web analytics
Wednesday, September 23, 2026
Header Ads
Beranda Blog Halaman 19

Sekretaris BKPK Ajak PPPK Bekerja dengan Integritas dan Memberi Manfaat bagi Organisasi

Jakarta Sekretaris Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kementerian Kesehatan Etik Reno Wiyati, dalam sambutannya pada acara pelantikan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di Ruang Ars Longa (1/10), mengajak seluruh pegawai untuk bekerja dengan integritas dan memberi manfaat bagi organisasi.

Dalam kesempatan tersebut, Sekretaris BKPK menyampaikan bahwa pelantikan PPPK merupakan hasil serangkaian kebijakan dan perjuangan para rekan-rekan PPPK. “Ini bukan sesuatu yang tiba-tiba. Ini sudah pasti tertulis di lauhul mahfuz apa yang terjadi hari ini. tetapi, ini tidak terlepas dari perjuangan teman-teman sekalian,” ujarnya.

Sekretaris BKPK juga menyampaikan ucapan selamat kepada para pegawai yang dilantik, termasuk beberapa pejabat yang kini menerima tambahan anggota tim. Menurutnya, pelantikan ini menghadirkan semangat baru bagi BKPK karena sebagian besar telah lama mengabdi di lingkungan Kementerian Kesehatan.

“Selamat datang dan selamat bergabung di BKPK. Insya Allah setelah pelantikan ini kita akan melaju kencang melaksanakan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) BKPK di dalam Kementerian Kesehatan,” katanya.

Ia mengingatkan kembali bahwa saat melamar menjadi PPPK tidak ada paksaan, atas kesadaran diri sendiri, niat, dan sudah mengetahui tupoksi tempat yang dilamar. Sehingga, Etik berharap kepada rekan-rekan PPPK dapat menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya.

Ia juga menekankan pentingnya tanggung jawab dan integritas dalam menjalankan sumpah jabatan yang telah diucapkan. Kehadiran para PPPK, lanjutnya, menjadi energi baru bagi organisasi. Ia mengatakan sebagai energi baru ketika menjadi seorang PPPK, kita harus menanamkan pada diri sendiri supaya, bahwa organisasi dapat merasakan manfaatnya.

“Dalam pekerjaan ada pepatah yang mengatakan bahwa kita bekerja itu bukan sekadar mencari uang tapi mencari kebahagiaan mencari aktualisasi diri dan mencari manfaat,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Sekretaris BKPK juga menekankan pentingnya menanamkan sikap integritas dan tanggung jawab sejak awal masa pengabdian. Terutama untuk menghadapi tuntutan era transformasi dan  ASN BerAKHLAK di lingkungan kerja yang dinamis. Sehingga PPPK harus agile dalam melaksanakan tugasnya.  

Ia mengingatkan agar para PPPK selalu bersyukur atas amanah yang telah diberikan dan menunjukkan rasa syukur itu melalui kinerja terbaik. “Achievement kita harus kita syukuri dan kita tunjukkan rasa syukur kita dengan berjanji pada diri kita sendiri bahwa kita akan menjadi versi terbaik di tempat kerja kita,” ujarnya.

Selain itu, seluruh pegawai diharapkan terus memahami regulasi, etika, serta nilai-nilai ASN secara berkelanjutan. “Semua informasi tidak bisa kita pelajari dalam satu hari. Tetapi mulai dari sekarang, pelajarilah dan pedomani etika dalam ber-ASN. Jika ada rekan yang menyimpang, mari saling mengingatkan karena kita adalah satu keluarga,” tegasnya.

Menutup sambutan, Sekretaris BKPK menyampaikan ucapan selamat datang dan selamat bertugas kepada seluruh PPPK yang baru dilantik. Ia juga mengajak seluruh jajaran untuk terus berbenah dan berkontribusi dalam memperkuat kinerja organisasi. (Penulis: Faza Nur Wulandari, Editor: Timker HDI)

Kemenkes Integrasikan Ratusan Aplikasi Menuju Era SATUSEHAT

Jakarta – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menggelar Pertemuan Koordinasi Pembinaan Wilayah Seri ke-6 untuk mengakselerasi pemanfaatan sistem informasi kesehatan dalam mendukung keberhasilan transformasi kesehatan yang terintegrasi. Pertemuan yang dilakukan secara daring (25/9) dihadiri oleh hampir 300 peserta dari dinas kesehatan provinsi dan kabupaten/kota. Pertemuan ini menyoroti urgensi penyatuan ratusan aplikasi kesehatan ke dalam satu platform nasional, SATUSEHAT, guna mendukung keberhasilan transformasi kesehatan.

Acara diawali dengan laporan Sekretaris Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK), Etik Retno Wiyati. Dalam kesempatan itu, Etik menyatakan bahwa tema ini diangkat karena menjadi isu yang paling sering dikeluhkan oleh pemerintah daerah. “Yang menjadi permasalahan adalah banyaknya sistem informasi yang harus diakses dan diisi oleh teman-teman” ujarnya saat membuka acara. Ia berharap forum ini menjadi ajang untuk menyampaikan kebijakan terkini sekaligus mencari solusi atas tantangan yang ada di lapangan.

Nantinya akan ada strategi-strategi lanjutan terkait topik ini. Setelah pertemuan ini akan ada pertemuan di binwil masing-masing, untuk yang sifatnya lebih teknis.

Kepala BKPK, Prof. Asnawi Abdullah, dalam sambutannya menekankan bahwa setiap data yang dikumpulkan dari berbagai pelosok desa Itu benar-benar bermakna. “Bahwa setiap angka yang kita kirimkan ke kabupaten ke provinsi ke pusat Itu benar-benar bermakna untuk berbagai keperluan kita baik untuk perencanaan dan untuk kebijakan” ungkapnya. 

Prof. Asnawi menyebutkan kebijakan data yang dilakukan bisa melahirkan kebijakan untuk menguatkan sistem kesehatan kita serta membangun fondasi yang kuat agar bangsa ini bisa menjadi negara maju di 2045.

Kepala BKPK mempertanyakan apakah para pemangku kebijakan pernah merasa frustrasi karena harus membuat keputusan tanpa data yang akurat atau mengalokasikan sumber daya seperti obat dan vaksin hanya berdasarkan perkiraan. Menurutnya, kondisi tersebut adalah tanda bahwa kekuatan data belum dimanfaatkan sepenuhnya. 

“Tanpa sistem informasi yang kuat, kita seperti mengemudi di malam gelap tanpa lampu. Kita bergerak, tapi tidak tahu ke mana arahnya” tegas Prof. Asnawi. Ia memimpikan sebuah ekosistem di mana riwayat kesehatan seorang ibu hamil di NTT bisa langsung muncul di layar dokter di Bali karena datanya sudah terintegrasi. Untuk itu, ia mengajak semua pihak untuk mengubah cara pandang secara fundamental. “Mari kita ubah cara pandang kita. Data itu bukan beban administratif, data adalah alat untuk memperjuangkan hak kesehatan rakyat” serunya.

Prof Asnawi mengatakan data yang sudah terintegrasi ini butuh kolaborasi vertikal dan horizontal serta masih ada banyak yang harus di benahi. Banyak aplikasi hanya untuk dilaporkan bukan untuk dipakai untuk merumuskan berbagai kebijakan.

Pada kesempatan baik ini, Kepala BKPK menekankan sangat penting membangun budaya data. “Bukan hanya operator yang paham data, tapi juga kepala dinas, Kepala Puskesmas, kepala rumah sakit, kepala desa sekalipun” jelasnya. Karena keputusan terbaik itu lahir dari data yang dipahami bersama. 

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memperkenalkan platform SATUSEHAT sebagai solusi. Platform ini dirancang untuk mengintegrasikan seluruh data kesehatan, mulai dari rekam medis pasien di berbagai fasilitas kesehatan hingga data logistik obat dan vaksin. “Dengan adanya platform SATUSEHAT, dimana fokusnya adalah untuk mengintegrasikan seluruh proses atau transaksi pelayanan kesehatan yang akan menjadi salah satu solusi fundamental tantangan” jelas Ismail dari Pusat Data dan Informasi, Kementerian Kesehatan. SATUSEHAT mempermudah informasi kesehatan kepada masyarakat termasuk lansia

Ismail menjelaskan dengan SATUSEHAT dilakukan simplifikasi aplikasi untuk meringankan beban di faskes sebagai sumber data utama (SIMPUS/SIMRS), selain masyarakat (SATUSEHAT Mobile) dan tenaga kesehatan (SATUSEHAT IndonesiaKu).

Saat ini, Ekosistem SATUSEHAT terdiri dari SATUSEHAT Mobile (masyarakat), SATUSEHAT IndonesiaKu (nakes/kader), SATUSEHAT Data (pengambil keputusan), SATUSEHAT Rekam Medis (fasyankes), SATUSEHAT Resep, SATUSEHAT Logistik (Farmalkes), SATUSEHAT Klaim (modul pengelolaan), SATUSEHAT SDMK (SDMK). Seluruh ekosistem ini akan menghubungkan seluruh elemen kesehatan untuk menghasilkan informasi.

SATUSEHAT merupakan platform penghubung ekosistem data Kesehatan dan seluruh sistem dilindungi oleh regulasi nasional.

Salah satu wujud simplifikasi adalah pengembangan SATUSEHAT Logistik yang akan mengintegrasikan puluhan aplikasi di bidang farmasi dan alat kesehatan (farmalkes). Nuni Anindita dari Direktorat Jenderal Farmalkes menjelaskan bahwa langkah ini krusial untuk efisiensi. “Kebutuhan untuk melakukan simplifikasi sistem itu menjadi sangat penting. Untuk manajemen logistik sendiri, simplifikasi yang dilakukan adalah melalui pengembangan Satu Sehat Logistik” papar Nuni. Melalui sistem ini, pemantauan distribusi obat, vaksin, dan perbekalan kesehatan lainnya dapat dilakukan secara real-time dari hulu ke hilir.

Nuni menjelaskan terdapat 37 aplikasi aktif di Ditjen Farmalkes yang perlu disimplifikasi penggunanya, maka dari itu diperlukan integrasi melalui SATUSEHAT untuk mendukung interoperabilitas data nasional dan menjaga kualitas evidence-based policy. (Penulis Fachrudin Ali, Editor: Timker HDI)

Indonesia Perkuat Pengawasan Kesehatan di Pintu Masuk Negara, Dorong Kolaborasi Kawasan melalui ACPHEED

Jakarta-Kementerian Kesehatan RI melalui Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) menyelenggarakan Pertemuan Konsultatif Pengawasan Kesehatan di Pintu Masuk Negara dalam rangka penguatan kapasitas deteksi dini dan penilaian risiko kedaruratan kesehatan masyarakat serta penyakit emerging di kawasan ASEAN. Pertemuan yang berlangsung selama dua hari ini (18–19/9) menjadi langkah strategis menuju kolaborasi lintas batas negara di bawah kerangka ACPHEED Detection and Risk Assessment (DRA).

Membuka pertemuan secara daring, Kepala BKPK, Prof. Asnawi Abdullah menegaskan pentingnya pintu masuk negara (Points of Entry/PoE) sebagai garda terdepan dalam menghadapi ancaman kesehatan lintas negara. “PoE bukan hanya titik perlintasan, tetapi juga garis pertahanan pertama. Dengan mengacu pada IHR (2005) dan peran strategis ACPHEED, kita harus mampu membangun sistem deteksi dan penilaian risiko yang cepat, terintegrasi, dan kolaboratif,” ujarnya.

Hari pertama pertemuan menghadirkan sesi kebijakan dan praktik implementasi pengawasan di pintu masuk negara, baik udara, laut, maupun darat. Paparan dari lintas unit teknis Kemenkes, WHO Indonesia, dan ASEAN Biosurveillance Virtual Center (ABVC) menunjukkan kemajuan integrasi sistem digital seperti SINKARKES, All Indonesia, serta berbagai dashboard pemantauan penyakit.

Diskusi juga menyoroti pentingnya interoperabilitas lintas sektor dan negara, termasuk kebutuhan penguatan regulasi, pelatihan, serta pengembangan platform bersama untuk pertukaran data risiko. Para peserta dari Balai dan Kantor Kesehatan Karantina (BKK dan BBKK) memaparkan inovasi masing-masing, mulai dari Risk Based Assessment di Bandara Soekarno-Hatta dan Ngurah Rai, hingga sistem SMART Karkes di wilayah laut dan darat seperti Tanjung Priok, Entikong, serta perbatasan strategis lainnya seperti Batam dan Kupang yang memiliki peran penting dalam pengawasan kesehatan lintas batas di kawasan timur dan barat Indonesia.

Sebagai puncaknya, sesi World Café menghadirkan diskusi interaktif dalam empat topik utama: kontribusi BKK bagi ACPHEED, dukungan ACPHEED untuk penguatan PoE, konektivitas lintas batas, dan sistem informasi ideal bagi BKK. Diskusi menghasilkan berbagai masukan konkret, termasuk pentingnya ACPHEED memfasilitasi pembentukan jejaring komunikasi port-to-port di kawasan (network), pengembangan risk-based alert system lintas negara, pengembangan dashboard untuk repository informasi untuk internal dan publik, serta kebutuhan enabler seperti SDM, infrastruktur, dan perjanjian pertukaran data.

Pertemuan ini menjadi langkah awal menuju ASEAN Consultative Meeting on IHR Capacity and Cross-Border Coordination for Points of Entry Surveillance yang direncanakan berlangsung pada kuartal terakhir tahun ini, sebagai bagian dari upaya Indonesia dan ACPHEED DRA memperkuat ketahanan kesehatan di kawasan. (Penulis: Rita Ratna Puri, Editor: Pusat Kebijakan Strategi dan Tata Kelola Kesehatan Global)

Indonesia Dorong Pembentukan ASEAN Laboratory Network, Perkuat Deteksi Kedaruratan Kesehatan Kawasan

Jakarta – Indonesia mendorong terbentuknya jejaring laboratorium kawasan ASEAN melalui ASEAN Center for Public Health Emergencies and Emerging Diseases (ACPHEED) dalam Pertemuan Konsultatif Pembentukan ASEAN Laboratory Network yang berlangsung di Jakarta (15-17/9). Kegiatan ini diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan RI melalui Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK), bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas.

Pertemuan yang dihadiri oleh perwakilan Laboratorium Kesehatan Masyarakat Tier 1-5; kementerian terkait seperti Kementerian Luar Negeri, Kementerian Pertanian, Kementerian Kehutanan, dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN); akademisi; mitra internasional seperti WHO dan FAO; serta pakar, menjadi titik penting dalam memperkuat sistem deteksi dan penilaian risiko kesehatan masyarakat di kawasan ASEAN.

Kepala BKPK, Prof. Asnawi Abdullah, dalam sambutannya menekankan pentingnya jejaring laboratorium yang kuat, terintegrasi, dan selaras dengan prinsip One Health.

 “Data laboratorium bukan hanya angka, melainkan fondasi deteksi dini dan pengambilan keputusan. Jejaring ini harus memberikan nilai tambah, baik di tingkat nasional maupun regional,” ujar Prof. Asnawi.

Diskusi berlangsung dengan format pleno dan World Cafe, membahas berbagai isu strategis, mulai dari harmonisasi standar mutu, penguatan kapasitas biosekuriti, penetapan Center of Excellence, hingga kebutuhan sistem informasi regional untuk pertukaran data lintas negara.

Sejumlah rekomendasi mengemuka, antara lain Revisi Terms of Reference (ToR) ASEAN Laboratory Network, Penunjukan laboratorium sentinel dan laboratorium rujukan, Penguatan regulasi nasional untuk mendukung jejaring kawasan.

Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas, dr. Maria Endang Sumiwi, dalam penutupan menegaskan pentingnya kesiapan Indonesia. “Dalam satu tahun ke depan, laboratorium nasional kita harus mampu meningkatkan kualitas layanan untuk mencapai pengakuan internasional. ASEAN Laboratory Network adalah peluang besar, dan Indonesia harus siap menjadi tuan rumah bagi ACPHEED Detection and Risk Assessment yang andal,” tegasnya.

Dengan semangat kolaborasi lintas sektor dan dukungan mitra internasional, pertemuan ini menjadi batu loncatan menuju terbentuknya ASEAN Laboratory Network yang diharapkan dapat memperkuat kesiapsiagaan dan respons kawasan terhadap potensi pandemi di masa depan. (Penulis: Rita Ratna Puri, Editor: Pusat Kebijakan Strategi dan Tata Kelola Kesehatan Global)

Angka Stunting 2024 Turun

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) melalui Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) resmi mengumumkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024.

Survei nasional yang menjadi rujukan utama dalam upaya percepatan penurunan stunting ini mencatat penurunan prevalensi stunting nasional, dari 21,5% pada 2023 menjadi 19,8% pada 2024 (Desain Nowo Setiyo)

SiBijaKs Awards 2025, Kolaborasi Wujudkan Kebijakan Berkelanjutan

Jakarta – Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) kembali menghelat SiBijaks Awards 2025. Untuk penjelasan mengenai pelaksanaan kompetisi ini, diadakan sosialisasi secara daring melalui zoom dan kanal Youtube BKPK TV (15/9).

Acara diawali laporan Ketua Panitia Plt. Kepala Pusjak Upaya Kesehatan, Dwi Puspasari, SKM, MSc, yang memberikan penjelasan mengenai gelaran acara SiBijaKs Awards 2024. Pertama kali diadakan pada tahun lalu, SiBijaKs Awards 2024 memanfaatkan data SKI 2023, mendapatkan atensi luas dari kalangan birokrasi, akademisi dan masyarakat. Para pemenang berkesempatan untuk mempresentasikan policy briefnya di hadapan Menteri Kesehatan dan pimpinan Kementerian Kesehatan. 

Lebih lanjut Puspa mengatakan bahwa, “Tahun ini kompetisi digelar dalam rangka menigkatkan pemanfaatan data SSGI 2024, dengan mengusung tema Data SSGI 2024 untuk Kebijakan Berkelanjutan, Peserta mendapatkan kesempatan pertama untuk mengakses data SSGI 2024 dan menganalisisnya lebih lanjut,” ungkap Puspa.

Selanjutnya, Kepala BKPK, Prof. Asnawi Abdullah dalam sambutannya menegaskan pentingnya peran BKPK dalam menghasilkan rekomendasi kebijakan berbasis bukti. “Hasil SSGI 2024 menunjukkan penurunan prevalensi stunting nasional dari 21,5% pada 2023 menjadi 19,8% pada 2024. Capaian ini patut kita syukuri, namun masih menjadi pengingat bahwa perjuangan belum selesai,” jelasnya

 “SiBijaKs Awards 2025 diharapkan dapat mendorong lahirnya kajian-kajian, policy brief maupun artikel artikel ilmiah yang berkualitas sehingga rekomendasi kebijakan yang dihasilkan tajam, kontekstual dan berdampak terhadap Masyarakat Indonesia.” tegas Prof. Asnawi.

Lebih lanjut Prof. Asnawi mengajak seluruh pihak untuk berpartisipasi aktif dalam kompetisi SiBijasKs Awards 2025. “Kirimkan karya tulis terbaik Bapak Ibu untuk berkontribusi dalam perbaikan kesehatan di negeri tercinta ini, khususnya dalam rangka perbaikan status gizi balita, demi mewujudkan Indonesia Emas 2045.” tegas Prof Asnawi.

Pada sesi penyampaian materi, Puspa kembali memaparkan hasil SSGI 2024. Ia menjelaskan bahwa survei ini mencakup 38 provinsi, 510 kabupaten/kota, dengan total hampir 300 ribu balita sebagai sampel.

“SSGI 2024 memberikan gambaran komprehensif mengenai status gizi, termasuk faktor risiko stunting, mulai dari asupan gizi, sanitasi, imunisasi, hingga perlindungan sosial. Data ini menjadi landasan penting dalam penyusunan intervensi gizi yang lebih terarah,” ungkap Puspa

Selanutnya dijelaskan mengenai teknis pelaksanaan lomba yang disampaikan oleh Ketua Tim Kerja Kebijakan dan Strategi Upaya Kesehatan Masyarakat, Nirmala Ahmad Mak’ruf, SKM, MSi. 

“Tujuan dari kompetisi ini adalah untuk meningkatkan kolaborasi dalam menerjemahkan data gizi menjadi intervensi kesehatan yang berdampak, menyebarluaskan temuan dari SSGI 2024 dalam format yang mudah diakses dan ditindaklanjuti, mendorong konsep inovatif dan pemikiran strategis dalam mengatasi tantangan gizi melalui Advanced Analysis Challenge, serta memperkuat kapasitas para profesional kesehatan, peneliti, dan pembuat kebijakan dalam analisis data dan penulisan ilmiah melalui workshop,” ujar Mak’ruf

Selanjutnya Mak’ruf menekankan beberapa aspek penilaian SiBijaks Awards 2025 diantaranya, seleksi konsep proposal terbaik berdasarkan kriteria, relevansi dengan tema, kejelasan dan kelengkapan, kesesuaian metodologi, novelty atau inovasi dan signifikansi atau potensi dampak.

SiBijaKs Awards 2025 diharapkan menjadi momentum penting untuk melahirkan rekomendasi kebijakan yang inovatif, aplikatif, dan berdampak nyata bagi perbaikan status gizi serta pembangunan kesehatan di Indonesia. 

Kompetisi terbuka untuk diikuti oleh seluruh masyarakat, oleh sebab itu melalui kesempatan ini panitia mengundang semua pemerhati kesehatan untuk mengakses informasi mengenai SiBijaKs Awards 2025 melalui website BKPK https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/ dan kanal media sosial lainnya. (Penulis: Nowot Raharjo Editor Timker HDI)

POTRET STUNTING DI INDONESIA

Penurunan stunting di Indonesia menunjukkan progres signifikan, dengan angka prevalensi nasional berhasil ditekan hingga 19,8% pada tahun 2024 sesuai hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, Capaian ini merupakan hasil intervensi yang dilakukan selama lima tahun terakhir, di mana prevalensi stunting menurun secara bertahap dari 27,7% pada 2019. Hal ini menunjukkan upaya meningkatkan kualitas kesehatan anak dan sumber daya manusia di Indonesia berjalan pada sesuai target dan perencanaan.

Meskipun secara nasional terjadi penurunan, data infografis juga memperlihatkan adanya disparitas antar daerah. Beberapa provinsi telah mencapai prevalensi yang sangat rendah, jauh di bawah rata-rata nasional. Bali menjadi yang terbaik dengan prevalensi hanya 8,6%, diikuti oleh Jawa Timur (14,7%) dan Kepulauan Riau (15%). Keberhasilan di provinsi-provinsi ini dapat menjadi model bagi wilayah lain.

Di sisi lain, tantangan besar masih dihadapi oleh beberapa provinsi dengan prevalensi stunting yang sangat tinggi. Papua Barat Daya memiliki prevalensi 30,5%, Sulawesi Barat 35,4%, dan yang tertinggi adalah Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan 37%. Angka-angka ini menunjukkan perlunya fokus dan intervensi yang lebih intensif serta target yang lebih spesifik di wilayah-wilayah tersebut untuk mengejar ketertinggalan dan mencapai angka nasional.

Secara keseluruhan, kunci keberhasilan pencegahan stunting terletak pada intervensi yang dilakukan selama 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yang meliputi periode prenatal, kelahiran, dan postnatal. Dengan strategi dan intervensi yang tepat, penurunan stunting di Indonesia dapat terjadi percepatan untuk mencapai target. (Desain dan Naskah Fachrudin Ali/Edit Timker HDI)

Sehat Bukan Pilihan, Sehat Itu Keharusan

Jakarta-Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyelenggarakan ASEAN Car Free Day (ASEAN CFD) di Bundaran Hotel Indonesia Jakarta pada Minggu (14/9). Kegiatan ini merupakan sarana kampanye hidup sehat dan aktif dengan mendukung kesehatan lingkungan serta perwujudan komitmen Indonesia dalam mendukung kampanye hidup sehat di kawasan ASEAN.

ASEAN CFD merupakan inisiatif Indonesia yang diluncurkan tahun 2018 sebagai implementasi kegiatan kerja sama ASEAN untuk Promoting Healthy Lifestyle. Selanjutnya kegiatan ASEAN CFD juga didorong dapat dilakukan di masing-masing negara anggota ASEAN.

Tema ASEAN CFD tahun ini adalah “Inclusive Moves, Sustainable Grooves” atau“Gerakan Inklusif yang Berkelanjutan”. Tema ini mencerminkan semangat keterlibatan semua kalangan masyarakat tanpa memandang usia, kemampuan fisik, jenis kelamin, atau latar belakang sosial budaya serta menyampaikan pentingnya kebiasaan hidup aktif yang berkelanjutan dan seimbang.

Wakil Menteri Kesehatan Prof. Dante Saksono Harbuwono diikuti oleh Sekretaris Jenderal ASEAN San Lwin dan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Prof. Pratikno menyampaikan sambutan pada kegiatan ini. Ketiganya menyinggung soal pentingnya melakukan aktivitas fisik dan menerapkan pola gaya hidup sehat sebagai cara untuk mencegah timbulnya penyakit tidak menular.

“Kesehatan bukan pilihan, kesehatan adalah keharusan. Mulai sekarang olahraga menjadi suatu keharusan untuk mencegah terjadinya penyakit tidak menular. Dengan berjalan kaki, berenang, senam taichi atau olahraga apa saja bisa mencegah timbulnya penyakit diabetes, hipertensi, kolesterol tinggi, dsb,” ujar Prof. Dante.

Dijelaskan Prof. Dante bahwa penyakit Stroke, Diabetes dan Hipertensi adalah beberapa penyakit tidak menular penyumbang angka kematian terbesar di Indonesia. Oleh karena itu Kemenkes berkomitmen untuk melakukan sosialisasi dan mengkampanyekan upaya promotif dan preventif dengan cara berolahraga atau melakukan aktivitas fisik selama 45 menit dilakukan 3 hingga 4 kali dalam seminggu

“Mari kita gencarkan semangat untuk kegiatan promotif preventif demi menjaga kesehatan kita untuk investasi masa depan,” pungkas Prof. Dante.

Sekretaris Jenderal ASEAN San Lwin menyampaikan apresiasinya terhadap pemerintah Indonesia yang terus berkomitmen dan memimpin ASEAN dalam upaya mencegah dan mengendalikan penyakit tidak menular serta mempromosikan gaya hidup sehat.

“Kegiatan ini mendemonstrasikan pentingnya kerja sama yang vital antar berbagai sektor, mulai dari pemangku kepentingan hingga masyarakat lokal kami bekerja bahu membahu di negara masing-masing untuk mempromosikan gaya hidup sehat serta upaya pencegahan dan pengendalian penyakit,” ujar San Lwin.

Sementara itu Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Prof. Pratikno mengatakan bahwa sehat berarti bahagia. Definisi sehat bukan hanya secara fisik tetapi juga mental.

Be healthy is be happy. ASEAN CFD bukan hanya dimaksudkan untuk menghentikan lalu lintas kendaraan. CFD adalah membuka jalan bagi kita semua untuk jalan bersama sehat bersama-sama. Bukan hanya kesehatan fisik tapi juga kesehatan mental. Bukan hanya sehat tapi juga bahagia,” ujar Prof. Pratikno.

Kegiatan ASEAN CFD dimeriahkan dengan beberapa aktivitas yaitu fun walk, zumba, senam taichi, dan edukasi kesehatan seperti Cek Kesehatan Gratis, pojok skrining kesehatan jiwa, serta pojok konsultasi kesehatan olahraga.

Selain dihadiri oleh perwakilan tetap negara anggota ASEAN untuk ASEAN, ASEAN Secretariat, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Pemuda dan Olah Raga dan pemerintah DKI Jakarta kegiatan ini juga dihadiri perwakilan negara mitra untuk ASEAN seperti Jepang, Inggris, dan Kanada serta Organisasi Internasional seperti WHO dan FAO. (Penulis: Kurniatun Karomah Editor Timker HDI)

12,541FansLike
3,200,000FollowersFollow
4,251,000FollowersFollow
3,251,580FollowersFollow
9,320SubscribersSubscribe