web analytics
Header Ads
Beranda Blog Halaman 29

Menelusuri Sejarah Kajian Kesehatan dalam Sebuah Buku

Kebijakan kesehatan di Indonesia selama 25 tahun mengalami perubahan, perkembangan, dan keberlanjutan yang mendasar. Serta berpengaruh signifikan terhadap sistem kesehatan nasional. Hal tersebut tertuang dalam buku “Dari Krisis Multidimensi ke Krisis Kemanusiaan: Sejarah Kebijakan Kesehatan di Indonesia, 1999-2023”. Sebelum diluncurkan, buku ini dibedah lebih dalam pada Talk-show Kajian Sejarah Kebijakan Kesehatan dalam rangkaian HAI Fest, Hari Kesehatan Nasional, Jumat (8/11), di Jakarta.

Karya dari Baha ‘Uddin dan kawan-kawan merupakan kerja sama antara Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan dan Pusat Kebijakan Manajemen Kesehatan, FKKMK UGM. Penulisan buku ini dibagi dalam 4 periode dalam sejarah kesehatan di Indonesia. Pertama, periode I pada tahun 1999 – 2009 mengenai reformasi hingga desentralisasi. Lalu, periode II pada tahun 2009 – 2019 membahas tentang jaminan kesehatan nasional. Selanjutnya, periode III pada tahun 2020 – 2023 menggambarkan pada masa pandemi COVID-19. Terakhir periode IV pada tahun 2023 dan yang akan datang mengenai transformasi sistem kesehatan.

Baha menjelaskan pada periode pertama dalam buku tersebut akan tergambarkan kebijakan kesehatan pada situasi reformasi politik yang didalamnya terdapat demokratisasi dan pengurangan sentralisasi kekuasaan pemerintah pusat.

Selain itu adanya kebijakan tentang sumber daya manusia kesehatan yang ditetapkan melalui Undang – undang No 29 tahun 2004 tentang praktik kedokteran serta regulasi praktik dokter dan dokter gigi. Serta Undang – undang tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional pada tahun 2004. Tak kalah penting adanya reformasi pengelolaan rumah sakit dan desentralisasi kesehatan.

Lebih lanjut, Baha menguraikan isi dari periode II yaitu adanya disrupsi kebijakan dan dilema desentralisasi pada masa Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Ia mengungkapkan bahwa terdapat banyak perubahan signifikan dalam regulasi sistem kesehatan di Indonesia, terutama dalam konteks implementasi JKN. Namun, menurut Baha, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terlihat sulit berperan sebagai otoritas kesehatan yang utama. Berbagai konflik antar profesi, antar lembaga kesehatan, defisit anggaran Badan Penyelenggara Jaminan Sosial, dan sistem desentralisasi. Situasi-situasi tersebut sulit ditangani oleh Kemenkes, hingga membuat banyak regulasi. “Terdapat puluhan undang-undang terkait kesehatan, namun tidak memberikan dasar yang baik bagi sistem kesehatan,” ungkapnya.

Lebih dalam lagi, Baha memaparkan masa periode ketiga, yaitu pada masa Covid-19. Pada masa tersebut, menurut Baha, pemerintah melakukan strategi yang cukup adaptif. Pemerintah saling berkolaborasi dalam pengendalian COVID-19 dengan membentuk gugus tugas penanganan COVID-19 di bawah koordinasi BNPB. Selain itu, Kemenkes memfokuskan pada penguatan SDM kesehatan melalui mobilisasi SDM, pemberian insentif, pelonggaran STR, dan peningkatan kompetensi.

Upaya percepatan penanganan COVID-19 dengan melakukan pengadaan vaksin dan ketersediaan farmasi serta alat kesehatan. Hal itu tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 99 Tahun 2020 tentang Pengadaan Vaksin dan Pelaksanaan Vaksinasi, serta kebijakan Emergency Use Authorization (EUA) untuk mempercepat ketersediaan vaksin dan akselerasi cakupan vaksinasi. Selanjutnya, Ia mengatakan pada periode ketiga ini juga terjadi disrupsi pengembangan sistem informasi kesehatan digital. Kemenkes melakukan transformasi teknologi dengan mengembangkan digitalisasi sistem kesehatan melalui teknologi informasi dan telemedicine bagi penderita COVID-19.

Pada periode keempat, Baha menjelaskan bagaimana arah kebijakan melalui transformasi sistem kesehatan. Dalam memperkuat kebijakan Kesehatan, Kemenkes telah menyusun Undang-Undang No. 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan dengan 458 pasal. Undang-undang ini, Baha katakan dapat memperkuat peran pemerintah, khususnya Kemenkes. Tentunya dengan adanya Undang-undang ini memperkuat koordinasi dan regulasi sektor kesehatan dengan mengintegrasikan berbagai aspek pelayanan kesehatan, sumber daya manusia, teknologi, dan pendanaan Kesehatan. “Tantangan mendatang adalah pelaksanaan UU Kesehatan dapat dijalankan sebagaimana mestinya. Serta mampu menjamin bahwa setiap negara mendapatkan haknya dalam pelayanan Kesehatan yang berkeadilan sosial,” ujar Baha.

Pada kegiatan yang sama, Linda Sunarti, pakar sejarawan menyampaikan pandangannya terhadap buku tersebut. Ia mengatakan, buku ini merupakan satu karya yang bagus, dalam geografi sejarah kesehatan Indonesia. Karya dari Baha ini, menurutnya menjadi terobosan terbesar dan ide baru yang sangat komprehensif. Dalam buku ini menjelaskan tentang perspektif penulis yang mendalam tentang perjalanan kebijakan kesehatan nasional dalam menghadapi berbagai tantangan krisis ekonomi sampai kemanusiaan seperti Covid-19.

Linda mengungkapkan bahwa, karya-karya sejarah kesehatan sebelumnya banyak ditulis oleh sejarawan asing dan yang dibahas adalah tentang penyakit, Kebijakan kesehatan era kolonial, dan juga kebijakan kesehatan di masa orde baru. Sehingga, menurutnya, buku ini memicu kalangan sejarawan untuk berusaha memperhatikan atau menggali aspek-aspek kesehatan yang bisa dijadikan kajian historis.

Selanjutnya Linda menilai buku ini tidak hanya menjadi saksi perjalanan panjang kebijakan kesehatan Indonesia. Tetapi juga mengupas salah satu episode yang paling mengguncang dalam sejarah kesehatan bangsa Indonesia yaitu pandemi COVID-19. Dalam buku ini tergambarkan bagaimana suatu pandemi dapat menguji seluruh sendi kehidupan bangsa. Menurut pandangannya, dalam buku ini mengungkap satu sistem kesehatan saat pandemi. Pandemi juga tergambarkan dapat mengugah kebijakan baru yang belum pernah diterapkan sebelumnya dan dilakukan cukup komprehensif. Jadi tidak sekedar krisis kesehatan, COVID-19 ini juga membuka tabir krisis kemanusiaan, memengaruhi berbagai aspek sosial ekonomi juga kebijakan publik.

Dalam kesempatan tersebut, Linda mengatakan buku ini menghadirkan kisah pembelajaran tentang bagaimana negara Indonesia merespons terhadap krisis dan belajar dari krisis tersebut. Di dalam buku ini, Linda merasakan seolah-olah diajak menelusuri kebijakan kesehatan yang penuh dinamika. Bagaimana setiap dinamika ini dirumuskan kebijakannya kemudian diuji dan dipertahankan demi kesehatan rakyat.

Mengakhiri sesi tersebut, Linda berharap buku yang merupakan kajian sejarah kebijakan kesehatan ini dapat dibuat menjadi seri lanjutan dari masing-masing bab yang ada. “Misalnya diterbitkan buku mengenai seri khusus kebijakan produk kesehatan atau kebijakan pelayanan kesehatan, atau sejarah tata kelola COVID-19, dan sebagainya. Jadi justru bagus karena buku ini bisa menjadi pemantik untuk karya-karya lain yang lebih besar,” tutupnya. (Faza Nurwulandari)

Bekerjasama untuk Ciptakan Masyarakat Indonesia Lebih Sehat

Jakarta–Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengadakan Upacara Peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-60 di Kantor Kementerian Kesehatan di Jakarta pada Selasa, 12 November 2024. Menggunakan seragam Kemenkes putih biru, peserta upacara terdiri dari perwakilan unit-unit utama Kementerian Kesehatan serta perwakilan dari TNI dan POLRI sebagai tamu undangan.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin berkesempatan memberikan sambutan pada pelaksanaan upacara. Dalam sambutannya beliau berpesan kepada seluruh jajaran kesehatan untuk berkontribusi maksimal terhadap kesuksesan pencapaian program pemerintah.

Diungkapkan Menkes Budi bahwa Presiden RI telah memasukkan kesehatan sebagai salah satu bagian dari Asta Cita, program prioritas serta Quick Wins yang digagasnya. Oleh karena itu Menkes menyerukan agar seluruh jajaran kesehatan untuk memastikan rakyat Indonesia kedepannya sehat dan bisa membantu mendorong pencapaian visi Indonesia Emas 2045.

“Saya ingin menyampaikan sekali lagi tugas kita yang utama adalah memastikan masyarakat Indonesia sehat, bukan hanya menyembuhkan pada saat sakit. Oleh karena itu peranan seluruh jajaran Kemenkes untuk bisa bekerja sama dengan seluruh pemerintah daerah agar semua program-program kesehatan ditujukan terutama untuk memastikan masyarakat kita tetap sehat,” ujar Menkes Budi.

Dijelaskan Menkes Budi bahwa saat ini Kemenkes sedang menyusun rencana pembangunan jangka menengah nasional dengan Bappenas untuk memastikan strategi kesehatan 5 tahun kedepan sesuai dengan arahan Presiden RI. Diungkapkannya bahwa rencana tersebut disepakati bukan hanya di level Kemenkes saja tetapi juga di level Kementerian/Lembaga lain dan juga pemerintah daerah di seluruh Indonesia.

Lebih lanjut dijelaskan Menkes bahwa Presiden RI telah menetapkan program Quick Wins dalam bidang kesehatan yang diantaranya adalah pemeriksaan kesehatan gratis, penurunan kasus Tuberkulosis (TB), dan pembangunan Rumah Sakit (RS) lengkap berkualitas di daerah terpencil dan tertinggal. Pemeriksaan kesehatan gratis untuk semua kelompok umur bagi seluruh masyarakat Indonesia dijelaskan Menkes Budi dilakukan untuk memastikan deteksi secara lebih dini jika ada kondisi kesehatan yang menurun dari masyarakat. Kondisi yang menurun harus dapat ditangani dengan cepat untuk menghindarkan masyarakat harus dirawat di RS.

Untuk akselarasi pengentasan TB dijelaskan Menkes Budi bahwa TB sebagai penyakit menular harus dapat diidentifikasi, discreening, serta didiagnosa oleh jajaran fasilitas kesehatan. Disebutkan Menkes bahwa obat-obatan yang baru sudah jauh lebih mudah dan lebih pendek waktunya. Menkes menghimbau agar jajaran pelayanan kesehatan memastikan obat tersebut diminum sampai selesai oleh seluruh penderita TB.

Dijelaskan pula oleh Menkes bahwa sekarang ini Indonesia sedang aktif melakukan Clinical Trial Fase 3 untuk vaksin TB di 5 Center di Indonesia dan diharapkan Indonesia berperan aktif menyelesaikan vaksin TB baru ini sebelum tahun 2029. Dengan upaya tersebut Menkes mengharapkan angka penderita TB jauh menurun dibanding angka sekarang.

Untuk program ketiga Menkes menjelaskan bahwa Presiden mengharapkan daerah 3T (daerah terpencil, tertinggal, perbatasan dan kepulauan) memiliki RS minimal tipe C dengan peralatan standar yang bisa menangani penyakit stroke, jantung dan kanker. Ada 66 RS di daerah 3T yang akan dibangun oleh Kemenkes dan diharapkan dapat selesai dalam waktu 2 tahun dengan standar nasional.“Pesan saya pada Direktorat Fasilitas Layanan Kesehatan agar dilakukan dengan hati-hati, efektif, efisien sehingga kualitas yang dibangun benar-benar baik, sesuai jadwalnya dan tidak ada hal-hal yang secara tata kelola keliru. Mudah-mudahan kita bisa bersama-sama bekerja menciptakan masyarakat Indonesia lebih sehat untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045 nanti,” ujar Menkes menutup sambutannya.

Pada upacara peringatan HKN ke-60 ini Menteri Kesehatan juga menyerahkan penghargaan Presiden RI berupa Satya Lencana Karya Satya kepada para pegawai yang telah mengabdi di Kemenkes selama kurun waktu 10, 20 hingga 30 tahun. Salah satu pegawai BKPK yakni Plt. Kepala Pusat Kebijakan Upaya Kesehatan Dwi Puspasari mendapatkan penghargaan tersebut atas pengabdiannya selama 20 tahun. (Penulis Kurniatun Karomah/Edit Timker HDI)

BKPK Raih 3 Penghargaan di Acara HAI Fest Kemenkes 2024

Jakarta – Festival Inovasi Kesehatan atau Health Innovation Fest (HAI-Fest) yang diadakan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk memperingati Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-60 resmi ditutup pada Sabtu (9/11). Festival yang berlangsung selama tiga hari di Jakarta ini dikunjungi lebih dari 12 ribu pengunjung yang berasal dari berbagai kalangan.

Tercatat lebih dari 8.000 pengunjung berpartisipasi dalam pemeriksaan kesehatan gratis. Ini menunjukkan antusiasme dan kesadaran masyarakat akan kesehatannya dan hal tersebut memberi dukungan positif terhadap upaya Kemenkes untuk mewujudkan sistem kesehatan yang lebih tangguh menuju Indonesia Maju.

Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan L. Rizka Andalusia menyampaikan apresiasi sebesar-besarnya kepada para pemberi pelayanan kesehatan serta semua pihak yang berpartisipasi dalam penyelenggaraan kegiatan ini. Dikatakannya bahwa berkat kolaborasi dari berbagai pihak kegiatan ini dapat berjalan sukses.

“Kegiatan ini dikunjungi oleh lebih dari 12 ribu pengunjung. Ini adalah yang terbesar selama kita menyelenggarakan event ini. Selain itu yang juga membanggakan adalah lebih dari 8 ribu pengunjung yang mengikuti pemeriksaan kesehatan gratis. Oleh karena itu kami mengucapkan terima kasih pada para pemberi pelayanan kesehatan yang telah melakukan kegiatan selama 3 hari ini untuk masyarakat,” ujar Rizka.

Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) turut memeriahkan HAI-Fest dengan berpartisipasi dalam pameran Inovasi dan Teknologi Kesehatan. Mengangkat tema Jejak Langkah Kebijakan Kesehatan booth BKPK menceritakan sejarah terbentuknya institusi kesehatan hingga masa pemerintahan sekarang dengan kebijakan transformasi kesehatan. Untuk menarik pengunjung mendatangi booth BKPK, tim pameran membagi-bagikan souvenir dan mengadakan kuis seputar BKPK.

HAI-Fest ditutup dengan pemberian penghargaan kepada Unit Kerja Kemenkes, Individu Berprestasi, serta Mitra Kerja Kemenkes, baik dari daerah maupun swasta. Sebanyak 180 penerima penghargaan dari 23 kategori menerima apresiasi pada acara ini.

BKPK mendapatkan 3 penghargaan untuk 3 kategori berbeda. Penghargaan yang diterima BKPK adalah penghargaan Hasil Pengawasan Kearsipan Internal di lingkungan Kemenkes Kategori Unit Utama dengan menempati peringkat ke-2, penghargaan Implementasi Elektronic Monitoring and Evaluation (E-Monev) Pelaksanaan Program dan Kegiatan di lingkungan Kemenkes Kategori Unit Utama dengan menempati peringkat ke-3, serta penghargaan Kebijakan Peraih Indeks Kualitas Kebijakan (IKK) Predikat Sangat Baik untuk Pusat Kebijakan Pembiayaan Desentralisasi Kesehatan (Pusjak PDK).

Berikut daftar kategori penghargaan yang diberikan:

  1. Penghargaan Pemeringkatan Profil Kesehatan Tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota Tahun 2024
  2. Penghargaan Health Innovation Sprint Accelerator (HISA) 2024
  3. Penghargaan Digital Maturity Index untuk Rumah Sakit, Kabupaten/Kota, dan Provinsi dengan Akselerasi Transformasi Kesehatan Digital Terbaik
  4. Penghargaan bagi Provinsi dengan Persentase Penyelenggaraan Rekam Medis Elektronik (RME) di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tertinggi
  5. Penghargaan bagi Provinsi yang mendukung Capaian Layanan KJSU – KIA
  6. Penghargaan bagi Provinsi dalam Implementasi Sistem Informasi Rujukan Terintegrasi (Sisrute) Tertinggi
  7. Penghargaan bagi Provinsi dengan Kepatuhan Penggunaan Aplikasi Sarana, Prasana dan Alat Kesehatan (ASPAK) Tertinggi Tahun 2024
  8. Penghargaan bagi Provinsi dengan kriteria patuh melaporkan INM & IKP
  9. Penganugerahan Tanda Penghargaan Mitra Bakti Husada Tahun 2024
  10. Penghargaan Rumah Sakit Percontohan Pelayanan bagi Korban Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak
  11. Penghargaan Apresiasi Guru Aktif dalam Implementasi Perangkat Ajar Kesehatan
  12. Penghargaan Pengelolaan Vaksin melalui Penerapan Aplikasi Sistem Monitoring Logistik Imunisasi secara Elektronik (SMILE) dan SMILE AIDS TB Malaria (SMILE ATM) Terbaik Tahun 2024
  13. Penghargaan Dinas Kesehatan Provinsi Terbaik dalam Pelaporan Pelayanan Kefarmasian di Fasilitas Pelayanan Kefarmasian melalui aplikasi SIMONA
  14. Penghargaan bagi Rumah Sakit Vertikal dengan belanja obat produk dalam negeri terbesar dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) di atas 50% Tahun 2024
  15. Penghargaan kepada Puskesmas dengan Penginputan Capaian Imunisasi dalam Aplikasi Sehat Indonesiaku (ASIK)
  16. Penghargaan bagi Perwakilan Indonesia pada ASEAN Smoke-free Award (ASA) 2024 dan meraih Silver
  17. Trophy atas komitmen dan keberhasilan mengimplementasikan Kawasan Tanpa Rokok (KTR)
  18. Penganugerahan Tanda Penghargaan Implementasi Electronic Monitoring And Evaluation (E-Monev)
  19. Pelaksanaan Program dan Kegiatan dilingkungan Kementerian Kesehatan Tahun 2024
  20. Penghargaan Knowledge Sharing pada Knowledge Management System Kementerian Kesehatan Tahun 2024
  21. Penghargaan Hasil Pengawasan Kearsipan Internal di Lingkungan Kementerian Kesehatan Tahun 2024
  22. Penghargaan Arsiparis Terbaik Kementerian Kesehatan Tahun 2024
  23. Penghargaan Pemanfaatan Aplikasi SRIKANDI Tahun 2024
  24. Jabatan Fungsional Kesehatan (JFK) award tahun 2024
  25. Penghargaan Kebijakan Peraih Indeks Kualitas Kebijakan (IKK) 2024
    (Penulis: Kurniatun Karomah/Edit Timker HDI)

BKPK Meriahkan HAI Fest Kemenkes 2024

Jakarta– Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) turut berpartisipasi dalam Festival Inovasi Kesehatan atau Health Innovations Festival (HAI Fest) 2024. Acara ini merupakan salah satu rangkaian peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-60.

Tema yang diangkat adalah Leveraging Local Resources: “From Nature Nurture The Future atau Membangun Keberlanjutan Inovasi Untuk Ketahanan Kesehatan yang digelar dari tanggal 7-9 November 2024 di Jakarta.

“Festival inovasi ini sebagai bukti dari berbagai capaian inovatif kesehatan yang telah diraih bersama, dan semoga semangat inovasi dan pencapaian ini selalu dijaga dan ditingkatkan agar keberlanjutan untuk masyarakat Indonesia yang lebih sehat,” ungkap Staf Ahli Bidang Ekonomi Kesehatan Bayu Teja Muliawan dalam sambutannya pada Soft Opening Health Innovation Festival, Kamis (7/11).

Booth BKPK menampilkan sejarah dan jejak langkah kebijakan kesehatan di Indonesia yang dibagi menjadi empat zona, yaitu zona pra kemerdekaan yang menggambarkan perjalanan sejarah dan perjuangan kebijakan kesehatan dimasa penjajahan sebelum kemerdekaan. Untuk zona pascakemerdekaan menceritakan tentang perkembangan pembangunan kebijakan kesehatan.

Kemudian zona kebijakan transformasi kesehatan menjelaskan perubahan kebijakan dan capaian hasil kebijakan kesehatan, serta zona menuju Indonesia emas untuk membangun masyarakat yang sehat dan produktif dengan menjalankan tiga program quick win Kementerian Kesehatan yaitu pengentasan tuberkulosis, pembangunan RS berkualitas di Kabupaten Kota serta pemeriksaan kesehatan gratis.

Booth BKPK mendapat kunjungan lebih kurang tiga ratus pengunjung pada saat soft opening HAI-Fest dari berbagai profesi mulai dari dosen, mahasiswa, anak sekolah, dan masyarakat umum lainnya. Dalam kesempatan hari berikutnya, Sekretaris Jenderal Kemenkes Kunta Wibawa Dasa Nugraha ikut menyempatkan hadir di booth BKPK serta memberikan kesan dan pesan. “Sejarah jangan dilupakan. BKPK Mantap,” ungkap Sekjen Kunta.

BKPK juga menyediakan berbagai permainan menarik. Salah satunya dengan memanfaatkan aplikasi Kahoot untuk menyediakan berbagai soal seputar profil lembaga, capaian kinerja, maupun isu kesehatan lainnya yang wajib dijawab dengan benar oleh peserta. Pemenang akan mendapatkan souvenir yang menarik.

Sekitar 140 booth berpartisipasi pada HAI-Fest yang menampilkan berbagai hasil inovasi kesehatan mulai dari sediaan farmasi, makanan, minuman, alat kesehatan dan perbekalan kesehatan serta rumah tangga produksi dalam negeri. (Penulis Yuliana/Edit Timker HDI)

Festival Inovasi Kesehatan Dorong Kemandirian Sistem Kesehatan Nasional

Jakarta– Kementerian Kesehatan RI menggelar Festival Inovasi Kesehatan (Health Innovation Festival/HAI-Fest) dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-60. Acara ini, yang berlangsung dari 7 hingga 9 November 2024 di Jakarta Convention Center, diikuti oleh berbagai industri farmasi dan alat kesehatan nasional. Mengusung tema “Leveraging Local Resources: From Nature Nurture The Future“, HAI-Fest bertujuan membangun keberlanjutan dalam inovasi untuk ketahanan kesehatan nasional.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan bahwa festival ini diadakan untuk mendukung transformasi ketahanan sistem kesehatan, khususnya di pilar ketiga, yang merupakan kemandirian industri kesehatan dalam negeri. Ia menambahkan bahwa pemerintah berkomitmen mendukung produksi dalam negeri di sektor farmasi dan alat kesehatan agar Indonesia siap menghadapi kemungkinan pandemi di masa depan.

Dikatakan Menkes, pengalaman buruk Indonesia saat menghadapi Pandemi COVID-19 menjadi titik balik Indonesia untuk memperkuat sistem kesehatan dalam negeri yang ternyata sangat rapuh.

“Pandemi COVID-19 menjadi pelajaran bagi kita untuk memperkuat sistem kesehatan nasional yang rapuh,” ungkap Menkes Budi. Saat itu, Indonesia belum mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri ditambah pembatasan perjalanan dan lockdown saat itu menyebabkan supply alat kesehatan menjadi sangat terbatas. Akibatnya, Indonesia kesulitan mendapatkan obat, vaksin dan ventilator. Belajar dari situasi itu, pemerintah bertekad membangun sistem kesehatan yang aman, yang bisa bertahan kalau ada pandemi lagi,” kata Menkes. Itu sebabnya kenapa pembangunan industri farmasi, industri alat kesehatan dan industri pelayanan kesehatan akan kami dorong untuk diproduksi di dalam negeri.

Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, juga memberikan apresiasi atas inisiatif ini. Menurutnya, sinergi lintas sektor, termasuk akademisi dan industri, perlu terus dikembangkan. “Saya minta Pak Menkes memfokuskan anggaran untuk mendukung produk dalam negeri,” ujar Pratikno.

Festival yang berlangsung selama tiga hari ini diisi dengan berbagai kegiatan, termasuk pameran inovasi, konferensi internasional, business matching, talkshow, seminar kesehatan, dan pemeriksaan kesehatan gratis. Selain itu, HAI-Fest juga memberikan penghargaan kepada inovator lokal di sektor farmasi dan alat kesehatan sebagai upaya mendorong karya anak bangsa di industri ini.

HAI-Fest dilaksanakan melalui serangkaian kegiatan yakni:
a. Pameran Inovasi dan Teknologi Kesehatan yang menampilkan inovasi hasil riset dan produk dalam negeri berupa sediaan farmasi (obat, bahan obat, obat tradisional, dan kosmetika) dan alat kesehatan.
b. Indonesia – COMSTECH International Conference and Exhibition of Natural Products Based Cosmetics and Nutraceuticals melibatkan negara-negara anggota OIC (Organization of Islamic Cooperation).
c. One on One Business Matching antara industri manufaktur dan industri bahan baku dengan rumah sakit dan dinas kesehatan sebagai sarana untuk meningkatkan penggunaan produk kesehatan dalam negeri, dan membuka peluang kerjasama dan juga investasi industri dalam negeri.
d. Talkshow/Seminar oleh rumah sakit, industri, dan pengelola program di Kementerian Kesehatan sebagai media edukasi kesehatan bagi masyarakat.
e. Pemberian Penghargaan Karya Anak Bangsa kepada inventor, industri dan start-up company di bidang farmasi dan alat kesehatan.
f. Pemeriksaan kesehatan gratis seperti pemeriksaan mata, pemeriksaan kepadatan tulang, pemeriksaan gula darah, deteksi dini penyakit tidak menular, pemeriksaan kardiovaskuler menggunakan NIVA, serta deteksi dini kanker serviks dan kanker payudara. Masyarakat juga dapat melakukan donor darah dan terapi akupuntur di kegiatan ini.

Selain itu, acara HAI Fest HKN ke-60 juga diisi dengan lomba mewarnai anak, hiburan oleh artis nasional, games, Happy Hour (senam dan zumba), dan doorprize, yang seluruhnya gratis untuk umum.

Acara ini dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan dari instansi pemerintah seperti Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi, Kabupaten/Kota, organisasi kesehatan, dan Konsil Kesehatan Indonesia serta perwakilan internasional antara lain Duta Besar Negara Sahabat, perwakilan negara-negara Organization of Islamic Cooperation.

Kementerian Kesehatan berharap, dengan acara ini, Indonesia semakin siap membangun sistem kesehatan yang tangguh dan mandiri untuk masa depan. (Penulis Fachrudin Ali/Edit Timker HDI)

Inovasi Pembiayaan Tuberkulosis dan Tantangannya

Merujuk data Global Tuberculosis Report (WHO 2023), Indonesia merupakan negara penyumbang beban penyakit Tuberkulosis (TB) terbesar kedua di dunia setelah India. Pada tahun 2022 diperkirakan sekitar 144.000 kematian karena TB dan sebanyak 969.000 temuan kasus TB baru di Indonesia 25 persennya tidak terdeteksi dan tidak terlaporkan. Sementara dari 75 persen kasus yang ditemukan 24 persennya tidak tuntas berobat.

Dalam upaya mengatasinya, pemerintah menginisiasi suatu inovasi melalui skema pembiayaan program TB yang bertujuan untuk mengubah perilaku Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) dalam menemukan, melaporkan, dan mengobati TB sampai tuntas.

Pusat Kebijakan Pembiayaan dan Desentralisasi Kesehatan,Direktorat Jenderal Pencegahan Penyakit Menular dengan dukungan dari BPJS kesehatan dan mitra pembangunan ( USAID dan World Bank) melakukan ujicoba Inovasi Pembiayaan Program Tuberkulosis di FKTP di 6 kota antara lain: Kota Medan, Kota Jakarta Utara, Kota Bogor, Kota Semarang, Kota Surabaya, dan Kota Denpasar. Bulan Juli 2023 ujicoba resmi dimulai hingga berakhir di bulan Juni 2024.

Hasil ujicoba inovasi pembiayaan Tuberkulosis (TB) menunjukkan hasil positif. Hal ini diungkapkan Tiffany Tiara Pakasi, Ketua Tim Kerja Tuberkulosis, Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular, Kementerian Kesehatan, dalam acara Pertemuan Koordinasi dan Diseminasi Hasil Ujicoba Inovasi Pembiayaan Program Tuberkulosis di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) diadakan di Hotel JS Luwansa (4/11).

“Adanya peningkatan notifikasi (penemuan dan pelaporan) pasien TB di FKTP ujicoba yakni sebesar 5 persen pada FKTP Pemerintah dan 95 persen pada FKTP swasta jika dibandingkan dengan periode intervensi di tahun sebelumnya. Terjadi juga peningkatan FKTP ujicoba yang melakukan notifikasi sebesar 15 persen”, ujar wanita yang biasa dipanggil Tiara ini.

“Hasil positif lainnya, di kota Bogor, Kota Semarang dan Kota Surabaya rujukan TBC SO (Sensitif Obat) tanpa komplikasi mengalami penurunan. Selain itu, kemudahan akses rontgen dada untuk penegakan diagnosis terduga TB dengan hasil Tes Cepat Molekuler (TCM) negatif di FKTP” lanjut Tiara.

Sementara itu, pada saat yang sama di sesi panel, Ratu Martiningsih, Ketua Tim Kerja Kebijakan JKN di FKTP, Pusat Kebijakan Pembiayaan dan Desentralisasi Kesehatan, Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK)
memberikan rekomendasi dari tantangan yang dihadapi pada tahap ujicoba.

“Perlu adanya kepastian regulasi dalam pengaturan pemberian layanan program TB guna memastikan akses mutu dan pembiayaan layanan yang berkesinambungan. Kita juga melihat pemeriksaan rontgen akan lebih optimal jika ada skema pembiayaan tersendiri” ungkap Marti.

“Selain itu, perlu adanya pemberian insentif untuk mendorong FKTP melakukan penyelesaian pengobatan bagi pasien TB secara komprehensif dan juga tak kalah penting pendampingan yang simultan bagi FKTP swasta untuk meningkatkan treatment success rate bagi pengobatan TB” lanjutnya.

Pemerintahan baru di era Presiden Prabowo Subianto melalui Program 100 hari kerja (Program Hasil Terbaik Cepat atau quick wins) berkomitmen melanjutkan percepatan penuntasan penyakit TB melalui upaya inovasi pembiayaan tuberkulosis. Tiara mengatakan, hasil ujicoba ini tidak akan berhenti dan akan dilanjutkan dalam skala nasional.

“Upaya kita belum selesai apalagi TB masuk dalam program hasil terbaik cepat atau Quick win dari presiden Prabowo untuk tahun 2025, dan salah satu yang akan dijadikan quick win adalah dukungan pembiayaan untuk mengimplementasikan atau mengekspansi inovasi pembiayaan TB yang sudah dijalankan di 6 kota. Program jangka pendek quick win TB dan jangka panjang eliminasi TB untuk Indonesia yang lebih sehat” tutupnya. (Ahdiyat Firmana)

Mengenang Almarhumah Menkes Endang Untuk Bersikap Jujur

Karawang—Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengadakan acara Upacara Tabur Bunga Pahlawan Kesehatan dalam rangka Peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-60 Tahun 2024 di San Diego Hills Memorial Park Karawang Jawa Barat pada hari Selasa (5/11). Tabur bunga diselenggarakan untuk mengenang salah satu Menteri Kesehatan pada Kabinet Indonesia Bersatu II Almarhumah Endang Rahayu Sedyaningsih.

Hadir para pimpinan dan pegawai di lingkungan Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK), Inpekstorat Jenderal (Itjen) dan Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas 1 Tanjung Priok. Acara diisi dengan sambutan keluarga almarhum dilanjutkan dengan sambutan dari Kemenkes yang diwakili Kepala BKPK Kemenkes.

Kepala BKPK Kemenkes Syarifah Liza Munira dalam sambutannya mengatakan Almarhumah merupakan sosok yang sangat mengesankan dengan profil yang bisa dikatakan komplit. Pernah melakukan pelayanan di Puskesmas bahkan di Waipare NTT, pernah penelitian, pernah di lembaga internasional yaitu WHO dan kemudian memegang tampuk kepemimpinan di Kemenkes.

Tidak terasa sudah 12 tahun Almarhumah mendahului kita. ”Bu Endang memberikan banyak jasa kepada masyarakat, bangsa dan negara khususnya dalam peningkatan kesehatan masyarakat Indonesia, maka dari itu untuk mengenang beliau pada pagi ini mari kita mendoakan almarhumah semoga jasa-jasa beliau dapat kita teladani dan kita jadikan panutan dalam melakukan aktifitas kerja kita sehari-hari,” ungkap Liza.

Liza menyampaikan atas nama keluarga besar Kemenkes menyampaikan terima kasih atas perhatian hadirin kepada almarhumah dengan kesediaan dan perkenannya untuk hadir pada pagi ini.

Semoga semangat juang Almarhumah terus kita gelorakan dengan melakukan yang terbaik. ”Sebagaimana pesan beliau agar bersikap jujur walaupun kejujuran itu tidak semuanya nyaman, selalu fokus atau jelas arahnya, konsentrasi dan disiplin waktu,” harap Liza.

Dalam kesempatan tersebut hadir Reanny Mamahit suami dari almarhumah Endang Rahayu Sedyaningsih. Reanny menyampaikan terimakasih dan apresiasinya atas berlangsungnya acara ini. Sekaligus berharap akan ada menteri kesehatan dari kalangan wanita lagi. Khususnya, dari Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (Penulis Fachrudin Ali/Edit Timker HDI)

Penyampaian Pesan Yang Efektif Untuk Membangun Branding BKPK

Kabupaten Tangerang – Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sebagai sebuah lembaga baru yang belum lama lahir mungkin belum begitu dikenal oleh masyarakat ataupun stakeholders. Branding sebagai lembaga penelitian yang merupakan tugas dan fungsi BKPK sebelumnya masih sangat melekat. Terlebih, selain melaksanakan perumusan dan pemberian rekomendasi kebijakan, saat ini BKPK juga masih melaksanakan survei kesehatan.

Untuk membangun branding BKPK yang lebih kuat sebagai lembaga penyusun rekomendasi kebijakan kesehatan, perlu dilakukan strategi komunikasi. Pranata Humas BKPK sebagai corong lembaga atau penyampai pesan kepada publik berperan membangun branding dan reputasi bagi BKPK.

“Strategi komunikasi adalah rencana untuk menyampaikan pesan secara efektif kepada audiens tertentu melalui saluran yang tepat,” demikian disampaikan Konsultan Komunikasi Jojo Nugroho pada Pertemuan Penyusunan Strategi Komunikasi yang dilaksanakan BKPK di Tanggerang pada Kamis (31/10).

Lebih lanjut dijelaskan Jojo bahwa tugas humas adalah menyampaikan pesan dari lembaga kepada publik atau pemangku kepentingan yang sudah ditargetkan secara efektif. Agar efektif menurut Jojo maka harus ditentukan salurannya dan target audiensnya seperti apa.

Strategi komunikasi yang efektif akan memastikan pesan-pesan kunci tentang kebijakan dan capaian BKPK tersampaikan dengan baik. Selain itu, branding yang baik akan membantu menciptakan persepsi positif tentang komitmen BKPK dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat dan berinovasi untuk menyelesaikan tantangan kesehatan yang kompleks.

“Menyusun strategi komunikasi dimulai dengan riset dan diakhiri dengan evaluasi. Pada intinya strategi adalah What/Apa dan Why/Mengapa, strategi adalah memutuskan tujuan apa yang akan dicapai dan mengapa tujuan tersebut penting. Taktik adalah How/bagaimana, yaitu langkah dan tindakan konkret yang diambil untuk mencapai tujuan tersebut,” ujar Jojo.
Dalam kesempatan ini Jojo mengenalkan teori dan rumus dalam penyusunan strategi komunikasi. Peserta kegiatan juga diminta untuk praktek langsung bagaimana memetakan isu, menganalisis, serta menyusun strategi komunikasi menggunakan AI secara berkelompok.

Kegiatan Pertemuan Penyusunan Strategi Komunikasi BKPK juga menghadirkan sesi Knowledge Sharing dari Kementerian lain yang telah sukses membangun branding ataupun berhasil melewati krisis yang dihadapi. Sesi ini sangat menarik dan bermanfaat bagi para peserta karena memberikan insight dan tips bagaimana membangun branding serta bagaimana mengatasi krisis.

Sesi Knowledge Sharing menghadirkan narasumber dari Kementerian Komunikasi dan Digital yang memaparkan bagaimana “Membangun Corporate Branding untuk Reputasi dan Citra Lembaga”, Kementerian Pariwisata yang memaparkan bagaimana “Membangun Strategi Nation Branding Indonesia”, Kementerian Pekerjaan Umum yang memaparkan bagaimana “Membangun Strategi Komunikasi Capaian 10 Tahun Pembangunan Infrastruktur di Indonesia”, serta Kementerian Keuangan yang memaparkan bagaimana “Membangun Strategi Komunikasi Pengelolaan Manajemen Krisis”.

Ketua Tim Kerja Humas, Data dan Informasi Sekretariat BKPK Grace Lovita Tewu menyampaikan bahwa kegiatan ini selain bertujuan untuk menyusun dokumen strategi komunikasi branding BKPK juga untuk belajar dari Kementerian/Lembaga lain yang telah sukses membangun citranya

“Hari ini kita belajar bersama-sama, kami menghadirkan narasumber untuk berbagi pengalaman dalam membangun branding dan reputasi Kementerian/Lembaganya masing-masing sebagai bahan masukan BKPK untuk membuat branding. Ilmu yang dibagi juga dapat dimanfaatkan oleh peserta untuk membuat branding di instansinya masing-masing,” ujar Vita.

Lebih lanjut dijelaskan Vita dokumen strategi komunikasi sangat penting disusun karena sekarang ini merupakan salah satu syarat uji kompetensi bagi jabatan fungsional pranata humas. Karena itu setiap instansi/lembaga perlu memiliki dokumen strategi komunikasi.

Kegiatan yang dilaksanakan secara luring dan daring ini dihadiri oleh para pranata humas di lingkungan Kemenkes, pranata humas dari sejumlah Kementerian/Lembaga serta anggota Ikatan Pranata Humas Indonesia (IPRAHUMAS). (Penulis: Kurniatun Karomah/Edit Timker HDI)

Diseminasi Kajian 5 Daerah Binaan BKPK

Bekasi, Diseminasi Kajian Daerah dan Evaluasi Pembinaan Wilayah Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) dilaksanakan 30 Oktober – 2 November. Pembukaan secara resmi oleh Sekretaris BKPK Etik Retno Wiyati, dalam sambutannya menyampaikan bahwa diseminasi, pemantapan, dan koordinasi dengan berbagai stakeholders di Kementerian Kesehatan sangat penting bagi unit utama Kementerian Kesehatan.  “Aktivitas kajian yang dilakukan di daerah akan menjadi masukan berharga bagi pemerintah pusat untuk meningkatkan sinergi program dan kualitas kebijakan kesehatan” ujar Etik pada (30/10).

Etik juga menekankan bahwa peran mekanisme pembinaan wilayah menjadi krusial dalam memastikan sinergi antara pusat dan daerah. Salah satu metodenya melalui kajian yang menilai apakah kabupaten/kota memiliki kebijakan sesuai indikator wajib yang ditetapkan pusat. Kajian ini juga memberikan gambaran mengenai pencapaian indikator di daerah dan sejauh mana kebijakan lokal sejalan dengan pusat.

Pertemuan ini bertujuan untuk mendiseminasikan hasil kajian dan mengevaluasi kegiatan pembinaan wilayah di lima provinsi binaan BKPK, yaitu Jambi, Gorontalo, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Selatan, dan Papua Barat Daya. Pelaksana kajian adalah akademisi dari Poltekkes Kemenkes setempat dan pegawai dari dinas kesehatan provinsi. Selain pemaparan hasil kajian, kegiatan ini juga menggali tantangan dan harapan dalam implementasi transformasi kesehatan, praktik terbaik daerah yang dapat dicontoh daerah lain, serta rencana kajian tahun 2024 yang dapat dilakukan oleh Politeknik Kementerian Kesehatan (Poltekkes Kemenkes).

Mengakhiri sambutan, Etik menyampaikan harapan “Semoga kajian ini menjadi lebih strategis sehingga hasil yang sudah diperoleh tahun ini perlu dikembangkan agar lebih efektif dan dapat digunakan untuk mengevaluasi dampak program yang dijalankan di daerah” tutup Etik.

Tahun 2024 BKPK melaksanakan kajian di berbagai area substansi prioritas, seperti analisis pola gizi ibu hamil untuk pencegahan stunting di Sorong, pengendalian rabies di NTT dengan pendekatan One-Health, implementasi layanan primer di Puskesmas Kalimantan Selatan, keterampilan kader posyandu di Provinsi Gorontalo, dan implementasi e-PPGBM di Provinsi Jambi. Kajian implementasi ini dirancang untuk membantu pemerintah daerah mengatasi masalah kesehatan dengan solusi berbasis riset implementasi, bukan pada pengembangan produk kesehatan baru.

Pada kesempatan yang sama, Analis Kebijakan Ahli Madya BKPK Nirmala Ahmad Ma’ruf menyampaikan paparan mengenai konsep binwil yang dijalankan oleh BKPK tahun 2023-2024. Program ini bertujuan memperkuat sinergi antara pusat dan daerah dalam melaksanakan transformasi kesehatan, yang berfokus pada enam pilar utama.

“Untuk pengelolaan dan pelaporan, BKPK menggunakan Sistem Informasi Pembinaan Wilayah (SIBIWI) sebagai platform monitoring dan evaluasi daerah binaan. Progres laporan mengenai kendala dari masing-masing daerah dicatat di SIBIWI dan ditindaklanjuti oleh unit kerja program terkait di Kementerian Kesehatan, serta memastikan komunikasi antara pusat dan daerah tetap efektif” ungkap Ma’ruf.

Metode pertemuan ini meliputi presentasi hasil kajian, diskusi kelompok yang dipimpin oleh masing-masing koordinator wilayah, serta paparan hasil diskusi kelompok. Sebagai tindak lanjut dari pertemuan ini, koordinator wilayah bertanggung jawab menjembatani unit kerja untuk intervensi kendala daerah, serta tim kajian menyerahkan hasil kajian dalam bentuk policy brief dan laporan lengkap. Pertemuan ini dihadiri oleh sekretaris dinas kesehatan provinsi dan jajarannya, tim kajian Poltekkes Kemenkes, narasumber dari Direktorat Sinkronisasi Urusan Pemerintahan Daerah III dari Kementerian Dalam Negeri, pembahas dari unit kerja program terkait topik kajian, narahubung koordinator wilayah, serta sekretariat binwil Kemenkes.
(Penulis : Yuliana)

Parameter Antropometri Lokal untuk Mengatasi Masalah Gizi

“Indonesia saat ini tengah menghadapi Double Burden of Malnutrition (DBM). Kondisi dimana suatu populasi mengalami malnutrisi ganda yakni kekurangan gizi seperti Stunting dan Wasting serta kelebihan gizi seperti Obesitas. Fenomena ini semakin umum dihadapi negara-negara Asia Tenggara yang mengalami perubahan sosial-ekonomi, urbanisasi, dan pola makan yang berubah.”

Demikian dipaparkan Prof. Aman Bhakti Pulungan pada acara Bincang Asik Bersama Pakar (Binar) yang diselenggarakan oleh Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) pada Rabu (30/10) di Jakarta.

“Masalah gizi yang kompleks di Asia Tenggara memerlukan solusi berbasis data lokal dan pendekatan lintas sektor,” ujar Prof. Aman.

Mengamati fenomena tersebut Prof. Aman beserta kolega menuangkan pemikirannya melalui artikel ilmiah yang diterbitkan dalam jurnal internasional The Lancet baru-baru ini. Artikel ilmiah berjudul Local Anthropometrics parameters for assessing double burden of malnutrition in South Asian and Southeast Asian countries: a review and retrospective analysis ini mengevaluasi parameter antropometri lokal yang digunakan untuk menilai DBM di negara-negara Asia Tenggara.

Berdasarkan kajian Prof. Aman menggunakan standar pertumbuhan internasional untuk standar antropometri untuk daerah Asia Selatan dan Asia Tenggara memiliki keterbatasan karena adanya variasi etnis, keragaman populasi, dan kesenjangan ekonomi. Ada perkiraan yang underestimate untuk overweight atau obesitas dan perkiraan stunting yang berlebihan.

Beberapa studi potong lintang di India pada balita 0-59 bulan menunjukkan terjadinya prevalensi stunting dan wasting yang overestimate (14,0% vs 6,8%; dan 18,2% vs 9,7%), dan underestimate untuk overweight (1,0% vs 3,1%) jika menggunakan standar WHO dibadingkan dengan standar lokal.

Di Indonesia, Standar Antropometri Anak mengacu pada WHO Child Growth Standards untuk anak usia 0-5 tahun dan The WHO Reference 2007 untuk anak 5 (lima) sampai dengan 18 (delapan belas) tahun. Menurut Prof. Aman kurva pertumbuhan dipakai sesuai dengan standar negara masing-masing, akan sangat jauh perbedaannya untuk bisa mencapai kurva WHO.

Prof. Aman menyoroti perlunya pendekatan yang lebih lokal dan kontekstual dalam mengatasi masalah gizi. Penggunaan parameter antropometri yang sesuai dengan karakteristik lokal menurutnya dapat membantu dalam pengidentifikasian dan penanganan lebih efektif terhadap masalah DBM.

“Tujuannya adalah untuk memberikan rekomendasi yang lebih kontekstual dan tepat sasaran dalam menangani masalah gizi di kawasan ini. Upaya ini penting untuk mengatasi kekurangan dan kelebihan gizi secara bersamaan di tengah perubahan sosial-ekonomi yang cepat di kawasan ini,” jelas Prof. Aman.

Sebagai upaya intervensi masalah tersebut Prof. Aman menawarkan rekomendasi seperti peningkatan kapasitas dalam analisis dan interpretasi data survei, pengembangan kebijakan yang mempertimbangkan DBM, khususnya pada populasi rentan, dan penelitian lebih lanjut untuk menyempurnakan standar antropometri yang disesuaikan dengan konteks Asia Tenggara.

Lebih lanjut Prof. Aman juga menyampaikan bahwa kondisi DBM perlu diantisipasi agar overweight pada anak tidak sampai menimbulkan hipertensi atau diabetes tipe 2.  Caranya bisa dengan dilakukan Skrining pada anak yang dilakukan saat awal tahun ajaran baru, dimana seluruh anak diukur tinggi badan, berat badan, pemeriksaan tekanan darah serta glukosa urine.

Menanggapi paparan Prof. Aman, Analis Kebijakan Ahli Utama BKPK Siswanto mengatakan bahwa standar WHO sebenarnya untuk Public Health, bukan untuk meng-assess anak balita. Namun menurut Siswanto penggunaan kedua standar tersebut dirasa benar. Standar WHO digunakan untuk diagnosis Public Health dan tidak meng-address anak per anak namun faktor risikonya. Sementara standar lokal digunakan dalam konteks intervensi per individu.

Acara Bincang Asik Bersama Pakar berjalan seru, sejumlah pakar melanjutkan diskusi dengan Prof. Aman mengenai hasil kajiannya. Ini sesuai dengan tujuan penyelenggaraannya, berbagi hasil analisis/kajian untuk memperkaya pengetahuan para pegawai BKPK serta pemerhati kesehatan lainnya.

Kepala BKPK Syarifah Liza Munira dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini memang bertujuan untuk berbagi informasi, menjalin networking, dan pengembangan profesional yang dikemas dalam suasana yang santai namun tetap produktif yang ia sebut Brown Bag Lunch.

“Kami mengundang para pakar untuk menyampaikan findings terbaru, sehingga ada diskusi ilmiah. Harapannya kegiatan ini dapat menambah pengetahuan bagi peserta dan menambah referensi bagi pengampu kepentingan dalam penyusunan kebijakan,” ujarnya. Penulis: Kurniatun Karomah

12,541FansLike
3,200,000FollowersFollow
4,251,000FollowersFollow
3,251,580FollowersFollow
9,320SubscribersSubscribe