Penulis: Karyana, Mogsa DF, Kartika DP, Feny DH (Administrator Kesehatan, Pusat kebijakan Sistem Ketahanan Kesehatan)

Ada satu ancaman kesehatan yang tidak datang dengan suara sirene. Ia tidak selalu muncul sebagai wabah besar. Tidak selalu memenuhi ruang berita. Tidak selalu membuat masyarakat panik. Tetapi perlahan, diam-diam, dan konsisten, ia menggerogoti salah satu senjata terbesar kedokteran modern: antibiotik. Ancaman itu bernama resistensi antimikroba atau antimicrobial resistance (AMR).
Secara sederhana, resistensi antimikroba terjadi ketika kuman—bakteri, virus, jamur, atau parasit—tidak lagi mempan terhadap obat antimikroba. Obat yang dulu mampu membunuh atau mengendalikan kuman menjadi kurang efektif, bahkan tidak lagi bekerja. Akibatnya, infeksi yang dulu mudah diobati bisa menjadi sulit sembuh, memerlukan rawat inap lebih lama, biaya lebih mahal, dan meningkatkan risiko komplikasi serta kematian.
Dalam tulisan ini, pembahasan akan lebih banyak menyoroti resistensi antibiotik, karena bagian inilah dari AMR yang paling sering ditemui dalam layanan kesehatan sehari-hari dan paling kuat datanya dalam laporan global. Namun, AMR sebenarnya lebih luas dari antibiotik. AMR juga mencakup resistensi terhadap obat antivirus, antijamur, dan antiparasit.
Ketika Infeksi Biasa Menjadi Berbahaya
Selama puluhan tahun, antibiotik menjadi simbol kemajuan kedokteran. Banyak infeksi yang dulu mematikan kini bisa diobati. Operasi menjadi lebih aman. Persalinan lebih terlindungi. Perawatan bayi baru lahir, pasien kanker, pasien ICU, pasien diabetes, dan pasien dengan daya tahan tubuh rendah menjadi lebih mungkin dilakukan karena antibiotik masih bekerja.Tetapi ketika antibiotik mulai tidak mempan, banyak hal yang selama ini kita anggap biasa dapat kembali menjadi berbahaya.
Luka operasi bisa berubah menjadi infeksi berat. Infeksi saluran kemih dapat berkembang menjadi infeksi darah. Pneumonia bisa lebih sulit disembuhkan. Perawatan di rumah sakit menjadi lebih panjang. Biaya pengobatan meningkat. Pilihan obat menjadi lebih terbatas. Pada kondisi tertentu, dokter harus menggunakan antibiotik lini terakhir yang lebih mahal dan berisiko lebih banyak efek samping.
Inilah wajah AMR. Bukan selalu datang sebagai ledakan kasus, tetapi sebagai kegagalan pengobatan yang terjadi sedikit demi sedikit.
Dunia Sudah Memberi Alarm Keras
Data global menunjukkan bahwa AMR bukan ancaman masa depan yang masih jauh. Ia sudah menjadi masalah nyata hari ini.
Pada tahun 2019, AMR bakteri diperkirakan menyebabkan sekitar 1,27 juta kematian secara langsung di dunia dan berkontribusi terhadap sekitar 4,95 juta kematian. Laporan WHO tahun 2025 juga menunjukkan bahwa pada tahun 2023, sekitar satu dari enam infeksi bakteri yang terkonfirmasi laboratorium di dunia disebabkan oleh bakteri yang resistan terhadap antibiotik.
Yang lebih mengkhawatirkan, resistensi meningkat pada lebih dari 40% kombinasi patogen-antibiotik yang dipantau antara 2018–2023. Artinya, AMR bergerak pelan, tetapi arahnya jelas yakni semakin banyak kuman yang semakin sulit dikalahkan.
Indonesia Tidak Kebal
Indonesia juga tidak berada di luar ancaman ini. Justru sebaliknya, Indonesia termasuk negara yang perlu sangat waspada.WHO Indonesia menyebut Indonesia sebagai salah satu dari lima negara dengan proyeksi peningkatan konsumsi antimikroba tertinggi hingga tahun 2030. Dari sisi beban penyakit, estimasi Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) menunjukkan bahwa lebih dari 40.000 nyawa diperkirakan hilang setiap tahun di Indonesia akibat atau berkaitan dengan AMR.
Artinya, AMR bukan hanya angka di laporan. Ia bisa hadir sebagai infeksi yang tidak sembuh-sembuh, rawat inap yang memanjang, biaya keluarga yang membengkak, atau obat yang makin sulit dicari.
Kajian sistematik tahun 2024 terhadap patogen bakteri umum di Indonesia juga memberi sinyal penting. Dalam data isolat rumah sakit yang dikaji, resistensi terhadap karbapenem—salah satu kelompok antibiotik penting untuk infeksi berat—ditemukan pada beberapa bakteri utama, termasuk Klebsiella pneumoniae, Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa, dan Acinetobacter baumannii.
Namun, angka dari kajian tersebut tidak boleh dibaca sebagai gambaran nasional tunggal untuk seluruh Indonesia. Data itu berasal dari studi-studi yang tersedia dan belum sepenuhnya mewakili semua wilayah, semua fasilitas, dan semua populasi. Meski demikian, temuan tersebut merupakan sinyal kuat bahwa resistensi terhadap antibiotik lini penting sudah menjadi masalah serius di fasilitas kesehatan dan perlu direspons dengan surveilans dan pemantauan yang lebih lengkap serta berkelanjutan.
Mengapa AMR Terjadi?
AMR sering disederhanakan menjadi pesan: jangan minum antibiotik sembarangan. Pesan itu benar. Tetapi tidak cukup.
AMR muncul karena banyak faktor yang saling berhubungan. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat memang menjadi penyebab utama. Misalnya, antibiotik digunakan tanpa resep, dosis tidak sesuai, obat dihentikan sebelum waktunya, atau antibiotik dipakai untuk penyakit yang sebenarnya disebabkan oleh virus, seperti flu biasa.
Tetapi akar masalahnya lebih luas. Di fasilitas kesehatan, AMR berkaitan dengan diagnosis yang belum tepat waktu, keterbatasan pemeriksaan laboratorium, belum optimalnya pemeriksaan kultur dan uji kepekaan antibiotik, kepatuhan terhadap pedoman terapi, serta mutu pencegahan dan pengendalian infeksi.
Di luar fasilitas kesehatan, AMR juga berkaitan dengan penggunaan antimikroba pada hewan, peternakan, perikanan, pangan, sanitasi, limbah, dan lingkungan. Karena itu, pengendalian AMR harus menggunakan pendekatan One Healthyakni pendekatan dimana kesehatan manusia, hewan, pangan, dan lingkungan saling terkait dan saling memengaruhi.
Indonesia Sudah Punya Fondasi
Indonesia sebenarnya sudah memiliki fondasi kebijakan. Rencana Aksi Nasional Pengendalian Resistensi Antimikroba atau RAN-PRA 2020–2024 telah menjadi arah kebijakan lintas sektor untuk pengendalian AMR. Di rumah sakit, Indonesia juga telah memiliki Permenkes Nomor 8 Tahun 2015 tentang Program Pengendalian Resistensi Antimikroba di Rumah Sakit.
Regulasi ini penting karena menempatkan pengendalian AMR bukan hanya sebagai urusan pemberian obat, tetapi juga sebagai bagian dari mutu layanan, keselamatan pasien, pemantauan kuman, audit penggunaan antibiotik, dan kerja multidisiplin di rumah sakit.
Langkah terbaru juga mulai diperkuat melalui Strategi Nasional Pengendalian Resistensi Antimikroba Sektor Kesehatan 2025–2029. Strategi ini penting karena mendorong AMR tidak hanya dilihat sebagai urusan penggunaan antibiotik, tetapi sebagai agenda sistem kesehatan manusia yang membutuhkan tata kelola efektif, informasi strategis, pencegahan dan pengendalian infeksi, diagnosis yang tepat waktu dan akurat, serta pengobatan yang tepat dan bermutu.
Semua fondasi ini penting agar penggunaan antibiotik tidak hanya bergantung pada keputusan individu, tetapi juga didukung oleh sistem layanan, data, laboratorium, pengawasan, dan kebijakan yang lebih kuat.
Selain itu, Indonesia juga mulai memperkuat surveilans. Pada tahun 2025, Indonesia meluncurkan survei nasional AMR pada infeksi aliran darah. Survei ini melibatkan 80 rumah sakit dan 30 laboratorium di 25 kabupaten/kota dari 16 provinsi, dengan target sekitar 10.000 peserta. Ini langkah penting, karena infeksi aliran darah adalah salah satu bentuk infeksi berat yang sangat membutuhkan antibiotik efektif.
Apa yang Bisa Kita Lakukan?
AMR memang terdengar seperti isu besar milik rumah sakit, laboratorium, atau pemerintah. Tetapi sebenarnya, setiap orang punya peran. Pengendalian resistensi antimikroba tidak hanya dimulai dari ruang rapat kebijakan, tetapi juga dari rumah, apotek, puskesmas, klinik, rumah sakit, peternakan, pasar pangan, dan lingkungan sekitar kita.
Gunakan antibiotik hanya bila memang diperlukan dan sesuai resep tenaga medis/tenaga kesehatan. Tidak semua demam, batuk, pilek, atau sakit tenggorokan membutuhkan antibiotik. Banyak infeksi ringan disebabkan oleh virus, sementara antibiotik terutama digunakan untuk infeksi bakteri dan harus diputuskan oleh tenaga medis/tenaga kesehatan.
Ada langkah mencegah AMR. Pertama, ikuti dosis dan lama pengobatan sesuai instruksi. Jangan menghentikan antibiotik hanya karena badan sudah terasa lebih baik. Bila muncul keluhan atau efek samping saat minum antibiotik, konsultasikan kembali kepada tenaga medis/tenaga kesehatan. Penggunaan yang tidak tuntas atau tidak sesuai aturan dapat memberi kesempatan bagi kuman yang lebih kuat untuk bertahan.
Kedua, Jangan menyimpan, membagi, atau menggunakan ulang antibiotik. Antibiotik yang cocok untuk satu orang belum tentu cocok untuk orang lain. Sisa antibiotik di rumah juga tidak boleh digunakan kembali tanpa pemeriksaan.
Ketiga, cegah infeksi sebelum perlu antibiotik. Cuci tangan dengan benar, jaga kebersihan makanan, lengkapi imunisasi, rawat luka dengan baik, gunakan air bersih, dan terapkan etika batuk. Di fasilitas kesehatan, pencegahan dan pengendalian infeksi juga harus menjadi budaya kerja.
Keempat, dukung penggunaan antibiotik yang bijak di layanan kesehatan. Bila dokter tidak memberikan antibiotik, bukan berarti pengobatan kurang kuat. Bisa jadi, antibiotik memang tidak diperlukan. Obat yang tepat tidak selalu berarti antibiotik.
Kelima, pahami bahwa AMR adalah urusan bersama. Resistensi antimikroba tidak hanya terjadi pada manusia. Penggunaan antimikroba pada hewan, peternakan, perikanan, pangan, dan lingkungan juga berpengaruh. Karena itu, pendekatan One Health penting untuk menjaga kesehatan manusia, hewan, pangan, dan lingkungan secara bersamaan.

Antibiotik Adalah Warisan yang Harus Dijaga
Antibiotik adalah salah satu penemuan terbesar dalam sejarah kedokteran. Ia menyelamatkan jutaan nyawa. Tetapi antibiotik bukan sumber daya yang tak terbatas. Semakin sering digunakan secara tidak tepat, semakin cepat efektivitasnya hilang.
AMR mengajarkan satu hal penting: kemajuan kesehatan bisa mundur bila tidak dijaga. Dunia modern yang kita kenal—operasi yang lebih aman, persalinan yang lebih terlindungi, perawatan kanker yang lebih mungkin dilakukan, dan infeksi berat yang bisa disembuhkan—semuanya bergantung pada antibiotik yang masih bekerja.
AMR adalah ujian bagi kita semua: pemerintah, tenaga kesehatan, pelaku usaha, peternak, keluarga, dan masyarakat. Antibiotik harus dijaga, karena ketika obat ini kehilangan daya kerjanya, infeksi sederhana bisa kembali menjadi ancaman serius.
Antibiotik bukan obat untuk semua penyakit. Gunakan hanya bila perlu, sesuai resep, dan dengan cara yang benar. Menjaga antibiotik hari ini berarti menjaga keselamatan kita di masa depan.








