web analytics
Header Ads
Beranda Blog Halaman 34

Peran Penting Panel Ahli dalam Pelaksanaan Kajian HTA

Jakarta – Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) berkomitmen melakukan transformasi kesehatan untuk meningkatkan derajat kesehatan di Indonesia. Transformasi pembiayaan kesehatan sebagai  pilar pendukung keempat untuk memastikan pembiayaan kesehatan yang cukup, adil, efektif, dan efisien. Health Technology Assessment (HTA) merupakan komponen pendukung pilar pembiayaan kesehatan. HTA adalah proses pengambilan keputusan multidisiplin yang sistematis untuk mengevaluasi teknologi kesehatan yang berperan penting mendukung kebijakan berbasis bukti  bagi para pembuat keputusan.

Kebutuhan penilaian teknologi kesehatan sebagai dasar pengambilan kebijakan saat ini terus meningkat. Untuk menjawab tantangan tersebut, Kemenkes melalui Pusat Kebijakan Pembiayaan dan Desentralisasi Kesehatan (Pusjak PDK) Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) telah meluncurkan Pedoman Umum Penilaian Teknologi Kesehatan. Pedoman ini diluncurkan sebagai acuan pelaksanaan asesmen HTA yang telah didiseminasikan pada 2022. Demikian disampaikan Lusiana Siti Masyitoh Ketua Tim Kerja Kebijakan Health Technology Assessment, Pusjak PDK BDK pada Pertemuan Pengenalan Kajian HTA, Selasa (23/7) di Jakarta.

Dalam pertemuan tersebut, Lusi menjelaskan bahwa tahun 2024 telah ditetapkan 27 topik prioritas kajian HTA yang akan dilaksanakan dengan metode adaptif HTA. Lusi juga  menyampaikan bahwa pertemuan ini akan memberikan pengenalan HTA yang lebih komprehensif terhadap pelaksanaan kajian HTA 2024.

Selanjutnya, Lusi juga menekankan pentingnya keterlibatan perwakilan organisasi profesi sebagai panel ahli dalam pelaksanaan kajian HTA. “Bantuan dan kerjasama Bapak dan Ibu sangat diperlukan agar pelaksanaan kajian dapat berjalan lancar dan menghasilkan analisis yang akurat serta dapat diandalkan,” katanya

Pada kesempatan yang sama, para ahli memberikan perspektif yang lebih luas dalam menilai teknologi kesehatan yang akan dimanfaatkan dalam layanan kesehatan.  Auliya Suwantika Guru Besar Ilmu Kefarmasian dari Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran menyampaikan bahwa saat ini Indonesia menghadapi tantangan baru.

Auliya mengatakan kriteria teknologi kesehatan tidak hanya aman dan berkualitas, namun ada tantangan selanjutnya yaitu efektivitas biaya. Ia menambahkan jika cost-effective sudah tercapai maka harus affordable. “Kita juga dihadapkan pada sumber daya kesehatan yang terbatas maka kita perlu melakukan studi HTA untuk membantu prioritas,” tegasnya.

Lebih lanjut, Panji Fortuna Hadisoemarto dari Centre of HTA Studies, Universitas Padjadjaran menjelaskan bahwa pelaksanaan HTA memerlukan peran dan pendampingan ahli dari perwakilan organisasi. Hal tersebut untuk memberikan data dan informasi yang valid sehingga membantu proses evaluasi ekonomi  bagi teknologi kesehatan dalam konteks lokal. “Data lokal dapat meningkatkan applicability hasil evaluasi berdasarkan model yang dibuat untuk populasi Indonesia,” kata Panji.

Pelaksanaan HTA juga didukung oleh berbagai pemangku kepentingan. Seperti Unit Utama Kemenkes, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan, Organisasi Profesi, Rumah Sakit, Institusi Pendidikan Tinggi, Para Akademisi dan Para Pakar yang memiliki keahlian serta pengalaman, juga masyarakat adalah para pemangku kepentingan yang memerlukan kajian HTA dalam mengevaluasi teknologi kesehatan. Selain itu, kegiatan ini dihadiri oleh para akademisi, praktisi, para pakar dan perwakilan panel ahli dari berbagai Organisasi Profesi Kesehatan. (Penulis Ully Adhie Mulyani/edit Timker HDI)

.

Pejabat Fungsional Harus Tingkatkan Pengetahuan dan Kompetensinya

Jakarta– Pejabat Fungsional di lingkungan Sekretariat Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) harus terus meningkatkan pengetahuan dan kompetensi di bidang masing-masing. Menurut Sekretaris BKPK Etik Retno Wiyati hal ini dikarenakan tantangan kerja ke depan akan semakin berat. Oleh karena itu para pejabat fungsional diharapkan sensitif dan responsif terhadap tantangan dan permasalahan baru yang timbul baik dari dalam maupun luar organisasi.

“Saya berharap para Pejabat  Fungsional yang baru dilantik hari ini dapat melaksanakan tugas dan fungsinya dan menghasilkan kinerja yang lebih baik. Kita harus mengembangkan kompetensi tidak hanya hard skill tetapi juga soft skill sehingga orang lain tahu keahlian kita di bidang apa,” ujar Etik pada Rabu (24/7) di Ruang Ars Longa.

Dijelaskan Etik bahwa Pelantikan Jabatan Fungsional ini dalam rangka upaya menjalankan Transformasi Sistem Kesehatan pilar ke-7 yaitu Transformasi Internal. Transformasi internal bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia kesehatan sehingga menghasilkan layanan kesehatan yang lebih baik di Indonesia.

“Kita berada di era transformasi sistem kesehatan, apa yang telah kita lakukan dengan baik di waktu lalu agar ditingkatkan, ada hal-hal yang harus kita percepat namun harus tegak lurus sejalan dengan tujuan Kemenkes,” jelas Etik.

Etik menghimbau agar para pejabat fungsional yang telah dilantik untuk menginternalisasi jabatan barunya, mengintegrasikan dengan tempat tugasnya. Selain itu juga mempunyai visi terhadap diri sendiri, apa sumbangsih untuk unit dimana dirinya ditempatkan. Visi agar menjadi individu yang berkontribusi terhadap organisasi.

“Teman-teman harus menginternalisasi jabatan fungsional yang sudah diemban untuk mendukung dimanapun kita ditempatkan. Kita harus sejalan dengan tempat tugas kita masing-masing. Tugas kita di Kemenkes bukan hanya merumuskan kebijakan tapi sampai mengawal implementasi dan mengawal evaluasinya,” ujar Etik.

Etik juga mengharapkan para pejabat fungsional di lingkungan Sekretariat BKPK memiliki wawasan jauh kedepan dan mampu melakukan terobosan yang positif melalui pemikiran yang kreatif, inovatif, dan sistematik untuk kepentingan organisasi. “BKPK harus mampu bertransformasi menjadithink tankKemenkes. Seluruh kebijakan harus berdasarkan evidence based, ini menjadi tugas kita bersama,” pungkasnya.

Pejabat Fungsional di lingkungan BKPK yang dilantik pada Rabu (24/7) adalah Titin Delia, SKM, M.Ak sebagai JF Perencana Ahli Pertama bertugas di Sekretariat BKPK  dan  Wahyu Ramadhan, S. Kom sebagai JF Pranata Komputer Ahli Pertama.  bertugas di Pusat Kebijakan Pembiayaan dan Desentralisasi Kesehatan. (Penulis Kurniatun K)

Dukungan Kemenkes pada Event Lari Wujudkan Komitmen Hidup Sehat

Bandung – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) turut mendukung dan berpartisipasi dalam event lari terbesar di Indonesia yakni Pocari Sweat Run Indonesia (PSRI) di Kota Bandung pada 20-21 Juli 2024. Ini merupakan yang pertama kalinya dalam 11 tahun penyelenggaraan. Hal tersebut diungkapkan oleh Nida Rahmawati, Direktur Usia Produktif dan Lansia (UPL), Kemenkes.

“Ini merupakan pertama kalinya Kemenkes mendukung dan berpartisipasi dalam event ini untuk mengawal kelancaran penyelenggaraan dan juga sebagai wujud komitmen hidup sehat kita para insan kesehatan” ujar Nida saat acara Carbo Loading dan silaturahmi bersama anggota Kemenkes Runners di Bapelkes, Bandung (20/7)

Pada kesempatan ini, Nida juga mengapresiasi para pelari Kemenkes yang ikut dalam event PSRI dan menjadikan event ini menjadi ajang silaturahmi dengan pelari ASN Kemenkes.

“Lari merupakan salah satu dari 11 cabang olahraga di bawah Kemenkes yang perlu didukung karena tidak semua orang mau jadi pelari, yang mau lari sudah tentu cinta olahraga sehingga saya sangat apresiasi bahkan ada yang datang dengan biaya sendiri dari provinsi yang jauh” lanjut Nida

Sebagai tambahan, Nida juga mengharapkan komunitas lari dapat bersatu dibawah satu payung Kemenkes meskipun dari komunitas lari yang berbeda.

“Penting bagi para pelari di Kemenkes untuk bersatu dalam wadah yang sama meskipun dari komunitas yang berbeda sehingga bisa menjadi modal penting bagi insan kesehatan untuk selalu menggelorakan hidup sehat” sambung Nida.

Kemenkes turut berpartisipasi dengan menyertakan sebanyak 52 pelari dari berbagai unit pusat dan daerah, diantaranya Sekretariat Jenderal, Ditjen Farmalkes, Ditjen Kesmas, Ditjen P2P, BKPK, Dinkes Provinsi Jabar, Dinkes Kota Bandung, Bapelkes Jakarta, RSCM, RSAB Harapan Kita, RS Mata Cicendo, RSUP Hasan Sadikin, RS Moh Hosein Palembang, RS Rotinsulu, RS Paru Bogor, Poltekkes Bandung dan RSUD Kota Bandung. Para pelari turun dalam 4 kategori antara lain: 5K, 10K, 21K (Half Marathon) dan 42K/(Full Marathon).

Kemenkes juga memberikan dukungan dengan menurunkan tenaga medis beserta perlengkapan kesehatan dan ambulan yang tersebar di sepanjang rute lari dengan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat dan Rumah Sakit setempat demi penguatan ekosistem #saferunning yang digaungkan dalam event tahun ini. (Humas BKPK/Editor: Kemenkes Runners)

Kabupaten Merangin Siap Mendukung Universal Health Coverage

Merangin – Kepala Desa Tanjung Benuang Antoni Maruli menyampaikan bahwa setiap tahunnya sekitar 100 juta rupiah dana desa dikucurkan untuk kesehatan. Tidak sedikit kegiatan bidang kesehatan sudah dilakukan agar masyarakat Tanjung Benuang sehat walafiat. Senada dengan Antoni, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Merangin Sony Propesma mengatakan bahwa selama ini desa sudah berperan serta dalam meningkatkan pelayanan kesehatan. “Apresiasi untuk Kepala Desa yang sudah mengalokasikan sekitar 20% dana desa untuk meningkatkan pelayanan kesehatan termasuk menurunkan angka stunting, perbaikan gizi, kematian ibu anak dan hal lainnya” tuturnya. Hal ini disampaikan pada Pertemuan Advokasi dan Sosialisasi Kebijakan Pembiayaan Kesehatan Promotif Preventif dan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di Kec. Pamenangan Selatan Kabupaten Merangin Provinsi Jambi (20/7).

Pada kesempatan yang sama Analis Kebijakan Ahli Madya, Pusat Kebijakan Pembiayaan dan Desentralisasi Kesehatan Resi Natalia Turnip menyampaikan bahwa berdasarkan data bulan Juni 2024, total kepesertaan BPJS Kesehatan Kabupaten Merangin sebanyak 96,7 persen namun 30 persennya kepesertaannya tidak aktif. “Kabupaten Merangin memiliki 4 rumah sakit/klinik utama sebagai fasilitas kesehatan lanjutan, 45 Puskesmas/klinik sebagai fasilitas kesehatan tingkat pertama dan 7 fasilitas penunjang kesehatan lainnya yang bisa diakses masyarakat yang berhak diakses oleh peserta aktif BPJS” ungkapnya.

Lebih lanjut Resi mengatakan bahwa seluruh warga negara Indonesia wajib ikut serta dalam Program JKN/Kartu Indonesia Sehat (KIS). Saat ini stroke dan penyakit jantung menjadi penyebab tertinggi kematian. Selain itu juga ada penyakit yang menghabiskan biaya yang cukup besar seperti Gagal Ginjal Kronis. Menjadi peserta aktif JKN membuat kita memiliki kepastian mendapatkan pelayanan kesehatan yang diperlukan serta menghindari keterbatasan finansial pada saat sakit. “Karena prinsip JKN adalah yang sehat membantu yang sakit, yang mampu membantu yang tidak mampu. JKN bertujuan agar kita masyarakat dapat saling membantu untuk semua bisa mendapatkan pelayanan kesehatan” jelas Resi.

Pertemuan advokasi dan sosialisasi pada masyarakat ini dihadiri oleh Handayani Anggota Komisi IX DPR RI. Handayani menyampaikan bahwa berdasarkan Undang-undang nomor 1 tahun 2014 menyatakan seluruh rakyat Indonesia harus memiliki kartu BPJS Kesehatan. “Saat ini Kabupaten Merangin masuk sepuluh besar kepesertaan BPJS di Provinsi. Jambi” ungkapnya. Warga yang belum menjadi peserta dapat mendaftar kelas sesuai dengan kemampuan iuran bulanannya. Bagi warga yang tidak mampu dapat mengajukan Penerima Bantuan Iuran (PBI). Alokasi penerima PBI di Kabupaten merangin sendiri adalah 14 ribu warga.

Terakhir Handayani menghimbau masyarakat untuk lebih menjaga kesehatan, karena mencegah lebih baik daripada mengobati. Ia berpesan untuk merubah gaya hidup dengan mengikuti tujuh gerakan masyarakat hidup sehat. Yaitu melakukan aktivitas fisik, mengonsumsi sayur dan buah, tidak merokok, tidak mengonsumsi alkohol, memeriksa kesehatan secara rutin, membersihkan lingkungan serta menggunakan jamban. “Kalau kita sehat, maka kita produktif. Jika kita produktif maka ekonomi meningkat” tutupnya.

Pertemuan advokasi dan sosialisasi ini dihadiri kurang lebih 600 warga dari Kecamatan Pamenang Selatan. Pertemuan ini dihadiri juga oleh Kepala Seksi Jaminan Kesehatan Dinkes Provinsi Jambi, Kepala Dinas Kesehatan Kab. Merangin, Kepala Bagian PMU BPJS Muara Bungo, Ketua Tim Pengelolaan Data PBI JKN Kemensos, Kepala Seksi Penanggulangan Kemiskinan Dinas Sosial, Kepala Puskesmas Tambang Mas dan Camat Pamenang Selatan (Penulis Nisa)

Kemenkes Memanggil Talenta di Universitas Brawijaya

Malang – Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) Universitas Brawijaya (UB) Dian Handayani bangga dan berterima kasih atas kehadiran Kemenkes yang berkesempatan melaksanakan kegiatan di UB. Hal tersebut ia sampaikan saat memberikan sambutan dalam Kemenkes Goes to Campus (KGTC) di UB, Malang pada Selasa (16/7).

Saat ini kemenkes membutuhkan lebih dari 8000 talenta cerdas, muda, dan kreatif untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045. Kegiatan KGTC ini merupakan program untuk menjaring talenta hebat dari tiap universitas untuk bergabung di Kemenkes. KGTC dilaksanakan di 18 universitas di Indonesia dan UB merupakan universitas kesepuluh yang dikunjungi Kemenkes. Sebelumnya KGTC telah dilakukan di Universitas Indonesia, Universitas Bina Nusantara, Universitas Andalas, Universitas Trisakti, Universitas Pelita Harapan, Universitas Sumatera Utara, Institut Teknologi Bandung, Universitas Syiah Kuala dan Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta.

Lebih lanjut Dian mengatakan bahwa kegiatan ini menjadi hal yang sangat dinantikan oleh UB, terutama Fikes. Fikes merupakan fakultas yang menghasilkan tenaga kesehatan di UB. “Ada enam tenaga kesehatan, antara lain pendidikan dokter, bidan, farmasi, ilmu keperawatan, ilmu gizi dan fisip karena disini ada jurusan psikologi” jelasnya.

Dian menambahkan bahwa kegiatan ini akan membuka wawasan lulusan khususnya yang sedang mencari pekerjaan, dan Kemenkes juga dapat menemukan talenta yang berpotensi menjadi tenaga kesehatan yang berkualitas. “Lulusan dari UB mencetak tenaga kesehatan yang tidak hanya diserap di dalam negeri saja, namun juga diluar negeri seperti Jepang, Jerman, dan Arab Saudi” pungkasnya.

Kepala Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Syarifah Liza Munira dalam kesempatan yang sama menyampaikan bahwa bekerja di Kemenkes bukan hanya untuk yang berlatar belakang pendidikan kesehatan, namun berbagai disiplin ilmu. “Seperti saya, lulusan ekonomi UI tapi mempunyai minat yang besar terhadap kesehatan” lanjutnya. Tidak hanya kepada pejabat saja, Kemenkes juga memberikan kesempatan kepada para pegawai untuk berkiprah di forum nasional, regional, maupun global. Saat ini ada 630 lulusan UB yang bekerja di Kemenkes, baik di pusat, UPT, dan berbagai lini Kemenkes. “Misi saya saat ini adalah lebih banyak lagi talenta hebat dari UB untuk masuk dan turut serta untuk menyukseskan agenda transformasi kesehatan” ujarnya.

Selanjutnya Liza menyampaikan bahwa di Kemenkes ada ratusan bahkan ribuan beasiswa untuk belajar di dalam negeri maupun luar negeri, ada juga program fellowship, short course dan secondment di lembaga internasional lainnya. “Selain itu kalian bisa menjadi bagian dari pencetus program-program inovatif. Ide-ide ini sangat dinantikan oleh Kemenkes” ucapnya.

KGTC di UB ini Liza didampingi juga oleh Kepala Biro Pengadaan Barang dan Jasa Zulvia Dwi Kurniani, Direktur Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Menular Imran Pambudi, Kepala Pusat Kebijakan Upaya Kesehatan Dwi Puspasari, PMO Direktorat Jenderal Tenaga Kesehatan Leni Kuswandari, dan talent dari pegawai BKPK Bondan Wicaksono.

Terakhir para pendamping juga turut memberikan pesan kepada para calon lulusan UB. Bondan Wicaksono mengatakan bahwa kesehatan itu multidimensi, multisektor dan multidisiplin jadi banyak tempat untuk setiap ilmu. Jadi jangan ragu dan khawatir untuk bergabung dengan Kemenkes.

Senada dengan Bondan, Imran juga berpesan bahwa kesempatan dari semua bidang untuk masuk di Kemenkes itu sangat terbuka lebar.

Terakhir Liza berpesan, “Semua bisa memberikan peran yang besar untuk masyarakat luas. Kemenkes terus mendorong talenta yang hebat untuk masuk ke Kemenkes. Jangan ragu, apapun background ilmunya ada peran yang bisa diberikan kepada Kemenkes” tutupnya. (Penulis Nisa/Edit Timker HDI)

Kunjungan Komisi I DPRD Kabupaten Tabalong Kalimantan Selatan ke BKPK

Jakarta – Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) menerima kunjungan dari Komisi I DPRD Kabupaten Tabalong Provinsi Kalimantan Selatan pada Selasa (16/7). Kepala Pusat Kebijakan Kesehatan Global dan Teknologi Kesehatan (Pusjak KGTK), Bonanza Taihitu mewakili Kepala BKPK menyambut kedatangan rombongan di Ruang Rapat Ars Longa.

Supriani selaku Ketua Komisi 1 DPRD Kabupaten Tabalong Provinsi Kalimantan Selatan menyampaikan maksud kedatangan rombongan dalam rangka koordinasi dan konsultasi terkait pemenuhan dokter spesialis mata di Kabupaten Tabalong.

“Maksud kedatangan kami kesini selain untuk berdiskusi mengenai kebutuhan akan dokter spesialis mata dan hal-hal lain yang berkaitan dengan peningkatan kesehatan di Kabupaten Tabalong juga untuk bersilaturahim,” ujar Supriani

Terkait dokter spesialis, Bonanza menjelaskan bahwa dalam perspektif transformasi kesehatan pemenuhan kebutuhan dokter spesialis menjadi sebuah perhatian. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sedang melakukan upaya untuk meningkatkan rasio dokter spesialis yang saat ini 0,47 per 1000 penduduk agar lebih tinggi lagi.

“Kemenkes sudah melakukan perencanaan dan strategi untuk peningkatan jumlah dokter dengan dibukanya fakultas-fakultas kedokteran baru serta membuka kesempatan pada dokter spesialis yang belajar di luar negeri bisa pulang dan dapat beradaptasi dengan lebih terfasilitasi,” ungkap Bonanza.

Selain itu Bonanza juga mengungkapkan bahwa Kemenkes membuka kesempatan bagi dokter asing untuk bekerja di Indonesia. Hal ini sesuai dengan amanat Menteri Kesehatan yang diputuskan dalam Undang Undang Kesehatan No. 17 tahun 2023 yang menyebutkan negara mengelola peningkatan sumberdaya manusia kesehatan untuk mendapat rasio yang jauh lebih baik.

Selanjutnya Bonanza menjelaskan untuk dokter spesialis mata rasio di Indonesia masih 1:110.000 penduduk, angka tersebut menunjukan adanya kebutuhan yang besar. Kemenkes mencoba mengatasi persoalan-persoalan ini dengan sejumlah upaya. Misalnya membandingkan kompetensi atau cakupan kerja dokter spesialis mata dengan Optician. Bonanza mencontohkan Singapura yang mendelegasikan kompetensi spesialis mata ke Optician. Terbukti Optician dapat menangani dengan baik dan membantu para dokter spesialis mata.

Selain itu dapat juga dilakukan intervensi melalui telekonsultasi sehingga kompetensi dokter spesialis mata di daerah bisa terbantu dengan pemanfaatan teknologi digital dan melakukan konsultasi dengan Rumah Sakit pengampunya yaitu RS Mata Cicendo di Bandung.

Terkait kebutuhan dokter spesialis mata di Kabupaten Tabalong Bonanza mempersilahkan Direktorat Jenderal Tenaga Kesehatan (Dirjen Nakes) Kemenkes yang diundang secara daring untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Indriya Purnamasari dari Direktorat Perencanaan Tenaga Kesehatan Dirjen Nakes mengatakan ada beberapa alternatif yang bisa dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dokter spesialis mata di Kabupaten Tabalong yaitu, pertama dengan program pendayagunaan dokter spesialis namun kelemahan program ini adalah bersifat volunteer sehingga bila tidak ada yang berminat untuk mendaftar maka formasi tersebut tetap kosong. Kedua yaitu dengan mekanisme penugasan yaitu dengan menugaskan dokter spesialis mata yang berdekatan dengan Kabupaten Tabalong untuk juga berpraktek di RSUD Tabalong. Terakhir, karena RSUD Tabalong berstatus Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) maka bisa menggunakan alternatif rekrutmen dengan mempertimbangkan besaran insentif yang diberikan melalui BLUD ataupun insentif lain yang ditetapkan pemerintah kabupaten.

“Saran kami dengan adanya penambahan insentif dokter spesialis. Salah satu hal yang mungkin menarik minat dokter spesialis adalah tambahan insentif dari daerah. Jika kabupaten Tabalong bisa menyediakan insentif lebih besar mungkin bisa menarik minat para dokter spesialis mata,” pungkas Indri. (Penulis Kurniatun/Edit Timker HDI)

Ujicoba Pengumpulan Data: Pentingnya Koordinasi untuk Menyukseskan SSGI 2024

Magelang– Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kemenkes melaksanakan persiapan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 yang telah memasuki tahap ujicoba pengumpulan data (puldat) oleh enumerator lapangan di Blok Sensus (BS) terpilih di Kota Cimahi, Jawa Barat dan Kabupaten Magelang, Jawa Tengah (8-13 Juli 2024).

Ujicoba puldat ini bertujuan untuk melihat visibilitas pengorganisasian lapangan, instrumen, kuesioner dan program entri yang telah disusun oleh BKPK, BRIN dan BPS. Proses ujicoba ini akan menjadi masukan bagi BKPK dan pihak penyedia yang akan melaksanakan kegiatan lapangan.

Counthessha Nicola, salah satu enumerator yang bertugas memberikan masukan dari pengalaman yang ditemukan saat ujicoba.

“Sebagai enumerator, masukannya kita harus bisa kreatif memprobing dan menggali responden, juga harus banyak belajar dan berkoordinasi dengan petugas kesehatan baik bidan desa dan TPG (Tenaga Pelaksana Gizi) di wilayah tersebut tentang riwayat imunisasi atau program kesehatan apa yang sedang berjalan” ujar Tessha saat evaluasi kegiatan (13/7).

Sejurus dengan itu, enumerator lain, Anggi Wulandari juga belajar tentang pentingnya mempelajari karakteristik masyarakat dan berkoordinasi dengan petugas di wilayah.

“Ini pengalaman pertama untuk turun langsung, banyak tantangan bagaimana menghadapi berbagai macam karakteristik masyarakat, berkoordinasi dengan pemerintah setempat, puskesmas maupun kepala desa” ucapnya (13/7).

Pada tahap ujicoba puldat ini menurunkan enumerator yang telah dilatih ke 4 BS terpilih dari hasil updating (pemukhtahiran) data rumah tangga (ruta) Balita yang telah dilacak sebelumnya di Kota Cimahi antara lain di Kel. Utama, Cimahi Selatan, Kel. Cipageran, Cimahi Utara, Kel. Setiamanah, Cimahi Selatan, dan Kel. Melong, Cimahi Selatan. Sementara di Kabupaten Magelang 4 BS terpilih terdapat di 2 kelurahan yakni Kel. Ketawang, Grabag dan Kel. Sumberrejo, Mertoyudan.

Enumerator bertugas mendatangi ruta terpilih, melakukan wawancara kuesioner kepada anggota ruta dan melakukan pengukuran panjang/tinggi badan, berat badan dan lingkar lengan atas pada Balita dan pengukuran tinggi badan dan berat badan pada ibu dari balita.

Berbagai hambatan yang ditemukan saat ujicoba diharapkan menjadi masukan bagi pemantapan langkah pada pelaksanaan pengumpulan data SSGI 2024 yang sebenarnya. (Penulis: Ahdiyat, Edit: Bunga/Pusjak UK)

Pelatihan Tenaga Koder Diharapkan Meningkatkan Kualitas Pekerjaan

Makasar– Kepala Pusat Kebijakan Pembiayaan dan Desentralisasi Kesehatan (Pusjak PDK) Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI (BKPK Kemenkes) Ahmad Irsan A. Moeis secara resmi menutup acara Pelatihan Pengkodean Diagnosis Penyakit dan Tindakan Bagi Tenaga Koder di Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjut (FKRTL) dalam Program Jaminan Kesehatan nasional (JKN) Tahun 2024 untuk Gelombang 2 Angkatan 5,6,7, dan 8 secara daring pada Sabtu (13/7). Pelatihan berlangsung dari tanggal 8 hingga 14 Juli 2024 diikuti 120 peserta.

Irsan mengucapkan selamat kepada peserta koder yang lulus dalam pelatihan dan memiliki nilai yang bagus dengan nilai di atas 80. Khususnya, kepada para peserta terbaik di tiap angkatan.

“Harapan kami adalah ini semua menjadi motivasi bapak ibu untuk terus meningkatkan kualitas pengkodean di rumah sakit tempat bapak ibu masing-masing sehingga nanti makin akurat,” ungkap Irsan. Menurut Irsan peserta adalah garda terdepan yang menjaga jaminan sosial dan pembiayaan kesehatan di fasilitas pelayanan Kesehatan (fasyankes) rumah sakit.

Selanjutnya Irsan menjelaskan ada dua hal yang menarik dan perlu diperbaiki berdasarkan masukan peserta. Pertama, mengenai jaringan internet. Saat melakukan pelatihan, pastikan hotel yang menjadi lokasi penyelenggaraan dapat memberikan bandwith yang besar untuk ruangan pelatihan.

Kedua, kebutuhan diskusi yang lebih banyak. Ini menandakan peserta pelatihan punya antusiasme yang tinggi yang perlu direspon. Untuk kurikulum, kedepannya beri ruang sesi diskusi yang lebih panjang.

“Kita bisa buatkan forum sehingga teman-teman paska pelatihan tetap bisa terkoneksi satu sama lain sesama koder, terkoneksi dengan para fasilitator, antar fasilitator juga terkoneksi serta juga dengan pusjak PDK,” tutur Irsan.

Forum tersebut juga bermanfaat untuk saling berbagi pengetahuan. Irsan mengatakan forum ini segera saja diwujudkan sebagai kanal yang dapat dipergunakan bersama.

Pelatihan ini tidak hanya selesai setelah kegiatan. Kepala Pusjak PDK mengingatkan yang terpenting kualitas pekerjaan dapat menjadi ukuran untuk menilai keberhasilan pelatihan.

Kapusjak PDK berpesan agar para peserta bisa menyampaikan kembali ke rekan-rekan kerjanya di RS sehingga terjadi ketok tular dan semua koder di RS akan memiliki standar pengetahuan yang sama. 

Pusjak PDK juga akan terus melakukan evaluasi. Salah satunya, melalui pelatihan ini dapat meningkatkan akurasi, dan kecepatan penanganan koding. Kemudian, adanya standar yang sama yang dipahami bersama dalam melakukan diagnosis.

Dalam kesempatan yang sama, Siti Nur Anisah, Panitia Penyelenggara dari Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) Cikarang dalam laporannya menjelaskan pelatihan pengkodean ini yang diselenggarakan secara blended dapat diselesaikan dengan baik. Seluruh peserta dinyatakan lulus dan menyelesaikan pelatihan hingga selesai. Materi pelatihan juga telah disampaikan para pelatih/fasilitator dengan sangat baik. (Penulis Fachrudin Ali & Riris Dian H/Edit Timker HDI)

BKPK Gelar Workshop Pengembangan Kompetensi Manajerial Sosial dan Kultural di Lingkungan Sekretariat BKPK

Bogor – Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) menggelar Workshop Pengembangan Kompetensi Manajerial Sosial dan Kultural di lingkungan Sekretariat BKPK yang dilaksanakan pada 11-13 Juli dan dihadiri oleh seluruh pegawai di lingkungan sekretariat BKPK. Ketua Tim Kerja Organisasi dan Sumber Daya Manusia (OSDM) Melyana Lumbantoruan mewakili Kepala BKPK  membuka secara resmi pada Kamis (11/7). “Kita sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) harus diberikan kesempatan untuk mengembangkan kompetensi diri, yang terdiri dari kompetensi teknis sesuai dengan jabatan fungsionalnya, dan kompetensi manajerial sosial kultural yang dapat dilakukan secara bersama-sama seperti kegiatan ini”. tutur Mely dalam sambutannya.

Selanjutnya Ketua Tim Kerja OSDM, Mely juga menyampaikan bahwa tujuan kegiatan ini adalah berdasarkan adanya perubahan budaya kerja dilingkungan Kemenkes seperti, pemenuhan kewajiban pegawai untuk terus melakukan pengembangan kompetensi minimal 20 jam pelajaran (JPL), dan berkelanjutan dalam satu tahun. Kegiatan ini pada dasarnya adalah pelatihan yang menggunakan Patform Learning Management System (LMS) Kemenkes.

Dalam sharing session Kepala BKPK Syarifah Liza Munirah menceritakan pengalaman beliau dari awal berkarir sampai dengan saat ini, salah satu contohnya adalah beliau mempelajari penyebab majunya suatu negara, itu bukan karena negaranya atau sumber dayanya, namun kuncinya adalah sistem yang baik. Seiring dengan adanya Transformasi Kesehatan “peran BKPK sangat strategis bagi sektor kesehatan, BKPK menjadi jantungnya kebijakan”. ungkap Liza

Kemudian Kepala BKPK juga menekankan peran BKPK harus bersatu dan punya misi yang sama, termasuk Pusat Kebijakan di lingkungan BKPK. Sedangkan peran Sekretariat BKPK berperan amat sangat penting, dan harus menjadi satelit bagi BKPK. Tugas BKPK berkait dengan kebijakan sektor kesehatan yang mengurusi kemaslahatan masyarakat banyak, untuk memastikan masyarakat sehat, produktif dan sukses karena sehebat apapun seseorang jika tidak sehat, maka percuma saja jika tidak sehat maka tidak dapat berproduksi dan berperan.

Berkaitan dengan materi yang disampaikan oleh pembicara Damar Susilaradeya mengenai what’s your boss expect from your presentation. Kepala BKPK menyatakan bahwa pointnya adalah tahu peran dari tugas yang diberikan bukan bagaimana ekpektasi pimpinan, ketika kerja sama tim tidak ada yang salah, namun yang salah adalah jika tidak adanya komunikasi dan berbagi pendapat “can rely you, you can rely on me, dalam kerja tim itu harus saling mengandalkan satu sama lain”. tutur Liza

Kesempatan yang sama Sekretaris BKPK, Etik Retno Wiyati mengajak semua pegawai untuk siap menjalankan Perubahan Budaya Kerja, “semua siapkan diri mengikuti perubahan budaya kerja untuk mendukung Transformasi Kesehatan, yakinlah perubahan itu untuk menuju kebaikan dan kesuksesan kita bersama demi Kemenkes hebat Indonesia sehat”. ujar Etik

Beberapa materi kegiatan yaitu mengenai gerakan perubahan budaya kerja oleh pembicara Dora Ketua Tim Kerja Perubahan Manajemen Budaya dan Berakhlak, Pusat Pengembangan Kompetensi ASN Kemenkes. Kemudian pembicara Ruddy Gobel memberikan materi mengenai eksekusi efektif. Untuk materi cara kerja baru dan pelayanan unggul disampaikan oleh pembicara Erik Hadi Saputra.

Kegiatan workshop pengembangan kompetensi manajerial sosial dan kultural bukan hanya mendengarkan materi di dalam ruangan, namun ada beberapa kegiatan di luar ruangan seperti rafting, pottery dan paintball yang mengharuskan peserta menyiapkan fisik dan mental. (Penulis:Yuliana/Edit Timker HDI)

12,541FansLike
3,200,000FollowersFollow
4,251,000FollowersFollow
3,251,580FollowersFollow
9,320SubscribersSubscribe