi Negara (Pusaka LAN). Kemenkes telah melaksanakan pengukuran IKK setiap tahun mulai tahun 2022 dengan nilai 67,37 (baik), tahun 2023 dengan nilai 82,90 (sangat baik) dan tahun 2024 dengan nilai 89,98 (sangat baik).“Kami mengharapkan masukan dan saran dari Bapak/Ibu terutama dari unit utama pemrakarsa regulasi untuk peningkatan IKK tahun 2025. Agar kualitas kebijakan di tahun 2025 tetap baik, pengukuran dan kondisinya perlu disesuaikan juga dengan berbagai perubahan baru.” ujar Etik.

Lokakarya IKK menghadirkan narasumber dari Pusaka LAN yang membawakan materi Evaluasi Hasil Pengukuran IKK Kemenkes 2024 dan Strategi Peningkatan Kualitas Kebijakan Kemenkes 2025, Biro Organisasi dan Sumber Daya Manusia Kemenkes yang membawakan materi tentang Strategi Penguatan Kualitas Kebijakan Kemenkes 2025 dari Perspektif Reformasi Birokrasi, Biro Hukum Kemenkes yang membawakan materi tentang Tata Cara Penyusunan Regulasi di Lingkungan Kementerian Kesehatan serta Direktur Kesehatan Lingkungan yang memaparkan Lesson Learned Pengukuran IKK 2024 Predikat Unggul: Peraturan Menteri Kesehatan No.2/2023 Tentang Peraturan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2014 tentang Kesehatan Lingkungan. (Penulis: Kurniatun Karomah,  Editor: Timker HDI)

Serah Terima Jabatan Kepala Paskal: Harditya Suryawanto Resmi Gantikan Bonanza P. Taihitu

Jakarta – Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kementerian Kesehatan menggelar acara serah terima jabatan Kepala Pusat Kebijakan Strategi dan Tata Kelola Kesehatan Global (Paskal) pada Rabu (26/2) secara daring. Acara ini menandai peralihan kepemimpinan dari Bonanza P. Taihitu, S.Sos, M.Si., kepada Harditya Suryawanto, SH, LLM.

Dalam sambutannya, Plt. Kepala Paskal sebelumnya, Bonanza P. Taihitu, mengungkapkan “rasa syukur dan haru setelah hampir tiga tahun mengemban amanah di Paskal”. Ia juga menyampaikan apresiasi atas dukungan dari seluruh jajaran BKPK dan berharap agar kepemimpinan baru dapat membawa Paskal ke arah yang lebih baik​.

Sementara itu, Kepala Paskal  yang baru, Harditya Suryawanto, menyampaikan rasa hormat dan terima kasih kepada Bonanza atas kontribusi dan dedikasinya selama ini. Ia menegaskan komitmennya untuk melanjutkan program yang telah dirintis serta memperkuat inovasi guna mendukung kebijakan strategis di bidang kesehatan global​.

Dalam sambutan dan arahannya, Kepala BKPK, Asnawi Abdullah, menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada Bonanza atas dedikasinya selama hampir tiga tahun memimpin Paskal sejak 14 April 2022 hingga 13 Februari 2025. Ia berharap Bonanza dapat terus berkontribusi dalam kapasitas barunya sebagai Staf Ahli Menteri Bidang Politik dan Kesehatan Global.

Sementara itu, Harditya Suryawanto yang resmi dilantik pada 13 Februari 2025 diharapkan dapat segera beradaptasi, membangun sinergi, serta menjunjung tinggi etika jabatan dalam menjalankan tugas  Asnawi menekankan pentingnya peran Paskal dalam mendukung agenda transformasi kesehatan Indonesia.

Lebih lanjut Asnawi mengatakan sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 21 Tahun 2024 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan, BKPK mempunyai tugas melaksanakan perumusan dan pemberian rekomendasi kebijakan pembangunan Kesehatan. Mencermati tugas dan fungsi BKPK, terdapat 3 (tiga) peran utama BKPK dalam mendukung agenda transformasi Kesehatan yaitu sebagai think tank untuk menghasilkan rekomendasi kebijakan berbasis bukti, sebagai policy clearing house dalam penyusunan regulasi, dan mengawal kajian implementasi kebijakan program Kemenkes, ujarnya

Melanjutkan arahannya Asnawi menekankan dalam kesempatan yang baik ini, “saya ingin mengingatkan kembali agar kita semua pegawai di lingkungan BKPK, Kemenkes dapat menjalankan tugas dengan baik. Kita perlu mencermati dan menyikapi secara positif perkembangan dan tantangan tugas kita yang semakin dinamis dengan bekerja lebih baik lagi. Kita perlu Ikuti perkembangan isu-isu strategis, tentukan skala prioritas penyelesaian tugas, lakukan pemetaan terhadap persoalan yang ada, pelajari program atau kebijakan yang sudah baik dan yang terpenting lakukan langkah konkrit sebagai bentuk implementasi pelaksanaan tugas. Mari kita bangun komitmen bersama untuk memberikan pengabdian yang terbaik untuk bangsa dan negara”. Tutur  Asnawi

Meskipun berlangsung secara daring, acara ini tetap berlangsung dengan khidmat dan menjadi momentum penting dalam memperkuat tata kelola kebijakan kesehatan global di Indonesia. (Penulis: Irwan Fazar, editor: Timker HDI)

Pemerintah Perkuat Kebijakan GGL untuk Kendalikan Penyakit Tidak Menular

Jakarta – Penyakit Tidak Menular (PTM) masih menjadi masalah kesehatan utama di Indonesia. Salah satunya disebabkan oleh perilaku masyarakat mengonsumsi gula garam lemak (GGL) yang tinggi. Berdasarkan hal tersebut, Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) bekerja sama dengan Asosiasi Dinas Kesehatan Seluruh Indonesia (ADINKES) menyelenggarakan Pertemuan Lintas Program/Sektor tentang Pengembangan Kebijakan GGL untuk Pengendalian PTM di Indonesia pada Rabu (19/02) di Jakarta.

Ketua ADINKES M. Subuh mengatakan bahwa upaya preventif sangat erat kaitan dengan budaya dan perilaku. Masyarakat Indonesia, sejak muda terbiasa mengonsumsi tinggi GGL. “Dari kecil anak-anak kita sudah dibudayakan makan tinggi garam, tinggi gula, dan tinggi lemak. Tentu ini menjadi suatu masalah yang besar. Selama kita tidak mengintervensi gula, garam dan lemak, kita tidak bisa menurunkan kasus hipertensi, jantung koroner, dan diabetes mellitus,” ujar Subuh dalam sambutannya.

Senada dengan itu, Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Sukadiono mengatakan pengendalian PTM dan konsumsi GGL menjadi fokus utama pemerintah. Menurutnya, upaya meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat diperlukan kontribusi kesadaran masyarakat dalam menjalankan pola hidup sehat untuk menurunkan prevalensi PTM.

Lebih lanjut, Sukadiono menyampaikan pemerintah Indonesia berkomitmen kuat dalam mengatasi tantangan tersebut dengan berbagai kebijakan strategis. Yaitu dengan adanya pengesahan Undang-undang Kesehatan No. 17 Tahun 2023 yang mencakup pengendalian faktor risiko PTM. Selanjutnya Agenda Transformasi Kesehatan Nasional 2022 yang menekankan pentingnya pencegahan dan pengendalian PTM secara komprehensif. Serta reformulasi kebijakan pangan, termasuk eliminasi lemak trans buatan, pembatasan natrium, pengaturan kemasan dan pelabelan makanan tinggi GGL.

Sementara itu, Kepala BKPK Asnawi Abdullah dalam sambutannya mengatakan bahwa beban PTM terus meningkat dan menjadi tantangan utama pada sistem kesehatan nasional. “Hasil dari berbagai kajian, PTM telah berkontribusi hampir 75% dari total angka kematian di Indonesia. Apabila kita teliti lebih lanjut ini juga telah berdampak pada eskalasi belanja kesehatan kita,” ucapnya. Asnawi menjelaskan bahwa paparan yang disampaikan oleh Menteri Kesehatan pada pertemuan di Komisi IX DPR, menyebutkan bahwa rata-rata peningkatan belanja kesehatan Indonesia telah mencapai 7,6% sejak tahun 2015. Angka ini lebih tinggi dari rata-rata peningkatan PDB kita yang sebesar 5-6% per tahun.

Asnawi menekankan bahwa eskalasi belanja kesehatan bisa dilakukan dengan mengendalikan berbagai faktor risiko utama PTM. Menurut Asnawi dengan memperkuat berbagai kebijakan seperti pengendalian produk makanan yang tidak sehat, pembatasan makanan tinggi natrium, mengontrol konsumsi dan peredaran produk-produk makanan dengan kandungan gula yang tinggi, serta makanan yang mengandung lemak yang tidak sehat, dan kebijakan pelabelan di kemasan yang lebih jelas dan lebih informatif.

“Serta kita mampu menekan laju eskalasi pembiayaan apabila kita mampu mengimplementasikan kebijakan fiskal yang lebih tepat dan lebih mendorong warga bangsa Indonesia untuk dapat hidup lebih sehat dan produktif,” tambahnya.

Asnawi menyampaikan bahwa konsumsi garam rata-rata peningkatan mencapai 11 gram per hari, sementara angka ini lebih tinggi atau dua kali lipat dari rekomendasi WHO. Paparan lemak trans masih tinggi dalam berbagai produk pangan. Kondisi ini menggarisbawahi pentingnya langkah-langkah strategis dalam mengubah pola konsumsi masyarakat.

Menurutnya perlu ada penguatan yang mendorong gaya hidup masyarakat untuk lebih sehat. Asnawi mencontohkan dengan adanya gaya hidup di masyarakat seperti “sehat itu keren”. Ia berharap gaya hidup sehat dapat ditanamkan semenjak usia pra sekolah sehingga menjadi budaya baru di kemudian hari dan menjadi bagian dari budaya bangsa Indonesia.  

Selanjutnya Asnawi mengapresiasi kepada ADINKES yang telah menginisiasi pertemuan hari ini. Diharapkan melalui pertemuan ini dapat meningkatkan kolaborasi lintas sektor sebagai masukkan untuk menyusun kebijakan yang lebih efektif dan aplikatif untuk mengendalikan PTM di Indonesia. (Penulis: Faza Nur Wulandari, Editor: Timker HDI)

Cek Kesehatan Gratis: Kesehatan yang Lebih Baik untuk Semua

Penulis : Fachrudin Ali Ahmad

Mulai tahun ini, pemerintah memberikan kado istimewa kepada seluruh masyarakat Indonesia pada saat berulang tahun. Setiap penduduk yang berulang tahun dapat memeriksakan kesehatannya secara gratis di seluruh Puskesmas. Program inovatif berjudul Pemeriksaan atau Cek Kesehatan Gratis (CKG) ini bertujuan untuk mendorong masyarakat agar lebih peduli terhadap kesehatan mereka melalui deteksi dini terhadap berbagai penyakit sehingga dapat mencegah dan menangani faktor risiko, mempermudah pengobatan serta mengurangi biaya perawatan kesehatan.

Pendaftaran untuk mengikuti CKG sangat mudah. Masyarakat dapat mendaftar melalui aplikasi SATUSEHAT Mobile, yang dilengkapi dengan pengingat untuk setiap pengguna sebelum hari ulang tahun. Aplikasi ini dirancang dengan interface yang ramah pengguna, sehingga memudahkan semua kalangan untuk mengaksesnya. Bagi mereka yang tidak memiliki smartphone, pendaftaran manual di fasilitas kesehatan terdekat juga tersedia. Ini menunjukkan bahwa aksesibilitas adalah prioritas utama dalam program ini.

Saat melakukan pemeriksaan, layanan kesehatan yang diberikan disesuaikan dengan usia dan kondisi masing-masing individu. Misalnya, bayi yang baru lahir akan menjalani pemeriksaan untuk penyakit bawaan, sedangkan orang dewasa akan menjalani skrining untuk penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes, dan kanker. Hal ini memastikan setiap individu mendapatkan perhatian yang tepat sesuai dengan kebutuhannya.

Setelah pemeriksaan, hasilnya akan langsung tersedia dalam aplikasi SATUSEHAT Mobile, yang memungkinkan pengguna untuk mengakses informasi tersebut kapan saja dan di mana saja. Tak hanya itu, tersedia juga panduan interpretasi hasil pemeriksaan, yang menjelaskan langkah selanjutnya, baik itu perubahan gaya hidup atau rujukan ke dokter spesialis jika diperlukan. Ini adalah langkah signifikan untuk memberdayakan individu agar lebih memahami kondisi kesehatannya.
CKG terintegrasi dengan sistem kesehatan nasional, sehingga memudahkan pengelolaan data secara efisien. Pemantauan dan evaluasi bertujuan untuk memastikan bahwa program memberikan hasil yang diharapkan. Selain itu, untuk menjangkau lebih banyak masyarakat, pemerintah menerapkan berbagai strategi komunikasi yang melibatkan media massa dan sosial, serta tokoh masyarakat.

Pembiayaan program ini juga direncanakan dengan matang. Bagi peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), BPJS Kesehatan akan menanggung biaya pemeriksaan. Sementara itu, pemerintah daerah akan menyediakan sumber pendanaan bagi masyarakat yang bukan peserta JKN, menjadikan layanan ini benar-benar gratis bagi semua warga negara.

Kampanye masif untuk mensukseskan PKG mencakup edukasi yang luas terhadap masyarakat mengenai pentingnya pemeriksaan kesehatan. Pemerintah berfokus pada literasi digital untuk melawan informasi hoaks mengenai kesehatan, yang dapat menghalangi masyarakat untuk memanfaatkan layanan ini. Melalui testimoni dari individu yang telah merasakan manfaat PKG, pemerintah berharap dapat membangun kepercayaan publik dan memotivasi lebih banyak orang untuk berpartisipasi.

Program CKG adalah contoh nyata dari upaya pemerintah untuk menciptakan masyarakat yang sehat dan produktif. Dengan memberikan akses kesehatan yang lebih baik, CKG tidak hanya mengajak kita untuk lebih peduli terhadap kesehatan diri sendiri tetapi juga memperkuat sistem kesehatan nasional secara keseluruhan. Ini adalah langkah yang tepat untuk menuju Indonesia yang lebih sehat, di mana setiap individu merasa dihargai dan diperhatikan.

Mari kita manfaatkan kado dari negara ini agar kita dan keluarga kita terhindar dari penyakit, tetap sehat dan selalu produktif. (Edit Timker HDI)

Masyarakat Antusias Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis di Puskesmas Cakung

Jakarta – Puskesmas Cakung, Jakarta Timur mulai menyelenggarakan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) (10/02) yang ditinjau pelaksanaannya oleh Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie. Turut dalam peninjauan tersebut Staf Ahli Bidang Politik dan Kesehatan Global Kementerian Kesehatan, Bonanza P. Taihitu, dan Tenaga Ahli Utama Kantor Komunikasi Presiden, Tubagus Arie Rukmantara.

Dalam kunjungannya, Wamen Stella Christie melihat langsung pelaksanaan Program CGK dan berinteraksi dengan masyarakat yang hadir. Stella Christie menyampaikan bahwa program ini adalah bentuk nyata komitmen pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan memenuhi amanat Undang-Undang Dasar 1945. “Hari ini kita melihat langsung bagaimana program yang telah dijanjikan Bapak Presiden pada 8 November 2023 benar-benar terealisasi. Ini adalah kado dari negara untuk seluruh rakyat Indonesia,” ujar Stella.

Selain meninjau pelaksanaan CGK, Wamen Stella Christie juga melakukan cek kesehatan gratis di Puskesmas Cakung karena beliau berulang tahun pada tanggal 11 Januari 2025.

Sejak pukul 08:00 masyarakat yang sudah mendapatkan tiket melalui pendaftaran sebelumnya pada SATUSEHAT Mobile sudah berdatangan. Hari ini di Puskesmas Cakung sudah terdaftar sebanyak 28 masyarakat yang akan melakukan CGK mulai dari bayi baru lahir 24-72 jam, Balita dan pra sekolah, dewasa dan lansia,

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Puskesmas Cakung, Junaidah, menyatakan bahwa pihaknya siap melayani masyarakat dan mengajak warga untuk memanfaatkan fasilitas ini sebaik-baiknya. Program CKG ini menandai pergeseran paradigma dalam sistem kesehatan Indonesia, dari pendekatan kuratif menuju preventif. Pemerintah berharap melalui program ini, masyarakat Indonesia semakin sadar akan pentingnya pemeriksaan kesehatan rutin dan dapat mencegah penyakit sejak dini. (Penulis: Fadlie Abdika, Pusat Kebijakan Strategi dan Tata Kelola Kesehatan Global, Editor Timker Humas, Data dan Informasi)

Cek Kesehatan Gratis Dimulai Serentak

Tangerang Selatan – Pemerintah resmi memulai secara serentak program Cek Kesehatan Gratis (CKG) bagi masyarakat pada Senin 10 Februari 2025. Program yang termasuk dalam Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) kabinet Merah Putih ini dilaksanakan di seluruh Puskesmas di Indonesia.

Kepala Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK), Asnawi Abdullah mengajak masyarakat untuk tidak melewatkan kesempatan mengecek kesehatan pada saat ulang tahun sebagai upaya pencegahan dan pengendalian faktor risiko penyakit .

“Kementerian Kesehatan telah berkoordinasi dengan seluruh provinsi untuk bisa melaksanakan Cek Kesehatan Gratis serentak di seluruh Indonesia“ ujar Asnawi saat mendampingi Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar meninjau CKG di Puskesmas Ciater, Tangerang Selatan. 

Asnawi menjelaskan, dalam memaksimalkan pelayanan, Kementerian Kesehatan telah menyiapkan anggaran yang cukup untuk pemeriksaan di berbagai rentang usia. Anggaran yang disediakan bervariasi sehingga disayangkan bagi masyarakat untuk tidak mengambil “kado” dari negara ini.

“Memang cukup bervariasi antara satu orang dengan orang yang lainnya namun diperkirakan rangenya itu sekitar 1,6 sampai 2 juta, jadi sayang sekali (jika) hadiah ini tidak dimanfaatkan oleh seluruh warga bangsa” imbuh Asnawi

Lebih lanjut, Asnawi juga menjelaskan, untuk memudahkan masyarakat memanfaatkan layanan, pemerintah memberikan kesempatan bagi masyarakat yang ingin memanfaatkan CKG dimanapun meski sedang berdomisili di wilayah lain di luar alamat BPJS. 

“Memang lebih aman sesuai dengan domisili namun kalau ada satu dan lain hal bertugas ke daerah lain ingin memanfaatkan CKG diberikan kesempatan untuk memeriksakan tapi ketika ada tindak lanjut harus sesuai dengan alamat BPJS ” jelas Asnawi.

Hari pertama dimulainya CKG, Puskesmas Ciater melayani 12 orang yang telah mendaftar melalui aplikasi SATUSEHAT mobile dan yang mendaftar langsung. Puskesmas telah mempersiapkan sumber daya dengan maksimal agar pelayanan bisa efektif dan efisien sehingga tidak menimbulkan antrian lama.

Salah satu masyarakat penerima layanan, Diah, menyambut baik adanya program CKG ini sebagai upaya deteksi dini terhadap penyakit tidak menular dan berharap program ini bisa terus berlanjut agar masyarakat dapat hidup lebih sehat. 

“Program ini bagus ya, karena kita bisa mendeteksi penyakit tidak menular secara dini supaya pengobatan lebih cepat tanpa harus ke rumah sakit jadi sangat membantu sekali” ujar wanita yang mengetahui program ini melalui media sosial. (Penulis: Ahdiyat, Edit: Timker HDI)

12,541FansLike
3,200,000FollowersFollow
4,251,000FollowersFollow
3,251,580FollowersFollow
9,320SubscribersSubscribe