Waspada Varian Baru Arcturus

7829

Beberapa pekan terakhir, Indonesia tengah mengalami kenaikan kasus akibat Covid-19 yang dipicu oleh varian baru subvarian Arcturus. Masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap subvarian baru ini dan meningkatkan kembali kedisiplinan dalam penerapan protokol kesehatan.

Arcturus adalah salah satu dari 600 subvarian Omicron. Arcturus disebut juga sebagai subvarian Omicron XBB.1.16. Subvarian Omicron XBB.1.16 Ini pertama kali diidentifikasi pada bulan Januari 2023 dan mulai dipantau WHO sejak 22 Maret lalu.

Subvarian ini banyak ditemukan di India dengan lonjakan kasus terjadi hingga 20 persen dalam sehari pada akhir Maret. Hingga pertengahan April telah mencapai angka lebih dari 12.500 kasus per harinya. Namun varian ini juga telah terdeteksi di 23 negara lainnya.

Varian baru Covid-19 ini memiliki satu mutasi tambahan pada spike protein, yang dalam penelitian laboratorium menunjukkan peningkatan infeksivitas serta potensi peningkatan patogenisitas. Varian baru ini memiliki mutasi yang memiliki kemungkinan lebih cepat menyebar dan menyebabkan tingkat infeksi yang lebih tinggi.

Baca Juga  Gencarkan Kembali Vaksinasi Covid-19

Menurut Dr. Maria Van Kerkhove, Pemimpin Teknis WHO untuk Covid-19, sejauh ini Arcturus adalah varian yang paling cepat menular. Memiliki profil yang mirip dengan pendahulunya yaitu XBB.1.5, mutasi tambahannya menunjukkannya varian ini lebih menular dan meski data awal tidak menunjukkan hal ini dapat menyebabkan tingkat kesakitan yang lebih parah bagi yang terinfeksi.  Subvarian ini perlu diwaspadai.

Gejala dari sub varian baru ini hampir sama dengan gejala COVID-19 sebelumnya, yakni, batuk, flu, demam, sakit tenggorokan, sesak napas atau kesulitan bernapas, kelelahan, nyeri otot, sakit kepala, kehilangan rasa atau bau, mual atau muntah, dan diare. Namun sejumlah negara ada yang melaporkan gejala khas berupa mata kemerahan atau konjungtivitas, terutama pada anak-anak.

Di Indonesia lonjakan kasus akibat varian baru Arcturus terjadi pada pertengahan April lalu dimana angka kasus mencapai 1.000 lebih per harinya. Angka tersebut sempat menurun pada pekan hari Raya Idul Fitri namun kembali naik ke angka 1000 dalam beberapa hari. Pekan ini, tercatat 1.902 kenaikan kasus baru dengan total 21 pasien meninggal dunia akibat varian Arcturus.

Baca Juga  Mengenal Cara Deteksi Varian SARS-CoV-2 dengan WGS dan PCR-SGTF

Kementerian Kesehatan melalui juru bicaranya Mohammad Syahril, menghimbau masyarakat agar aktif kembali memakai masker, terutama untuk orang yang sedang sakit (flu), orang yang kontak erat dengan orang yang sedang sakit, dan apabila berada di keramaian dan kerumunan. Selain itu masyarakat juga dihimbau agar terus menjaga kesehatan, khususnya mereka yang memiliki komorbid dan berusia lanjut.

Untuk meningkatkan pencegahan, Kementerian Kesehatan menganjurkan masyarakat melakukan tes cepat antigen mandiri. Tes cepat antigen tersedia dalam dua produk yakni produk dalam negeri dengan kode AKD dan produk luar negeri dengan kode AKL. Produk tersebut tersedia di toko alat kesehatan, apotek atau tempat lain yang memiliki izin distribusi alat kesehatan. Tes cepat antigen mandiri menggunakan metode nasal yaitu hanya memasukan alat ke dalam lubang hidung.

Baca Juga  Air, Sanitasi, dan Higiene yang Layak di Puskesmas Hindarkan Berbagai Penyakit

Jika kebingungan dengan tata caranya, dapat melihat petunjuk penggunaan yang tercantum pada produk. Setelah melakukan colok hidung, pengguna diminta melakukan pindai kode QR yang ada pada produk melalui aplikasi SatuSehat.

Apabila hasilnya positif maka harus ditindak lanjut dengan PCR atau isolasi mandiri. Tes cepat antigen mandiri ini bisa mendeteksi dini virus COVID-19. Dengan cara ini upaya pencegahan atau pengobatan akibat infeksi Covid-19 varian baru akan lebih mudah. Karena meskipun status darurat Covid-19 secara internasional sudah dicabut oleh WHO, tes Covid-19 tetap perlu dilakukan. (Kurniatun Karomah)

Sumber: WHO dan Rokom Yanlik Kemenkes