Potret Sehat Indonesia dari Kacamata SKI 2023

746

Kebijakan kesehatan di Indonesia memerlukan data kesehatan berbasis bukti yang dimulai dari perencanaan sampai dengan evaluasi. Hal ini telah diterapkan Kementerian Kesehatan, salah satunya dengan melakukan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) pada tahun 2023 yang merupakan gabungan antara Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) dan Studi Status Gizi Indonesia (SSGI).

SKI 2023 telah selesai dilakukan dan data yang dihasilkan dapat dimanfaatkan. Dalam laporan SKI tematik, data SKI dikelompokkan dalam tujuh tema yaitu Kesehatan Ibu dan Anak, Status Gizi Balita (Stunting dan Determinannya), Akses Fasilitas Pelayanan Kesehatan dan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), Penyakit Tidak Menular dan Faktor Risikonya, Kesehatan Jiwa Remaja, Kesehatan Gigi dan Mulut, dan Penggunaan Antibiotik Oral. Data yang lebih komprehensif, dituangkan dalam laporan SKI dalam angka.

Kesehatan Ibu dan Anak merupakan salah satu fokus dalam tujuan Pembangunan berkelanjutan (SDGs). Kebijakan Kementerian Kesehatan untuk ibu hamil adalah mendapatkan minimal enam kali pelayanan antenatal. SKI 2023 menunjukkan 6 dari 10 ibu hamil telah mendapat pelayanan antenatal terpadu berkualitas. Ibu bersalin ditolong oleh tenaga kesehatan sudah sangat baik yaitu sebesar 96,1%, dan 90% telah dilakukan di fasilitas kesehatan. Namun pada bayi masih terdapat 23,6% bayi dengan berat lahir rendah tidak mendapatkan perawatan khusus.

Baca Juga  TOMATO VIRUS DI INDIA VS HAND, FOOT, AND MOUTH DISEASE (HFMD) : SEPERTI APA PENYAKIT TERSEBUT ?

Selanjutnya adalah temuan stunting, yang merupakan salah satu program prioritas bidang kesehatan. Diketahui telah terjadi tren penurunan stunting dalam 10 tahun terakhir. Namun prevalensi angka stunting tingkat provinsi bervariasi.

Pada program prioritas bidang kesehatan lainnya yakni Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), SKI 2023 menemukan sebesar 27,8% penduduk Indonesia belum memiliki jaminan kesehatan. Angka ini hampir sama dengan temuan Susenas pada tahun yang sama, yaitu sebesar 27,6%. Berkaitan dengan hal ini adalah akses pelayanan kesehatan yang masih belum merata. Masih ada kesenjangan antara kelompok Penerima Bantuan Iuran (PBI) dan juga kelompok tanpa jaminan kesehatan dalam mengakses pelayanan kesehatan. Dalam satu tahun terakhir 44,1% rumah tangga kelompok PBI diikuti oleh 35,9% rumah tangga tanpa jaminan kesehatan tidak mengakses layanan kesehatan.

Baca Juga  Capacity Building HTA

Pada penyakit tidak menular, penyakit hipertensi dan diabetes terutama menjadi perhatian karena prevalensinya yang tinggi serta perannya sebagai faktor risiko utama penyakit jantung dan pembuluh darah. Jika dibandingkan dengan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, SKI 2023 menunjukkan penurunan prevalensi hipertensi, baik berdasarkan diagnosis dokter maupun pengukuran tekanan darah,. Sebaliknya, tren penyakit Diabetes Mellitus (DM) pada penduduk umur ≥15 tahun berdasarkan diagnosis dokter meningkat (dari 2,0% ke 2,2%), demikian juga untuk DM pada penduduk semua umur (dari 1,5% ke 1,7%). 

Berkaitan dengan kesehatan jiwa, SKI 2023 melakukan penilaian terhadap gangguan depresi dengan menggunakan instrumen Mini International Neuropsychiatric Interview (MINI). Tingginya proporsi depresi pada kelompok anak muda yaitu penduduk yang pada saat SKI 2023 dilakukan berusia 15-24 tahun memerlukan perhatian. Sebanyak 61% anak muda mengalami depresi dan dalam 1 bulan terakhir pernah berfikir untuk mengakhiri hidup.

Pada tema kesehatan gigi dan mulut, masalah kesehatan gigi dan mulut pada penduduk berumur ≥ 3 tahun adalah 56,9%. Dan hanya 11,2% yang berobat ke tenaga medis untuk mengatasi masalah tersebut. Hal ini perlu mendapat perhatian serius karena tidak ada perubahan yang signifikan dalam 5 tahun terakhir apabila dibandingkan dengan hasil Riskesdas 2018.

Baca Juga  Kasus Ebola di Kongo: Jauh Dari Indonesia Tapi Terasa Dekat, Bagaimana Antisipasinya?

Sedangkan penggunaan antibiotik oral oleh penduduk Indonesia yang mencapai 22,1%. Sebanyak 41% diantaranya memperoleh antibiotik tanpa resep. SKI 2023 juga menemukan bahwa lebih dari 60% masyarakat mendapatkan obat tanpa resep di apotek atau toko obat berizin. Data SKI 2023 dan Riskesdas 2018 menggunakan metode yang sama sehingga data yang dihasilkan dapat dibandingkan. Hal ini memungkinkan untuk dapat diketahui terjadinya tren kenaikan maupun penurunan atas masalah kesehatan tertentu. Seperti halnya Riskesdas 2018, SKI 2023 juga merepresentasikan data hingga tingkat kabupaten/kota. Tuntas dilakukan, SKI 2023 melibatkan 586.000 rumah tangga, 11.552 enumerator, 3.000 terapis gigi dan mulut, serta 7.500 tenaga kesehatan di Puskesmas.