
Jakarta – Sebanyak 300 peserta Pramuka Penggalang tingkat sekolah menengah pertama (SMP) yang tergabung dalam Jambore Nasional XII Tahun 2026 mengikuti Wisata Edukasi kesehatan selama tiga hari di Kementerian Kesehatan. Kegiatan yang difasilitasi oleh Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) di Jalan Percetakan Negara, Jakarta Pusat, ini bertujuan memperluas wawasan keilmuan genetik, mempromosikan gaya hidup sehat, serta menumbuhkan karakter kepemimpinan generasi muda untuk menyongsong Indonesia Emas 2045. Acara berlangsung dari tanggal 18-20 Agustus 2026.
Sekretaris BKPK, Etik Retno Wiyati dalam kesempatan tersebut menekankan bahwa keterlibatan aktif dalam gerakan kepanduan seperti Pramuka adalah bekal krusial bagi masa depan. Menurut Etik, keaktifan organisasi di masa muda akan membentuk kedisiplinan dan kemandirian yang bernilai tinggi di dunia kerja kelak.
“Adik-adik tidak perlu menunggu dewasa untuk memberi manfaat, tidak perlu menunggu menjadi pejabat. Cukup jadi anggota jambore nasional, mulailah dari sekarang, mulailah dari diri sendiri, lalu luaskan ke keluarga dan lingkungan sekitar,” ujar Etik saat memberikan sambutan, seraya menitipkan misi agar para Pramuka menjadi duta gaya hidup sehat di daerahnya masing-masing.
Kegiatan yang terselenggara atas kerja sama BKPK, Direktorat Promosi Kesehatan (Promkes) Kemenkes, dan Kwartir Nasional (Kwarnas) Gerakan Pramuka ini diisi dengan kunjungan ke tiga pos interaktif di BKPK. Pos tersebut meliputi Galeri Kebijakan Kesehatan, Perpustakaan BKPK, serta Teater dan Ruang Audio Visual, yang dirancang untuk mengenalkan sejarah kebijakan kesehatan nasional hingga sains kedokteran genomik.
Direktur Promosi Kesehatan dan Kesehatan Komunitas Kemenkes, Niken Wastu Palupi, menyoroti tantangan kesehatan yang dihadapi remaja saat ini berdasarkan temuan program Quick Win cek kesehatan gratis Presiden. Tiga masalah utama yang marak terjadi di kalangan remaja adalah kesehatan gigi berlubang (karies), kurangnya aktivitas fisik, serta tingginya angka anemia. Ia meminta para peserta Pramuka untuk menjadi pelopor gaya hidup sehat dengan membatasi konsumsi gula, garam, lemak (GGL), dan aktif bergerak minimal 30 – 60 menit sehari.
Niken turut mendorong peserta untuk menjauhi kebiasaan merokok dan vape, menjaga kebersihan lingkungan, serta mendaftar ke Saka Bakti Husada. “Pramuka jadi pelopor hidup sehat di lingkungan sekitar. Budayakan perilaku sehat untuk cegah penyakit, demi Indonesia maju dan sejahtera,” tutur Niken.
Apresiasi tinggi terhadap program edukasi ini juga disampaikan oleh para pendamping peserta. Perwakilan Pembina Pendamping dari Kwartir Cabang Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Hendrayani, mengutarakan rasa terima kasihnya atas sambutan yang diberikan oleh Kementerian Kesehatan. Menurut Hendrayani, bekal keilmuan praktis dan teoretis yang diperoleh di lingkungan Kemenkes sangat penting bagi para penggalang yang tengah dipersiapkan menjadi bagian dari keanggotaan Saka Bakti Husada.
“Kami mewakili dari Pramuka mengucapkan terima kasih banyak karena sudah menyambut kami di tempat yang sebersih ini. Kemarin di Cibubur udaranya panas dan banyak debunya. Di sinilah tempat yang tepat bagi adik-adik untuk mendapatkan pemahaman tentang betapa pentingnya menjaga kesehatan diri maupun lingkungan,” ungkap Hendrayani (18/8).
Perwakilan Pembina Pramuka dari rombongan yang datang pada hari Rabu (19/9), Dudung, juga menyambut baik edukasi ini. Menurutnya, pengalaman mengikuti Saka Bakti Husada di masa sekolah sangat menunjang karier masa depan para siswa karena mereka telah terbiasa berinteraksi dan dilatih oleh tenaga kesehatan profesional. Namun, Dudung juga menyoroti masih banyaknya sekolah di wilayah pinggiran atau kawasan padat penduduk yang belum mendapatkan fasilitas cek kesehatan gratis, sehingga ia berharap ada peningkatan pemerataan dari Kemenkes.

Selain edukasi gaya hidup sehat, para peserta juga mendapatkan wawasan mengenai sains genetik dari Peneliti Balai Besar Biomedis dan Genomika Kesehatan (BB Binomika), Widi menjelaskan bahwa setiap manusia memiliki 99,6 persen kesamaan DNA. Perbedaan kecil 0,4 persen itulah yang memengaruhi kekebalan tubuh, sistem metabolisme, hingga bagaimana seseorang merespons pengobatan.
Dengan gaya interaktif, Widi memaparkan adaptasi unik dari DNA kelompok masyarakat tertentu, seperti Suku Bajo di Indonesia yang organ limpanya membesar 50 persen sehingga mampu menyelam tanpa alat hingga kedalaman 70 meter. Ia juga menjelaskan bagaimana warga Indonesia Timur memiliki sel darah merah berbentuk khas untuk melawan penyakit malaria.
Widi menekankan bahwa pemahaman variasi genetik akan mendorong pengembangan Pengobatan Presisi di masa depan. Melalui pendekatan ini, dosis dan jenis obat akan disesuaikan dengan DNA masing-masing pasien agar penyembuhan lebih optimal dan aman.
“Untuk menjalankan ini, kita butuh peneliti di laboratorium, dokter klinis, hingga tim digital. Adik-adik kelak bisa berkontribusi bagi masyarakat di bidang apa pun sesuai keahlian kalian dengan sepenuh hati,” pungkas Widi menyemangati para peserta. (Penulis Fachrudin Ali, Editro: Timker HDI)








