web analytics
Header Ads
Beranda Blog Halaman 52

Dua Fokus Intervensi Penurunan Stunting untuk Capai Target 14% di Tahun 2024

Jakarta- Kepala Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kementerian Kesehatan RI Syarifah Liza Munira mengungkapkan angka stunting hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022 mengalami penurunan sebesar 2,8% dibandingkan dengan 2021.

“Angka stunting tahun 2022 turun dari 24,4% (tahun 2021) menjadi 21,6% (tahun 2022). Dari yang kami perhitungkan untuk dapat mencapai 14% di tahun 2024 perlu penurunan secara rata-rata sebesar 3,8% per tahun,” kata Liza dalam konferensi pers Hasil SSGI 2022 di Kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta Selatan, Jumat (27/1).

Liza menerangkan survei status gizi ini pada dasarnya mengukur gambaran status gizi balita. Utamanya adalah mengukur empat status gizi, yaitu stunting, overweight, wasting dan underweight. Selain itu ditambah juga dengan beberapa determinan yang terkait.

“Dari keempat angka status gizi, angka stunting turun sebesar 2,8% dan overweight turun 0,3%. Sementara wasting dan underweight meningkat sedikit, yaitu sebesar 0,6% untuk wasting dan 0,1% untuk underweight,” ujarnya.

Liza juga menjelaskan dari angka SSGI ini yang menjadi sangat menarik dan bermanfaat terutama untuk percepatan penurunan angka stunting adalah terdapat dua titik yang signifikan untuk dilakukan intervensi. Titik pertama adalah sebelum lahir dan kedua adalah setelah lahir pada usia 6-11 bulan serta 12-23 bulan.

“Angka stunting saat lahir untuk tahun 2022 sebesar 18,5%. Ini untuk titik pertama. Kemudian di titik kedua, angka stunting pada kelompok umur 6-11 bulan sebesar 13,7% yang naik menjadi 22,4% pada kelompok umur 12-23 bulan. Mengalami peningkatan yang cukup tajam sebesar 1,6 kali. Jadi itu adalah titik yang penting dan strategis untuk diintervensi,” tegas Liza.

Liza menambahkan artinya di titik pertama intervensinya adalah penting untuk di masa kehamilan atau sebelumnya. Sedangkan untuk titik intervensi yang kedua ketika menjalani masa MP-ASI atau makanan tambahan setelah masa ASI eksklusif.

Di kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kemenkes Maria Endang Sumiwi mengatakan pencegahan stunting yang lebih tepat harus dimulai dari hulu yaitu sejak masa kehamilan sampai anak umur 2 tahun atau 1000 hari pertama kehidupan. Pada periode setelah lahir yang harus diutamakan adalah pemantauan pertumbuhan yang dilakukan setiap bulan secara rutin. Dengan demikian dapat diketahui sejak dini apabila anak mengalami gangguan pertumbuhan.

Dikatakan Dirjen Endang, gangguan pertumbuhan dimulai dengan terjadinya weight faltering atau berat badan tidak naik sesuai standar.

“Anak-anak yang weight faltering apabila dibiarkan maka bisa menjadi underweight dan berlanjut menjadi wasting. Ketiga kondisi tersebut bila terjadi berkepanjangan maka akan menjadi stunting,” ungkapnya.

Endang juga menekankan agar masyarakat memperhatikan masa-masa saat persiapan kehamilan, masa kehamilan, dan pada saat anak-anak membutuhkan ASI eksklusif serta makanan pendamping ASI.

“Karena di situlah masa krusial kita. Jangan sampai ada tambahan stunting baru di usia itu. Prevalensi memang turun tetapi kita harus waspada juga di titik-titik mana kita masih perlu meningkatkan usaha-usaha kita,” terang Maria (Penulis Ripsidasiona)

Angka Stunting Tahun 2022 Turun Menjadi 21,6 Persen

Jakarta- Presiden Republik Indonesia Joko Widodo saat memberikan sambutan di Pembukaan Rapat Kerja Nasional Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana (Banggakencana) dan Penurunan Stunting di Auditorium BKKBN Halim Perdanakusuma Jakarta (25/1/2023) mengatakan stunting di negara kita menjadi pekerjaan rumah yang sangat besar yang harus segera diselesaikan.

“Saya masuk di 2014, itu angkanya di angka 37 persen. Sebagaimana disampaikan oleh Menkes, di 2022 angkanya sudah turun menjadi 21,6 persen”, jelas Presiden.,

Menurut Presiden ini kerja keras kita semuanya. Dampak stunting ini bukan hanya urusan tinggi badan, tetapi yang paling berbahaya adalah nanti rendahnya kemampuan anak untuk belajar, dan yang ketiga munculnya penyakit-penyakit kronis yang gampang masuk ke tubuh anak.

Oleh sebab itu, target 14 persen di tahun 2024 ini harus kita bisa capai. “Saya yakin dengan kekuatan kita bersama, semuanya bergerak, angka itu bukan angka yang sulit untuk dicapai asal semuanya bekerja bersama-sama,” ungkap Presiden.

Presiden menegaskan target 14 persen bukan target yang sulit, hanya kita mau atau tidak mau. Asal kita bisa mengonsolidasikan ini dan jangan sampai keliru. “Karena yang lalu-lalu yang saya lihat di lapangan, dari kementerian masih memberi biskuit pada anak. Cari mudahnya. Saya tahu, lelangnya gampang. Kalau telur, ikan ini kan gampang busuk, gampang rusak telur. Ini mudah, cari mudahnya saja. Jangan dilakukan lagi, sudah. Kalau anaknya, bayinya harus diberikan telur ya telur, berikan ikan ya ikan,” katanya lebih lanjut.

Presiden Joko Widodo menjelaskan provinsi sebagaimana sudah disampaikan Menkes, lima yang persentasenya tinggi itu di NTT, Sulbar, Aceh, NTB, dan Sultra. Tetapi kalau dihitung secara jumlah, beda lagi, yang paling banyak adalah Jawa Barat, kemudian Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumut, dan Banten.

“Ini kalau jumlah yang ada ini semuanya bisa kita miliki by name by address-nya, lebih mudah sekali untuk menyelesaikan, karena sasarannya jelas, siapa, siapa, siapa. Monitornya jelas, harus diberi apa, diberi apa juga jelas,” harap Presiden Joko Widodo

Dalam kesempatan yang sama saat memberikan laporan kepada Presiden Joko Widodo (25/1/2023) Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Tahun 2022, angka stunting turun dari 24,4% di tahun 2021 menjadi 21,6% di tahun 2022. Untuk itu, Menkes Budi mengucapkan terimakasih atas pencapaian penurunan angka Stunting ini, khususnya kepada gubernur, bupati/walikota karena hal ini terjadi pada masa pandemi dan bukan terjadi pada masa biasa.

 “Mudah-mudahan karena pandemi sudah terkendali di tahun ini, angka stunting menjadi lebih baik. Karena di masa pandemi saja, angka stunting bisa turun,” harap Menkes.

“Ada 2 provinsi besar yang turunnya kepala tiga, diatas 3 persen, Jawa Barat dan Jawa Timur,” ujar Menkes.

Kedepannya, pelaksanaan survei ini akan terus diperbaiki. “Jika bisa by name by address,” jelas Menkes. Tapi tetap pelaksanaan survei ini akan menggunakan metode pengukuran yang sama.

Lebih jauh Menkes Budi menerangkan Kemenkes kebagian intervensi yang spesifik. Menurut WHO peranan ini hanya 30%. Menkes juga menekankan untuk berkonsentrasi di sini karena memang ini tugas Kemenkes dalam membantu tugas BKKBN.

Ada dua titik intervensi kesehatan yang harus dilakukan. Pertama, pada saat Ibunya hamil yakni pada masa sebelum kelahiran, karena faktor risiko stunting paling besar. Kedua, pada saat usia bayi 6-23 bulan sesudah kewajiban pemberian ASI selesai.

Cara pengukurannya, Ibu hamil tidak boleh kurang gizi dan anemia. Untuk bayi yang sudah selesai pemberian hanya ASI saja (ASI Ekslusif), harus diberi makanan tambahan dengan mengutamakan pemberian protein hewani.

“Jadi harus dikasih telur atau ikan atau daging,” tegas Menkes. Bukan hanya karbohidrat, sayur dan protein nabati. Hal ini dilakukan untuk mencegah anak menjadi stunting. (Penulis Fachrudin Ali/Editor Agus Triwinarto)

INA GROUPER

Menakar Kembali Kadar Kekebalan Antibodi Terhadap Covid-19

Batam- Serosurvei SARS-CoV-22 di awal tahun 2023 ini kembali digulirkan secara serentak di seluruh wilayah di Indonesia. Kegiatan yang diinisiasi Pusat Kebijakan Sistem Ketahanan Kesehatan dan Sumber Daya Kesehatan (Pusjak SKK dan SDK) Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kementerian Kesehatan dilakukan bekerjasama dengan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia (UI). Ini kali keempat setelah sebelumnya dilaksanakan di bulan Juli 2022. Salah satu lokasi yang menjadi tempat dilakukannya survey ini yakni di kepulauan Riau.

I Gede Made Wirabrata selaku Kepala Pusjak SKK dan SDK BKPK bersama Pakar FKM UI, Muhammad Noor Farid berkesempatan melakukan supervisi di Kota Batam untuk menyaksikan secara langsung kegiatan di dua tempat berbeda yaitu di Puskesmas Sei Lekop dan Puskesmas Batu Aji (Senin, 16/1/2023)

Wirabrata mengatakan Serosurvei ini merupakan pemeriksaan skala besar untuk antibodi COVID-19. Nantinya diharapkan akan ada pemeriksaan lebih dari 17.000 masyarakat. Responden yang ikut serta dapat mengetahui apakah memiliki kekebalan terhadap COVID-19 dan berapa besar kadar antibodinya. Data kadar kekebalan terhadap COVID-19 yang dimiliki oleh masyarakat akan dipergunakan untuk penanganan penanggulangan pandemi COVID-19.

Dalam kunjungannya, Wirabrata didampingi Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Riau Yosi Susanti dan Kepala Puskesmas Batu Aji Sifetra Netty. Yosi (16/1/2023) mengungkapkan Serosurvei masih berlangsung hingga saat ini di kepulauan Riau yang mencakup kota Batam, Kabupaten Karimun dan Kabupaten Bintan.

“Pelaksanaan Seosurvei ini untuk melihat kekebalan tubuh yang ada di masyarakat di Provinsi Kepri dan alhamdulillah ketiga titik merupakan pintu masuk wisatawan dari luar negeri jadi tepat sekali pelaksanaan di 3 titik ini dan di Kepulauan Riau vaksinasi tetap masih dilaksanakan terutama vaksin Booster” pungkas Yosi.

Turut mendampingi Kepala Seksi Surveilans Kota Batam sekaligus sebagai Penanggung Jawab Operasional (PJO) Ika bersama Penanggung Jawab Teknis (PJT) Serosurvei Nazia. Dalam kesempatan tersebut, Ika (17/1/2023) menyebutkan di kota Batam ada 11 Kelurahan yang menjadi lokus dan tahun ini merupakan yang keempat kalinya. Ika juga menyinggung hasil Serosurvei sebelumnya bahwa seluruh responden menunjukan positif antibodinya, dan berharap Serosurvei kali ini khususnya di kota Batam hasilnya juga semakin menunjukkan bahwa masih ada antibodi di tubuh masing-masing responden.

Khususnya di Kota Batam, Nazia berujar (17/1/2023) responden ada di 2 kelurahan perairan yaitu Batu Legong dan Sekanak Raya. Satu kelurahan biasanya terbagi di beberapa pulau kecil yang mayoritas mata pencahariannya sebagai nelayan. Hal ini yang terkadang menjadi tantangan tersendiri, mengingat Serosurvei kali ini berada di musim ikan. Tak jarang responden masih berada di laut untuk menunggu ikan sehingga harus dijemput di laut dan sampel pengambilan darah harus dilakukan di masing-masing rumah responden atau di dermaga. (Penulis Nowo Setiyo Raharjo/Editor Fachrudin Ali)

Dinkes Kota Depok Dukung Serosurvei Antibodi Covid-19 Tahun 2023

Depok- Serosurvei Antibodi SARS-CoV2 kembali dilaksanakan di tahun 2023. Survei ini dilakukan tiap 6 bulan, terakhir pada Juli 2022. Serosurvei bertujuan untuk mengetahui titer antibodi dan perubahan proporsi penduduk yang memiliki antibodi SARS-CoV-2. Kota Depok menjadi salah satu lokasi untuk dilakukan pengambilan sampel.

Koordinator Surveilans dan Imunisasi Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Depok Hidayat Nuh Ghazali Djadjuli yang juga sebagai Penanggung Jawab Teknis (PJT) Kota Depok mengatakan Dinkes Kota Depok menyambut baik adanya serosurvey ini. Ia mengharapkan hasil dari serosurvey ini lebih baik cakupannya atau lebih tinggi dari serosurvey sebelumnya yang dilakukan di bulan Juli 2022.

“Hasil serosurvei ini bisa menggambarkan tingkat cakupan antibodi masyarakat di Kota Depok. Sehingga Kita berharap sero antibodi yang tinggi ,” ucapnya usai melakukan supervisi di Kelurahan Pasir Putih dan Puskesmas Kemiri Muka Kota Depok pada Senin (16/1).

Selanjutnya Hidayat menjelaskan, Kota Depok terdiri dari 15 kelurahan. Tim pengumpul data terbagi menjadi 4 tim dengan jumlah masing-masing 3-4 kelurahan. Masing-masing tim terdiri dari administrator, enumerator, dan analis. Tim tersebut bekerja sama bersama penunjuk jalan dalam menghubungi responden untuk mendatangi lokasi pengambilan sample.

Ia mengatakan informasi yang didapat dari penunjuk jalan harus di konfirmasi ulang untuk menghubungi responden ini tidak hanya di satu waktu. “Hari berikutnya bisa dihubungi kembali, kadang ada masalah pada data responden, sehingga kita hubungi setiap hari sampai hari terakhir,” kata Hidayat membagikan strategi dalam pengumpulan data.

Responden untuk di Kota Depok berjumlah 182 responden. Pada saat ini, sudah tercapai 177 responden yang berhasil diambil darah untuk dijadikan sample.  Dari 5 responden yang belum terpenuhi dikarenakan 1 orang meninggal, 1 orang pindah ke luar kota, 1 orang terjadi kesalahan identitas. Sementara 2 orang lagi masih dihubungi kembali agar tetap bisa diambil sample darahnya.

Sementara itu, Saiyah Kepala Seksi Kemasyarakatan Kelurahan Pasir Putih yang berperan sebagai Penunjuk Jalan mengatakan hasil pengumpulan data di Kelurahan Pasir Putih mencapai 100% atau 12 responden terpenuhi.

Dalam mencapai tersebut, Saiyah melakukan konfirmasi kepada responden dengan menanyakan keberadaan para responden. Kemudian menginfokan bahwa mereka adalah responden dari serosurvei ini. Selanjutnya meminta mereka untuk hadir pada saat pengambilan darah di lokasi yang telah ditentukan.

Saiyah mengharapkan dari survei ini, hasil antibodi ada peningkatan dan tidak ada penurunan dalam hasil pemeriksaan sampel ini. “Semoga ke depannya masyarakat yang belum di vaksin Covid-19 bisa di vaksin Covid-19,” tuturnya. (Penulis Faza Wulandari)

Germas Kembali Digaungkan di Tahun 2023

Jakarta- Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kementerian Kesehatan kembali menggaungkan Pembudayaan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) di Perkantoran sesuai Instruksi Presiden nomor 1 tahun 2017 tentang Gerakan Masyarakat Hidup Sehat.

Tujuan Germas adalah untuk mempercepat dan menyinergikan tindakan dari upaya promotif dan preventif hidup sehat guna meningkatkan produktivitas penduduk dan menurunkan beban pembiayaan pelayanan kesehatan akibat penyakit.

Ketua Tim Kerja Pembudayaan Germas Pusat Kebijakan Upaya Kesehatan BKPK Bambang Setiaji mengatakan Pembudayaan Germas di tahun 2023 harus lebih digaungkan dengan berbagai kegiatan Germas.

Sejalan dengan itu, BKPK melakukan sejumlah kegiatan yang berkaitan dengan Pembudayaan GERMAS di Perkantoran seperti senam, yoga, pencak silat, jalan kaki, bulu tangkis, tenis meja, tenis lapangan, dan menembak laser. Kegiatan tersebut dilakukan setiap Jumat pagi mulai pukul 07.00-08.30, di selenggarakan di lapangan halaman perkantoran BKPK dan Gedung Olah Raga BKPK.

“Marilah kita membudayakan GERMAS sebagai salah satu solusi hidup sehat untuk mencegah faktor risiko Penyakit Tidak Menular (PTM).” ujar Bambang Setiaji dalam kesempatannya memberikan arahan kepada para peserta senam kesegaran jasmani di halaman Perkantoran BKPK, Jumat (6/1)

Lebih lanjut Bambang Setiaji mengatakan BKPK sudah menyiapkan  instruktur senam dan minuman jamu kesehatan untuk peserta GERMAS. Kegiatan ini diikuti oleh para ASN dan non ASN di lingkungan BKPK.

Selain itu Bambang Setiaji mengharapkan setiap harinya seluruh karyawana BKPK dapat melakukan jalan kaki santai mengelilingi gedung BKPK sekitar 30 menit mulai pukul 07.00-07.30 sebelum melaksanakan aktivitas bekerja. Selanjutnya setiap pukul 10.00 dan pukul 14.00 dilaksanakan peregangan oleh masing-masing unit di lingkungan BKPK.

Selain pembudayaan aktifitas fisik, BKPK juga menyiapkan pemeriksaan kesehatan bagi pegawai di klinik BKPK setiap hari mulai pukul 08.00 WIB sampai pukul 15.00 WIB. Demikian pula pemeriksaan kesehatan secara berkala terus dilakukan bagi ASN di lingkungan BKPK.

Selama berada di lingkungan kantor BKPK, diterapkan aturan bagi pegawai maupun pengunjung tidak diperbolehkan untuk merokok dan turut menjaga kebersihan lingkungan perkantoran. (Penulis Andi Rahmawati)

12,541FansLike
3,200,000FollowersFollow
4,251,000FollowersFollow
3,251,580FollowersFollow
9,320SubscribersSubscribe