web analytics
Header Ads
Beranda Blog Halaman 27

Ayo Cegah Stunting di Kabupaten Nganjuk, Provinsi Jawa Timur

Nganjuk – Dalam rangka percepatan penanganan Stunting, Kementerian Kesehatan RI bersama Komisi IX DPR RI, dan Dinas Kesehatan Kabupaten Nganjuk berkolaborasi mengadakan Pertemuan Advokasi dan Sosialisasi (Advosos) Pencegahan Stunting di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Acara yang dilaksanakan di Taman Wisata Cengkok, Kec. Ngronggot ini dihadiri 600 orang warga dari 4 kecamatan (8/12).

Pertemuan dibuka dengan sambutan oleh Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, M. Yahya Zaini yang diwakilkan Tenaga Ahli, Samani Kurniawan. Yahya mengungkapkan permasalahan Stunting masih menjadi masalah utama masyarakat Indonesia, untuk itu harus dilakukan upaya pencegahan untuk menekan prevalensinya.

“Secara nasional, Stunting kita masih di angka 21,5 persen artinya dari 5 orang anak, itu ada 1 yang Stunting, khusus di Kabupaten Nganjuk itu ada di 17 persen. Mudah-mudahan kita bisa menurunkan angka tersebut supaya tingkat kecerdasan, kesehatan, gizi masyarakat menjadi semakin baik” ujar Samani.

Plt. Kepala Pusat Kebijakan Upaya Kesehatan, Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, Dwi Puspasari hadir mewakili Kementerian Kesehatan mengawali paparannya dengan perlunya bekerja bersama-sama mencegah Stunting.

“Untuk menjalankan program ini nggak bisa sendiri, jadi harus rame-rame semuanya tahu dulu tentang program ini, apa yang bisa dikerjakan bersama saling bahu membahu dengan Dinas Kesehatan, BKKBN dengan perangkat desa dan Kemenkes secara umum.” tutur Puspa.

Kemudian Puspa mengungkapkan pentingnya pencegahan Stunting untuk menjamin kualitas sumber daya manusia mendatang yang lebih baik.

“Kita akan mengalami bonus demografi yaitu usia produktif angkatan kerja di tahun 2030 sampai 2040. Jadi kita ingin agar kualitas manusia Indonesia unggul dan kita bisa bersaing dengan negara maju, berdiri di kaki sendiri menuju Indonesia Emas di tahun 2045” lanjut Puspa.

Untuk itu, Puspa mengatakan pentingnya edukasi untuk mencegah Stunting sejak usia remaja melalui skrining anemia dan minum tablet tambah darah (TTD) dan juga menekankan pentingnya ibu hamil untuk memeriksakan kehamilan selama 6 kali di Puskesmas.

“Karena kondisi ibu yang sekarang sedang hamil, 10 atau 15 tahun lalu saat remaja mungkin mengalami kondisi kurang gizi ataupun anemia yang akan mempengaruhi perkembangan janin, karenanya penting selama kehamilan datang pemeriksaan 6 (enam) kali yang didalamnya ada 2 (dua) kali dengan pemeriksaan Ultrasonografi (USG) oleh dokter di Puskesmas” imbuhnya.

Hadir dalam pertemuan, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Dinas Kesehatan Kabupaten Nganjuk, Muhammad Ikram menghimbau masyarakat agar rutin datang ke Posyandu.

“Mendorong bapak-bapak agar mengantarkan ibu-ibunya ke Posyandu karena menurut data di Kabupaten Nganjuk baru mencapai 80 persen dimana dari 5200 balita, 4000 yang datang ke posyandu, ini masih dibawah target nasional 95 persen. Artinya Ini bisa berdampak buruk terhadap pencegahan Stunting di Nganjuk” ungkap Ikram.

Ikram menambahkan bahwa stunting dapat dicegah dengan memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan kepada balita tanpa memberikan “lotek pisang” yang menjadi budaya nenek moyang, pemberian makanan pendamping ASI, pengukuran tumbuh kembang secara rutin dan tidak lupa juga menjaga kebersihan lingkungan dan mencuci tangan menggunakan sabun.

Ikram kemudian menjelaskan Program Posyandu ILP (Integrasi Layanan Primer) yang mengintegrasikan pelaksanaan posyandu dan tidak hanya mengurus bidang Kesehatan, tetapi juga bidang Sosial, Perumahan Rakyat, Pendidikan, Pekerjaan Umum dan Trantibum Linmas.

“Sekarang ada program Posyandu ILP, posyandu balita bersamaan pelaksanaannya dengan posyandu Penyakit Tidak Menular (PTM) dan lansia. Jadi jangan malu, bapak-bapak juga bisa datang ke Posyandu sambil datang mengantarkan ibu-ibunya bawa balita” tutup pria yang akrab dipanggil Ketut ini. (Penulis Ahdiyat)

Belajar Sejarah Untuk Referensi Masa Depan Kesehatan Indonesia

Jakarta—Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI (BKPK Kemenkes) menggelar acara diseminasi Buku Sejarah Kebijakan Kesehatan Di Indonesia, 1999-2023. Hadir Mantan Menteri Kesehatan Prof. Dr. dr. Faried Anfasa Moeloek, Sp.OG(K). dr. Siti Fadilah Supari, Sp.JP(K), serta para mantan pejabat eselon 1, pakar dan akademisi pada hari Rabu (4/12).

Acara dibuka Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Kebijakan Upaya Kesehatan (Pusjak UK) BKPK Dwi Puspasari. Menurut Puspa penelusuran sejarah kebijakan kesehatan ini pastinya tidak mudah. “Namun sangat menggugah rasa ingin tahu dan belajar dari masa lalu yang tentunya menjadi referensi demi masa depan kebijakan kesehatan Indonesia yang lebih baik,” jelasnya lebih lanjut.

Menurut Kapusjak UK, proses penyusunan buku ini sudah berlangsung selama satu tahun ini. BKPK Kemenkes ikut mengawal penyusunan buku ini hingga selesai. Dalam kesempatan ini, Puspa mengucapkan Terima kasih dan apresiasi kami kepada para tim penyusun Buku Kajian Sejarah Kebijakan Indonesia yang telah berjibaku dan bergerilya dalam penelusuran literatur, arsip-arsip dan dokumen-dokumen terkait sejarah kebijakan kesehatan di Indonesia.

“Saya juga mengucapkan apresiasi dan terimakasih kepada Para Menteri kesehatan, Sekjen dan para pejabat eselon I periode tahun 1999 hingga 2023 yang telah berkenan menjadi informan kunci dalam pembelajaran bersama mengenai kebijakan kesehatan di Indonesia,” ungkap Puspa.

Puspa juga berterimakasih pada para narasumber, pembahas dan tim kerja yang telah bersama-sama membantu proses penyusunan buku kajian sejarah kebijakan kesehatan Indonesia.

Puspa berharap para pembahas dapat menggali pembelajaran penting/lesson learned apa yang tersembunyi dari untaian potret kebijakan sejarah kesehatan di Indonesia tiap periodenya.

Abdul Wahid sebagai salah satu penulis buku ini dari Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada mengatakan salah satu ciri dari buku sejarah adanya pembabakan (periodisasi) untuk memudahkan pemahaman. “Untuk buku ini kita membagi 24-25 tahun sejarah kebijakan kesehatan di Indonesia,” ungkapnya.
Pembagian dibagi kedalam 4 periode. Pertama, periode 1 dari tahun 1999 sampai 2009. Dimulai awal reformasi hingga diberlakukannya desentralisasi.

Periode kedua tahun 2009 sampai dengan tahun 2019. Fokus utama dari periode ini adalah diberlakukannya Jaminan Kesehatan Nasional. “Kemudian periode ketiga yang berlangsung antara tahun 2020-2023. Memang relatif pendek tetapi menjadi periode yang penting karena pada saat itu bangsa Indonesia dan pemerintah Indonesia menghadapi cobaan pandemi Covid-19,” ungkap Wahid.

Periode keempat adalah tahun 2023 hingga saat ini. Ditandai dengan transformasi sistem kesehatan.

Dalam kesempatan itu, Prof Dr. Laksono Trisnantoro dari Universitas Gadjah Mada menyampaikan riset sejarah bukan sebuah riset evaluatif. Namun riset sejarah dapat mengandung bukti-bukti atau penjelasan yang dapat dipakai untuk pengambilan Keputusan. Historian juga dapat memberikan masukan untuk pengambil keputusan. (Penulis Fachrudin Ali/Edit Timker HDI)

Meningkatkan Kualitas Kesehatan Masyarakat Melalui Pencegahan Penyakit

Bali – Menyongsong Indonesia Emas pada tahun 2045 adalah salah satu visi utama Indonesia saat ini. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin meyakini visi tersebut dapat dicapai dengan meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat melalui pencegahan penyakit.

“Di sinilah pentingnya reformasi sektor kesehatan. Upaya menyehatkan masyarakat bukan hanya berfokus pada penyembuhan penyakit, tetapi lebih kepada strategi pencegahan. Pendekatan kesehatan masyarakat perlu bergeser dari pengobatan menuju perawatan primer, imunisasi, dan pemeriksaan kesehatan secara berkala,” ujar Menkes Budi saat kegiatan GAVI Board Meeting pada Selasa (3/12) di Bali.

Lebih lanjut Budi menjelaskan bahwa pencegahan adalah kunci utama. Disebutnya negara dengan biaya kesehatan rendah dan harapan hidup tinggi selalu mengutamakan langkah preventif. Langkah ini menurutnya merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk menciptakan masyarakat sehat sebagai fondasi mencapai Indonesia Emas pada 2045.

“Perhatian khusus harus diberikan pada imunisasi dan peningkatan gizi anak-anak. Investasi pada SDM harus dimulai sejak usia dini, terutama untuk anak-anak di bawah lima tahun,” ujarnya.

Oleh karena itu Budi menekankan pentingnya kolaborasi dengan masyarakat sipil dan mitra pembangunan, baik domestik maupun internasional. Salah satu mitra yang disebut adalah Global Alliance for Vaccine and Immunization (GAVI), yang telah memberikan dukungan teknis dan program untuk memajukan kesehatan dan pendidikan di Indonesia.

GAVI memegang peran penting dalam mendukung upaya imunisasi di Indonesia, terutama dalam memastikan vaksinasi yang merata dan meningkatkan cakupan imunisasi di seluruh wilayah. Melalui pendanaan dan bantuan teknis, GAVI telah membantu Indonesia dalam mengatasi tantangan terkait distribusi vaksin, ketersediaan sarana kesehatan, serta edukasi masyarakat mengenai pentingnya imunisasi. Melalui dukungan GAVI, Indonesia dapat mengurangi angka penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin, seperti polio dan campak, serta menghindari wabah penyakit yang berisiko tinggi.

Indonesia menjadi tuan rumah kegiatan GAVI Board Meeting yang dilaksanakan pada 3-5 Desember 2024 di Bali. Pertemuan ini dihadiri oleh Menteri Kesehatan yang merupakan anggota dari GAVI Board, Pejabat tinggi beberapa negara, GAVI Board Member, Mitra Pembangunan Kesehatan Internasional serta perwakilan negara-negara yang memberikan donasi pada GAVI untuk mendukung peningkatan akses vaksin di negara-negara berpenghasilan menengah maupun menengah ke bawah.

(Penulis Kurniatun Karomah/Edit Timker HDI)

Field Visits GAVI ke Puskesmas Labuan Bajo

Labuan Bajo – Global Alliance for Vaccine and Immunization (GAVI) melakukan field-visit ke Puskesmas Labuan Bajo didampingi Kepala Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) dan Direktur Tata Kelola Kesehatan Masyarakat, Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat (Ditjen Kesmas) pada Senin (2/12). Kunjungan yang bertujuan untuk mengamati bagaimana implementasi imunisasi dilakukan dan bagaimana penyimpanan vaksin di daerah ini merupakan bagian dari rangkaian acara GAVI Board Meeting yang diselenggarakan di Bali.

GAVI memiliki peran strategis dalam memfasilitasi kebutuhan vaksin negara-negara di kawasan Asia Pasifik. Pemerintah Indonesia telah menerima dukungan hibah dari GAVI sejak tahun 2002 dalam rangka mendukung penguatan program imunisasi nasional. Pada saat pandemi COVID-19 lalu Indonesia juga menerima hibah vaksin COVID-19 dari GAVI sebanyak 110,3 juta dosis.

Tahun ini Indonesia menjadi tuan rumah kegiatan GAVI Board Meeting yang dilaksanakan pada tanggal 3-5 Desember 2024 di Bali. Pertemuan ini dihadiri oleh Menteri Kesehatan yang merupakan anggota dari GAVI Board, Mitra Pembangunan Kesehatan Internasional, serta perwakilan negara-negara yang memberikan donasi pada GAVI untuk mendukung peningkatan akses vaksin di negara-negara berpenghasilan menengah maupun menengah ke bawah.

Beberapa side-events berlangsung sebelum Board Meeting dimulai, diantaranya adalah kegiatan field-visit ke Puskesmas, Dinas Kesehatan, maupun fasilitas penunjang pelayanan kesehatan lainnya yang dihadiri oleh para anggota di empat kota berbeda yaitu Bandung, Surabaya, Bali, dan Labuan Bajo.

Pada field-visit ke Labuan Bajo, sebanyak 16 Board Members GAVI beserta perwakilan dari Kementerian Kesehatan dan Mitra Pembangunan Kesehatan Internasional disambut oleh Kepala Puskesmas dan Kepala Dinas Kesehatan beserta jajarannya di halaman Puskesmas Labuan Bajo. Pada kesempatan tersebut, dilakukan imunisasi pada beberapa anak balita oleh petugas kesehatan puskesmas. Para tamu pun berkesempatan melihat langsung pelayanan imunisasi yang tengah dilakukan.

Relitasi Goreti Ilut (Rita) Kepala Puskesmas Labuan Bajo menjelaskan bahwa imunisasi kejar yang tengah dilakukan merupakan kebijakan Kementerian Kesehatan yang digalakan setelah pandemi Covid-19. Sasarannya adalah anak usia 0-5 tahun yang belum mendapat imunisasi lengkap. “Puskesmas Labuan Bajo melaksanakan pelayanan imunisasi kejar sesuai kebijakan Kementerian Kesehatan pada anak balita. Pelayanan imunisasi ini dilakukan mulai tahun 2022. Puskesmas Labuan Bajo mendata anak-anak yang belum mendapat imunisasi lengkap kemudian menghimbau para orang tua untuk membawa balitanya ke Puskesmas untuk dimunisasi,” jelas Rita.

Lebih lanjut Rita menjelaskan bahwa Puskesmas Labuan Bajo merupakan puskesmas kepulauan. Setiap bulan Puskesmas Labuan Bajo melakukan pelayanan posyandu di setiap pulau termasuk imunisasi. Dikatakan Rita bahwa tiap balita yang ada di pulau setiap bulannya mendapat pelayanan sesuai standar. Maria Imelda petugas kesehatan puskesmas menambahkan bahwa untuk pelayanan imunisasi di daerah kepulauan, sehari sebelum pelaksanaanya maka petugas kesehatan akan melakukan pengantaran vaksin sesuai standar. Untuk menjaga vaksin tetap aman dan berkualitas, vaksin ditempatkan di coolbag.

“Kami memperbanyak coolbag sebagai tempat penyimpanan vaksin agar keamanan vaksin tetap terjaga. Meskipun kami di daerah kepulauan tapi di setiap pulau sudah ada listrik sehingga vaksin bisa disimpan di kulkas,” jelas Maria.

Kepala Dinas Kesehatan Labuan Bajo Adrianus Ojo menjelaskan bahwa di setiap desa ada petugas kesehatan. Petugas kesehatan tersebut yang akan melaksanakan posyandu di desa.

“Di sekolah juga ada program nasional 2 kali bulan imunisasi anak sekolah. Program tersebut dilaksanakan di bulan Agustus dan November. Imunisasi yg diberikan adalah vaksin MR, Difteri, Tetanus, dan yang terbaru vaksin kanker serviks,” jelas Adrianus.

Selanjutnya para tamu diajak untuk mengunjungi ruang farmasi tempat penyimpanan vaksin di dalam puskesmas. Disini petugas kesehatan menjelaskan kebijakan One Gate Policy yang merupakan langkah strategis untuk memastikan pengelolaan logistik vaksin dilakukan secara terintegrasi, aman, dan efisien. Disini petugas kesehatan juga mendemontrasikan penggunaan aplikasi SMILE untuk pencatatan logistik vaksin dan pemantauan suhu jarak jauh serta pemanfaatan IoT untuk monitoring suhu penyimpanan vaksin secara real-time.

Selain Puskesmas Labuan Bajo, Board Members GAVI juga berkesempatan mengunjungi instalasi farmasi Dinas Kesehatan Labuan Bajo. Kepala Instalasi Farmasi, Ferdinandus Bambang, pada kesempatan ini menjelaskan tentang ruangan penyimpanan vaksin yang terdiri dari ruang vaksin refrigerator dan cool room. Dijelaskan Ferdinandus bahwa saat ini di ruang vaksin refrigerator ada satu freezer yang digunakan untuk menyimpan Rotavirus. Kepada para tamu, Ferdinandus juga menjelaskan rantai dingin yang mereka gunakan dan jadwal distribusi vaksin ke 22 Puskesmas yang ada di Kabupaten Manggarai Barat.
(Penulis: Kurniatun Karomah/Edit Passkass)

Kemenkes dan GAVI Meninjau Pelaksanaan Imunisasi di Tiga Lokasi di Kabupaten Gianyar

Bali – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes), melalui Pusat Kebijakan Kesehatan Global dan Teknologi Kesehatan Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK), serta Direktorat Pengelolaan Imunisasi Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Ditjen P2P), bekerja sama dengan Aliansi Global untuk Vaksin dan Imunisasi (GAVI), melakukan kunjungan lapangan (field visit) ke tiga lokasi di Kabupaten Gianyar, Bali pada Senin (2/12). Kunjungan ini bertujuan untuk meninjau pelaksanaan program imunisasi di Indonesia yang melibatkan berbagai fasilitas kesehatan.

Tiga lokasi yang dikunjungi antara lain Posyandu Banjar Tengah Triwangsa, SDN 1 Kenderan, dan Puskesmas Tegallalang 1. Kunjungan ini bertujuan untuk memantau pelayanan kesehatan bayi dan balita, pelaksanaan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS), serta pengelolaan vaksin dan logistik vaksin di fasilitas kesehatan.

Pentingnya Imunisasi Anak dalam Program Imunisasi Nasional
Pemerintah Indonesia telah mengintegrasikan imunisasi rutin anak ke dalam Program Imunisasi Nasional (PIN) yang menekankan pentingnya imunisasi sepanjang hayat. Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kemenkes, Maria Endang Sumiwi, menjelaskan bahwa tinjauan lapangan ini dilaksanakan untuk menunjukkan bahwa program imunisasi anak di Indonesia telah terlaksana dengan baik.

“Gavi adalah institusi yang mendukung imunisasi di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Kami ingin menunjukkan bahwa seluruh program imunisasi di Posyandu, Sekolah, maupun Puskesmas semuanya terlaksana dengan baik,” kata Maria Endang Sumiwi.

Apresiasi dari CEO GAVI
Dalam kesempatan yang sama, CEO GAVI, Sania Nishtar, mengapresiasi upaya Kementerian Kesehatan dalam menyukseskan program imunisasi anak di Indonesia. Sania menilai Indonesia telah mengimplementasikan sistem pelayanan kesehatan yang sangat baik, khususnya dalam layanan primer yang melibatkan masyarakat.

“Khususnya layanan primer yang diberikan di sini, yang melibatkan masyarakat dan berbagai aktivitas di dalamnya, merupakan salah satu hal terbaik yang kami lihat di negara-negara yang kami kunjungi,” ungkap Sania. Ia juga menekankan bahwa imunisasi merupakan investasi terbaik bagi masa depan anak-anak Indonesia. “Imunisasi dan vaksinasi adalah investasi terbaik bagi perkembangan dan masa depan anak-anak kita. Bapak dan Ibu harus bangga terhadap sistem ini karena itu akan memberikan perlindungan bagi generasi masa depan.” ujar Sania.

Pelaksanaan Imunisasi di Tiga Lokasi
Kunjungan dimulai di Posyandu Banjar Tengah Triwangsa, di mana tim meninjau pelayanan kesehatan untuk bayi dan balita. Posyandu ini mengintegrasikan imunisasi dan nutrisi dalam sistem layanan lima meja yang dimulai dengan pendaftaran, pemeriksaan antropometri, hingga konsultasi gizi dan pemberian makanan tambahan berbahan baku lokal.

Selanjutnya, tim mengunjungi SDN 1 Kenderan, salah satu sekolah yang menjadi bagian dari Gerakan Sekolah Sehat (GSK). Di sekolah ini, program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) dilaksanakan dengan memberikan vaksin Measles-Rubella (MR) kepada siswa kelas 1 dan vaksin Tetanus-Diphtheria kepada siswa kelas 2 dan 5. Program BIAS bertujuan untuk meningkatkan cakupan imunisasi di kalangan anak-anak usia sekolah, serta mendukung pemulihan tingkat cakupan imunisasi pasca-pandemi.

Lokasi ketiga yang dikunjungi adalah Puskesmas Tegallalang 1, di mana tim melihat secara langsung pelayanan imunisasi untuk bayi dan balita. Puskesmas ini menggunakan aplikasi Sehat Indonesiaku (ASIK) untuk menginput data imunisasi yang diterima anak. Selanjutnya orang tua akan mendapatkan notifikasi dan sertifikat vaksin melalui ponsel. Selain itu, tim juga meninjau pengelolaan vaksin dan logistik vaksin yang menggunakan Sistem Monitoring Logistik Imunisasi berbasis Elektronik (SMILE).

Dukungan Terhadap Pelayanan Kesehatan di Indonesia
Kementerian Kesehatan dan GAVI menegaskan pentingnya keberlanjutan program imunisasi sebagai salah satu upaya untuk melindungi anak-anak Indonesia dari berbagai penyakit. Dengan adanya sistem yang solid dalam pelayanan kesehatan, diharapkan angka cakupan imunisasi dapat terus meningkat dan Indonesia semakin maju dalam menjaga kesehatan generasi masa depan (Penulis Yuliana/Edit Timker HDI)

Surabaya Perkuat Imunisasi dengan Digitalisasi dan Kolaborasi Komunitas

Surabaya– Pemerintah Kota Surabaya terus berkomitmen dalam cakupan vaksinasi dan imunisasi. Hal tersebut tergambarkan saat kunjungan lapangan yang dilakukan oleh Global Alliance for Vaccines and Immunization (GAVI) yang didampingi Plt. Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit. Kunjungan lapangan dilakukan pada Senin (2/11) di 3 lokasi di Kota Surabaya, Jawa Timur.

Anggota GAVI dihadiri oleh General Counsel Andrea Antonelli, Director Strategy, Funding & Performance Johannes Ahrendts, Advisor to the Chief Programme Officer, Vaccine Programmes & Markets Mgmt team Jackie von Gottberg; Chief Financial Officer Francois Note, dan Manager In-Country Communications Ciru Kariũki. Selain dari anggota GAVI juga dihadiri para observer lainnya. Yaitu, Hoséa Rakotoarimanana Nomenjanahary Levi dari Civil Society Organisations, Zaeem Ul Haq Special Adviser untuk EMRO Constituency, Chair of the CSO Steering Committee Ahmed Nizam dari Civil Society Organisations, Sylvain Yuma delegasi dari Governance Committee, Governments – Implementing (DRC), donor dari Norway Siren Borgen, dan donor dari Denmark Simon Feldbæk Peitersen.

Kunjungan pertama dilakukan di Posyandu Melati Putih RW 09, Tanah Kalikedinding. Ketua RW setempat, Yoyok Suhendro, mengungkapkan rasa bangga dan hormat atas kunjungan dari GAVI dan jajaran Kementerian Kesehatan. Yoyok turut mengapresiasi bimbingan dari Puskesmas dan kolaborasi lintas sektor. “Imunisasi di wilayah kami menjadikan warga menjadi lebih sehat,” ujarnya.

Selanjutnya, alur dan proses pelayanan imunisasi di posyandu dilakukan penjelasan oleh Tenaga Psikolog Puskesmas Tanah Kalikedinding Lita Arfandiyah Kusuma Dewi. Ia juga menjelaskan bahwa untuk pencatatan dan pelaporan imunisasi telah terdigitalisasi melalui Aplikasi Sehat IndonesiaKu (ASIK). Setelah itu dilanjutkan dengan peragaan cara menginput data imunisasi menggunakan ASIK.

Selain itu juga dilakukan penginputan menggunakan aplikasi Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) Immunization yang secara lokal digunakan khusus untuk Kota Surabaya. Kedua aplikasi tersebut telah terintegrasi dengan platform SATUSEHAT. Aplikasi ini memudahkan pencatatan data imunisasi secara real-time dan memastikan akurasi data. Bila imunisasi telah lengkap, anak akan diberikan sertifikat Imunisasi Dasar Lengkap (IDL).

Kunjungan berikutnya ke Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah. Di sini, pengurus pondok dan para santri melakukan diskusi dan berbagi pengalaman saat mengikuti program vaksinasi bekerja sama dengan Puskesmas Tanah Kalikedinding. Pondok pesantren yang dihuni oleh 7.500 santri, menjadi salah satu mitra strategis dalam meningkatkan cakupan vaksinasi utamanya pada saat COVID-19.

Kunjungan terakhir dilakukan di Puskesmas Tanah Kalikedinding, dengan berkeliling meninjau fasilitas Puskesmas, termasuk penyimpanan vaksin. Pihak Puskesmas mengucapkan terima kasih atas dukungan GAVI dan Kementerian Kesehatan dalam penyediaan alat-alat pemantauan suhu jarak jauh. Alat tersebut sudah terintegrasi dengan Sistem Monitoring Invetaris Logistik Kesehatan secara Elektronik (SMILE) yang sangat membantu dalam menjaga kualitas vaksin.

Setelah peninjauan, acara dilanjutkan dengan paparan dari Puskesmas Tanah Kalikedinding yang disampaikan oleh Dokter Arlia Ayu Damayanti. Ia menyebutkan capaian IDL hingga Oktober 2024 mencapai 87,08%, melampaui target nasional sebesar 83,33%. Program imunisasi lainnya, seperti vaksin PCV dan Rotavirus, juga menunjukkan tren positif berkat pendekatan berbasis komunitas seperti program “My Village My Home.”

Kegiatan kunjungan ditutup dengan penjelasan Geby dari Technology Transformation Officer (TTO) Kementerian Kesehatan, mengenai aplikasi ASIK. Geby menjelaskan bagaimana aplikasi ini memainkan peran penting dalam mendukung pencatatan imunisasi yang lebih efektif dan efisien, mulai dari pengelolaan data berbasis NIK hingga integrasi dengan sistem nasional. (Penulis Faza Nur Wulandari/Edit Timker HDI)

Wujudkan Transformasi Layanan Primer, Kemenkes Tingkatkan Aksesibilitas Vaksin

Bandung – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mendampingi kunjungan lapangan dari Global Alliance for Vaccine and Immunization (GAVI) Board Chair Jose Manuel Barroso dan 19 GAVI Board Member di Puskesmas Pasikaliki dan PT. Biofarma pada Senin (2/12).

Tujuan kunjungan ini adalah untuk melihat integrasi layanan imunisasi (INEY Tahap 2) di Puskesmas untuk mencapai Zero Dose Children serta implementasi digitalisasi pencatatan dan logistik imunisasi (ASIK & SMILE).

Dalam kunjungan di Puskesmas Pasirkaliki, Budi dan Board Member GAVI meninjau gudang vaksin untuk melihat bagaimana sistem penyimpanan dan logistik vaksin serta pelaksanaan vaksinasinya.

Kepala Puskesmas Pasirkaliki dr. Teti H. Agustin mengatakan bahwa pada prinsipnya puskesmas telah mendapatkan bantuan sistem yang mengintegrasikan antara pemeriksaan suhu dan logistik vaksin. Sistem ini merupakan hasil kolaborasi antara Kemenkes dengan partners yaitu GAVI, Unicef, WHO dan UNDP. Mengunakan teknologi Internet of Things (IoT) yang memungkinkan pemantauan jarak jauh baik suhu maupun stok vaksin. “Sistem dengan IoT ini dintegrasikan melalui Sistem Monitoring Inventaris Logistik secara Elektronik (SMILE). Dari level puskesmas, dinas kesehatan sampai ke Kemenkes bisa melihat tren suhu vaksin di kulkas serta stoknya” jelas Teti.

Sedangkan untuk digitalisasi pencatatan vaksinasi, puskesmas sudah menggunakan Aplikasi Sehat Indonesiaku (ASIK). ASIK merupakan aplikasi mobile terpusat dan terintegrasi yang digunakan untuk input data, pemantauan data perkembangan pasien untuk seluruh petugas kesehatan tingkat primer dan kader.

Kunjungan Menkes Budi dan Board Member GAVI berlanjut ke PT. Biofarma untuk melihat proses produksi, pengemasan, penyimpanan, sampai distribusi vaksin. Rombongan juga meninjau ruang Command Center untuk melihat demonstrasi sistem manajemen distribusi vaksin di PT. Biofarma.

Di sela kunjungannya, Menkes Budi mengapresiasi PT. Biofarma yang telah lama menjadi mitra Kemenkes dalam mencapai tujuan program imunisasi nasional. PT. Biofarma merupakan perusahaan lifescience kelas dunia yang berdaya saing global yang telah memproduksi 17 jenis vaksin dengan kapasitas produksi 3,1 miliar dosis per tahun untuk memenuhi kebutuhan nasional maupun global.

Dalam sesi diskusi, Direktur Utama PT. Biofarma Shadiq Akasya mengungkapkan ada tiga strategi yang dapat dilakukan dalam menentukan masa depan aksesibilitas vaksin. Pertama, memperkuat ketahanan rantai pasokan dan ketersediaan vaksin. Kedua, berinovasi untuk memenuhi kebutuhan ancaman kesehatan baik yang baru ataupun yang terus berkembang. Ketiga, berkolaborasi dalam pengembangan kapasitas untuk mendukung sistem kesehatan di wilayah sulit.

“Melalui pertemuan ini, mari tegaskan kembali tujuan bersama kita yaitu untuk memperkuat sistem ketahanan global dan menciptakan dunia dengan keadilan akses terhadap vaksin bagi semua” ujarnya.

Di akhir diskusi, perwakilan dari GAVI Derrick Sim mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah menyambut baik kunjungan lapangan ini. Ia terkesan dengan dedikasi Kemenkes dan PT. Biofarma. “Banyak sekali upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat Indonesia terutama melalui produksi begitu banyak vaksin penting” pungkasnya.

Kemenkes, PT. Biofarma dan GAVI berkomitmen bersama-sama mewujudkan kemudahaan akses vaksin agar di seluruh pelosok Indonesia mendapatkan manfaat vaksin.
(Penulis Nisa Fitriyani/Edit Timker HDI)

Bahaya Hipertensi Mengintai Anak Muda Indonesia

Hipertensi, atau tekanan darah tinggi, sering dianggap masalah kesehatan orang tua. Namun, data menunjukkan bahwa anak muda di Indonesia juga rentan terhadap kondisi ini. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi hipertensi berdasarkan hasil pengukuran tensimeter sebesar 10,7% pada kelompok usia 18–24 tahun dan 17,4% pada kelompok 25–34 tahun. Fakta ini mengejutkan, mengingat hipertensi dapat menjadi silent killer tanpa gejala awal yang jelas.

Anak muda menurut Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan didefinisikan sebagai individu berusia 16 hingga 30 tahun. Kementerian Kesehatan mengelompokkan anak muda mencakup kelompok usia remaja hingga dewasa muda, dalam rentang usia 15–24 tahun. Kelompok ini sering dijadikan target dalam survei seperti Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 untuk masalah kesehatan tertentu seperti hipertensi.

Fakta Penting tentang Hipertensi di Kalangan Anak Muda di Indonesia
Data SKI 2023 secara jelas menggambarkan kejadian hipertensi di kalangan anak muda. Berdasarkan diagnosis dokter kelompok umur 18-24 prevalensi hipertensi sebesar 0,4% dan kelompok umur 25-34 sebesar 1,8%.

Ada hal menarik bahwa ada gap atau kesenjangan data yang cukup besar antara data indikasi kejadian hipertensi berdasarkan wawancara atau penuturan responden dengan data hasil pengukuran menggunakan alat tensimeter.

Data yang terlihat berdasarkan gap tersebut cukup besar. Ini memunculkan dugaan bahwa banyak responden anak muda tidak tahu gejala dan indikasi dari hipertensi, Padahal jika dilakukan pengukuran yang bersangkutan sudah mengalami hipertensi.

Kenapa Anak Muda Rentan?
Gaya hidup modern adalah salah satu penyebab utama meningkatnya risiko hipertensi di kalangan anak muda. Pola makan tinggi garam, lemak, dan rendah serat, aktivitas fisik yang minim akibat kebiasaan sedentary, stres akibat tekanan kerja atau studi, serta kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol merupakan faktor risiko utama. Sayangnya, banyak anak muda yang tidak menyadari bahwa gaya hidup mereka membawa dampak serius pada kesehatan.

Ketidaktahuan akan gejala hipertensi memperbesar potensi bahaya jangka panjang. Tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol dapat menyebabkan komplikasi serius, seperti stroke, serangan jantung, gagal ginjal, hingga kebutaan. Meskipun dampak ini mungkin belum terasa sekarang, kerusakan organ yang terjadi secara perlahan bisa menjadi ancaman besar di masa depan.

Pemerintah, melalui program Quick Wins dari Kementerian Kesehatan, berupaya menangani masalah ini dengan menggalakkan pemeriksaan kesehatan gratis (PKG). Program ini mencakup skrining kesehatan di Puskesmas, kampanye edukasi melalui media sosial, dan pelibatan komunitas lokal untuk menjangkau kelompok rentan. Deteksi dini adalah langkah penting untuk mencegah komplikasi hipertensi dan mengurangi risiko kematian akibat penanganan yang terlambat.

Kesadaran akan pentingnya pola hidup sehat perlu ditingkatkan di kalangan anak muda. Menerapkan pola makan sehat, rutin berolahraga, mengelola stres, serta menjauhi rokok dan alkohol adalah langkah sederhana namun efektif untuk mencegah hipertensi. Dengan gaya hidup yang lebih sehat dan dukungan dari program pemerintah, generasi muda Indonesia memiliki peluang besar untuk terhindar dari ancaman hipertensi.

Menjaga kesehatan anak muda dari hipertensi adalah langkah strategis untuk mendukung tercapainya Generasi Emas 2045. Anak muda merupakan aset bangsa yang akan menjadi motor penggerak pembangunan di masa depan. Hipertensi yang tidak terkendali dapat mengurangi produktivitas, menurunkan kualitas hidup, dan meningkatkan risiko komplikasi serius yang membebani individu maupun sistem kesehatan.

Dengan menerapkan gaya hidup sehat dan melakukan deteksi dini melalui program pemerintah, risiko hipertensi dapat ditekan. Hal ini tidak hanya memperpanjang usia harapan hidup, tetapi juga memastikan generasi muda memiliki fisik dan mental yang prima untuk berkontribusi dalam pembangunan bangsa. Kesehatan yang terjaga memungkinkan mereka menghadapi tantangan global dengan optimal, sehingga Indonesia dapat mencapai visi menjadi negara maju pada 2045.

(Penulis Fachrudin Ali Ahmad)

Sumber foto : Canva

Strategi Kolaboratif Tingkatkan Penemuan Kasus TB

Jakarta – Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) kembali menyelenggarakan Bincang Asik Bersama Pakar (Binar), kali ini mengusung tema “Collaborative Network Model for Tuberculosis Case Finding.” Pada kamis (28/11), acara yang berlangsung di Jakarta ini menghadirkan dua pembicara utama yang memaparkan materi strategis untuk mendukung eliminasi Tuberkulosis (TB) di Indonesia pada tahun 2030.

Materi pertama disampaikan oleh pemenang SiBijaks Awards 2024, Selvia Harum Sari, dari National Cheng Kung University, Taiwan. Selvia memaparkan pentingnya Integrasi Pelayanan Paliatif dalam Program TB untuk mencapai eliminasi TB 2030. Ia menyoroti perlunya pendekatan holistik dalam pengobatan TB, khususnya dengan mengintegrasikan pelayanan paliatif pada fasilitas kesehatan.

Menanggapi paparan tersebut, Prof. dr. Ari Natalia Probandari, MPH., Ph.D., menyampaikan bahwa pemetaan fasilitas kesehatan menjadi kunci dalam memastikan keberadaan pelayanan paliatif di fasilitas rujukan. “Belum semua layanan paliatif tersedia di fasilitas kesehatan rujukan. Kementerian Kesehatan perlu melakukan proyek percontohan (piloting project) di fasilitas yang siap, lalu mengevaluasi hasilnya untuk diterapkan lebih luas,” ujarnya.
Materi kedua disampaikan oleh Dr. Irma Prasetyowati, SKM, Mepid., dengan topik “Developing a Collaborative Network Model to Strengthen the Public-Private Mix Approach for Tuberculosis Case Findings in Rural Areas of East Java Province.” Penelitian ini bertujuan meningkatkan keberhasilan deteksi dini kasus TB di daerah pedesaan melalui pendekatan Public-Private Mix (PPM).

Dr. Irma menekankan pentingnya kolaborasi antara sektor publik dan swasta untuk menjawab tantangan keterbatasan akses layanan kesehatan. “Pengembangan jaringan kolaboratif antara publik dan swasta terbukti meningkatkan koordinasi, melibatkan masyarakat, memberikan pelatihan kepada tenaga kesehatan, dan menyempurnakan mekanisme pelaporan. Hasilnya, deteksi kasus TB meningkat, diagnosis menjadi lebih cepat, dan tingkat kepatuhan pasien terhadap pengobatan juga membaik,” jelasnya.

Direktur P2PM dr. Ina Agustina Isturini, MKM turut memberikan tanggapan terhadap paparan Dr. Irma. Ia menyoroti fakta bahwa dari 1 juta perkiraan kasus TB, hanya sekitar 800 ribu yang terdiagnosis. Lebih sedikit lagi yang tercatat, dan hanya 55% pasien yang menyelesaikan pengobatan. “Sebagian besar pasien, sekitar 40%, memilih pengobatan di sektor informal seperti apotek, alih-alih Puskesmas atau rumah sakit, sehingga memperlambat pengendalian TB,” ungkapnya.

Sekretaris BKPK, dr. Etik Retno Wiyati, MARS, M.H., dalam sambutannya menegaskan bahwa Indonesia menghadapi tantangan besar dalam pengendalian TB. “Dengan beban kasus TB tertinggi kedua di dunia setelah India, upaya deteksi dini dan penanganan yang efektif sangatlah krusial. Acara seperti Binar menjadi wadah penting untuk berbagi pengalaman dan menemukan solusi nyata,” ujar dr. Etik.

Ia berharap kolaborasi yang dibahas dalam acara ini dapat menjadi langkah nyata dalam mengatasi berbagai kendala, termasuk menjangkau populasi rentan di daerah terpencil. “Mari bersama-sama wujudkan Indonesia bebas TB dan capai target pembangunan kesehatan yang lebih baik,” pungkasnya.

Acara Binar kali ini menjadi bukti komitmen BKPK dalam mendukung inovasi dan kolaborasi untuk eliminasi TB di Indonesia, sekaligus memperkuat jejaring antara para pemangku kepentingan demi pencapaian target kesehatan global.(Penulis Nowo Setiyo Raharjo)

FGD ACPHEED for Detection and Risk Assessment: Upaya Kolektif untuk Peningkatan Ketahanan Kawasan ASEAN

BOGOR – Focus Group Discussion (FGD) untuk Peningkatan Kapabilitas Kawasan ASEAN dalam Deteksi dan Penilaian Risiko Kedaruratan Kesehatan Masyarakat dan Penyakit Baru yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan resmi dibuka pada Rabu (27/11) di Bogor, Jawa Barat. Kegiatan yang dilaksanakan secara back to back dengan kegiatan benchmarking selama 2 hari sebelumnya diikuti oleh Focal Point negara anggota ASEAN untuk surveilans dan laboratorium.

Kepala Pusat Kebijakan Kesehatan Global dan Teknologi Kesehatan (Pusjak KGTK) Bonanza Perwira Taihitu mengatakan bahwa kegiatan ini dilaksanakan sebagai bagian dari tahap persiapan untuk memastikan efisiensi dan efektivitas kegiatan yang dilakukan ACPHEED, khususnya center yang ada di Indonesia terkait Deteksi dan Penilaian Risiko. Dijelaskan Bonanza bahwa landasan kegiatan strategis dan teknis yang direncanakan oleh ACPHEED harus mengacu pada studi kelayakan yang tersedia dan frame work yang telah disetujui, serta informasi berbasis bukti yang diperoleh dari kebutuhan dan harapan negara anggota ASEAN.

“FGD ini bertujuan untuk mendapatkan rekomendasi yang lebih teknis untuk mendefinisikan surveilans, epidemiologi lapangan dan komponen laboratorium ACPHEED serta untuk mengidentifikasi kebutuhan negara anggota ASEAN dalam meningkatkan kemampuan dalam deteksi dan penilaian risiko, memastikan bahwa ACPHEED dapat secara efektif mendukung kegiatan-kegiatan penting ini,” ujar Bonanza pada Rabu (27/11).

Pada kesempatan ini Bonanza mengingatkan kembali pentingnya mempersiapkan diri untuk menghadapi potensi kedaruratan kesehatan yang mungkin terjadi di masa depan. Untuk itu Bonanza menekankan pentingnya kolaborasi regional, kolaborasi para pemangku kepentingan di semua tingkatan untuk mendukung pelaksanaan pemantauan kedaruratan kesehatan masyarakat, dan menetapkan mekanisme berbagi data secara real-time. Bonanza mengharapkan pertemuan ini akan menghasilkan kontribusi yang signifikan, menginisiasi kolaborasi, serta memperkuat jaringan yang sudah ada.

“Wawasan dan rekomendasi yang berharga dari semua peserta akan menjadi masukan penting bagi inisiatif ACPHEED untuk Deteksi dan Penilaian Risiko, bekerja sama dengan pusat-pusat ACPHEED lainnya. Kami percaya bahwa upaya kolektif ini akan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap upaya regional dan global yang bertujuan untuk meningkatkan ketahanan terhadap ancaman kesehatan dan pandemi di masa depan,” ujarnya.

Harapan serupa juga diutarakan oleh Plt. Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Yudhi Pramono yang turut serta membuka kegiatan FGD. Yudhi berharap diskusi yang dilakukan berjalan lancar dan memberikan hasil yang terbaik untuk masa depan kawasan ASEAN dan generasi yang akan datang.

“Melalui dialog dan kolaborasi yang konstruktif, kita dapat mengambil langkah yang berarti dan integratif untuk mengatasi tantangan global dan mempersiapkan diri menghadapi pandemi di masa depan. Upaya kita untuk meningkatkan kemampuan dan memperkuat ketahanan terhadap ancaman kesehatan melalui pembentukan ACPHEED mungkin tidak dengan berlari cepat, melainkan maraton. Namun kita mengharapkan dapat memberikan hasil yang terbaik untuk masa depan kawasan ASEAN,” ujar Yudhi.

Kegiatan FGD selain diikuti oleh Focal Point seluruh negara anggota ASEAN untuk surveilans dan laboratorium juga dihadiri oleh ASEAN Biodiaspora Virtual Center, ASEAN + 3 Field Epidemiology Training Network, ASEAN One Health Network, ASEAN EOC Network, ASEAN Centre for Biodiversity, ASEAN Coordinating Centre for Humanitarian Assistance on Disaster Management, ASEAN Institute for Disaster Health Management, WHO, beberapa Centers for Control and Prevention Disease (CDC) Regional, Timor Leste, dan beberapa negara dialog partner ASEAN. (Penulis Kurniatun Karomah/Edit Timker HDI)

12,541FansLike
3,200,000FollowersFollow
4,251,000FollowersFollow
3,251,580FollowersFollow
9,320SubscribersSubscribe