Kolaborasi Kemenkes dan KLHK dalam Penyelenggaraan APRFHE ke – 11

231

Jakarta – Pertemuan Pejabat Tingkat Tinggi Kesebelas Forum Regional Asia-Pasifik untuk Kesehatan dan Lingkungan Hidup dengan tema “Peran Kesehatan dan Lingkungan Strategis dalam Pembangunan Nasional Untuk Mencapai SDGs” diselenggarakan Kementerian Kesehatan RI berkolaborasi dengan Kementerian Lingkungan dan Kehutanan RI secara hybrid pada 22 – 23 November 2023 di Jakarta. Wakil Menteri Kesehatan RI Dante Saksono Harbuwono membuka acara secara resmi pada Rabu (22/11).

“Hubungan antara perubahan iklim dan kesehatan sudah tidak diragukan lagi, peran kita untuk berkomitmen dan melakukan tindakan nyata secara bersama-sama demi keberlanjutan kesehatan dan bumi kita” ujar Wamenkes Dante Saksono.

Peran Indonesia sebagai Ketua Kelima Asia Pasific Regional Forum On Health and Environment (APRFHE) periode tahun 2020 -2024, yakni menyelaraskan kesehatan dan lingkungan sebagai pusat pembangunan nasional. APRFHE kesebelas ini bertujuan untuk mengoptimalkan peran dan dampak dari forum ini ditingkat nasional, regional dan internasional.

Pertemuan ini juga membahas bidang teknis yang relevan dan mekanisme koordinasi yang selaras dengan prioritas global dalam kesehatan manusia dan lingkungan selain mempersiapkan pertemuan pejabat tingkat tinggi keduabelas pada tahun 2024.

Baca Juga  Kementerian Kesehatan Lakukan Penandatanganan MOU dengan ERIA

Wamenkes Dante Saksono menyampaikan saat ini bumi mengalami kenaikan suhu global rata-rata sebesar lima derajat celsius akibat ulah manusia. Jika kenaikan suhu global terus diabaikan, kemungkinan bumi mengalami panas lebih tinggi dengan konsekuensi yang tidak dapat dipulihkan yang dapat menyebabkan masalah kesehatan.

Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLHK Sigit Reliantoro yang menyampaikan sambutan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya menyebutkan bahwa pertemuan ini meningkatkan kerja sama yang lebih kuat dan kolaborasi diantara negara-negara anggota. Hal itu telah mempertahankan tingkat kerja sama yang efektif dengan mengintensifkan dinamika, berbagi pengetahuan dan praktik terbaik.

“Dengan mendasari perlunya tindakan kolektif yang lebih kuat dan kolaborasi dengan melakukan semua hal dalam menghadapi berbagai tantangan seperti dimasa pandemik COVID-19. Kita perlu mempertimbangkan dan mengevaluasi dengan cermat masalah kesehatan sederhana apa yang dapat diterapkan pada faktor lingkungan dan sebaliknya,” ungkap Sigit Reliantoro

Baca Juga  Kemenkes Inventarisasi Masukan Publik Untuk RUU Kesehatan

Perwakilan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sekaligus Sekretaris Internasional untuk APRFHE Momoe Takeuchi menyampaikan dengan memanfaatkan kekuatan dan kumpulan keahlian didunia ini, akan memiliki potensi bukan hanya untuk mengatasi tantangan lingkungan dan kesehatan yang dihadapi oleh penduduk Asia-Pasifik, tetapi juga memberikan kontribusi yang substansial dalam skala global. Hal ini dapat mencegah kematian secara global dan mempromosikan kesehatan serta kesejahteraan yang berkelanjutan di seluruh dunia.

“Kami berkomitmen untuk memberikan dukungan teknis dan keahlian kepada forum serta memobilisasi sumber daya untuk meningkatkan upaya kolektif kita, khususnya dalam bidang kesehatan dan lingkungan,” jelas Momoe.

Pertemuan ini membahas hal-hal yang selaras dengan kelompok kerja tematik dan akan direvitalisasi. Bahkan penyederhanaan jumlah kerja tematik untuk meningkatkan fokus saat implementasinya. Output berupa rekomendasi untuk memperbarui rencana kerja APRFHE, aktivitas kelompok kerja tematik APRFHE, persetujuan tata kelola, dan hal-hal operasional serta mekanisme jaringan pengetahuan.

Direktur The United Nations Environment Programme (UNEP) untuk Asia Pasifik Marlene Nilsson memberikan apresiasi terhadap Pemerintah Indonesia atas dukungan terhadap forum APRFHE, serta komitmen dan kepemimpinan yang ditunjukkan oleh para anggota regional dalam kolaborasi antara sektor kesehatan dan lingkungan, baik di tingkat regional maupun nasional. Indonesia juga telah mengambil langkah menuju pendekatan One Health dengan mengatasi deforestasi melalui inisiatif seperti moratorium pembukaan lahan baru untuk area lahan yang dikonversi. Selain itu, telah ada upaya yang dilakukan untuk mengurangi polusi udara di kota-kota besar melalui langkah-langkah seperti sumber energi yang lebih bersih dan peningkatan penggunaan transportasi umum.

Baca Juga  Hadapi Masa Transisi, BKPK Jadi Role Model Baketrans

“Pendekatan holistik dan terintegrasi diperlukan untuk memastikan kesehatan masyarakat sekaligus mengatasi krisis yang saling terkait. Pendekatan ini membutuhkan keterlibatan dari berbagai sektor, termasuk kesehatan, lingkungan, pertanian, dan lain-lain” tutur Marlene Nilsson

APRFHE dihadiri oleh Kementerian Kesehatan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, serta delegasi dari lima puluh satu negara,. Hadir perwakilan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan UNEP. (Penulis Yuliana)