Health Society:  Menuju Ekosistem Masyarakat Sehat

15

Penulis: Bambang Setiaji dan tim Think Thank BKPK (Analis Kebijakan Ahli Madya, Pusat Kebijakan Sistem Ketahanan Kesehatan dan Anggota Ikatan Nasional Analis Kebijakan/INAKI)

Selama bertahun-tahun, pembangunan kesehatan Indonesia banyak diukur dari seberapa luas layanan tersedia, berapa banyak orang yang datang ke fasilitas kesehatan, berapa banyak kasus ditemukan, dan berapa banyak program berhasil dilaksanakan. Semua itu penting. Namun, ada pertanyaan yang lebih mendasar, apakah masyarakat Indonesia semakin mampu hidup sehat, tetap sehat, produktif, mandiri, dan berfungsi sepanjang kehidupannya?

Pertanyaan ini semakin penting ketika Indonesia mengalami perubahan demografi dan epidemiologi. Umur harapan hidup Indonesia terus meningkat. BPS mencatat umur harapan hidup saat lahir mencapai 74,47 tahun pada 2025, meningkat dari 74,15 tahun pada 2024. Namun, hidup lebih lama belum tentu berarti hidup lebih lama dalam kondisi sehat. Di sinilah gagasan Health Society menjadi relevan.

Health Society bukan sekadar nama baru sebuah program. Ia adalah cara pandang baru tentang bagaimana kesehatan dibangun dan siapa yang bertanggung jawab terhadapnya. Kesehatan tidak lagi hanya dipandang sebagai urusan kementerian kesehatan, dokter, perawat, puskesmas atau rumah sakit. Kesehatan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dan menjadi tanggung jawab Bersama yaitu individu, keluarga, komunitas, sekolah, tempat kerja, pemerintah daerah, dunia usaha, media, hingga lingkungan tempat seseorang tinggal.

 Dari Masyarakat yang Menunggu Sakit,  Menjadi Masyarakat yang Aktif Menjaga Sehat

Kita perlu mengakui bahwa sistem kesehatan masih sering bekerja dengan logika yang berpusat pada penyakit. Seseorang dianggap membutuhkan sistem kesehatan ketika sudah sakit, kemudian datang ke puskesmas atau rumah sakit untuk mendapatkan diagnosis dan pengobatan. Padahal, banyak faktor yang menentukan kesehatan justru berada di luar gedung pelayanan kesehatan.

WHO menegaskan bahwa determinan sosial kesehatan mencakup kondisi ketika seseorang lahir, tumbuh, hidup, bekerja dan menua. Pendidikan, pendapatan, pangan, perumahan, pekerjaan, lingkungan dan akses terhadap sumber daya turut membentuk kesenjangan kesehatan. Bahkan, kesenjangan dalam healthy life expectancy dapat berlangsung hingga puluhan tahun antarkelompok masyarakat. Artinya, seorang dokter tidak mungkin sendirian mencegah hipertensi jika lingkungan tidak mendukung aktivitas fisik dan pola makan sehat. 

Puskesmas tidak mungkin sendirian mengatasi masalah gizi jika keluarga tidak memiliki akses pangan yang memadai. Rumah sakit juga tidak mungkin sendirian menciptakan masyarakat lanjut usia yang tetap mandiri jika lingkungan sosial dan fisiknya tidak mendukung. Kesehatan dimulai sebelum kita sakit. Karena itu, ukuran keberhasilan pembangunan kesehatan perlu bergeser, bukan hanya berapa banyak orang yang berhasil diobati, tetapi berapa banyak orang yang dapat dicegah agar tidak jatuh sakit, tetap berfungsi, produktif, mandiri, dan memiliki kualitas hidup yang baik. 

Health Society Bukan Berarti Semua Masyarakat Harus Menjadi  Menjadi Tenaga Kesehatan

Health Society tidak berarti setiap warga harus memahami ilmu kedokteran. Yang dibutuhkan adalah masyarakat yang memiliki literasi kesehatan, kemampuan mengambil keputusan yang sehat, lingkungan yang mendukung, serta sistem yang membuat pilihan sehat menjadi pilihan yang mudah. Konsep ini sebenarnya sejalan dengan perkembangan Primary Health Care. WHO mendefinisikan pelayanan kesehatan primer sebagai pendekatan whole-of-society yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat dan sedekat mungkin dengan lingkungan kehidupan sehari-hari, mulai dari promosi kesehatan dan pencegahan penyakit hingga pengobatan, rehabilitasi dan paliatif.

Baca Juga  Gencarkan Kembali Vaksinasi Covid-19

Dengan demikian, Health Society bukan konsep yang berdiri sendiri. Ia merupakan penguatan dari semangat promotif-preventif, Primary Health Care, pemberdayaan masyarakat, Health in All Policies, pendekatan siklus hidup, dan pembangunan lingkungan sehat. Yang berubah adalah tingkat ambisinya yakni kesehatan tidak lagi hanya menjadi program, tetapi menjadi bagian dari budaya dan cara masyarakat menjalani kehidupan.

 Kesehatan Bukan Hanya urusan Sektor Kesehatan

Jika seseorang tinggal di lingkungan dengan udara buruk, sulit berjalan kaki, tidak memiliki akses pangan sehat, bekerja dalam kondisi tidak aman, atau tidak memiliki ruang sosial yang mendukung, maka pilihan sehat menjadi semakin sulit. 

WHO pada 2025 kembali menegaskan bahwa akar masalah kesehatan banyak berada di luar sektor kesehatan, termasuk pendidikan, perumahan, pekerjaan, perlindungan sosial, lingkungan dan kondisi ekonomi. Karena itu, kebijakan untuk mengurangi kesenjangan kesehatan harus dilakukan melalui tindakan terkoordinasi lintas sektor. Karena itu: sekolah adalah setting kesehatan; tempat kerja adalah setting kesehatan; desa dan kelurahan adalah setting kesehatan; pasar dan sistem pangan adalah setting kesehatan; transportasi adalah setting kesehatan; perumahan adalah setting kesehatan; ruang publik adalah setting kesehatan. Kesehatan tidak berhenti di Puskesmas. Kesehatan ada di tempat manusia menjalani kehidupannya.

 Bukan Sekadar Panjang Umur

Perubahan demografi membuat paradigma ini semakin mendesak. Ketika masyarakat hidup lebih lama, keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur dari meningkatnya life expectancy. Kita juga perlu bertanya: berapa lama seseorang dapat hidup sehat, mandiri, produktif dan mampu menjalankan fungsi kehidupannya?

WHO melalui Decade of Healthy Ageing 2021–2030 menempatkan kemampuan fungsional sebagai inti healthy ageing. Kemampuan tersebut tidak hanya ditentukan oleh kapasitas fisik dan mental seseorang, tetapi juga oleh lingkungan fisik, sosial dan kebijakan tempat ia hidup.

Perspektif ini penting bagi Indonesia. Kebijakan kesehatan ke depan perlu semakin kuat menggunakan pendekatan life-course, termasuk memberikan perhatian pada usia 45 tahun ke atas sebagai periode penting untuk mencegah akumulasi faktor risiko dan mempertahankan fungsi. Sutarsa dan Nopiyani (2023) menegaskan bahwa pendekatan life-course untuk pencegahan dan pengendalian penyakit tidak menular di Indonesia membutuhkan kerja multisektor karena faktor kesehatan, sosial, ekonomi dan lingkungan saling berinteraksi sepanjang kehidupan. Maka, tujuan akhirnya bukan hanya: “menambah tahun kehidupan” tetapi: “menambah tahun kehidupan yang sehat.” Inilah titik temu antara Health Societydan Healthy Life Expectancy.

 Apa Yang Perlu Berubah?

Jika Health Society ingin menjadi arah kebijakan ke depan, setidaknya ada lima perubahan. Pertama, dari disease-orientedmenjadi health-oriented. Keberhasilan tidak hanya diukur dari penurunan penyakit, tetapi dari kemampuan masyarakat mempertahankan kesehatan dan fungsi. Kedua, dari program sektoral menjadi ekosistem lintas sektor. Kesehatan harus menjadi pertimbangan dalam pendidikan, pangan, transportasi, lingkungan, pekerjaan, perumahan, perlindungan sosial dan tata ruang. 

Baca Juga  Obesitas: Ancaman Senyap yang Menguji Ketahanan Kesehatan dan Kedaulatan Bangsa menuju Indonesia Emas 2045

Ketiga, dari masyarakat sebagai penerima menjadi masyarakat sebagai aktor. Kader, komunitas, keluarga dan organisasi masyarakat harus ditempatkan sebagai co-producer of health, dengan dukungan sistem yang memadai. Keempat, dari layanan berbasis episode penyakit menjadi pendekatan sepanjang siklus hidup. Pencegahan tidak menunggu seseorang menjadi pasien. Kelima, dari indikator pelayanan menuju indikator kehidupan sehat. Selain cakupan layanan dan angka penyakit, kebijakan perlu semakin memperhatikan Healthy Life Expectancy, faktor risiko, kemampuan fungsional, kualitas hidup, dan kesenjangan kesehatan. Perubahan indikator penting karena apa yang diukur akan memengaruhi apa yang dikerjakan. WHO menempatkan pengukuran sebagai salah satu instrumen penting untuk mendorong aksi dalam Decade of Healthy Ageing.

Saatnya Membangun Budaya Sehat

Pada akhirnya, Health Society bukanlah masyarakat tanpa penyakit. Tidak ada masyarakat seperti itu. Health Societyadalah masyarakat yang memiliki kemampuan lebih besar untuk mencegah penyakit, menjaga kesehatan, mempertahankan fungsi, saling mendukung, dan menciptakan lingkungan yang memungkinkan setiap orang hidup sehat sepanjang hayat. Inilah hakikat membangun budaya sehat: menjadikan kesehatan bukan sekadar tujuan, tetapi bagian dari cara kita hidup.

Indonesia sedang meningkatkan usia harapan hidup. Tantangan berikutnya adalah memastikan tambahan tahun kehidupan tersebut menjadi tahun-tahun yang sehat, produktif, mandiri, dan bermartabat. Karena itu, mungkin sudah waktunya kita berhenti bertanya, “Berapa banyak program kesehatan yang telah kita lakukan?” dan mulai bertanya, “Apakah masyarakat Indonesia semakin mampu hidup sehat?” Jika jawabannya ya, maka kita tidak hanya sedang menjalankan program kesehatan. Kita sedang membangun budaya sehat. Kita sedang membangun Health Society.

 Dari Program Kesehatan Menuju Ekosistem Masyarakat Sehat

Indonesia sebenarnya tidak kekurangan program kesehatan. Tantangannya adalah bagaimana berbagai program tersebut tidak berjalan sebagai potongan-potongan kegiatan, tetapi menjadi satu ekosistem yang bersama-sama membuat masyarakat semakin mudah untuk hidup sehat. Arah tersebut sejalan dengan Rencana Induk Bidang Kesehatan (RIBK) 2025–2029. RIBK menempatkan visi masyarakat yang sehat dan produktif untuk Indonesia Emas 2045, dengan indikator makro antara lain Usia Harapan Hidup (UHH), Healthy Adjusted Life Expectancy (HALE), UHC Service Coverage Index, dan Total Fertility Rate (TFR). RIBK juga menetapkan enam sasaran strategis, termasuk Masyarakat Sehat dan Komunitas Gaya Hidup Sehat. Dalam perspektif Health Society, indikator tersebut tidak seharusnya dipandang sebagai daftar target yang berdiri sendiri. Indikator harus dibaca sebagai rantai perubahan kehidupan masyarakat.

Pada tingkat perilaku, GERMAS menjadi penggerak budaya hidup sehat melalui aktivitas fisik, konsumsi pangan sehat, pemeriksaan kesehatan, tidak merokok, dan perilaku sehat lainnya. Hal ini terhubung langsung dengan indikator RIBK seperti persentase penduduk dengan literasi kesehatan, proporsi penduduk dengan aktivitas fisik cukup, prevalensi obesitas, serta jumlah kabupaten/kota yang mencapai target Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). 

Namun, perubahan perilaku tidak cukup jika lingkungan tidak mendukung. Karena itu, Kabupaten/Kota Sehat (KKS) dan STBM menjadi instrumen penting untuk menciptakan healthy place. KKS membawa perspektif kesehatan ke dalam permukiman, transportasi, pangan, lingkungan, tempat kerja, kehidupan sosial dan berbagai sektor pembangunan daerah. STBM memperkuat kemampuan masyarakat untuk mengubah perilaku dan lingkungan sanitasi. Dengan demikian, masyarakat bukan hanya diminta hidup sehat, tetapi hidup dalam lingkungan yang memungkinkan mereka untuk sehat.

Baca Juga  Saatnya Indonesia Menghirup Udara Bersih  Tanpa Asbes: Mengakhiri Bahaya Yang Tak terlihat

Pada sisi pelayanan, Integrasi Layanan Primer (ILP) memastikan upaya promotif, preventif, deteksi dini dan pelayanan kesehatan semakin dekat dengan masyarakat dan dilakukan sepanjang siklus hidup. Posyandu menjadi simpul penting di tingkat komunitas melalui peran kader, pemberdayaan, pemantauan dan pelayanan masyarakat berbagai kelompok usia. Keduanya menjadi penghubung antara masyarakat dengan sistem kesehatan.

Seluruh upaya tersebut kemudian harus menghasilkan perubahan pada status kesehatan. RIBK mengukurnya antara lain melalui angka kematian ibu dan balita, prevalensi stunting, HALE, depresi, penyakit menular, serta beban penyakit tidak menular. 

Di sinilah Health Society memperoleh maknanya. Health Society bukan program baru, melainkan paradigma yang mengintegrasikan berbagai program dan indikator ke dalam satu tujuan: menciptakan masyarakat yang mampu hidup sehat, produktif, mandiri dan berfungsi sepanjang hayat.

Dengan pendekatan ini, keberhasilan pembangunan kesehatan tidak lagi hanya ditanyakan melalui “berapa banyak program yang telah dilaksanakan?”, tetapi melalui pertanyaan yang lebih mendasar: “Apakah kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia semakin memungkinkan mereka untuk hidup sehat lebih lama?” Jika jawabannya semakin kuat, maka RIBK bukan hanya berhasil mencapai indikator, tetapi telah menggerakkan Indonesia menuju Health Society—masyarakat yang menjadikan kesehatan sebagai budaya, didukung oleh komunitas, pelayanan, lingkungan, dan kebijakan yang saling menguatkan.

Pada akhirnya, HALE menjadi salah satu ukuran penting apakah seluruh ekosistem tersebut benar-benar menghasilkan tambahan tahun kehidupan yang sehat, bukan sekadar tambahan tahun kehidupan.

 Penutup

Health Society bukan tentang menambah program kesehatan, tetapi tentang mengubah cara kita membangun kehidupan yang sehat. Ketika GERMAS, KKS, Integrasi Layanan Primer, STBM, dan berbagai upaya kesehatan terhubung dalam satu ekosistem, kesehatan tidak lagi berhenti sebagai program pemerintah, tetapi tumbuh menjadi budaya masyarakat dan tanggung jawab bersama. 

Pada akhirnya, keberhasilan pembangunan kesehatan bukan hanya diukur dari seberapa lama kita hidup (UHH), tetapi seberapa lama kita dapat hidup dalam kondisi sehat, produktif, mandiri, dan bermartabat (HALE). Health Society adalah perjalanan dari “hidup lebih lama” menuju “hidup lebih lama dalam keadaan sehat”. Karena masyarakat yang sehat bukan sekadar hasil dari program kesehatan, tetapi merupakan cerminan dari budaya, lingkungan, kebijakan, dan kehidupan sehat yang bersama-sama kita bangun.

Pada momentum kemerdekaan Indonesia, kita dapat memperluas makna Merdeka. Merdeka dari penyakit yang dapat dicegah, merdeka dari lingkungan yang tidak sehat, merdeka untuk memperoleh pangan dan layanan kesehatan yang layak, merdeka untuk tetap aktif, produktif, dan mandiri di usia lanjut serta merdeka untuk hidup lebih lama dalam keadaan sehat. Akhirnya, kemerdekaan bukan hanya tentang berapa lama kita hidup, tetapi tentang berapa lama kita dapat hidup sehat.