Penulis: Eva Sulistiowati (Analis Kebijakan Ahli Madya Pusat Kebijakan Sistem Ketahanan Kesehatan BKPK Kemenkes)

Indonesia tengah berada di titik balik demografi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia resmi memasuki era aging population sejak tahun 2021 karena proporsi lansia berumur 60 tahun ke atas telah melampaui batas 10%. Lompatannya pun luar biasa: bertambah hampir 7 juta jiwa dalam lima tahun terakhir, dari sekitar 26,8 juta jiwa pada 2020 menjadi sekitar 33,7 juta jiwa pada tahun 2025. Bahkan pada tahun 2050, diproyeksikan 1 dari 5 orang Indonesia adalah lansia.
Peningkatan Umur Harapan Hidup (UHH) yang ditargetkan menyentuh 75,4 tahun pada 2029 ini jelas merupakan kemenangan pembangunan. Namun, tantangan besarnya adalah menutup “gap paradoks” antara angka harapan hidup dengan kualitas hidup riil. Data UHH dengan Usia Harapan Hidup Sehat (UHHS) menunjukkan adanya celah (gap) sebesar 8 hingga 9 tahun (tabel 2). Artinya, rata-rata lansia Indonesia harus menghabiskan sisa usia 8–9 tahun terakhir hidupnya dalam kondisi rentan dan sakit-sakitan terutama disebabkan penyakit degeneratif kronis.
Agar ledakan populasi berambut perak ini tidak menjadi beban fiskal bagi negara, melainkan menjadi peluang emas “Bonus Demografi Kedua”, strategi nasional wajib bergeser secara agresif dari pendekatan kuratif-hilir di rumah sakit menuju penguatan deteksi dini-hulu di tingkat layanan primer.
Potret Lansia Indonesia Tahun 2025: Heterogen dan Rentan
Lansia seringkali digambarkan sebagai kelompok penduduk yang rentan, yaitu tidak lagi produktif secara ekonomi, masalah kesehatan, dan kebutuhan pendamping sebagai pengasuh (caregiver). Untuk merancang hulu pelayanan kelanjutusiaan yang efektif, tidak bisa lagi menggunakan pendekatan one-size-fits-all (satu ukuran untuk semua) karena karakteristik lansia kita sangat heterogen:
- Modalitas Lansia Muda: Sebesar 63,72% lansia didominasi oleh kelompok usia 60–69 tahun. Kelompok ini secara klinis dan sosiologis masih memiliki potensi besar untuk tetap produktif jika kesehatannya terjaga sejak dini.
- Feminisasi Penuaan: Tantangan gender muncul karena mayoritas lansia adalah perempuan (52,16%), di mana 46,71% di antaranya menyandang status janda (cerai mati). Ditambah Angka Melek Huruf yang lebih rendah dari laki-laki, lansia perempuan menjadi kelompok yang paling berisiko terjebak kemiskinan ekstrem di usia senja.
- Kesenjangan Spasial & Ekonomi: Distribusi lansia timpang antarwilayah. DI Yogyakarta memiliki struktur tertua (17,78%) yang mendesak kesiapan infrastruktur geriatri, sementara Papua Tengah (6,69%) masih didominasi penduduk muda. Di sisi lain, 41,75% lansia berada di kelompok ekonomi 40% terbawah, memicu fenomena sandwich generation di mana rumah tangga produktif harus menanggung beban ekonomi ganda.
Alarm Merah dari Data Kematian dan Kaskade Penyakit
Kerentanan struktural di atas berkaitan erat dengan ancaman klinis. Data Global Burden of Diseasemenunjukkan bahwa pembunuh utama di Indonesia didominasi penyakit tidak menular (PTM) seperti stroke, jantung iskemik, dan diabetes.
Kondisi klinis ini tecermin dari potret riil data nasional program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dirilis Kementerian Kesehatan. Sepanjang tahun 2025, program CKG berhasil melayani 70,2 juta penduduk (96,5%) dari pendaftar, dan berlanjut secara masif pada tahun 2026 yang hingga per 7 Juni telah menjangkau 45,1 juta jiwa (96,9%) dari pendaftar. Tiga dari temuan lima temuan masalah kesehatan terbesar pada lansia (60 tahun ke atas) merupakan faktor risiko PTM, yaitu:
- Aktivitas fisik kurang (49,5%)
- Obesitas sentral (28,3%)
- Gigi hilang (45.1%)
- Gigi berlubang (40,7%)
- Prehipertensi (17,1%)
Hasil CKG menangkap adanya putusnya kaskade tata laksana pasien. Pada CKG 2025, dari 31,6 juta orang yang diperiksa gula darahnya, terjaring 295.048 kasus diabetes. Namun, hanya 2,3% dari penderita diabetes tersebut yang kondisinya terkendali (rutin berobat dan kontrol gula darah). Mayoritas sisanya (78,7%) masuk dalam kategori baru sekadar mendapat edukasi tapi belum menerima obat standar. Kondisi serupa terjadi pada kaskade hipertensi, di mana dari 6,1 juta peserta terdiagnosis, baru 3,1% yang tekanan darahnya terkendali.
Penguatan Cakupan CKG sebagai Jangkar Deteksi Dini
Melihat adanya mata rantai yang terputus antara deteksi dini dan pengobatan lanjutan, diperlukan tiga langkah intervensi kebijakan yang taktis dan terintegrasi:
- Masifkan CKG Melalui Skrining Jemput Bola Berbasis Komunitas
Pada tahun 2025, peserta CKG dari kelompok lansia baru menyentuh angka ~6,8 juta jiwa atau hanya mencakup 18% dari total 34 juta lansia di Indonesia. Penguatan cakupan CKG harus diintegrasikan dengan pemanfaatan Puskesmas Santun Lansia yang saat ini secara nasional telah mencapai 9.033 unit (87,38%) serta perluasan Puskesmas Integrasi Layanan Primer (ILP) yang kini telah menyentuh 86,2% secara nasional. Skrining CKG jangan lagi bersifat pasif menunggu di Puskesmas, melainkan aktif menjemput bola melalui kader Posyandu ke rumah-rumah lansia.
- Selesaikan “Gap Program” Pasca-Skrining
Menemukan penyakit di tahap awal (early detection) lewat CKG tidak akan ada gunanya jika kaskade pengobatannya terputus. Angka 78,7% penderita diabetes hasil skrining yang belum menerima obat harus segera diintervensi dengan integrasi data CKG ke dalam aplikasi layanan primer (PCare) agar pasien langsung mendapatkan akses obat dan kontrol rutin demi mencegah komplikasi stroke atau gagal ginjal di kemudian hari.
- Kampanye Aktif dan Penyediaan Ruang Publik Ramah Lansia untuk Memerangi Sedentary Lifestyle
Mengingat data CKG hampir separuh lansia (49,5%) kurang aktivitas fisik, maka momentum Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) dengan gerakan penyehatan seperti “30 Menit Bersama Lansia” harus dibakukan menjadi kebijakan berbasis komunitas tingkat RT/RW. Pemerintah daerah wajib menyediakan infrastruktur publik yang ramah, aman, dan mudah diakses untuk mengakomodasi olahraga jalan sehat dan senam, dua olahraga yang terbukti paling digemari oleh masyarakat kita guna mendukung penuaan aktif (active ageing).
Healthy Aging di Tingkat Individu
Di samping intervensi makro oleh pemerintah, penuaan yang sehat dan mandiri harus diupayakan secara proaktif di tingkat individu melalui 6 langkah praktis:
- Skrining Rutin CKG: Manfaatkan posyandu prima atau puskesmas untuk cek tensi dan gula darah gratis minimal setahun sekali.
- Aktivitas Fisik Terukur: Lakukan jalan sehat atau senam ringan secara konsisten demi memotong risiko obesitas sentral.
- Nutrisi Seimbang: Mulai batasi makanan tinggi gula, garam, dan lemak jenuh agar kondisi prehipertensi tidak berlanjut menjadi penyakit kronis.
- Higienitas Gigi dan Mulut: Rawat kondisi gigi secara mandiri, sebab gangguan kunyah akibat gigi berlubang atau tanggal kronis akan mengganggu serapan nutrisi tubuh.
- Kesehatan Mental yang Positif: Salurkan hobi, jaga kualitas tidur, dan terus asah otak lewat aktivitas kognitif guna menghalau demensia dini.
- Penguatan Dukungan Sosial: Tetap terhubung dalam ikatan komunitas atau keluarga agar kesehatan psikologis terjaga dari rasa kesepian dan isolasi sosial.
Kesimpulan
Menghadapi gelombang penduduk berambut perak bukanlah tentang bagaimana kita merawat kelompok yang sudah telanjur sakit di ranjang rumah sakit, melainkan bagaimana kita mengoptimalkan ekosistem hulu untuk mendeteksi penyakit sebelum kerusakan organ terjadi. Penguatan jangkauan CKG dan perbaikan kaskade pengobatan PTM di tingkat Puskesmas ILP adalah kunci mutlak untuk menaikkan angka harapan hidup sehat (UHHS). Dengan demikian, lansia Indonesia tidak sekadar berumur panjang, tetapi tetap sehat, mandiri, dan berdaya sebagai subjek aktif kemajuan bangsa.








