Indonesia Dorong ASEAN Perkuat Kesiapsiagaan Pandemi melalui Pengembangan Daftar Patogen Prioritas One Health

19

Jakarta – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) memimpin penyusunan fondasi teknis ASEAN One Health Priority Pathogen List melalui penyelenggaraan Expert Meeting pada 16–18 September 2026 di Jakarta. Pertemuan ini diselenggarakan dalam kapasitas Indonesia sebagai Lead Country ASEAN One Health Network (AOHN) sekaligus Host Country ACPHEED for Detection and Risk Assessment (DRA).

Pertemuan ini juga merupakan tindak lanjut dari ASEAN Leaders’ Declaration on One Health Initiative yang diadopsi oleh para pemimpin ASEAN pada tahun 2023 serta implementasi ASEAN One Health Joint Plan of Action 2025-2030. Dua kesepakatan ini mengamanatkan penyusunan daftar ancaman kesehatan prioritas sebagai dasar penguatan investasi, penelitian, kesiapsiagaan, deteksi dini, dan respons terhadap penyakit yang berpotensi menimbulkan wabah maupun pandemi di kawasan.

Hadir dalam pertemuan para pakar dari United States Centers for Disease Control and Prevention (US CDC), Japan International Cooperation Agency (JICA), UK Health Security Agency (UKHSA), perwakilan WHO, FAO, WOAH, ASEAN Biological Threats Surveillance Centre (ABVC), perwakilan sektor kesehatan, pertanian, kehutanan, lingkungan hidup, serta mitra pembangunan lainnya.

Baca Juga  One Week To Southeast Asia Genomic Conference 2022

Kepala Pusat Kebijakan Strategi dan Tata Kelola Kesehatan Global Kemenkes Harditya Suryawanto dalam kata sambutannya menegaskan bahwa penyusunan daftar patogen prioritas merupakan langkah strategis untuk memperkuat ketahanan kesehatan kawasan melalui pendekatan One Health.

“ASEAN One Health Priority Pathogen List bukan sekadar daftar patogen, melainkan fondasi bagi ASEAN untuk menyusun kebijakan berbasis risiko, memperkuat kesiapsiagaan, dan mengarahkan kerja sama lintas sektor dalam menghadapi ancaman kesehatan di masa depan. Indonesia berkomitmen untuk memastikan proses penyusunannya kredibel, berbasis bukti ilmiah, dan memberikan manfaat nyata bagi seluruh kawasan ASEAN,” ujar Harditya pada Rabu (16/9).

Selama tiga hari pembahasan, para peserta berhasil menyepakati beberapa hal, di antaranya penyempurnaan Terms of Reference (ToR) yang mencakup tujuan, ruang lingkup, metodologi, kriteria, mekanisme pengambilan keputusan, serta tahapan penyusunan ASEAN One Health Priority Pathogen List. Selain itu juga pembentukan Ad Hoc Prioritization Task Force yang akan memimpin proses teknis penyusunan daftar patogen prioritas ASEAN dengan melibatkan para pakar dan penentu kebijakan dari negara anggota ASEAN serta organisasi mitra.

Baca Juga  Cek Kesehatan Secara Rutin Untuk Deteksi Dini Penyakit

Pertemuan ini juga menyepakati ruang lingkup patogen prioritas, yaitu patogen yang berdampak pada manusia, hewan, tumbuhan, dan lingkungan, termasuk patogen zoonotik yang pernah menyebabkan wabah maupun berpotensi menimbulkan pandemi serta memerlukan kolaborasi lintas sektor melalui pendekatan One Health. Sebagai dasar metodologi, para peserta juga menyepakati adaptasi One Health Zoonotic Disease Prioritization (OHZDP) agar sesuai dengan karakteristik epidemiologi dan kebutuhan kawasan ASEAN.

Public Health Advisor One Health Office US CDC, Grace Goryoka, menjelaskan bahwa metodologi One Health Zoonotic Disease Prioritization telah menyediakan pendekatan yang praktis dan berbasis bukti yang dapat diadaptasi sesuai konteks kawasan ASEAN. “Setelah daftar patogen prioritas disusun, ASEAN dapat melanjutkan proses ini dengan mengembangkan associated diseases list sebagai acuan dalam perencanaan kesiapsiagaan dan penguatan aksi kesehatan masyarakat di kawasan,” ujar Grace.

Ia menambahkan bahwa US CDC bersama JICA dan UKHSA siap mendukung tahapan implementasi penyusunan ASEAN One Health Priority Pathogen List, mulai dari penyusunan perangkat (tools) pengumpulan data, analisis hasil prioritisasi, pelatihan bagi para fasilitator, hingga bergabung dalam Ad Hoc Prioritization Task Force sebagai fasilitator dan penasihat (advisor).

Baca Juga  Rangkaian Kegiatan HLOM Kesebelas APRFHE Resmi Ditutup

Hasil pertemuan ini nantinya akan menjadi dasar pelaksanaan tahapan berikutnya, yaitu pembentukan Ad Hoc Prioritization Task Force, penyusunan daftar awal patogen, proses penilaian berbasis bukti (evidence-based prioritization), lokakarya regional untuk pemeringkatan patogen pada tahun 2027, hingga konsultasi dan pengesahan di tingkat ASEAN One Health Network (AOHN) sebelum diadopsi sebagai daftar patogen prioritas beserta rencana aksi implementasinya.

Daftar patogen prioritas tersebut diharapkan menjadi acuan bersama bagi negara-negara ASEAN dalam memperkuat surveilans, penilaian risiko, kesiapsiagaan, dan respons terhadap ancaman kesehatan lintas batas. Selain itu, daftar ini juga akan memperkuat peran ACPHEED sebagai pusat kolaborasi regional dalam pencegahan, deteksi dini, dan respons terhadap penyakit menular baru maupun penyakit yang muncul kembali di kawasan. (Penulis: Rita Ratna Puri, Editor: Timker HDI)