web analytics
Header Ads
Beranda Blog Halaman 35

Kunjungan ke Puskesmas Kabila Kabupaten Bone Bolango Gorontalo

Gorontalo– Tim Pembinaan Wilayah (binwil) Pusat Kebijakan Pembiayaan dan Desentralisasi Kesehatan (Pusjak PDK) Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) melakukan kunjungan ke Puskesmas Kabila di Kabupaten Bone Bolango dalam rangka pembinaan wilayah di Provinsi Gorontalo. Puskesmas Kabila adalah salah satu Puskesmas yang telah mengimplementasikan Integrasi Pelayanan Kesehatan Primer (ILP) di Provinsi Gorontalo. Dalam kunjungan ini Pusjak PDK juga didampingi perwakilan dari Direktorat Tata Kelola Kesehatan Masyarakat Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat (Ditjen Kesmas) selaku inisiator ILP.

Kepala Puskesmas Kabila, Felmi Sudo Kude menyambut kedatangan rombongan didampingi Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Gorontalo Anang Otoluwa serta jajarannya. Felmi memandu tim binwil untuk melihat layanan kesehatan yang tersedia, bagaimana alur pelayanannya dan menunjukkan ruangan dan fasilitas yang dimiliki Puskesmas Kabila.

Dijelaskan Felmi bahwa Puskesmas Kabila telah mengadopsi sistem Klaster yang diperkenalkan oleh Ditjen Kesmas. Klaster 1 merupakan tempat pendaftaran dimana pasien melakukan pendaftaran dengan mengambil nomor antrian dan petugas melakukan penginputan data pasien. Klaster 2 berupa layanan skrining pemeriksaan, Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS), serta Kesehatan Ibu, Anak dan usia produktif. Klaster 3 terdiri dari layanan telemedicine, konsultasi calon pengantin, pemasangan implan dan konsultasi KB. Sementara klaster 4 berupa layanan pencegahan dan pengendalian penyakit menular seperti pemberian OAT pada pasien penyakit TB. Ada pula layanan lintas klaster seperti pemeriksaan gigi dan mulut, layanan rawat inap persalinan, layanan UGD, layanan kefarmasian apotik, dan layanan laboratorium.

Ketua Tim Kerja Kebijakan Pembiayaan Kesehatan Pusat dan Daerah, Bondan Wicaksono yang mewakili Kepala Pusjak PDK dalam kunjungan ini menyampaikan sukacitanya dapat mengunjungi Puskesmas Kabila ditengah bencana banjir dan longsor yang sedang melanda provinsi Gorontalo. Dalam kesempatan ini Bondan juga menyampaikan bela sungkawa atas musibah yang terjadi. Dikatakan Bondan bahwa kedatangan tim binwil mungkin disaat yang kurang tepat namun tim memiliki niat baik untuk melakukan pembinaan.

Diungkapkan Bondan bahwa dalam pembinaan wilayah kali ini Pusjak PDK mencoba pendekatan berbeda. Pusjak PDK akan memfokuskan pada hal-hal yang diprioritaskan serta berupaya menghasilkan wujud konkret. Selain itu Pusjak PDK juga menggandeng Direktorat Tata Kelola Kesehatan Masyarakat yang merupakan inisiator ILP untuk melihat langsung implementasi ILP di daerah. Ini sesuai amanat Kepala Pusjak PDK yang mengatakan apabila daerah binaan belum mengalami kemajuan berarti perlu dibenahi caranya dalam melakukan pembinaaan wilayah.

“Kami ingin melihat kesiapan daerah dalam implementasi ILP. Karena menurut laporan yang kami terima implementasi ILP di daerah baru sebatas ruangan, pelayanan belum dilaksanakan. Secara umum masih bermasalah terkait tenaga atau SDM,  BMHP, dsb. Kita ingin menangkap isunya, apa sih kendala di masing-masing Puskesmas dalam implementasi ILP,” ujar Bondan.

Dijelaskan Bondan bahwa Menteri Kesehatan menargetkan 4.000 atau 40% puskesmas sudah mengimplementasikan ILP di akhir tahun ini. Karena itu Ditjen Kesmas bekerjasama dengan berbagai unit mendorong agar ILP dapat berjalan.

Kepala Dinkes Provinsi Gorontalo, Anang Otoluwa berterima kasih atas kedatangan tim binwil ke provinsi Gorontalo khususnya ke Puskesmas Kabila. Diungkapkannya bahwa konsep ILP sudah bagus tinggal melakukan perubahan-perubahan terkait manajemen, sedikit pendanaan yang ditimbulkan dan gaya kerja yang menurut Anang terlalu terpusat pada Puskesmas sehingga Pustu dan Posyandu sedikit terabaikan. Disebutkan Anang bahwa sebenarnya sudah ada Puskesdes dan Polindes yang dibangun di desa dan kelurahan. Jika kedua fasilitas itu dipisahkan dengan Pustu menurut Anang akan menjadi pekerjaan berat bagi Kemenkes. Karena itu harapan Anang agar kedepannya Puskesdes dan Polindes bisa bertransformasi menjadi Pustu.

Sementara itu kepada tim binwil Felmi menjelaskan strategi Puskesmas Kabila melakukan persiapan dalam pengimplementasian ILP dan menjabarkan hambatan yang dihadapi. Untuk tahap persiapan Puskesmas Kabila telah melakukan penyelenggaraan workshop ILP tingkat provinsi, sosialisasi ILP di puskesmas Kabila, sosialisasi ILP lintas sektor wilayah kerja puskesmas Kabila serta sosialisasi ILP di masyarakat.

Sedangkan hambatan yang dihadapi puskesmas Kabila dalam pengimplementasian ILP diantaranya adalah antrian online yang belum bridging dengan aplikasi RME dan antrian online BPJS, gedung puskesmas yang kecil dengan kapasitas dan kondisi pasien yang banyak, tenaga dokter yang kurang, jaringan yang kurang stabil pada saat pelayanan yang menyebabkan pasien menunggu. Selain itu ada 6 desa dan 5 kelurahan yang belum mempunyai Pustu.

Disisi lain Puskesmas Kabila telah berhasil membuat inovasi dalam bidang telemedicine bernama Mohindu Dokter atau yang disingkat Mondok. Mohindu adalah bahasa Gorontalo untuk Tanya Dokter. Mondok merupakan layanan konsultasi medis online yang digagas puskesmas Kabila. Dengan tajuk ‘Solusi Berobat dari Rumah’ sistem ini menawarkan layanan kesehatan melalui telpon, whatsapp, maupun videocall langsung dengan dokter di puskesmas Kabila.

Inovasi Mondok ini memberikan manfaat besar bagi pasien diantaranya yaitu meminimalkan antrian. Dengan sistem ini pasien tidak perlu menunggu lama untuk mengikuti alur antrian di puskesmas. Kemudian kenyamanan yang didapatkan pasien karena dengan sistem ini pasien bisa konsultasi dari rumah tanpa harus datang ke puskesmas. Keterjangkauan, melalui sistem ini pasien tidak perlu jauh-jauh datang ke puskesmas, cukup melakukannya lewat online, dan terakhir inovasi layanan ini memproritaskan kesehatan dan kesejahteraan pasien. (Penulis Kurniatun/Edit Pusjak PDK)

Pentingnya Kolaborasi dan Inovasi untuk Tingkatkan Layanan Kesehatan Masyarakat Gorontalo

Gorontalo– Transformasi kesehatan perlu diwujudkan sampai ke daerah agar layanan kesehatan nyata dan dampaknya dapat dirasakan oleh masyarakat. Transformasi pembiayaan kesehatan di daerah merupakan salah satu prioritas pemerintah dalam upaya meningkatkan pembiayaan efektif dan efisien menuju layanan kesehatan yang berkualitas.  

Demikian disampaikan  Ahmad Irsan Moeis ketika memberikan sambutan pada acara Pembinaan Wilayah Bidang Kesehatan di Provinsi Gorontalo pada Rabu (10/7). Kegiatan yang bertempat di Aston Gorontalo mengundang sejumlah instansi pemerintah daerah seperti Dinas Kesehatan Provinsi, Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, RS Hasri Ainun Habibie, RSUD dr. Aloei Saboe dan lintas sektor terkait seperti Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah serta Dinas Keuangan Provinsi.

Dalam sambutannya Irsan juga menyampaikan bahwa diperlukan terobosan strategi serta pendampingan dari pusat ke daerah agar implementasi transformasi pembiayaan kesehatan dapat sejalan dengan tujuan kebijakan nasional. Oleh karena itu pemerintah pusat melaksanakan pendampingan dan pembinaan pemerintah daerah dalam rangka percepatan pelaksanaan dan pemerataan program kesehatan di daerah.

“Untuk mewujudkan tujuan pembangunan kesehatan dibutuhkan kerjasama, kolaborasi dan sinergi diantara pemerintah daerah, jajaran kesehatan maupun lintas sektor terkait di level provinsi dan kabupaten/kota,” tutur Irsan.

Pusat Kebijakan Pembiayaan dan Desentralisasi Kesehatan (Pusjak PDK) Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) sebagai koordinator wilayah di Provinsi Gorontalo dijelaskan Irsan bertugas untuk mengoordinasikan pelaksanaan pembinaan wilayah (binwil) serta mengidenfikasi kendala yang ada di provinsi Gorontalo.

“Pertama kita coba selaraskan apa yang menjadi tugas-tugas program kerja di pemerintah pusat dengan pemerintah daerah khususnya di provinsi dan kabupaten/kota di Gorontalo. Kemudian kita coba sama-sama identifikasi masalah-masalah yang dihadapi teman-teman di provinsi Gorontalo dan kabupaten/kota terkait pemenuhan layanan kesehatan kepada masyarakat,” ujar Irsan.

Dijelaskan Irsan melalui pertemuan koordinasi binwil BKPK bersama Kepala Dinas Kesehatan Provinsi dan jajarannya yang dilaksanakan pada bulan Mei lalu, telah diidentifikasi permasalahan bidang kesehatan yang utama di Provinsi Gorontalo. Diantara permasalahannya yaitu implementasi Integrasi Pelayanan Kesehatan Primer (ILP) yang belum optimal serta kurangnya kajian implementasi program kesehatan di daerah. Irsan juga menyoroti pentingnya pendampingan Province Health Account (PHA) dan District Health Account (DHA) untuk menghasilkan gambaran belanja daerah yang dapat dimanfaatkan untuk perencanaan dan evaluasi pendanaan kesehatan di daerah.

Irsan mengajak seluruh jajaran kesehatan bersama dengan lintas sektor terkait untuk berkolaborasi dan merumuskan inovasi dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.

Menurut Irsan selama ini mungkin yang dibutuhkan adalah sinergi dan koordinasi yang erat antar instansi di pemerintah Gorontalo baik provinsi maupun kabupaten/kota. Komunikasi yang baik menjadi kunci agar semua melihat pada ultimate goal yang sama yaitu bagaimana masyarakat bisa mendapat standar layanan kesehatan yang terbaik yang bisa diberikan oleh pemerintah.

“Kita coba sama-sama rumuskan, sepakati apa yang bisa kita lakukan, terobosan-terobosan yang pada intinya kita ingin masyarakat Gorontalo segera mendapatkan layanan kesehatan terbaik, tercepat dan termurah,” pungkasnya.

Senada dengan Irsan, Kepala Bidang Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana dan Jaminan Kesehatan Masyarakat Afriyani Katili yang mewakili Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo mengatakan ada tiga isu yang akan dibahas pada kegiatan ini yaitu ILP, PHA dan DHA serta pelaksanaan kajian masalah kesehatan oleh perguruan tinggi kesehatan.

“Pada pertemuan ini ada 3 isu yang akan kita bahas, yang pertama terkait ILP, kemudian terkait PHA dan DHA. Itu lokusnya adalah kota Gorontalo, kemudian yang terakhir adalah kajian yang akan dilaksanakan nantinya oleh Politeknik Kesehatan Gorontalo,” kata Afriyani.

Untuk Integrasi Layanan Primer, diungkapkan Afriyani akan dilakukan kunjungan lapangan ke salah satu fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama yaitu Puskesmas Kabila, Kabupaten Bone Bolango yang rencananya akan dilakukan pada Kamis (11/7).

Pada pertemuan ini juga dilakukan sosialisasi Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 6 Tahun 2024 tentang Standar Teknis Pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM) Kesehatan. Melalui Permenkes ini diharapkan permasalahan dukungan Sumber Daya Manusia dan Anggaran dalam pencapaian SPM Kesehatan di Provinsi/Kabupaten/Kota di Gorontalo dapat menjadi perhatian bersama baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. (Penulis Kurniatun/Edit Pusjak PDK)

Kemenkes Goes To Campus untuk Menjaring Talenta Terbaik

Banda Aceh– Mustanir, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kewirausahaan, Universitas Syiah Kuala (USK) menyambut baik kehadiran Kepala Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) di Universitas Syiah Kuala. Kehadiran Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tentu memiliki makna tersendiri bagi civitas USK untuk memantik semangat USK dalam untuk upaya menghasilkan lulusan dan talenta yang berkualitas. Hal tersebut diungkapkan saat memberikan sambutan dalam Kemenkes Goes to Campus (KGTC) di USK, Aceh pada Selasa (9/7).

Kementerian Kesehatan mengadakan program KGTC di 18 Universitas terbaik di Indonesia, salah satunya di USK. Kegiatan ini menyasar fresh graduate dan mahasiswa yang akan lulus. Bertujuan mencari talenta talenta muda untuk berkiprah di Kementerian Kesehatan dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.

Mustanir mengatakan kegiatan KGTC di USK dapat memberikan kontribusi positif dalam mendukung pembangunan bangsa. Melalui kegiatan ini diharapkan dapat semakin mempererat kemitraan antara USK dan Kemenkes seperti program magang untuk mahasiswa dan program akademik lainnya. “Kami mengajak para alumni dan mahasiswa USK untuk mengambil peran dalam pembangunan kesehatan di Indonesia, salah satunya dengan mengikuti rekruitmen CPNS di Kemenkes,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Syarifah Liza Munira, Kepala BKPK menyampaikan bahwa talenta muda USK sangat mungkin bergabung bersama Kemenkes. Talenta muda dapat memberikan aspirasi pandangannya di tingkat global serta dapat bekerja sehat karena Kemenkes harus menjadi role model dalam Gerakan Hidup Sehat. Selain itu, untuk mendukung enam Pilar Transformasi Kesehatan, Kemenkes juga membutuhkan talenta muda yang kreatif.

Dalam paparannya, Liza menyebutkan ketika menjadi bagian talenta Kemenkes, pilihan karier sangat bervariasi. Karier Kemenkes terbuka untuk jabatan strategis. Selain itu, dapat berkarier hingga kancah internasional yaitu Internship di Lembaga Internasional seperti di WHO, UNICEF, Global Fund. Kesempatan berkarier dalam meningkatkan pengetahuan dalam short course dalam dan luar negeri dan beasiswa.

Selanjutnya, Ia mengatakan Kemenkes mencari berbagai ahli tidak hanya dibidang kesehatan, namun dari berbagai latar belakang ilmu seperti Data Analyst, Public Relations, Software Data Engineering, Project Manager hingga Auditor. “Kesempatan ini terbuka lebar bagi mahasiswa USK yang memiliki keahlian dan semangat untuk berkontribusi dalam sektor kesehatan Indonesia,” ucap Liza.

Saat ini Kemenkes akan membuka 8607 formasi Calon Pegawai Negeri Sipil, sehingga Liza mengajak para mahasiswa untuk bergabung dengan Kemenkes. “Saya ingin tentunya mengajak adik-adik semua untuk meraih impiannya dan berkontribusi untuk kesehatan masyarakat Indonesia. Ada satu tagline Talenta Hebat Raih Sukses ya di Kemenkes,” ajaknya

Kepala BKPK turut didampingi oleh Staf Ahli Khusus Menteri Kesehatan Bidang Ketahanan Industri Obat dan Alat Kesehatan, Kepala Pusat Kebijakan Upaya Kesehatan, Kepala Balai Kekarantinaan Kelas 1 Banda Aceh, Direktur Politeknik Kesehatan Aceh, Kepala Balai Laboratorium Kesehatan Masyarakat Banda Aceh serta para champhion Kemenkes dan talent dari pegawai BKPK.

Menutup acara, para pendamping turut menyampaikan pesan pada para mahasiswa. Dwi A Himiyah, talenta BKPK mengatakan banyaknya kesempatan untuk berkembang di Kemenkes. “We grow a lot di Kemenkes, dan kita tumbuh bukan untuk diri kita sendiri, tapi juga untuk institusi Kemenkes, masyarakat Indonesia, dan juga masyarakat dunia,” pungkasnya.

Senada dengan itu, Khoiri Jinan, talenta dari BKPK mengajak para mahasiswa untuk tidak ragu bergabung dengan Kemenkes. “Di Kemenkes tidak hanya bekerja, tapi juga mengembangkan diri, karier, dan potensi untuk terus melaju sangat terbuka. Tidak hanya dilevel nasional tapi juga internasional. Jadi tunggu apalagi jangan ragu untuk bergabung di Kemenkes,” tutupnya. 
(Humas BKPK)

Rekam Medis Elektronik Meningkatkan Kualitas Layanan Pasien JKN

Jakarta– Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan Dr. dr. Ishaq Iskandar secara resmi membuka acara Pelatihan Pengkodean Diagnosis Penyakit dan Tindakan Bagi Tenaga Koder di Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjut (FKRTL) dalam Program Jaminan Kesehatan nasional (JKN) Tahun 2024 secara daring pada Senin (8/7). Pelatihan Gelombang 2 Angkatan 5,6,7, dan 8 dilaksanakan secara daring/online pada tanggal 8-10 Juli 2024, dilanjutkan secara luring di Makasar pada tanggal 11-14 Juli 2024.

Dalam sambutannya, Ishaq Iskandar mengatakan bahwa rekam medis bertujuan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan dan memberi kepastian hukum, menjamin kerahasiaan, keutuhan, dan ketersediaan data serta mewujudkan rekam medis yang berbasis digital.

Ishaq Iskandar menjelaskan berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 24 Tahun 2022 tentang Rekam Medis, setiap fasilitas pelayanan kesehatan wajib menyelenggarakan rekam medis secara elektronik.

Rekam medis merupakan dokumen yang berisi data identitas kesehatan pasien, pemeriksaan dan pengobatan, tindakan dan lain-lain yang diberikan kepada pasien sedangkan Rekam Medis Elektronik (RME) adalah rekam medis yang dibuat dengan menggunakan sistem elektronik. Sistem elektronik yang dimaksud, berupa serangkaian perangkat dan prosedur yang berfungsi mempersiapkan dan mengolah, menganalisis, menyimpan, dan menertibkan serta mengirimkan dan atau menyebarkan informasi elektronik.

Sistem pengkodean yang disebut dengan koding rekam medis elektronik merupakan proses mengubah informasi medis yang ada dalam catatan kesehatan pasien menjadi kode-kode yang distandardisasi. Koding RME memungkinkan pengelolaan rekam medis lebih efisien, akurat, dan dapat diakses dengan mudah untuk berbagai keperluan dalam sistem kesehatan

Selanjutnya, Ishaq Iskandar menjelaskan bahwa pelatihan ini merupakan upaya Kementerian Kesehatan dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan mempermudah proses pendokumentasian, pelacakan, pelaporan dan analisis data medis sehingga menciptakan sistem kesehatan yang lebih baik.

“Dengan adanya kegiatan ini dapat membantu rumah sakit dalam meningkatkan efisiensi operasional, kualitas pelayanan, dan kepatuhan terhadap regulasi, sehingga menciptakan sistem kesehatan yang lebih baik,” harap Kadinkes Sulsel ini lebih lanjut.

Dalam kesempatan yang sama, Siti Nur Anisah, Panitia Penyelenggara dari Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) Cikarang dalam laporannya mengatakan penyelenggaraan kegiatan ini merupakan kerja sama Bapelkes Cikarang dengan Pusat Kebijakan Pembiayaan dan Desentralisasi Kesehatan (Pusjak PDK) di bawah Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kemenkes RI.

“Total peserta pelatihan kali ini 120 orang,” jelas Anisah. Peserta pelatihan merupakan tenaga koder dengan pendidikan minimal D3 Kesehatan dan diutamakan lulusan rekam medis, yang melakukan pengkodean diagnosis dan tindakan untuk klaim JKN di FKRTL, baik PNS di RS Pemerintah maupun pegawai tetap di RS Swasta yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan di Provinsi Gorontalo, Maluku, Maluku Utara, Papua, Papua Barat, Papua Barat Daya, Papua Pegunungan, Papua Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Barat.

Menurut Anisah, setelah mengikuti pelatihan ini, peserta mampu melakukan kodifikasi diagnosis dan tindakan berdasarkan ICD-10 Tahun 2010 dan ICD 9-CM Tahun 2010. “Mereka mampu melakukan dengan benar,” ujar Anisah.

Selain itu, Anisah menjelaskan bahwa peserta juga diharapkan mampu melakukan analisis data klaim hasil kodifikasi penyakit dan tindakan tersebut. (Penulis Fachrudin Ali & Riris Dian H/Edit Timker HDI)

Ujicoba Lapangan untuk Persiapan SSGI 2024

Cimahi– Sebagai persiapan pelaksanaan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Tahun 2024, Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) melakukan ujicoba lapangan yang berlangsung dari 30 Juni hingga 12 Juli 2024. SSGI adalah survei berskala nasional untuk mengetahui gambaran status gizi balita Indonesia. Dalam pelaksanaan kegiatan ini BKPK bekerja sama dengan Badan Pusat Statistik (BPS) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Ujicoba lapangan terdiri dari beberapa kegiatan yaitu pelatihan, updating, dan pengumpulan data. Pelatihan untuk petugas updating dilakukan secara daring pada 30 Juni 2024 dilanjutkan dengan kegiatan updating pada 1-5 Juli 2024 serta pengumpulan data yang rencananya akan dilakukan pada 8-12 Juli 2024. Kabupaten Magelang dan Kota Cimahi dipilih sebagai tempat pelaksanaan kegiatan updating dan pengumpulan data.

Tim Teknis SSGI 2024, Nirmala Ahmad Ma’ruf mengatakan bahwa ujicoba ini bertujuan untuk melihat fisibilitas pengorganisasian lapangan dan instrumen yang telah disusun oleh BKPK, BPS, dan BRIN. Proses ujicoba ini disebutkan Ma’ruf akan menjadi masukan bagi BKPK dan pihak penyedia yang akan melaksanakan kegiatan lapangan.

“Dalam pengukuran SSGI data-data yang dikumpulkan harus mempunyai kualitas yang sangat baik, karena kalau data salah pasti dalam penanganannya nanti menjadi masalah. Tahapan-tahapan untuk menjaga kualitas data itu sangat ketat, karenanya dalam setiap pelaksanaan kegiatan dilakukan ujicoba dulu sehingga pada waktu pelaksanaan pengambilan data kualitasnya bagus,” ujar Ma’ruf kepada para petugas updating sebelum pelaksanaan kegiatan di Cimahi pada Selasa (2/7).

Setelah mendapat pelatihan para petugas langsung melakukan proses updating di dua wilayah yang dipilih. Kegiatan updating merupakan kegiatan memperbarui data/listing rumah tangga (ruta), terutama rumah tangga yang mempunyai balita di Blok Sensus (BS) terpilih. Listing rumah tangga diperoleh dari BPS berdasarkan hasil sensus penduduk tahun 2020.

Dijelaskan Ma’ruf bahwa kegiatan updating sangat penting karena dari hasilnya ini akan dilakukan wawancara dan pengukuran pada tahap selanjutnya. Kegiatan updating perlu dilakukan karena adanya kemungkinan terjadi perubahan jumlah rumah tangga di setiap BS.

“Proses updating ini sangat penting, inilah yang akan menjadi bahan kunjungan berikutnya, karena itu kami harapkan keseriusan dan ketepatan dalam proses updating ini,” ujar Ma’ruf.

Hal serupa dikatakan oleh Ikhsan, Statistisi Direktorat Pengembangan Metodologi Sensus dan Survei BPS.

“Sebagai agen pengumpul data harus komprehensif. Data itu sangat mahal. Satu kesalahan menyebabkan kesalahan secara keseluruhan. Walaupun ini ujicoba anggaplah latihan itu sebagai perang, ujicoba ini kita gali dengan serius sehingga pada hari pelaksanaanya kita sudah siap,” tuturnya.

Dalam kegiatan updating petugas mendatangi setiap rumah yang berada pada peta BS terpilih untuk melakukan update data mengenai jumlah anggota rumah tangga dan balita yang ada di rumah tersebut. Satu BS kurang lebih terdiri dari 150 hingga 200 ruta.

Proses updating menggunakan aplikasi manajemen survei yang dirancang BPS yaitu Flexible Authentically Survey in Harmony (Fasih). Data hasil updating kemudian dikirim ke tim manajemen data pusat untuk selanjutnya dilakukan sampling 10 ruta balita terpilih dan 3 ruta balita cadangan di setiap BS.

Angsoka Dewi statistisi lain dari BPS mengatakan bahwa ujicoba ini diperlukan untuk memastikan penggunaan aplikasi fasih untuk kegiatan updating ruta sebelum dilaksanakannya pengumpulan data SSGI 2024.

“Diperlukan ujicoba untuk memastikan penggunaan aplikasi dapat diterapkan,” ujarnya.

Menurut Dewi dari hasil pengamatannya petugas telah mampu menggunakan aplikasi dengan baik meskipun diperlukan penguatan praktek dalam pelatihan sebelum pelaksanaannya di lapangan.

Setelah kegiatan updating selesai dilakukan, tim teknis SSGI 2024 kemudian memilih masing-masing 4 BS di 2 wilayah ujicoba.

4 BS yang terpilih untuk kota Cimahi adalah Kelurahan Utama Kecamatan Cimahi Selatan, Kelurahan Cipageran Kecamatan Cimahi Utara, Kelurahan Setiamanah Kecamatan Cimahi Selatan, dan Kelurahan Melong Kecamatan Cimahi Selatan.

Sementara di Kabupaten Magelang 4 BS yang terpilih adalah Kelurahan Ketawang Kecamatan Grabag dan Kelurahan Sumberrejo Kecamatan Mertoyudan. (Penulis Kurniatun/Edit Timker HDI)

Alih Kelola Jurnal BPK dan HSJI ke Poltekkes Kemenkes Palu

Jakarta– Sekretariat Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) menyelenggarakan Penandatanganan Berita Acara Serah Terima Pengalihan Jurnal Buletin Penelitian Kesehatan (BPK) dan Jurnal Health Science Journal of Indonesia (HSJI) bersama dengan Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan (Poltekkes) Palu di Jakarta pada Jumat (28/6).

Dalam sambutannya Sekretaris BKPK Etik Retno Wiyati menyampaikan bahwa jurnal ilmiah memiliki peran yang sangat penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Jurnal ilmiah menjadi media untuk menyebarluaskan ilmu pengetahuan dan menjadi rujukan utama dalam kegiatan ilmiah. Seiring adanya peraturan baru, fungsi penelitian dan pengembangan kesehatan di unit utama Kementerian Kesehatan dihilangkan. Hal ini juga berdampak kepada jurnal-jurnal ilmiah yang dikelola.

Menurut Etik akan sangat disayangkan jika jurnal-jurnal ilmiah tersebut berhenti diterbitkan. Oleh karena itu agar jurnal ilmiah yang tidak dapat dikelola oleh BKPK ini dapat tetap terbit dan bermanfaat, maka perlu dialihkan ke pihak lain seperti institusi pendidikan. Jurnal ilmiah ini dapat dimanfaatkan sebagai media publikasi ilmiah bagi dosen, mahasiswa maupun masyarakat.

“Dengan pengalihan ini kami mengharapkan jurnal-jurnal tersebut dapat terus melayani komunitas akademik dan penelitian sebagai platform publikasi yang kredibel. Jurnal-jurnal ini nantinya juga akan berkontribusi pada kemajuan penelitian dan pengembangan kesehatan di Indonesia,” ujar Etik.

Etik juga mengharapkan dengan dikelolanya Jurnal BPK dan HSJI oleh Poltekkes Kemenkes Palu, maka akan terjadi kesinambungan penerbitan dan kebermanfaatan jurnal dalam rangka diseminasi dan pengembangan ilmu pengetahuan bidang kesehatan. Kedepan data dan informasi yang diterbitkan dapat dijadikan sebagai dasar bagi penyusunan kebijakan pembangunan kesehatan.

Direktur Poltekkes Kemenkes Palu Iskandar Faisal dalam kesempatan ini menyampaikan rasa terima kasihnya pada BKPK yang telah merespon baik permintaan pengalihan pengelolaan jurnal yang diajukan Poltekkes Palu. Faisal juga menyampaikan harapannya akan masa depan kedua jurnal tersebut.

“Terima kasih kepada BKPK yang sudah menyerahkan 2 jurnal pada kami, yaitu Buletin Penelitian Kesehatan dan Health Science Journal of Indonesia. Kami menyadari bahwa mengelola sebuah jurnal tidaklah mudah, terlebih BPK dan HSJI telah memiliki kredibilitas yang tinggi. Harapan kami semoga kedua jurnal tersebut dapat lebih bagus lagi dan meningkat kualitasnya dibawah pengelolaan kami,” ujar Faisal.

Faisal juga mengungkapkan setelah ini Poltekkes Palu akan melakukan pendanaan dan perencanaan agar jurnal-jurnal tersebut dapat terus berjalan. Masukan dan saran dari BKPK dalam pengelolaan kedua jurnal tersebut juga Faisal harapkan demi peningkatan kinerja Poltekkes Palu.

Jurnal BPK dan HSJI adalah dua jurnal ilmiah yang telah terakreditasi Sinta 2 oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Kedua jurnal tersebut juga sudah terindeks di berbagai lembaga pengindeks, baik nasional maupun internasional seperti Directory of Open Access Journal, Dimensions, Sinta, Open Academic Journals Index, dan Google Scholar. (Penulis Kurniatun Karomah/Edit Timker HDI)

Kolaborasi Mitra Kesehatan Mendukung Transformasi Kesehatan

Jakarta– Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) menggelar Indonesia Health Partners Meeting 2024 pada Rabu (26/6) di Jakarta. Pertemuan ini diselenggarakan sebagai bentuk apresiasi pada para donor kesehatan yang telah berkolaborasi dengan Kemenkes untuk menyukseskan transformasi kesehatan. Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono dalam sambutannya menyampaikan Kemenkes dengan para mitra telah bekerja sama dengan erat dalam beberapa tahun ini. Ia juga mengatakan agar kerja sama ini dapat diperkuat dan memperkaya langkah kedepannya. 

“Kami benar-benar menghargai peranan dari mitra pembangunan dalam transformasi sistem kesehatan kita. Oleh karena itu kami bertekad untuk melalui proses yang jelas dan bertanggung jawab melalui kesepakatan dengan mitra. Saya percaya bahwa dengan upaya bersama membuat yang tidak mungkin menjadi mungkin,” tuturnya. 

Selanjutnya, Dante menyampaikan Kemenkes telah mencatat komitmen bersama dari luar Kemenkes mulai dari 2021 sampai 2025 yaitu kurang lebih 931.7 juta USD. Komitmen ini dialokasikan pada pendanaan barang dan jasa dengan penggunaan dana kurang lebih 276.2 juta USD di 2023. “Itu yang membuat kami bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhan spesifik dari program-program kami,” katanya.

Hampir 48% atau sebanyak 131.8 juta USD dimanfaatkan untuk mendukung implementasi program, bantuan kepada masyarakat, dan penyediaan alat kesehatan. Selebihnya, 72.8 juta USD didistribusikan untuk penyediaan jasa atau layanan teknis, konsultan, implementasi program, dan pelatihan. Selain itu sebanyak 71.6 juta USD dialokasikan untuk obat-obatan, vaksin, dan alat-alat kesehatan. 

Pada kesempatan ini, Dante mengucapkan terima kasih kepada para donor dan mitra kesehatan. “Kami sangat berterima kasih atas dukungan terhadap agenda transformasi kesehatan. Itu tidak hanya dukungan melalui kesepakatan, tapi juga kemitraan strategis. Kami sangat beruntung mendapatkan mitra yang dapat diandalkan dari pemerintah juga sektor swasta,” ucapnya.

Dante berharap dengan upaya bersama dan dukungan sumber daya yang lain, bisa memberikan dampak signifikan dan mengatasi kesenjangan anggaran. Upaya ini juga menunjukkan fleksibilitas dan agility yang luar biasa. Hal ini menjadi faktor pendorong inovasi di ekosistem kesehatan di Indonesia. “Kami sudah menyaksikan hal-hal yang sangat berhasil di daerah-daerah.  Perawatan kesehatan sekunder telah meningkatkan keterampilan para profesional kesehatan. Selain itu juga peningkatan keterampilan dan teknologi pada vaksin, terapeutik, teknologi diagnostik, dan juga bioteknologi,” ujarnya. 

Lebih lanjut, Dante menceritakan kisah sukses dukungan mitra pembangunan kesehatan untuk penanganan tuberkulosis, membangun rumah sakit di beberapa tempat, mendirikan dan mentransfer teknologi dari berbagai macam negara. “Semoga program ini bisa berjalan terus dan kita bisa menyukseskan program ini dengan baik dan kolaborasi dengan Kementerian Kesehatan donatur-donatur tersebut berlangsung secara terus menerus,” pungkasnya. (Penulis Faza Nur/Edit Pusjak KGTK-Timker HDI)

IHPM, Dampak Sukses Kolaborasi Para Donor dan Mitra Kesehatan Global

Jakarta– Indonesia Health Partners Meeting (IHPM) yang kedua di tahun 2024 ini adalah untuk merayakan capaian transformasi kesehatan atas dukungan para mitra selama bertahun-tahun ini. Demikian disampaikan Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono saat membuka IHPM pada Rabu (26/6) di Jakarta. Pada kesempatan ini Dante menyampaikan kesuksesan kolaborasi donor dan mitra kesehatan global.

Mengenai penanganan tuberkulosis (TBC), Menurut Dante, pada 2023 Indonesia sudah memiliki tingkat pengawasan yang sangat tinggi terhadap surveilans. Saat ini telah dilaporkan lebih dari 816 ribu kasus TBC baru yang berkontribusi lebih dari 77 persen dari estimasi kasus TBC baru di Indonesia yaitu 1 juta kasus TBC. Adanya kolaborasi dengan komunitas atau kader kesehatan, Kemenkes mencatat 2,2 juta kasus TBC dalam populasi ini.

Lebih lanjut, Dante menjelaskan bahwa Indonesia sudah membangun inovasi diagnosis TBC dengan melakukan pembuatan 5 alat deteksi TBC berbasis PCR. Saat ini ada 1.000 laboratorium yang bisa melakukan tes PCR di seluruh Indonesia yang digunakan selama pandemi covid-19. Indonesia juga memastikan perawatan untuk pengobatan TBC dapat diakses semua. Indonesia pun menjadi salah satu negara pertama di Asia yang melakukan pengobatan TBC melalui perawatan BPaL atau BPaL/M (Bedaquiline, Pretomanid, Linezoid, dan Moxifloxacin). Indonesia mendukung penelitian operasional untuk penggunaan obat jangka pendek untuk TBC yang sensitif obat.

“Kami adalah satu dari negara pertama di dunia yang melakukan inisiatif percontohan untuk memberikan insentif untuk perawatan primer TBC. Pemberian insentif ini termasuk untuk diagnosa, pelaporan,  dan perawatan secara lengkap bagi pasien TBC,” kata Dante.

Dante pun mengatakan saat ini Indonesia telah melibatkan masyarakat untuk membangun “tentara-tentara” TBC dari masyarakat yang terlatih untuk membantu deteksi dan mengawasi tindak lanjut dari perawatan terhadap pasien TBC. Dan kemajuan yang sangat hebat ini hanya dimungkinkan dengan adanya kolaborasi dari Global Fund, USAID, Pemerintah Uni Emirat Arab (UAE), WHO, dan UNICEF dalam upaya melawan TBC.

Cerita sukses selanjutnya adalah dukungan yang utama dari pemerintah UAE yang membangun rumah sakit kardiologi di Solo Technopark. Dengan bantuan dari Pemerintah UAE, Rumah Sakit ini selebar 17.000 meter persegi dan mengakomodasi 100 tempat tidur serta konsep bangunan yang berkelanjutan dan hijau. Dante menyebutkan kolaborasi signifikan antara RS Jantung Harapan Kita dan Tokushukai Medical Group untuk membangun Harapan Kita – Tokushukai Cardiovascular Center. Dengan bangunan setinggi 24 lantaI, rumah sakit ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas dan perlengkapan kesehatan serta memanfaatkan praktik-praktik medis dan tenaga kesehatan Tokushukai

Selanjutnya, Dante menceritakan kolaborasi lainnya yaitu Satu Sehat. Kemenkes telah mencapai milestone untuk melakukan integrasi imunisasi dan deteksi stunting melalui aplikasi Whatsapp. Menurutnya, inovasi ini memungkinkan orang untuk menerima sertifikat imunisasi dan informasi pendidikan atau edukatif tentang imunisasi langsung setelah di vaksinasi.  

Dante menjelaskan saat ini Kemenkes juga sudah mengintegrasikan aplikasi Whatsapp Satu Sehat Indonesiaku, yang disebut ASIK. Integrasi ini memungkinkan untuk melakukan deteksi reguler, monitoring, dan mencatat kasus-kasus stunting. 

Pada kesempatan ini, Dante mengutarakan bahwa kolaborasi dan kerja keras dari USAID dan UNICEF untuk membuat kolaborasi ini menjadi mungkin. Ia mengatakan keberhasilan ini tidak mungkin dicapai tanpa kontribusi yang luar biasa dari para mitra yang berkumpul pada pertemuan hari ini. “Capaian ini tidak hanya merupakan capaian Kemenkes, namun bukti dari dedikasi dan upaya kolektif bersama. Ini merupakan keberhasilan kita bersama semua. Saya berharap kita bisa memperluas kolaborasi ini. Kami akan dengan senang hati mendengarkan aspirasi masukan visi dan strategi untuk meningkatkan dampak program kita bersama,” tutupnya. (Penulis Faza Nur/Edit Pusjak KGTK-Timker HDI)

12,541FansLike
3,200,000FollowersFollow
4,251,000FollowersFollow
3,251,580FollowersFollow
9,320SubscribersSubscribe