MENJADIKAN KESEHATAN SEBAGAI MODALITAS UTAMA PRODUKTIVITAS BANGSA

16

Penulis:
Dr. Syahrul Aminullah, S.K.M, M.Si (Analis Kebijakan BKPK Kemenkes/Dewan Penasehat Ikatan Alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2025-2028/2.Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Kesehatan Masyaraka Indonesia (IAKMI) 2010-2013.

Adagium yang menyatakan bahwa “kesehatan bukanlah segalanya, namun tanpa kesehatan, segala pencapaian menjadi tiada arti” amat relevan untuk kita renungkan kembali. Dalam bingkai pembangunan nasional, kesehatan bukan sekadar isu medis, melainkan fondasi utama produktivitas. Penduduk yang sehat adalah aset vital yang menggerakkan roda ekonomi; sebaliknya, masyarakat yang didera penyakit kronis akan menjadi beban tanggungan negara yang masif.

Sayangnya, lanskap kesehatan kita kian kompleks. Kita tengah menghadapi “beban ganda”, dimana kembalinya penyakit menular lama seperti campak, sekaligus ledakan Penyakit Tidak Menular (PTM). Pemerintah sebenarnya telah merespons hal ini dengan menerbitkan regulasi komprehensif, mulai dari Undang-Undang, Peraturan Presiden, hingga kebijakan teknis di tingkat Puskesmas. Integrasi aturan ini, yang juga diperkuat melalui Peraturan Daerah (Perda) berbasis kearifan lokal, bertujuan memberikan kepastian hukum demi pelayanan kesehatan yang prima dan terukur.

Transformasi Perilaku Merupakan Kunci Menangkal PTM

Baca Juga  Waspada Varian Baru Arcturus

Merujuk pada teori klasik Henrik L. Blum, kualitas kesehatan dipengaruhi oleh empat faktor yaitu: lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan, dan genetik. Namun, perilaku dan lingkunganlah yang memegang peran paling dominan.

Saat ini, Indonesia menghadapi ancaman serius dari PTM yang menjadi “momok” bagi produktivitas. Data tahun 2024 menunjukkan angka yang mencengangkan, dimana penderita diabetes melitus telah melampaui 20 juta orang, sementara penderita hipertensi melonjak hingga lebih dari 63 juta orang, artinya lebih dari 22,5 persen penduduk Indonesia menderita hipertensi. Kondisi ini diperparah oleh stroke, yang kini menempati posisi sebagai penyebab kematian tertinggi kedua sekaligus penyebab kecacatan tertinggi ketiga di tanah air.

Keterpurukan fisik ini sering kali merupakan hasil dari akumulasi gaya hidup yang abai terhadap investasi kesehatan jangka panjang. Titik krusial hilangnya produktivitas bermula ketika seseorang mulai mengabaikan aktivitas fisik dan pola makan seimbang, yang secara perlahan merusak sistem metabolisme tubuh.

Investasi Sehat Sepanjang Hayat

Menjaga produktivitas memerlukan komitmen kolektif sejak dini. Hal ini harus dimulai dari masa kanak-kanak melalui pemenuhan imunisasi dasar lengkap. Lonjakan kasus campak belakangan ini menjadi pengingat keras bahwa imunisasi adalah perlindungan paling efektif, sebuah tanggung jawab bersama untuk menciptakan kekebalan kelompok (herd immunity).

Baca Juga  Bahaya Hipertensi Mengintai Anak Muda Indonesia

Memasuki usia remaja, fokus harus bergeser pada penguatan kesehatan jiwa dan fisik secara simultan. Saat ini, kesehatan mental generasi muda berada dalam kondisi “siaga” menyusul meningkatnya kasus percobaan bunuh diri pada siswa. Sekolah dan keluarga memegang peran strategis dalam membangun sistem dukungan psikososial agar lahir generasi yang tangguh secara mental dan aktif secara fisik.

Pada usia dewasa, tantangan terbesar adalah mengendalikan faktor risiko lingkungan dan zat adiktif. Kebijakan pemerintah dalam membatasi kadar TAR dan nikotin merupakan langkah preventif untuk melindungi masyarakat. Individu yang sadar akan nilai produktivitasnya tentu akan menjauhi perilaku berisiko demi menjaga kemandirian di masa tua.

Lima Langkah Nyata Menuju Hidup Produktif

Kebijakan kesehatan yang kuat hanya akan efektif jika didukung oleh literasi kesehatan masyarakat yang tinggi untuk menangkal misinformasi. Sebagai panduan praktis, terdapat lima langkah nyata yang dapat dilakukan:

Baca Juga  Komplikasi dan Kematian Akibat Covid-19

Pertama, untuk aktif bergerak, dimana tubuh manusia dirancang untuk bergerak. Aktivitas fisik minimal 30 menit setiap hari adalah investasi sederhana untuk menjaga jantung dan metabolisme.

Kedua, menjada pola makan seimbang, dengan membudayakan makan bukan sekadar kenyang. Pilihan nutrisi dengan porsi seimbang antara karbohidrat, protein, sayur, dan buah adalah bahan bakar utama energi.

Ketiga, dapat menjauhi zat adiktif, rokok, alkohol, dan zat adiktif lainnya yang menjadi  pintu masuk penyakit kronis yang menggerus kualitas hidup.

Keempat, dapat terus menjaga kesehatan mental, dimana melalui pikiran yang tenang dan relasi sosial yang sehat adalah pilar produktivitas yang sering terlupakan.

Kelima, konsisten melakukan deteksi dini, dengan pemeriksaan kesehatan berkala membantu mengenali faktor risiko sebelum berkembang menjadi ancaman serius.

Produktivitas bangsa memang ditunjang oleh kebijakan negara, namun keberlanjutannya sangat bergantung pada pilihan hidup setiap warganya. Pilihan kini ada di tangan kita, apakah ingin berinvestasi pada kesehatan untuk masa tua yang mandiri, atau membiarkan kelalaian masa muda menjadi beban bagi diri sendiri dan keluarga di kemudian hari.