
Kuala Lumpur, Malaysia – Indonesia kembali memperkuat perannya dalam kerja sama kesehatan kawasan melalui berbagai capaian strategis dalam rangkaian The 17th ASEAN Health Ministers’ Meeting (17th AHMM) and Related Meetings. Rangkaian pertemuan yang diselenggarakan pada 7–11 September 2026 di Kuala Lumpur, Malaysia diawali dengan Preparatory Senior Officials’ Meeting on Health Development (PrepSOM). Pada pertemuan tersebut dihasilkan berbagai dokumen strategis yang akan menjadi arah baru kerja sama kesehatan ASEAN selama lima tahun ke depan sekaligus memperkuat ketahanan kesehatan kawasan, tata kelola sektor kesehatan, serta kemitraan ASEAN dengan negara-negara mitra.
Delegasi Republik Indonesia dipimpin oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin bersama jajaran Kementerian Kesehatan, Kementerian Luar Negeri, dan BPJS Kesehatan. Pertemuan ini mempertemukan para Menteri Kesehatan ASEAN beserta mitra dialog ASEAN, yaitu Jepang, Republik Rakyat Tiongkok, Republik Korea, dan Amerika Serikat. Pada kesempatan ini, para delegasi dan mitra membahas penguatan kerja sama kesehatan kawasan dalam menghadapi tantangan kesehatan yang semakin kompleks, mulai dari penyakit menular dan tidak menular, kesiapsiagaan menghadapi pandemi, hingga penguatan sistem kesehatan yang tangguh dan berkelanjutan.
Dalam Sidang Pleno AHMM, Indonesia menegaskan bahwa tantangan kesehatan di kawasan tidak dapat dihadapi oleh satu kementerian maupun satu negara saja. Penguatan solidaritas dan aksi bersama menjadi kunci untuk mewujudkan sistem kesehatan ASEAN yang lebih tangguh dan siap menghadapi tantangan di masa depan.
“Tidak ada satu kementerian atau satu negara pun yang dapat menanggung kesehatan 700 juta warga ASEAN sendirian. Kekuatan kita selama ini terletak pada apa yang kita lakukan bersama. Mari kita tutup pertemuan ini tidak hanya dengan deklarasi, tetapi juga dengan langkah-langkah nyata menuju ASEAN yang lebih sehat dan tangguh,” ujar Menkes Budi pada Rabu (9/9).

Membangun Arah Baru Kerja Sama Kesehatan ASEAN
Sebagai salah satu penggerak utama penyusunan berbagai agenda strategis kesehatan ASEAN, Indonesia berkontribusi aktif dalam proses pembahasan, negosiasi, hingga finalisasi berbagai dokumen yang diadopsi pada pertemuan tersebut. Kontribusi tersebut memperkuat peran Indonesia dalam mendorong agenda kesehatan ASEAN yang lebih tangguh, adaptif, dan berorientasi pada hasil.
Salah satu capaian utama 17th AHMM adalah diadopsinya ASEAN Strategic Health Agenda (ASHA) 2026–2030 yang menjadi kerangka strategis baru kerja sama kesehatan ASEAN selama lima tahun ke depan. Dokumen ini mengedepankan penguatan sistem kesehatan, peningkatan ketahanan kesehatan, kemitraan yang bermakna, serta tata kelola yang lebih efektif dan berbasis hasil.
Bersamaan dengan adopsi ASHA, pertemuan juga menyepakati Governance and Implementation Mechanism (GIM), Rules of Procedure (ROP) on ASEAN Health Sector Partnerships and Engagement with Entities, serta Terms of Reference (TOR) of ASEAN Health Clusters sebagai fondasi tata kelola baru yang memastikan implementasi agenda kesehatan ASEAN berlangsung secara lebih terarah, terukur, dan akuntabel.
Sejalan dengan itu, Deputy Secretary-General of ASEAN for the ASEAN Socio-Cultural Community (ASCC), San Lwin, menyampaikan bahwa keberhasilan agenda kesehatan ASEAN akan sangat ditentukan oleh implementasi yang konsisten dan kemitraan yang kuat.
“Seiring langkah kita dalam pelaksanaan ASHA 2026–2030, kemitraan-kemitraan ini akan terus memberikan dukungan untuk mendorong inovasi, memfasilitasi pertukaran pengetahuan, dan memperkuat kerja sama kesehatan regional,” ujar San Lwin.
Ia menambahkan bahwa nilai kerja sama kesehatan ASEAN tidak hanya terletak pada strategi yang disusun, tetapi pada dampak nyata yang dihasilkan bagi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat di seluruh kawasan.
Memperkuat Arsitektur Ketahanan Kesehatan Kawasan
Indonesia terus mendorong penguatan arsitektur ketahanan kesehatan ASEAN melalui percepatan operasionalisasi ASEAN Centre for Public Health Emergencies and Emerging Diseases (ACPHEED). Dalam Special Session on ACPHEED, Indonesia menegaskan bahwa penyelesaian Establishment Agreement (EA) harus segera dituntaskan agar ACPHEED dapat beroperasi penuh dan memberikan manfaat nyata bagi kawasan. Indonesia juga mendorong agar penyelesaian aspek hukum berjalan beriringan dengan kesiapan operasional masing-masing pilar ACPHEED sehingga manfaatnya dapat segera dirasakan oleh seluruh negara anggota ASEAN.
Pada sesi tersebut, negara-negara tuan rumah ACPHEED bersama seluruh negara anggota ASEAN berhasil menyepakati langkah-langkah percepatan penyelesaian EA, termasuk peta jalan menuju penandatanganannya yang ditargetkan dapat dilakukan pada 49th ASEAN Summit. Indonesia turut mengusulkan penguatan tata kelola kemitraan dan operasionalisasi ACPHEED guna memastikan pusat tersebut mampu menjalankan fungsinya secara efektif dan berkelanjutan.
Selain itu, Indonesia juga terus mendorong penguatan regional medical products security and self-reliance melalui pengembangan inisiatif ASEAN Diagnostics Security and Self-Reliance (ADxSSR) serta melengkapi inisiatif ASEAN Vaccine Security and Self-Reliance (AVSSR) dan ASEAN Drug Security and Self-Reliance (ADSSR) sebagai upaya memperkuat kapasitas produksi dan ketahanan rantai pasok produk kesehatan di kawasan.
Memperluas Kemitraan Strategis ASEAN
Pertemuan ini juga menghasilkan enam Joint Statements yang memperkuat kerja sama kesehatan ASEAN dengan negara-negara mitra, yaitu 17th ASEAN Health Ministers’ Meeting, 11th ASEAN Plus Three Health Ministers’ Meeting, 10th ASEAN-China Health Ministers’ Meeting, 3rd ASEAN-Republic of Korea Health Ministers’ Meeting, 1st ASEAN-United States Health Ministers’ Meeting serta 1st ASEAN-Japan Health Ministers’ Meeting. Seluruh dokumen tersebut telah diselaraskan dengan prioritas ASHA 2026–2030 sebagai kerangka bersama pengembangan kerja sama kesehatan regional.
Dalam berbagai pertemuan dengan negara mitra, Indonesia secara konsisten mendorong penguatan kerja sama pada isu-isu prioritas, antara lain Universal Health Coverage (UHC), One Health, penguatan layanan kesehatan primer, kesehatan digital dan pemanfaatan kecerdasan artifisial, kesiapsiagaan pandemi, penguatan laboratorium dan surveilans, serta peningkatan ketahanan regional melalui pengembangan vaksin, obat, dan diagnostik. Dukungan terhadap operasionalisasi ACPHEED dan penguatan kapasitas regional juga menjadi salah satu agenda penting yang tercermin dalam berbagai Joint Statements tersebut.
Indonesia Teguhkan Peran dalam Diplomasi Kesehatan Kawasan
Selain sidang utama, Indonesia juga berpartisipasi aktif dalam berbagai side events yang membahas penguatan kerja sama di bidang medical devices, integrated lung health, rare diseases, pengendalian tembakau, serta inovasi dalam penguatan sistem kesehatan. Berbagai forum tersebut dimanfaatkan untuk memperluas jejaring kerja sama sekaligus mengidentifikasi peluang kolaborasi yang dapat mendukung implementasi ASHA 2026–2030.
Partisipasi aktif Indonesia pada 17th AHMM and Related Meetings menegaskan komitmen Indonesia untuk terus memperkuat diplomasi kesehatan sebagai instrumen strategis dalam membangun sistem kesehatan kawasan yang lebih tangguh, inklusif, dan siap menghadapi tantangan kesehatan di masa depan. Melalui kontribusi dalam penyusunan berbagai kebijakan, penguatan arsitektur ketahanan kesehatan kawasan, serta pengembangan kemitraan strategis dengan negara-negara mitra, Indonesia terus berperan dalam mewujudkan visi “Healthy ASEAN: Together Towards Equitable, Future-Ready Health Systems”. (Penulis: Rita Ratna Puri, Editor: Timker HDI)








