
Waspada Low Back Pain Saat Bekerja

Bekerja seharian dengan posisi duduk berjam-jam di depan komputer tentu sudah menjadi makanan sehari-hari pekerja kantoran. Namun, kondisi ini acapkali menimbulkan rasa lelah dan ketegangan otot di area sekitar punggung.
Posisi duduk yang kurang tepat dan tidak ergonomis ketika bekerja dapat menyebabkan ketegangan otot dan rasa nyeri punggung bawah atau low back pain. Tanpa disadari, perilaku menekuk (membungkuk), posisi kepala tidak tegak, pandangan selalu ke bawah, dan pola kerja yang monoton seringkali dilakukan saat bekerja. Padahal semua aktivitas itu dapat menjadi pemicu terjadinya low back pain.
Tak hanya itu, kondisi ini dapat juga dipengaruhi oleh beberapa faktor lain seperti usia, jenis kelamin, kebiasaan duduk, kondisi tulang belakang yang tidak normal, atau penyakit tertentu seperti penyakit degenaratif.
Sebagai langkah awal pencegahan sekaligus agar meringankan gejalanya, dapat dilakukan beberapa aktivitas yang membantu. Misalnya dengan tetap mempertahankan postur tubuh yang benar selama bekerja dan melakukan peregangan setelah duduk dalam jangka waktu lama.
Melakukan olahraga rutin juga dianjurkan, terutama jenis olahraga yang dapat melatih otot punggung seperti yoga, pilates, jalan kaki, dan berenang.
Selain itu, perlu hindari mengangkat beban berat yang dapat mencederai otot. Berendam di air hangat dapat menjadi pilihan saat tiba di rumah setelah seharian bekerja. Selain meredakan rasa nyeri, aktivitas ini juga dapat menghindarkan dari stres.
Menerapkan gaya hidup sehat serta istirahat yang cukup juga perlu dilakukan. Selanjutnya, jangan lupa periksakan diri ke dokter apabila rasa nyeri yang dirasakan tidak kunjung reda.
Penulis Ripsidasiona
Malas Gerak Tingkatkan Kegemukan dan Risiko Penyakit

Obesitas merupakan penyakit. Ada banyak faktor yang dapat membuat orang berisiko lebih tinggi mengalami obesitas yakni faktor biologi, genetik, kesehatan mental, akses ke perawatan kesehatan, dan paparan makanan yang diproses secara berlebihan, seperti menambahkan perisa, gula, lemak, atau pengawet makanan berbahan kimia (ultra processed), serta makanan yang tidak sehat (unhealthy foods).
Individu dengan obesitas menempatkan orang tersebut pada risiko yang lebih tinggi terkena penyakit jantung, diabetes, dan beberapa jenis kanker.
World Health Organization (WHO) menyatakan obesitas merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di negara maju maupun negara berkembang. Obesitas merupakan kondisi adanya penumpukan lemak tubuh yang berlebih, sehingga berat badan seseorang jauh di atas normal dan dapat membahayakan kesehatan.
Obesitas sentral menurut Nurkotimah dkk dalam jurnal Media Litbangkes, Vol. 29 No. 3 yang terbit di bulan September 2019 dianggap lebih baik dalam menilai tingkat obesitas dibandingkan menggunakan Indeks Massa Tubuh (IMT). Mengutip laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 obesitas sentral atau obesitas abdominal adalah kumpulan lemak abdominal berlebih yang terdapat di daerah abdomen atau perut. Batasan obesitas sentral adalah jika nilai lingkar perut pada laki-laki lebih besar dari 90 cm dan di kalangan perempuan lebih besar dari 80 cm.
Berdasarkan hasil Riskesdas 2018 dengan melakukan pengukuran lingkar perut pada penduduk dewasa berusia 15 tahun ke atas, diperoleh data 1 dari 3 orang Indonesia menderita obesitas sentral.
Hasil penelitian Sudikno dkk yang dimuat di Jurnal Gizi Indonesia (2018) menggunakan data Studi Kohor Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular (FRPTM) dengan memantau populasi penelitian yakni semua anggota rumah tangga berumur 25 tahun ke atas di 5 kelurahan dari 11 kelurahan di Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, yaitu Kebon Kalapa, Babakan Pasar, Babakan, Ciwaringin dan Panaragan selama 6 tahun. Dari pantauan tersebut diperoleh hasil bahwa faktor risiko terjadinya obesitas sentral pada orang dewasa adalah jenis kelamin, kelompok umur, status kawin, dan aktivitas fisik. Subjek perempuan dengan aktivitas fisik kurang nyatanya lebih cepat mengalami obesitas sentral dibandingkan subjek laki-laki dengan aktivitas fisik kurang. Untuk itu, disarankan dilakukannya pencegahan obesitas sentral pada orang dewasa melalui pemenuhan aktivitas fisik yang cukup dan mempertahankan berat badan normal.
Kemenkes RI telah gencar menggalakkan program Gerakan masyarakat Hidup Sehat (GERMAS). Gerakan Masyarakat Hidup Sehat merupakan tindakan sistematis dan terencana yang dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh komponen bangsa dengan kesadaran, kemauan, dan kemampuan berperilaku sehat untuk meningkatkan kualitas hidup. Salah satu kegiatan yang digalakkan adalah peningkatan aktivitas fisik. Berdasarkan panduan GERMAS, aktivitas fisik diartikan sebagai gerakan tubuh yang melibatkan otot rangka dan mengakibatkan pengeluaran energi. Aktivitas fisik dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja, paling sedikit dengan durasi 30 menit setiap harinya. Kegiatan banyak duduk sebaiknya dibatasi, seperti menonton TV, main gim dan komputer, apalagi bersamaan waktunya dengan makan makanan kudapan yang manis, asin dan berminyak.
Kemenkes menganjurkan masyarakat saat di rumah melakukan pekerjaan rumah seperti menyapu, mencuci, berkebun, dan menemani anak bermain. Di tempat kerja tetap rutin berolahraga dan melakukan peregangan di sela jam kerja. Perbanyak kegiatan berjalan.
Saat dalam perjalanan dapat memarkir kendaraan agak jauh dari lokasi kantor agar dapat melanjutkan dengan berjalan, berhenti untuk peregangan dalam perjalanan jarak jauh atau mengalami kemacetan serta melakukan peregangan di dalam mobil dan bis. Ingat jangan malas untuk bergerak untuk meningkatkan aktivitas fisik. Kemalasan dapat membawa masalah kesehatan, salah satunya kematian.
Fachrudin Ali Ahmad (Pranata Humas Ahli Madya BKPK)
Capacity Building HTA

Jakarta— Pusat Kebijakan Pembiayaan dan Desentralisasi Kesehatan (Pusjak PDK) Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI bersama Universitas Gadjah Mada selaku agen HTA dan The Medicines, Technologies, and Pharmaceutical Services (MTaPS) USAID dan melaksanakan Capacity Building Health Technology Assessment (HTA)dengan mengusung tema Metode Pemodelan dan Kalibrasi Evaluasi Ekonomi Pemberian Trastuzumab Adjuvan untuk Kanker Payudara Stadium Dini HER2-positif. Kegiatan ini dapat terselenggara atas dukungan dari World Health Organization (WHO).
Acara peningkatan kapasitas ini dibuka oleh Pusjak PDK Kemenkes, yang diwakili oleh Ketua Tim Kerja Kebijakan HTA, Lusiana Siti Masytoh pada hari Rabu (1/11). Acara dihadiri oleh Kementerian Kesehatan, Agen HTA dan perwakilan Universitas, seperti CEEBM RSCM, CHEPS FKM Universitas Indonesia, Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, CHES Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Universitas Airlangga, Universitas Padjadjaran, Universitas Negeri Sebelas Maret, Universitas Diponegoro, Universitas Lambung Mangkurat, Universitas Sriwijaya, dan perwakilan mitra pembangunan (WHO dan USAID-MTaPS).
Tujuan peningkatan kapasitas HTA ini adalah untuk memberikan gambaran pelaksanaan HTA kepada agen HTA lainnya, serta meningkatkan kapasitas agen HTA dalam hal pemodelan dan penerapan Real World Data (RWD). Selain membahas pelaksanaan HTA secara umum, juga disampaikan gambaran evaluasi ekonomi, systematic review dan meta-analysis, costing, kalibrasi probabilitas transisi markov model, serta budget impact analysis.
Pelaksanaan kalibrasi pada pelaksanaan HTA Evaluasi Ekonomi Pemberian Trastuzumab Adjuvan pada Pasien Kanker Payudara Stadium Dini HER2-positif merupakan suatu terobosan baru dalam pelaksanaan HTA di Indonesia. Dalam pelaksanaan kalibrasi tersebut menggunakan data kesintasan yang diperoleh dari data registri kanker Indonesia. Pelaksanaan kalibrasi ini merupakan suatu upaya yang dianggap penting dan berpeluang untuk dapat dilaksanakan pada pelaksanaan HTA selanjutnya karena selaras dengan tujuannya untuk lebih dapat menghasilkan luaran HTA yang mendekati dengan kondisi pasien Indonesia.
Seiring dengan meningkatnya jumlah permintaan HTA di Indonesia, kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas agen HTA serta dapat menjaring universitas yang tertarik untuk menjadi agen HTA di Indonesia. (Pusjak PDK BKPK)




















