web analytics
Header Ads
Beranda Blog Halaman 30

Townhall Budaya Kerja Kemenkes: Sarana Dialog Dan Sharing Inspiration Pegawai

Jakarta – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menggelar Townhall budaya kerja sebagai sarana dialog interaktif dan sharing inspiration terkait perubahan budaya kerja yang merupakan bagian terpenting dalam Transformasi yang dilakukan Kemenkes dalam 2 tahun terakhir. Turut hadir dalam acara Menteri Kesehatan, Wakil Menteri Kesehatan, Staf Khusus dan Staf Ahli Menteri beserta seluruh jajaran unit eselon 1, eselon 2, Kepala Unit Pelayanan Teknis (UPT), Project Manajer Officer (PMO), para champion dan Ketua Tim Kerja (9/10).

Staf Khusus Menteri Kesehatan Bidang Tata Kelola Pemerintahan dan Reformasi Birokrasi Bambang Widianto menyampaikan perubahan budaya kerja ini bertujuan agar organisasi dan sumber daya manusia kemenkes dapat mewujudkan cita-cita 6 pilar transformasi kesehatan. “Kegiatan ini untuk melihat sejauh mana perubahan budaya kerja dapat dipahami dan dihayati sebagai bagian dari cara kerja kemenkes”, ungkap Bambang.

Perubahan budaya kerja di Kementerian Kesehatan merupakan elemen yang penting dalam transformasi internal untuk mendukung 6 pilar transformasi kesehatan. Dalam perubahan budaya kerja ada tiga tema yaitu eksekusi efektif, cara kerja baru dan pelayanan unggul.

Bambang juga menyampaikan beberapa inisiatif yang sudah dilaksanakan dalam transformasi internal antara lain pembentukan internal transformation office, pengembangan manajemen sistem, peluncuran corporate university dan pembentukan jaringan agent of change, serta peningkatan kapasitas leader of change.

Kemenkes juga melaksanakan organisational health index dan pulse check untuk mengukur tingkat kesehatan organisasi sehingga dapat menjadi bahan masukan dan perbaikan pelaksanaan transformasi internal serta diharapkan dapat membangun komitmen bersama seluruh insan Kemenkes dalam melaksanakan transformasi internal demi mewujudkan transformasi kesehatan. “Namun transformasi internal bukanlah sesuatu yang bisa diselesaikan dengan cepat, transformasi ini memerlukan waktu komitmen dan upaya kita bersama”, tutur Bambang menutup sambutannya.

Pada Februari 2024 Kemenkes meluncurkan dua program baru yang menjadi pilar utama perubahan budaya kerja yaitu program perubahan budaya kerja dan rebranding identitas Kemenkes sebagai refresentasi semangat transformasi. Dari sisi identitas bahwa branding Kemenkes telah terintegrasi di seluruh Indonesia baik di RS vertikal, BKK, Poltekkes, maupun UPT lainnya. Program budaya kerja memiliki bisnis keluaran internal yang fokus pada mendorong insan Kemenkes untuk melakukan eksekusi pekerjaan secara lebih efektif, memiliki kemampuan kreatif dan inovatif untuk menghasilkan cara kerja baru dan memiliki orientasi pelayanan unggul.

Townhall budaya kerja diawali dengan pameran hasil capaian kinerja setiap unit utama di Kemenkes, booth Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) menampilkan poster capaian kinerja sebagai implementasi dari eksekusi efektif, cara kerja baru dan pelayanan unggul.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin didampingi narasumber Kepala Balai Karantina Kesehatan (BKK) Balikpapan, Bangun Cahyo Utomo, Direktur Rumah Sakit Anak dan Bunda Harapan Kita (RSABHK) Jakarta Ockti Palupi Rahayuningtyas, dan Kepala Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kemenkes Semarang Jefri Ardianto, berdialog interaktif dan sharing inspiration dengan para peserta townhall budaya kerja. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menekankan perubahan budaya harus dengan contoh, mampu menghadapi tangangan serta harus ada reward dan punishment. “Budaya perubahan yang sulit itu merubah orang-orangnya, budaya itu dari hati, jadi budaya perubahan itu harus diteladankan oleh pemimpinnya”, ungkap Menkes Budi.

Saat ditanya apalagi yang masih dirubah oleh Kemenkes, Budi menyampaikan 3 hal yaitu, cepat membuat keputusan dan eksekusinya, harus terus menggali inovasi dan berorientasi untuk melayani masyarakat.  

Townhall budaya kerja Kemenkes mengundang Founder Narasi Newsroom Najwa Shihab sebagai bagian publik yang melihat wajah perubahan budaya kerja Kemenkes. Menurut Najwa Kemenkes melakukan transformasi bukan suatu yang mudah, dan sudah terlihat dari wajah Kemenkes tetapi yang terpenting bisa juga mentransformasi pelayanan publiknya terhadap stakeholder terbesar yaitu masyarakat.

Untuk mencapai suatu perubahan, harus mempunyai standar yang tinggi, karena dengan standar tinggi itu menunjukan kepercayaan diri, percaya akan kemampuan institusi. “Set the standar high, saya percaya Kemenkes bisa melakukan perubahan itu, sehingga jangan salahkan kami untuk menaruh harapan tinggi pada kemenkes”, tutup Najwa (Penulis: Yuliana, Adhiyat Firmana/Edit Timker HDI)

Kolaborasi Kementerian Kesehatan dan Tsinghua University Selenggarakan Seminar The Future of Healthcare: Unleashing AI’s Potential

Bali– Kementerian Kesehatan Republik Indonesia bekerja sama dengan Tsinghua University sukses mengadakan acara bertajuk The Future of Healthcare: Unleashing AI’s Potential yang berlangsung di UID Bali Campus pada hari Kamis (3/10). Acara ini dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan di sektor kesehatan, termasuk rumah sakit vertikal, asosiasi kesehatan, industri kesehatan, dan berbagai startup yang bergerak di bidang teknologi kesehatan. Pembicara pada seminar ini berasal dari Kementerian Kesehatan, perwakilan rumah sakit dan akademisi dari dalam dan luar negeri.

Dalam seminar ini, sejumlah topik penting terkait pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) di sektor kesehatan dibahas secara mendalam. Beberapa topik tersebut antara lain The Future of Healthcare: Unleashing AI’s Potential, Navigating AI Regulations in Indonesia’s Healthcare Sector, Harnessing AI in Health, serta Transforming Medical Imaging with AI. Diskusi ini akan memberikan kontribusi besar bagi Kementerian Kesehatan dalam merumuskan kebijakan dan langkah regulasi di masa depan terkait penggunaan AI dalam layanan kesehatan.

Pada pembukaan acara, Setiaji, Staf Ahli Menteri Kesehatan Bidang Teknologi Kesehatan menyoroti transformasi sektor kesehatan di era digital dengan tema AI-Powered Healthcare: Transforming The Health Sector in the Digital Age. Ia menekankan pentingnya pemanfaatan data dan keragaman untuk menghadapi tantangan kesehatan nasional. “Interoperabilitas data menjadi kunci untuk memastikan bahwa seluruh ekosistem kesehatan dapat berkolaborasi dan memanfaatkan informasi yang ada demi peningkatan layanan kesehatan,” ujarnya. Selain itu, inisiatif SATUSEHAT juga dibahas sebagai bagian dari upaya Kementerian Kesehatan dalam menghubungkan dan memberdayakan seluruh sistem kesehatan serta masyarakat melalui teknologi digital.

Pada sesi penutupan, Roy Himawan, Direktur Ketahanan Kefarmasian dan Alat Kesehatan, menyampaikan bahwa AI dapat menjadi katalis perubahan yang signifikan dalam meningkatkan perawatan preventif, hasil pasien, dan efisiensi operasional rumah sakit. “Mulai dari deteksi dini kanker di bidang radiologi hingga penggunaan robot bedah inovatif di daerah terpencil, AI bukan sekadar alat, namun juga sebagai jembatan untuk meningkatkan akses dan efisiensi layanan kesehatan,” kata Roy. Ia juga menegaskan bahwa komitmen dalam mengintegrasikan teknologi ini akan menjadi kunci dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045, di mana seluruh masyarakat Indonesia, tanpa terkecuali, dapat mengakses layanan kesehatan berkualitas tinggi.

Kementerian Kesehatan berkomitmen untuk terus mendorong kolaborasi lintas sektor dalam pemanfaatan AI dan pendekatan berbasis data, keterlibatan manusia tetap tidak tergantikan dalam pemberian layanan kesehatan. Masa depan kesehatan akan didefinisikan tidak hanya oleh teknologi, tetapi juga oleh dedikasi untuk memberikan perawatan yang holistik. (Cahyorini/Timker Bioteknologi Kesehatan Pusjak KGTK)

SiBijaks Awards 2024 Kompetisi Pemanfaatan Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023

Jakarta– Pembangunan kesehatan tidak akan berjalan jika dilakukan oleh pemerintah saja.  “Dukungan pentahelix sudah kita dengar, itu akan mendorong laju pembangunan kesehatan di negara kita  khususnya  dalam  mendorong transformasi kesehatan yang saat ini sedang dilaksanakan oleh Kementerian Kesehatan,” ungkap Sekretaris Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI (BKPK Kemenkes) Etik Retno Wiyati dalam acara pembukaan penilaian presentasi Policy Brief  Kompetisi SiBijaks Awards 2024 pada hari Senin (30/7).

Etik mengucapkan selamat kepada para peserta yang sudah mencapai hingga babak ini, Acara ini juga merupakan forum silaturahmi sehubungan para juri merupakan para guru besar, pakar kesehatan dan kebijakan publik serta pemegang program di Kementerian Kesehatan.

Tema yang diangkat dalam kompetisi ini adalah pemanfaatan data SKI 2023 untuk rekomendasi kebijakan kesehatan menuju Indonesia Emas 2045.

Menurut Etik, tujuan akhir bukan memenangkan kompetisi. Tujuan dari perlombaan ini adalah untuk mengoptimalkan pemanfaatan data survei yang dimiliki Kemenkes. Selain itu mengajak stakeholders bersama-sama mengkaji data-data tersebut dan nanti akan dihasilkan rekomendasi kebijakan yang akan bermanfaat bagi Kemenkes, dan juga bermanfaat untuk kolaborasi antara pemerintah, antara akademisi, dan stakeholders yang lain dalam bidang pembangunan kesehatan baik di pusat maupun daerah.

Etik selanjutnya menjelaskan dengan tagline Data Akurat Kebijakan Tepat, maka lomba ini sebagai salah satu media yang mendukung untuk memanfaatkan data-data sebagai suatu kebijakan yang implementatif dan dapat kita evaluasi serta susun bersama.

Bentuk rekomendasi kebijakan dalam kompetisi ini berupa Risalah Kebijakan (Policy brief) berfokus pada isu kebijakan tertentu serta menawarkan alternatif solusi atas permasalahan kebijakan yang membutuhkan perhatian cepat dari pembuat kebijakan.

SiBijaKs Awards 2024 dilakukan melalui 3 tahap. Tahap I adalah penilaian abstrak, Tahap II penilaian naskah policy brief dan Tahap III penilaian presentasi. Saat ini kompetisi Sibijaks Awards 2024 sudah mengumumkan 21 policy brief yang lolos ke tahap III (penilaian presentasi policy brief). Penilaian tahap I dan II dilakukan dengan blind review untuk menjamin keadilan.

“Ada 21 naskah yang sudah terdistribusi sesuai pengelompokan kategori,” terang etik. Dari 21 naskah, 7 naskah berasal dari Mahasiswa, 11 naskah dari kelompok umum dan 3 naskah khusus yang memang diangkat sesuai dengan semangat pemerataan pembangunan kesehatan. (Penulis Fachrudin Ali/Edit Timker HDI)

Lakukan Kolaborasi Kebijakan Pembiayaan Kesehatan Promotif Preventif dan JKN

Tasikmalaya– Kementerian Kesehatan RI melalui Pusat Kebijakan Pembiayaan dan Desentralisasi Kesehatan Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (Pusjak PDK BKPK) mengadakan pertemuan Advokasi dan Sosialisasi Pembiayaan Kesehatan Promotif Preventif dan JKN Kepada Daerah pada hari Sabtu (28/9) di Kecamatan Manonjaya Kabupaten Tasikmalaya. Kegiatan melibatkan masyarakat Kabupaten Tasikmalaya. Narasumber yang dihadirkan salah satunya Nurhayati Anggota Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI.

Nurhayati dalam penjelasannya menyebutkan bahwa kesehatan adalah hak dasar setiap warga negara. Kegiatan promotif dan preventif di Indonesia ini harus menekan angka orang yang sakit dan menurunkan beban biaya kesehatan jangka panjang. Hal ini untuk menurunkan beban keluarga dan pemerintah.  “Penyakit tidak menular di Indonesia ini seperti diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung saat ini menjadi penyebab utama kematian di Indonesia,” jelasnya lebih lanjut.

Menurut Nurhayati karena masyarakat Indonesia senang makan gula yang banyak, semakin manis semakin senang dikonsumsi. Makanya, Komisi IX di DPR RI sedang membahas tentang batasan gula, garam dan lemak.

Nurhayati menghimbau peserta untuk berolahraga jalan kaki yang dilakukan minimal 30 menit. Itu menjadi salah satu cara masyarakat untuk hidup sehat dengan cara pencegahan supaya tidak sakit. “Penyakit ini dapat dicegah dengan gaya hidup dan intervensi dini untuk mengurangi beban Sistem Kesehatan Nasional,” terang Nurhayati.

Komisi IX DPR RI mendukung program kesehatan promotif dan preventif dengan mendorong alokasi anggaran yang lebih besar untuk program preventif dan promotif. Sosialisasi harus diperbanyak. Melakukan edukasi kepada masyarakat hingga mereka mengetahui apa saja yang harus dicegah dan apa saja yang harus dilakukan untuk hidup sehat.

Selain itu, memperkuat peran Puskesmas dan fasilitas kesehatan primer. Ini dilakukan agar masyarakat mudah berobat. Saat ini penambahannya sudah cukup tinggi. Pemerintah berkomitmen menambah fasilitas Puskesmas dan fasilitas kesehatan primer lainnya. Kemudian mengadvokasi kebijakan kesehatan berbasis komunitas. Libatkan masyarakat secara langsung dalam upaya menjaga kesehatan lingkungan dan melakukan deteksi dini penyakit dan mempromosikan pola hidup sehat.

Dalam kesempatan itu, Nurhayati mengemukakan Jaminan Kesehatan Nasisnal (JKN) telah menjadi tonggak penting dalam memberikan perlindungan kesehatan bagi seluruh rakyat Indonesia. “Namun program ini menghadapi berbagai tantangan, terutama dari sisi pembiayaan dan efektifitas layanan,” ungkapnya.

DPR terus mendorong agar ada peningkatan efisiensi dan transparansi dalam pengelolaan BPJS Kesehatan.  Kedua, perbaikan sistem pelayanan kesehatan di seluruh fasilitas yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan agar peserta JKN dapat menerima layanan yang cepat, tepat, dan berkualitas. Ketiga, perluasan cakupan layanan kesehatan terutama di wilayah terpencil dan perbatasan.

Menurut Nurhayati tidak ada program kesehatan yang gratis yang berhasil tanpa adanya kolaborasi kebijakan pembiayaan kesehatan promotif preventif dan JKN. Ini juga membutuhkan kerjasama antar lintas sektor dan menginginkan bisa menciptakan sistem kesehatan yang kuat, inklusif, dan berkelanjutan.

Dalam kesempatan yang sama, Riati Anggriani, Analis Kebijakan Ahli Utama dari Pusjak PDK BKPK mengemukakan prinsip pelaksanaan JKN/KIS adalah gotong royong, kepersertaan wajib, membayar iuran sesuai kemampuan, dikelola secara nirlaba karena sifatnya asuransi sosial kemudian adanya kesetaraan. “Peserta dikenakan kewajiban membayar iuran sesuaipendapatannya, bagi yang tidak mampu dibayar iurannya oleh pemerintah/daerah atau mendapatkan subsidi,” tegas Riati.

Menurut Riati JKN diselenggarakan dengan tujuan menjamin agar peserta memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan. Setiap peserta berhak memperoleh manfaat jaminan kesehatan yang bersifat pelayanan kesehatan perorangan mencakup pelayanan promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif. Termasuk pelayanan obat, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai sesuai dengan kebutuhan medis yang diperlukan.

Manfaat promotif dan  preventif  perorangan meliputi pemberian pelayanan  penyuluhan kesehatan perorangan,  imunisasi rutin,  keluarga berencana, skrining riwayat kesehatan dan pelayanan  penapisan atau skrining kesehatan tertentu, dan peningkatan kesehatan bagi peserta penderita penyakit kronis.

Skrining yang dilakukan di FKTP dilakukan untuk penapisan penyakit diabetes mellitus,  hipertensi,  ischaemic heart disease, stroke, kanker leher Rahim,  kanker payudara, anemia remaja putri,  tuberculosis, hepatitis,  paru obstruktif kronis, talasemia,  kanker usus,  kanker paru dan  hipotiroid kongenital sesuai ketentuan.

Dalam acara advokasi ini, Yati Nurhayati dari Dinas Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya menyampaikan peserta JKN/KIS dapat berobat dimana saja. Baik di Puskesmas maupun di rumah sakit di luar wilayah. Misalkan, di luar kabupaten dan di luar kota. Masyarakat Kabupaten Tasikmalaya disarankan memiliki kepesertaan JKN, baik yang dibayarkan mandiri maupun dibayarkan pemerintah.

Pembiayaan kesehatan di Kabupaten Tasikmalaya terbagi dua. Yaitu Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan Jaminan Kesehatan Daerah (JKD) yang diatur dalam Peraturan Bupati Nomor 61 Tahun 2020.  Cakupan kepesertaan JKN baru 81,92% sehingga ada selisih yang belum memiliki JKN. Berdasarkan itu, Pemda mengadakan program JKD yang ditujukan bagi masyarakat yang tidak mampu namun secara darurat membutuhkan pelayanan kesehatan tetap dapat dibiayai pemerintah melalui dinas sosial.

Dalam acara tersebut juga hadir Asep Supriyadi dari BPJS Kesehatan Tasikmalaya yang mendukung saat pelaksanaan diskusi dan pejabat lainnya yang terkait. (Penulis Fachrudin Ali/Edit Pusjak PDK/Timker HDI)

Kunjungan Menkes Maladewa ke RSCM

Menteri Kesehatan (Menkes) Maladewa dalam kunjungan ke Indonesia berkesempatan mengunjungi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) pada Selasa (24/9). Delegasi disambut oleh Direktur Utama RSCM Supriyanto beserta jajarannya dan Direktur RSUD Kepulauan Seribu.

Dalam sambutannya Supriyanto menyatakan kegembiraannya mendapat kunjungan dari Menkes Maladewa. Dikatakannya bahwa ini merupakan kesempatan yang bagus untuk berbagi pengalaman dan keahlian RSCM yang merupakan Rumah Sakit Rujukan Nasional yang memiliki berbagai layanan, diantaranya yaitu Geriatric Care dan Digital Health Innovation. Diungkapkan Supriyanto bahwa RSCM memiliki komitmen untuk memberikan standar pelayanan terbaik, khususnya untuk para pengunjung.

“Dalam meningkatkan harapan hidup global, kami menyadari kebutuhan mendesak terhadap spesialisasi pelayanan kesehatan tertentu. Untuk memenuhi kebutuhan ini, kami telah memperkenalkan program inovatif yang tidak hanya memprioritaskan perawatan medis tetapi juga dukungan sosial dan menyeimbangkan kualitas hidup pasien kami,” ujar Supriyanto.

Dijelaskan pula bahwa RSCM juga berkomitmen untuk mengintegrasikan sistem informasi kesehatan digital ke dalam layanan kesehatan. Di era sekarang ini, kesehatan digital bukan hanya sekedar tren yang sedang berkembang, namun merupakan langkah yang cukup penting untuk menuju layanan kesehatan yang lebih mudah diakses, efisien, dan inklusif.

“Dengan penerapan sistem informasi kesehatan yang terintegrasi, aplikasi kesehatan digital, kami berupaya untuk memberikan layanan kesehatan yang lebih cepat dan lebih baik kepada semua pasien kami,” tambahnya.

Pada kesempatan ini dr. Eric Daniel Tenda juga menyampaikan paparan mengenai Profil dan Layanan Unggulan RSCM. Disebutkan bahwa sesuai keputusan Menkes Republik Indonesia pada tahun 2010 RSCM ditetapkan sebagai Rumah Sakit Pendidikan Utama Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

RSCM memiliki sejumlah layanan unggulan diantaranya adalah RSCM Kencana yang menawarkan konsep pelayanan kesehatan terintegrasi bertaraf internasional, RSCM Kirana yang menangani permasalahan kesehatan mata, RSCM Kiara yang merupakan Instalasi Pelayanan Terpadu Kesehatan Ibu dan Anak, dan RSCM Kintani yang merupakan Pelayanan Terpadu dan Pusat Kajian Kesehatan Reproduksi. Selain itu ada pula Instalasi Pelayanan Terpadu Teknologi Kedokteran Sel Puca (Stem Cell), Pelayanan Jantung Terpadu, Pelayanan Transplantasi Ginjal, Pelayanan Transplantasi Hati, Pelayanan Gamma Knife Bedah Syaraf, dan Pelayanan Implant Cochlea Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher.

Delegasi kemudian diajak untuk melihat beberapa fasilitas unggulan yang dimiliki RSCM seperti geriatri, ruang rawat inap President Suite dan VIP Suite di RSCM Kencana, Pusat Transplantasi dan Pengampuan Diabetes Melitus Kanigara, serta Stemcell dan Metabolites Clinic. Menkes Khaleel memuji fasilitas yang terdapat di RSCM dan mengatakan bahwa Maladewa berkeinginan untuk belajar dari RSCM.

“Saya sungguh gembira karena kedatangan kami disambut dengan hangat oleh Indonesia. Meskipun jarak Maladewa dan Indonesia cukup jauh namun kedua negara memiliki kedekatan hubungan dan kesamaan seperti wilayah geografisnya yang berbentuk negara kepulauan. Kunjungan ke fasilitas kesehatan Indonesia tentunya akan memberi manfaat bagi Maladewa yang berkeinginan untuk mempelajari dan mengadopsi layanan terbaik yang dimiliki oleh RSCM. Menkes Khaleel juga mengungkapkan bahwa dirinya tertarik untuk bekerjasama dengan pemerintah Indonesia dan RSCM, khususnya terkait bagaimana mengatur data security, EMR, Satu Sehat, serta kontrol atas keamanan data. Pernyataan Menkes Khaleel pun disambut baik oleh Supriyanto yang mengungkapkan bahwa RSCM akan menyambut dengan tangan terbuka apabila Maladewa tertarik untuk berkolaborasi.

Pemda Jawa Barat Jamin SSGI Berlangsung Lancar

Bandung – Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 akan dilakukan di 34.500 blok sensus yang tersebar di 38 provinsi, 514 kabupaten/kota, 7.126 kecamatan, dan 29.226 desa/kelurahan. Survei ini akan melibatkan 45 penanggung jawab teknis (PJT) provinsi, 514 penanggung jawab kabupaten/kota dan 3.994 petugas pengumpul data atau enumerator. Sebelum pengumpulan data, dilakukan pemutakhiran blok sensus yang melibatkan 11.500 petugas dan 1.917 pengawas. 

Demikian disampaikan Samsul Bahri selaku Koordinator Operasional Konsorsium Sucofindo pada pembukaan Workshop Enumerator Provinsi Jawa Barat di Bandung (25/9). “Workshop enumerator ini diharapkan dapat menjadi sarana dalam penyamaan persepsi bagi seluruh komponen, baik PJT Provinsi, PJT Kabupaten/Kota dan enumerator. PJT provinsi dan kabupaten kota akan bertindak sebagai pengajar,” ujar Samsul.

Pada kesempatan ini Kepala Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Syarifah Liza Munira menyampaikan sambutannya secara virtual. Liza menerangkan melalui SSGI 2024 akan terlihat potret sesungguhnya dari status gizi balita di Indonesia.

“Kami mengharapkan para enumerator yang adalah ujung tombak dari survei status gizi ini dapat menyerap ilmu sebanyak-sebanyaknya dan bertanya secermat-cermatnya sehingga nanti dilapangan dapat melaksanakan tugas dengan baik,” tutur Liza. 

Dukungan Pemerintah Daerah pada SSGI terlihat dari kehadiran Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat Herman Suryatman pada Workshop Enumerator ini. Bersama jajarannya, Herman berkomitmen akan menemui seluruh peserta workshop yang tersebar di tiga lokasi yang berbeda. Menurutnya seluruh enumerator sedang melaksanakan tugas untuk memastikan masa depan Jawa Barat yang jauh lebih baik.

Herman menjelaskan SSGI adalah kegiatan yang penting untuk memotret persoalan stunting sehingga dapat merumuskan kebijakan yang tepat. Diketahui Provinsi Jawa Barat memiliki program penanganan stunting yang dinamai zero new stunting, artinya tidak boleh ada kasus stunting baru.

“Pelaksanaan SSGI di lapangan, di Jawa Barat, kami jamin akan berlangsung lancar. Kami pastikan semua akan difasilitasi oleh pemda, dan dipastikan lancar dilapangan,” tegas Herman. Ia pun tak segan memberikan nomor teleponnya untuk dihubungi para enumerator jika terdapat permasalahan yang mendesak.

Dihadapan para peserta workshop enumerator, Herman menyampaikan ia akan memastikan pelaksanaan SSGI dapat berlangsung bagus, optimal dan obyektif dengan tingkat error yang rendah. Ia juga berpesan kepada enumerator untuk melaksanakan tugas dengan baik. “Hatinya harus hadir. Ini adalah patriotic call. Jawa Barat memanggil Anda. Indonesia memanggil Anda,” katanya memberikan semangat kepada para enumerator. (Penulis Dian Widiati/Dokumentasi KSO Sucofindo)

Kunjungan Menteri Kesehatan Maladewa ke Fasilitas Kesehatan di Indonesia

Jakarta– Puskesmas Tebet mendapat kunjungan Menteri Kesehatan (Menkes) Maladewa Abdulla Khaleel dan Asisten Menteri Kesehatan Hassan Mohamed pada Selasa (24/9). Kunjungan Menkes Maladewa dilakukan disela kegiatannya menghadiri The 5th Ministerial Meeting (MM) and 12th High Level Official Meetings (HLOM) of the Asia Pacific Regional Forum on Health and Environment (APRFHE) yang diselenggarakan di Jakarta.

Disampaikan Menkes Khaleel maksud kunjungannya ke dua fasilitas kesehatan di Indonesia ini dalam upaya Maladewa untuk meningkatkan layanan kesehatan di negaranya. Menurutnya pengamatan langsung terhadap pengalaman Indonesia akan dapat memberikan wawasan yang sangat berharga bagi inisiatif Maladewa.

Menkes Khaleel juga mengatakan dirinya berkeinginan untuk melihat berbagai fasilitas yang tersedia khususnya layanan kesehatan primer, kesehatan lansia, sistem informasi kesehatan dan alat digital yang digunakan dalam layanan kesehatan. Dijelaskannya bahwa kunjungannya ke fasilitas-fasilitas tersebut memungkinkan adanya kolaborasi potensial antar kedua negara.

Menyambut kedatangan delegasi di Puskesmas Tebet, Direktur Jenderal (Dirjen) Kesehatan Masyarakat Maria Endang Sumiwi didampingi Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Provinsi Jakarta, dan Plt. Kepala Puskesmas Tebet langsung memandu delegasi untuk melihat sejumlah layanan yang ada. Layanan yang dikunjungi diantaranya adalah layanan ruang tunggu, registrasi, elderly care, laboratorium, poli gigi, dan system digital health tools yang terletak di lantai 1 hingga 3 Puskesmas Tebet.

Sembari menjelaskan fasilitas yang tersedia di Puskesmas Tebet, Maria juga menjelaskan bahwa saat ini Kementerian Kesehatan tengah melakukan transformasi sistem kesehatan yang berfokus pada 6 pilar, dengan pilar pertama adalah Transformasi Layanan Kesehatan Primer. Dikatakan Maria hal tersebut bertujuan untuk menyediakan layanan yang komprehensif dan berkualitas tinggi melalui edukasi, pencegahan, dan peningkatan kapasitas layanan.

“Layanan kesehatan primer adalah layanan yang paling dekat dengan masyarakat, dengan fokus untuk menjaga masyarakat tetap sehat dan bukan hanya mengobati orang sakit. Masyarakat yang lebih sehat akan menghasilkan kualitas hidup dan produktivitas yang lebih baik. Salah satu strategi utamanya adalah Integrasi Layanan Kesehatan Primer (ILP),” ujar Maria.

Dijelaskan oleh Maria bahwa Puskesmas Tebet telah mengimplementasikan ILP dengan penataan organisasi dan sumber daya puskesmas yang berbasis klaster. Puskesmas Tebet telah mengadopsi sistem klaster yang terdiri dari 4 klaster. Klaster 1 mengkoordinasikan manajemen dan administrasi. Klaster 2 dan 3 menyediakan layanan komprehensif (promosi, pencegahan, kuratif, rehabilitasi, paliatif). Sementara Klaster 4 berfokus pada pencegahan penularan penyakit melalui surveilans dan pemantauan kualitas lingkungan. Selain 4 Klaster tersebut adapula Klaster Silang yaitu klaster yang mendukung klaster-klaster lain.

Menkes Khaleel memuji fasilitas yang dimiliki Puskesmas Tebet dan memuji Indonesia yang telah berhasil mengembangkan dan mengimplementasikan transformasi layanan kesehatan primer. Dikatakannya Maladewa berkeinginan untuk mengadopsi konsep tersebut.

“Sebenarnya kami memiliki konsep serupa yang ingin kami coba kembangkan, mengadopsi apa yang telah dilakukan Indonesia adalah motif kami. Kami berkeinginan untuk mengirim staf teknis kami kesini untuk mempelajari apa yang telah kalian lakukan kemudian menirunya,” ujar Menkes Khaleel.

Selain itu Menkes Khaleel juga menyebutkan tentang aplikasi Satu Sehat yang digagas Indonesia. Menurutnya platform tersebut sangat bagus karena memudahkan masyarakat untuk mengakses dan mengelola data kesehatan mereka dengan melalui handphone. Menkes Khaleel menyebutkan bahwa dirinya juga berkeinginan untuk meniru konsep Satu Sehat.

“Anda memiliki aplikasi Satu Sehat di handphone dan anda dapat mengecek status kesehatan anda setiap hari. Ini suatu hal yang sangat penting bagi negara, mengumpulkan data rekam medis masyarakat di satu platform dan memudahkan masyarakat untuk mengaksesnya. Kami juga berencana untuk mengimplementasikan sesuatu yang serupa Satu Sehat. Banyak hal yang bisa kami pelajari dari sistem kesehatan Indonesia,” pungkas Menkes Khaleel. (Penulis Kurniatun K/Timker HDI)

BKPK dan BRIN Jalin kerja sama untuk Suksesnya SSGI 2024

Jakarta – Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kementerian Kesehatan dan Organisasi Riset Kesehatan (ORK) Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) resmi menjalin kerja sama untuk pelaksanaan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024.

Hal tersebut ditandai dengan penandatanganan perjanjian kerja sama antara Plt. Kepala Pusat Kebijakan Upaya Kesehatan (Pusjak UK) BKPK Dwi Puspasari dan Kepala Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi (PR Kesmaszi) ORK BRIN Wahyu Pudji Nugraheni di Jakarta, Kamis (19/9). Penandatanganan perjanjian kerja sama disaksikan oleh Sekretaris BKPK Etik Retno Wiyati.

Perjanjian ini dilakukan untuk mendorong kolaborasi antara BKPK dengan BRIN dalam memberikan kontribusi pada kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.  Selain itu untuk penguatan kebijakan kesehatan berbasis bukti melalui SSGI tahun 2024.

Dalam sambutannya Etik menekankan pentingnya kualitas data yang dihasilkan dari SSGI. “Sebagaimana tagline kita, data akurat kebijakan tepat,” tegasnya.

Senada dengan hal itu, Kepala PR Kesmaszi Wahyu juga berharap SSGI 2024 dapat menghasilkan data yang akurat. Sehingga BKPK dan BRIN bersama-sama mengawal dan mengontrol pelaksanaan baik dari sisi teknis maupun lapangan. “Kedua hal tersebut berperan penting untuk menghasilkan data yang akurat,” harapnya.

Pelaksanaan SSGI tahun 2024 ini menghadapi beberapa tantangan, salah satunya adalah perubahan dalam pelaksanaan survei yang tidak lagi sepenuhnya dilakukan oleh BKPK. Hal ini menuntut adanya penyesuaian dan koordinasi yang lebih intensif antara berbagai pihak yang terlibat.

Menurut Plt. Kepala Pusjak UK BKPK Dwi Puspasari, dalam pelaksanaan SSGI, tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah. “Semua setara dan saling bahu membahu, agar hasil SSGI tahun 2024 dapat dimanfaatkan oleh berbagai pihak,” ucapnya.

SSGI merupakan survei berbasis komunitas yang dilakukan rutin tiap tahun. SSGI dilakukan untuk mendapatkan gambaran status gizi balita. Data yang diperoleh dari survei ini sangat penting sebagai dasar dalam merumuskan kebijakan dan program-program intervensi yang efektif untuk mengatasi masalah status gizi balita. (Penulis: Evi Suryani/Edit Timker HDI)

Training of Trainer (ToT) untuk Pemahaman dan Penyamaan Persepsi

Jakarta – Pekan ini pelaksanaan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 memasuki tahap Workshop Penanggung Jawab Teknis Kabupaten/Kota atau Training of Trainer (ToT). Dilaksanakan di 3 lokasi berbeda di Jakarta, workshop ini menghadirkan 514 penanggung jawab teknis (PJT) Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia.

Pada ToT ini para PJT Provinsi sebanyak 45 orang yang telah mengikuti Master of Trainer (MoT) dua pekan lalu menjadi pelatih untuk para PJT Kabupaten/Kota. Setelah ToT berakhir kegiatan akan ditindaklanjuti dengan workshop untuk para enumerator atau Training Center (TC) yang dilaksanakan di 38 provinsi di Indonesia dengan melibatkan sekitar 3.900 enumerator.

Kepala Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Syarifah Liza Munira menyampaikan proses ToT dalam rangkaian persiapan SSGI 2024 sangat krusial. Ini karena nantinya para PJT Kabupaten/Kota akan menjadi pengajar pada pelatihan enumerator serta mengawasi enumerator pada saat kegiatan pengumpulan data.

“Bapak/Ibu nantinya bukan hanya akan mentransfer ilmu yang didapatkan melalui workshop ini pada para enumerator, tapi akan berkomitmen melaksanakan seluruh tahapan kegiatan sesuai pedoman, dan melakukan evaluasi di wilayah masing-masing,” ujar Liza saat membuka workshop secara resmi pada Minggu (15/9) di Jakarta.

Dijelaskan Liza bahwa untuk mewujudkan tujuan kegiatan SSGI sesuai dengan pedoman yang telah disusun, diperlukan pemahaman dan persepsi yang sama antara tim yang terlibat, baik tim teknis, tim data, tim manajemen survei, manajer lapangan, dan para PJT Kabupaten/Kota.

Oleh karena itu Liza mengharapkan melalui workshop ini para PJT Kabupaten/Kota mendapat pemahaman dan penyamaan persepsi terhadap instrumen, serta memahami mekanisme pelaksanaan atau pengorganisasian lapangan.

Liza juga mengharapkan agar para PJT Kabupaten/Kota fokus selama mengikuti workshopinidan berkomitmen penuh dalam menjalankan tugas hingga data di lapangan berhasil dikumpulkan dengan kualitas yang baik dan terjamin. Menurut Liza persiapan ini proses yang amat sangat penting karena kalau persiapannya sudah baik maka hasilnya pun akan baik.

“Pesan saya adalah agar para PJT Kabupaten/Kota mencermati informasi, proses, hal-hal yang harus dilakukan ketika nanti informasi tersebut akan ditransfer ke enumerator. Jadi agar lebih siap untuk melaksanaan SSGI salah satunya melalui keseriusan dalam mengikuti workshop ini,” ujar Liza.

Dijelaskan Liza bahwa tahun ini SSGI memasuki tahun ke-lima penyelenggaraan sejak dimulai pada tahun 2019 yang lalu. Setiap tahunnya Kemenkes bersama mitra penyelenggara selalu berupaya untuk memperbaiki kekurangan yang ada. Harapannya agar SSGI bisa dilaksanakan dengan sesempurna mungkin sehingga menghasilkan data akurat dan kebijakan tepat.

“Selain mengumpulkan data antropometrinya kita juga mengumpulkan data faktor determinannya. Kita harapkan data yang terkumpul adalah data yang sebenar-benarnya potret masyarakat karena ini sebagai pegangan kita untuk periode berikutnya,” pungkas Liza. (Penulis Kurniatun Karomah, Edit Pusjak UK)

Jajaran Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tenggara Siap Dukung SSGI 2024

Jakarta – Pelaksanaan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 telah sampai pada tahap Rapat Koordinasi Teknis (Rakornis) Tingkat Provinsi. Plt. Kepala Pusat Kebijakan Upaya Kesehatan Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Dwi Puspasari hadir dan membuka Rakornis Provinsi Sulawesi Tenggara yang diselenggarakan secara virtual pada Rabu (11/9).

Dalam sambutannya Puspa menyampaikan bahwa SSGI tahun 2024 adalah yang kelima yang hasilnya menjadi salah satu indikator capaian penanganan stunting di Indonesia. Menurut Puspa rakornis provinsi ini adalah pertemuan kedua dalam rangka pelaksanaan SSGI setelah dilaksanakannya kick-off meeting pada 20 Agustus lalu. “SSGI tahun 2024 memang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun ini selain berkolaborasi dengan Badan Pusat Statistik (BPS), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), juga melibatkan Konsorsium Sucofindo yang terdiri dari PT Sucofindo, PT Surveyor Indonesia, dan Lembaga Survei Independen Nusantara,” katanya.

Lebih lanjut Puspa mengungkap selaku manajer lapangan pihak konsorsium berperan dalam perekrutan personal, pelatihan, dan pengumpulan data. Keterlibatan konsorsium ini diharapkan berdampak pada perbaikan pelaksanaan SSGI menjadi lebih baik, lancar, dan hasilnya dapat dipertanggungjawabkan.

“Meskipun manajer lapangan dilakukan oleh Konsorsium Sucofindo, Kementerian Kesehatan khususnya BKPK tetap akan melakukan pendampingan bersama BPS, BRIN, dan Kementerian/Lembaga lain yang terlibat dalam upaya penanganan stunting,” tutur Puspa.

Hadir mewakili Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tenggara, Kepala Seksi Bimdal Data dan Infokes Sija Tiku menyambut baik pelaksanaan SSGI 2024. Sija mengungkap prevalensi angka stunting selama tiga tahun terakhir sebesar 30,2% (SSGI 2021), 27,6% (SSGI 2022), dan 30% (SKI 2023). “Provinsi Sulawesi Tenggara masih harus bekerja keras dalam penanganan stunting dengan berupaya menurunkan prevalensi stunting sebesar rata-rata 2,6% per tahun,“ ujarnya.

Rakornis Provinsi Sulawesi Tenggara dihadiri oleh jajaran Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten/Kota, Penanggung Jawab Operasional Samsul Bahri, Penanggung Jawab Wilayah dari Konsorsium Sucofindo Febriyanto, dan Penanggungjawab Teknis Provinsi. Pihak Konsorsium Sucofindo menerangkan rencana pengorganisasian lapangan pelaksanaan SSGI 2024.

Rakornis Provinsi Sulawesi Tenggara ini merupakan Rakornis Provinsi SSGI 2024 pertama. Selanjutnya koordinasi akan terus dilakukan agar SSGI dapat dilaksanakan sesuai jadwal tanpa hambatan yang berarti. Pada hari yang sama dilaksanakan Rakornis Provinsi di Sumatera Utara, Jambi, Banten, Jawa Tengah, dan Gorontalo. (Penulis Pusjak UK)

12,541FansLike
3,200,000FollowersFollow
4,251,000FollowersFollow
3,251,580FollowersFollow
9,320SubscribersSubscribe