Indonesia Dorong Penguatan Surveilans Regional melalui Pertemuan Perdana Negara Tuan Rumah ACPHEED

12

Jakarta – Indonesia menjadi negara tuan rumah Pertemuan Koordinasi dan Konsultasi Teknis Pertama Negara Tuan Rumah ASEAN Centre for Public Health Emergencies and Emerging Diseases (ACPHEED) pada 13-14 Agustus 2026 di Jakarta. Pertemuan ini bertujuan untuk meningkatkan koordinasi dan konsultasi teknis di antara negara-negara tuan rumah ACPHEED selama periode persiapan melalui penyediaan platform terstruktur untuk berbagi informasi, diskusi teknis, dan koordinasi lintas pilar.

ACPHEED terdiri atas tiga pilar dengan tiga negara sebagai tuan rumah. Pilar ACPHEED for Detection and Risk Assessment (DRA) dengan Indonesia sebagai tuan rumah, Vietnam sebagai tuan rumah untuk pilar ACPHEED for Prevention and Preparedness (PP), serta Tailan sebagai tuan rumah pilar ACPHEED for Response and Risk Communication (RRC) dan Sekretariat ACPHEED. Ketiga pilar tersebut membentuk pusat unggulan regional yang dirancang untuk memperkuat kapasitas kolektif Asia Tenggara dalam mencegah, mendeteksi, dan merespons ancaman kesehatan masyarakat serta pandemi di masa depan.

Pertemuan Koordinasi dan Konsultasi Teknis negara tuan rumah ACPHEED selama periode persiapan akan diselenggarakan secara bergiliran di negara-negara tuan rumah serta di Jepang sebagai negara mitra dialog ASEAN, melalui Japan International Cooperation Agency (JICA). Pada pertemuan pertama ini, pembahasan difokuskan pada rancangan awal (Zero Draft) ASEAN Surveillance Framework and Five-Year Strategic Roadmap serta berbagai topik koordinasi lintas pilar lainnya.

Baca Juga  BKPK Raih Penghargaan Pada HKN Ke-58

Dalam rancangan awal ASEAN Surveillance Framework and Five-Year Strategic Roadmap, ACPHEED for DRA menekankan empat fungsi inti surveilans, yaitu information collection and detection, triage and verification, risk assessment serta continuous information dissemination and monitoring. Selain itu, Table Top Exercise dan sesi penyusunan bersama (drafting session) juga dilaksanakan untuk memperoleh masukan, khususnya dari ACPHEED pilar lainnya dan berbagai entitas ASEAN yang hadir, guna memperkaya dan menyempurnakan rancangan kerangka kerja agar selaras dengan kebutuhan dan mekanisme koordinasi regional.

Kepala Pusat Kebijakan Strategi dan Tata Kelola Kesehatan Global Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK), Harditya Suryawanto, dalam sambutan pembukaan menyampaikan bahwa Indonesia merasa terhormat dapat menjadi tuan rumah pertemuan Koordinasi dan Konsultasi Teknis pertama ini. Menurutnya, pertemuan tersebut menjadi momentum penting untuk mempertemukan ketiga pilar ACPHEED, berbagai entitas ASEAN, serta mitra teknis dalam satu forum guna memperkuat koordinasi menuju operasionalisasi ACPHEED.

Baca Juga  Masih Ada Permasalahan Koding dalam Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)

“Koordinasi yang erat antara negara-negara tuan rumah dan para pemangku kepentingan akan menjadi kunci keberhasilan ACPHEED. Keberhasilan pusat ini tidak hanya bergantung pada kekuatan masing-masing pilar, tetapi juga pada kemampuan kita untuk bekerja secara kolektif sebagai satu mekanisme regional yang terintegrasi,” ujar Harditya pada Kamis (13/8).

Dalam kesempatan tersebut, Harditya juga mendorong seluruh peserta untuk berpartisipasi aktif, berbagi pengalaman, serta mengidentifikasi solusi-solusi praktis guna mendukung percepatan pembentukan dan operasionalisasi ACPHEED.

Selain rangkaian pertemuan, dilakukan kunjungan ke kantor ASEAN Coordinating Centre for Humanitarian Assistance on Disaster Management (AHA Centre) sebagai bagian dari kegiatan pembelajaran dan berbagi pengalaman mengenai proses pembentukan, tata kelola, dan operasionalisasi salah satu mekanisme ASEAN yang telah berjalan dengan baik. AHA Centre merupakan entitas ASEAN yang memfasilitasi kerja sama dan koordinasi penanggulangan bencana serta respons kedaruratan di kawasan, termasuk dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan berbagai mitra internasional.

Baca Juga  Gairah Lomba BKPK Gembira 2024

Para delegasi disambut oleh Deputy Executive Director AHA Centre, Krishna Putra Tanaja, beserta jajarannya. Dalam kesempatan tersebut, delegasi mendapatkan informasi mengenai pengalaman pembentukan dan operasional pusat melalui paparan dan diskusi interaktif, serta kunjungan ke Disaster Monitoring Room, yaitu pusat pemantauan situasi kedaruratan yang digunakan untuk memonitor dan memperbarui informasi secara real-time melalui berbagai sistem dan platform.

Secara keseluruhan, pertemuan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat koordinasi antarnegara tuan rumah serta para pemangku kepentingan dalam mempersiapkan pembentukan dan operasionalisasi ACPHEED. Pertemuan juga menghasilkan berbagai masukan teknis terhadap pengembangan ASEAN Surveillance Framework and Five-Year Strategic Roadmap serta memperkuat sinergi lintas pilar sebagai fondasi operasional ACPHEED ke depan. Para peserta turut mengapresiasi kemajuan yang telah dicapai Indonesia sebagai tuan rumah ACPHEED for Detection and Risk Assessment (DRA), khususnya dalam mempersiapkan kerangka sistem surveilans regional yang akan mendukung koordinasi dan respons kesehatan masyarakat di ASEAN. (Penulis: Kurniatun Karomah dan Rita Ratna Puri, Editor: Timker HDI)