Penulis: Fidela Ayu Syafira Universitas Dian Nuswantoro (UDINUS) Semarang/Magang di Sekretariat BKPK

Pernah merasa sedih seharian, lalu membuka TikTok dan tiba-tiba merasa relate dengan konten tentang depresi atau gangguan mental lainnya? Jika iya, kamu mungkin sedang mengalami fenomena self-diagnosis, yaitu kecenderungan mendiagnosis diri sendiri tanpa bantuan profesional. Fenomena ini kini menjadi topik yang semakin sering dibicarakan, terutama di kalangan anak muda.
Fenomena Self Diagnosis ini bukan sekadar tren biasa. Menurut penelitian yang dilakukan Sukmawati dan tim (2023) istilah Self Diagnosis ini merujuk pada perilaku ketika adanya rasa ingin tahu terkait gejala penyakit yang dialami, kemudian dibandingkan dengan referensi yang tersedia tanpa konfirmasi dari tenaga professional. Kemudahan akses informasi di era digital membuat proses ini terasa cepat dan praktis, tetapi tidak selalu akurat dengan kenyataan.
Di balik meningkatnya kesadaran tentang kesehatan mental, data menunjukkan adanya risiko yang perlu diperhatikan. Laporan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan bahwa perempuan muda merupakan kelompok paling rentan mengalami depresi. Prevalensinya mencapai 2,8 persen, sementara laki-laki hanya 1,1 persen. Artinya, perempuan memiliki risiko hampir dua kali lipat lebih besar.
Kerentanan ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor biologis dan sosial. Perubahan hormon setelah pubertas membuat perempuan lebih sensitif secara emosional. Di sisi lain, tekanan sosial seperti tuntutan peran, ekspektasi lingkungan, hingga dinamika relasi juga turut memperbesar beban mental yang dirasakan sejak usia muda.
Sebagai bagian dari Generasi Z yang sangat dekat dengan teknologi, akses terhadap informasi memang semakin mudah. Namun, kemudahan ini juga memiliki sisi lain. Banyak anak muda, khususnya perempuan, menjadikan media sosial sebagai rujukan utama untuk memahami kondisi mentalnya, lalu dengan cepat menarik kesimpulan sendiri berdasarkan konten yang dianggap relatable.
Fenomena ini semakin diperkuat oleh melimpahnya informasi di internet. Hal ini sejalan dengan penelitian Anindita dkk (2023) terkait diagnosis gangguan mental, yang menunjukkan bahwa kemudahan akses informasi tanpa penyaringan yang tepat dapat mendorong meningkatnya praktik self-diagnosis serta kesalahan dalam memahami kondisi kesehatan mental.
Di sinilah self-diagnosis menjadi persoalan. Perasaan sedih, lelah, atau overthinking yang sebenarnya masih dalam batas wajar sering kali langsung dianggap sebagai depresi. Padahal, secara medis, depresi memiliki kriteria tertentu, seperti gejala yang berlangsung hampir sepanjang hari selama minimal dua minggu dan berdampak pada aktivitas sehari-hari. Tanpa pemahaman yang memadai, label yang diberikan pada diri sendiri justru bisa menimbulkan kecemasan tambahan.
Kesadaran akan kesehatan mental memang merupakan langkah yang positif. Namun, penting untuk dipahami bahwa mengenali diri sendiri tidak berarti menggantikan peran profesional. Tanpa pemahaman yang tepat, self-diagnosis justru berisiko membuat seseorang terjebak dalam label yang belum tentu sesuai dengan kondisi sebenarnya.
Agar tidak terjebak dalam fenomena ini, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan. Pertama, lebih kritis dalam menyaring informasi, terutama dari media sosial yang tidak selalu memiliki dasar ilmiah yang kuat. kedua, tidak terburu-buru menyimpulkan kondisi hanya karena merasa relate dengan suatu konten.
Ketiga, memahami bahwa emosi seperti sedih, lelah, atau cemas adalah hal yang wajar dan tidak selalu berarti gangguan mental. Keempat, membatasi konsumsi konten yang memicu overthinking atau memperparah kecemasan. Kelima, mencari bantuan profesional jika kondisi yang dirasakan berlangsung lama dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.
Dengan langkah-langkah tersebut, self-awareness dapat berfungsi sebagaimana mestinya, yaitu sebagai pintu awal untuk memahami diri, bukan sebagai dasar untuk memberi label pada diri sendiri. Pada akhirnya, menjaga kesehatan mental bukan hanya soal mengenali apa yang dirasakan, tetapi juga memastikan penanganannya dilakukan dengan cara yang tepat.








