PENGUATAN DESA SIAGA TUBERKULOSIS: STRATEGI KOMUNITAS UNTUK ELIMINASI TUBERKULOSIS

3

Penulis: Dr. Ir. Bambang Setiaji, SKM, M.Kes (Analis Kebijakan Ahli Madya, di Pusat Kebijakan Sistem Ketahanan Kesehatan BKPK Kemenkes/Anggota Ikatan Nasional Analis Kebijakan Lembaga Administrasi Negara)

Tuberkulosis masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi Indonesia. Di tengah berbagai capaian pembangunan kesehatan, penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dan disembuhkan ini tetap menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi akibat penyakit menular. Laporan terbaru dari World Health Organization menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan beban Tuberkulosis tertinggi di dunia. Angka ini bukan sekadar statistik, tetapi cerminan bahwa masih banyak warga yang belum terjangkau deteksi dini dan pengobatan tuntas.

Selama ini, penanggulangan Tuberkulosis bertumpu pada layanan kesehatan formal puskesmas, rumah sakit, dan jejaring laboratorium. Strategi DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse) telah menjadi tulang punggung pengobatan. Namun, fakta menunjukkan bahwa pendekatan berbasis fasilitas saja belum cukup. Masih terdapat kesenjangan antara estimasi kasus dengan kasus yang terlaporkan. Artinya, ada ribuan bahkan ratusan ribu penderita Tuberkulosis yang belum terdeteksi atau terlambat mendapatkan pengobatan.

Di sinilah pentingnya pendekatan berbasis komunitas. Penguatan Desa Siaga Tuberkulosis menjadi strategi yang bukan hanya relevan, tetapi mendesak.

Mengapa Desa Siaga Tuberkulosis?

Tuberkulosis bukan sekadar penyakit medis. Ia berkaitan dengan persoalan sosial yakni  kemiskinan, hunian padat, ventilasi buruk, malnutrisi, hingga stigma. Banyak penderita menunda pemeriksaan karena takut dikucilkan. Tidak sedikit pula yang menghentikan pengobatan karena merasa sudah sembuh atau tidak mendapatkan dukungan sosial yang memadai.

Pendekatan berbasis desa menghadirkan solusi yang lebih dekat dengan realitas masyarakat. Desa Siaga Tuberkulosis mendorong keterlibatan aktif warga dalam melakukan deteksi dini melalui skrining dan edukasi gejala, pendampingan pasien selama masa pengobatan, edukasi untuk mengurangi stigma serta penguatan perilaku hidup sehat di lingkungan rumah tangga.

Baca Juga  Potret Sehat Indonesia dari Kacamata SKI 2023

Strategi ini sejalan dengan kebijakan nasional yang digerakkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia untuk mempercepat eliminasi Tuberkulosis. Namun, yang membuatnya kuat bukan hanya kebijakan, melainkan partisipasi masyarakat itu sendiri.

Komunitas sebagai Garda Terdepan

Pengalaman berbagai negara menunjukkan bahwa intervensi berbasis komunitas efektif meningkatkan penemuan kasus Tuberkulosis. Ketika kader desa, tokoh masyarakat, dan relawan kesehatan dilibatkan, pencarian kasus menjadi lebih aktif. Warga yang sebelumnya enggan datang ke puskesmas dapat dijangkau melalui pendekatan personal dan kekeluargaan.

Kader desa berperan sebagai penghubung antara sistem kesehatan dan masyarakat. Mereka dapat mengenali gejala awal batuk lebih dari dua minggu, penurunan berat badan, keringat malam dan mendorong warga untuk segera memeriksakan diri. Lebih dari itu, kader dapat memastikan pasien menjalani pengobatan secara teratur selama enam bulan atau lebih.

Pendampingan ini sangat penting. Salah satu tantangan terbesar dalam pengobatan Tuberkulosis adalah kepatuhan. Pengobatan yang terhenti bukan hanya merugikan pasien, tetapi juga berisiko menimbulkan resistensi obat. Ketika komunitas terlibat, pasien merasa didukung, bukan dihakimi.

Mengurangi Stigma, Membangun Solidaritas

Stigma masih menjadi penghalang utama eliminasi Tuberkulosis. Banyak masyarakat yang masih mengaitkan penyakit ini dengan aib atau penyakit memalukan. Akibatnya, penderita memilih menyembunyikan kondisi mereka.

Baca Juga  DARI ELIMINASI KE KEWASPADAAN: Tantangan KLB Malaria Di Daerah Bebas Malaria

Desa Siaga Tuberkulosis dapat menjadi ruang edukasi kolektif. Melalui forum warga, pengajian, pertemuan RT, atau kegiatan posyandu, informasi yang benar tentang dapat disebarluaskan. Tuberkulosis adalah penyakit menular yang dapat disembuhkan. Pesan sederhana ini, jika disampaikan secara konsisten oleh tokoh yang dipercaya masyarakat, akan mengubah persepsi publik.

Ketika desa menjadi ruang yang aman dan suportif, pasien tidak lagi merasa sendiri. Solidaritas sosial inilah yang menjadi fondasi eliminasi Tuberkulosis.

Tantangan Implementasi

Meski menjanjikan, penguatan Desa Siaga Tuberkulosis tidak lepas dari tantangan. Pertama, kapasitas kader belum merata. Tidak semua desa memiliki kader yang terlatih dalam deteksi dini dan pendampingan Tuberkulosis Tanpa pelatihan yang memadai, peran mereka menjadi kurang optimal.

Kedua, dukungan pendanaan masih terbatas. Program berbasis komunitas sering kali bergantung pada proyek atau inisiatif jangka pendek. Padahal, eliminasi Tuberkulosis membutuhkan komitmen jangka panjang. Ketiga, koordinasi lintas sektor belum maksimal. Pengendalian Tuberkulosis tidak bisa hanya menjadi urusan sektor kesehatan. Diperlukan keterlibatan pemerintah desa, sektor pendidikan, organisasi keagamaan, hingga sektor sosial. Tanpa penguatan sistemik, Desa Siaga Tuberkulosis berisiko menjadi slogan tanpa dampak signifikan.

Strategi Penguatan

Agar Desa Siaga Tuberkulosis benar-benar menjadi strategi eliminasi yang efektif, beberapa langkah perlu dilakukan. Pertama, integrasi dalam perencanaan desa. Program Tuberkulosis harus masuk dalam agenda pembangunan desa, termasuk dalam alokasi Dana Desa. Dengan demikian, kegiatan skrining, edukasi, dan pendampingan memiliki dukungan pembiayaan yang jelas.

Kedua, pelatihan berkelanjutan bagi kader. Standar kompetensi kader Tuberkulosis perlu ditetapkan dan diperbarui secara periodik. Pelatihan tidak hanya mencakup aspek teknis, tetapi juga komunikasi interpersonal dan pengurangan stigma.

Baca Juga  Navigasi Gesit Kebijakan Pembangunan Kesehatan: Dari Mandat ke Aksi Terukur

Ketiga, penguatan sistem pelaporan. Aktivitas Desa Siaga Tuberkulosis harus terhubung dengan sistem informasi Tuberkulosis nasional. Data yang akurat akan membantu pengambilan keputusan berbasis bukti. Keempat, pelibatan tokoh masyarakat dan agama. Pesan kesehatan yang disampaikan oleh figur yang dihormati akan lebih mudah diterima.

Kelima, kampanye komunikasi publik yang kreatif dan berbasis budaya lokal. Setiap daerah memiliki karakteristik sosial yang berbeda. Strategi komunikasi harus disesuaikan dengan konteks setempat.

Momentum Menuju Eliminasi

Indonesia telah menetapkan target eliminasi Tuberkulosis pada tahun 2030. Target ini ambisius, tetapi bukan mustahil. Namun, keberhasilannya sangat bergantung pada sejauh mana masyarakat dilibatkan.

Eliminasi Tuberkulosis bukan hanya tentang angka penemuan kasus atau keberhasilan pengobatan. Ia adalah tentang membangun kesadaran kolektif bahwa kesehatan adalah tanggung jawab bersama.

Desa Siaga Tuberkulosis mencerminkan semangat gotong royong, nilai yang mengakar dalam budaya Indonesia. Ketika desa bergerak, negara akan kuat. Ketika komunitas peduli, sistem kesehatan menjadi lebih tangguh.

Penguatan Desa Siaga Tuberkulosis bukan sekadar pilihan kebijakan, tetapi kebutuhan strategis. Tanpa keterlibatan masyarakat, eliminasi Tuberkulosis akan berjalan lambat. Dengan komunitas sebagai motor penggerak, Indonesia memiliki peluang nyata untuk membebaskan diri dari beban penyakit ini.

Kini saatnya menjadikan desa sebagai benteng terdepan dalam perang melawan tuberkulosis. Bukan hanya untuk mencapai target global, tetapi untuk memastikan setiap warga mendapatkan haknya atas kesehatan yang bermartabat.