web analytics
Header Ads
Beranda Blog Halaman 58

Bangkit Indonesiaku, Sehat Negeriku

Tangerang Selatan– Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menggelar Pameran Bangga Produk Inovasi dan Teknologi Kesehatan Dalam Negeri Untuk Mendukung Transformasi Sistem Kesehatan. Pameran yang mengusung tema Bangkit Indonesiaku, Sehat Negeriku ini berlangsung selama 3 hari (3-5 November) di Indonesia Convention Exibition (ICE) Bumi Serpong Damai (BSD) Tangerang Selatan Banten. Pameran ini menampilkan produk-produk kesehatan karya anak bangsa.

Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan sekaligus Pelaksana Tugas (Plt) Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Rizka Andalucia mengatakan pameran ini diikuti oleh 469 peserta. “Selain pameran juga diselenggarakan business forum, talkshow, lomba-lomba, serta pemeriksaan kesehatan gratis bagi masyarakat,” ujarnya.

Pameran dibuka secara resmi oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin. Dalam sambutannya, Menkes Budi menuturkan 6 bidang transformasi kesehatan yang saat ini tengah dilakukan kemenkes. Yang pertama adalah transformasi layanan primer. “Ini yang menjaga agar masyarakat hidup sehat, bukan hanya mengobati. Kita akan merevitalisasi 300 ribu Posyandu dan  lebih dari 10 ribu Puskesmas,” terangnya.

Lebih lanjut Menkes Budi menjelaskan Posyandu dan Puskesmas akan dilengkapi dengan alat-alat yang dibutuhkan seperti antropometri dan USG yang tidak hanya digunakan untuk pemeriksaan ibu dan bayi namun dapat digunakan sebagai deteksi dini dari kanker payudara.

Puskesmas dan Posyandu akan memiliki alat yang cukup untuk melakukan skrining terutama untuk pemeriksaan gula darah, tekanan darah tinggi, dan juga kolesterol yang merupakan penyebab terbesar untuk penyakit tidak menular yang ada di Indonesia.

“Kita harapkan dengan adanya aktivitas di level Posyandu di 300 ribu dusun kita bisa menjangkau seluruh masyarakat untuk kegiatan yang sifatnya promotif preventif,” jelasnya.

Menurut Menkes Budi untuk transformasi pilar kedua, seluruh rumah sakit di 514 kabupaten/kota akan dipastikan memiliki alat kesehatan yang cukup untuk bisa melayani 4 penyakit utama, yaitu penyakit jantung, stroke, kanker, dan ginjal.

Selanjutnya pada transformasi yang ketiga yaitu transformasi sistem ketahanan kesehatan, pemerintah akan memastikan bahwa vaksin, obat-obatan, dan alat kesehatan sekurang-kurangnya 50 persen bisa di produksi didalam negeri.

Program kedua pada sistem ketahanan kesehatan adalah akan dibangunnya tenaga cadangan kesehatan. “Kita akan bekerja sama dengan seluruh perguruan tinggi, termasuk Politeknik Kesehatan (Poltekkes) untuk mempersiapkan mahasiswanya. Kita juga akan bekerjasama juga dengan Pramuka. Selain itu kita juga akan memastikan bahwa pendidikan kebencanaan baik bencana alam maupun bencana kesehatan akan masuk pada kurikulum SD, SMP dan SMA,” ujar Menkes Budi.

Transformasi yang keempat adalah transformasi sistem pembiayaan kesehatan. Ina Grouper akan segera diluncurkan. Transformasi kelima adalah transformasi sistem sumber daya manusia kesehatan. Pemerintah akan memastikan kecukupan jumlah tenaga kesehatan, baik dokter maupun perawat. Bidang transformasi yang terakhir adalah transformasi teknologi kesehatan. 

“Di bidang teknologi kesehatan program besar yang telah diluncurkan adalah program Satu Sehat. Semua data kesehatan akan didigitalisasi dan diakhir september 2023 harus bisa terkoneksi menjadi satu, baik itu data digital dari rumah sakit, dari klinik dan Puskesmas, data dari laboratorium dan data dari perusahaan farmasi,” terang Menkes.

Pada kesempatan ini hadir pula Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy. Menurut Muhadjir, transformasi kesehatan adalah bagian tak terpisahkan dari revolusi mental. Program ini termasuk program prioritas Presiden Joko Widodo untuk mempercepat perubahan mental bangsa Indonesia dari yang buruk menjadi baik, dari yang kurang baik menjadi baik, dan yang baik menjadi semakin baik untuk menuju indonesia yang maju dan setara dengan negara maju lainnya.

“Ada 3 karakter mental bangsa Indonesia yang diharapkan berubah semakin baik. Yang pertama soal integritas, yang kedua etos kerja, dan ketiga adalah semangat gotong royong,” jelas Menko Muhadjir.

Lebih lanjut Muhadjir mengatakan ada 4 program aksi bersama multi sektor, termasuk di sektor kesehatan. Keempat program ini adalah bersatu, bersih, mandiri, dan tertib.

“Saya mohon ini betul-betul didasari dan dilandasi nilai-nilai Pancasila. Integritas yang tinggi, kerja keras dan etos kerja yang tinggi, serta semangat gotong royong sebagai ciri khas bangsa Indonesia dan sari pati nilai Pancasila,” pungkasnya.

BKPK ikut berpartisipasi dalam pameran yang dihelat sebagai bagian dari rangkaian acara memperingati HKN Ke-58 ini dengan mengisi 2 stand/booth yang berada di area Pilar Transformasi Kesehatan Ketiga dan Keempat serta satu booth lagi oleh Balai Besar Litbang Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) Tawangmangu. Materi yang ditampilkan antara lain hasil Sero Survei Antibodi Covid-19 Berbasis Komunitas dan Ina Grouper. Dalam kesempatan tersebut, hadir Sekretaris BKPK Nana Mulyana.

(Penulis Dian Widiati/Editor Fachrudin Ali)

Belajar Nilai Kejujuran Dari Sosok Endang, Menkes Kabinet Indonesia Bersatu II

Karawang — Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI Rizka Andalucia mengingatkan agar semangat juang almarhumah Endang Rahayu Sedyaningsih, Menteri Kesehatan pada Kabinet Indonesia Bersatu II (Oktober 2009 – April 2012) terus di gelorakan.

“Sebagaimana pesan beliau agar bersikap jujur, walaupun kejujuran itu tidak semuanya nyaman. Selalu fokus atau jelas arahnya, konsentrasi, dan disiplin waktu”, ungkap Rizka pada kegiatan Tabur Bunga di Makam Pahlawan San Diego Hills Karawang Jawa Barat, pada Rabu (2/11). Acara ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-58 Tahun 2022.

Acara dihadiri keluarga almarhumah Endang yang diwakili suami Reanny Mamahit,  Sekretaris BKPK Nana Mulyana, Kepala Pusat Kebijakan (Pusjak) Sistem Ketahanan Kesehatan dan Sumber Daya Kesehatan Wirabrata, Kepala Pusjak Kesehatan Global dan Teknologi Kesehatan Bonanza Perwira Taihitu, serta perwakilan Balai Kesehatan Mata Masyarakat Cikampek, Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Jakarta, Kantor Kesehatan Pelabuhan Tanjung Priok serta Politeknik Kesehatan Kemenkes Jakarta III dan staf di lingkungan BKPK.

Dalam kesempatan tersebut, Rizka menyampaikan sebagai insan kesehatan agar selalu berupaya untuk menghormati dan mengenang jasa-jasa para pahlawan kesehatan, khususnya para menteri kesehatan yang pernah menjabat dan telah wafat.

“Beliau-beliau adalah orang-orang yang telah berjasa membesarkan Kementerian Kesehatan,” ujar Rizka.

Para pahlawan kesehatan telah merintis berbagai perkembangan dan terobosan di dunia kesehatan. Semua itu dilakukan agar kesehatan di Indonesia terus maju dan dapat mewujudkan insan Indonesia yang sehat dan berdaya saing tinggi.

Meski telah wafat sepuluh tahun yang lalu, Rizka mengingatkan agar insan kesehatan terus mengenang dan mengingat jasa-jasa almarhumah Endang. Khususnya BKPK yang sebelumnya merupakan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) yang sangat lekat dengan almarhumah. Pasalnya, almarhumah Endang pernah menjabat sebagai peneliti serta Kepala Puslitbang Biomedis dan Farmasi Balitbangkes

Rizka menuturkan dari pengalamannya, dulu Litbang rumah sakit memiliki anekdot sulit berkembang. Namun, almarhumah Endang berpesan agar bagian ini harus menjadi unit yang elit dan membanggakan.

Sekarang, menurut Rizka, penelitian-penelitian di rumah sakit vertikal sudah maju dan berkembang. Ke depan diharapkan agar semua evidence based dalam pelayanan kesehatan di mulai dari penelitian yang berbasis pada hospital based.

“Jadi kita tidak melakukan penelitian-penelitian dasar, tapi kita melakukan penelitian translasional from the bench to the bedside and from the bedside to the bench”, kata Rizka.

Rizka juga meminta agar semua insan kesehatan melakukan refleksi kembali untuk terus membawa amanah-amanah almarhumah Endang dan meneruskan nilai-nilai baik ke dalam kehidupan dan bekerja sehari-hari.

Kegiatan tabur bunga ke makam Almarhumah Endang diawali Plt. Kepala BKPK Kemenkes RI Rizka Andalucia, dilanjutkan Reanny Mamahit,  Sekretaris BKPK Nana Mulyana, Kepala Pusat Kebijakan (Pusjak) Sistem Ketahanan Kesehatan dan Sumber Daya Kesehatan Wirabrata, Kepala Pusjak Kesehatan Global dan Teknologi Kesehatan Bonanza Perwira Taihitu dan perwakilan undangan yang hadir. (Penulis Ripsidasiona/Editor Fachrudin Ali)

Pengajuan Usulan Topik Penilaian Teknologi Kesehatan (PTK)

Komite Penilaian Teknologi Kesehatan (KPTK) menerima usulan topik yang diajukan oleh asosiasi profesi, rumah sakit, BPJS Kesehatan, asosiasi pasien, universitas, industri farmasi/alat kesehatan, pusat studi independen, maupun unit-unit di Kementerian Kesehatan. 

Dalam mengajukan usulan topik, pengusul harus mengisi formulir berikut ini serta melampirkan data pendukung /data set sebagai berikut:

1. Surat pengantar pengajuan usulan dengan kop surat dan/atau cap resmi (bila ada) dari institusi/organisasi pengusul
2. Surat keterangan / perizinan / panduan resmi terkait teknologi yang diusulkan:
   – Surat keterangan izin edar teknologi kesehatan yang diusulkan (misalnya untuk usulan topik tentang obat maka dilengkapi dengan nomor izin edar dari BPOM dan untuk non-obat/alkes dari Ditjen Kefarmasian dan Alkes Kemenkes atau lembaga resmi yang terotorisasi);
   – Panduan tata laksana terkait teknologi kesehatan yang diusulkan (contoh: PNPK, dll)
   – Untuk obat : Sertakan Lampiran halaman Formularium Nasional yang menunjukkan terdaftarnya obat yang diusulkan
   – Untuk alat kesehatan: (1) Foto alat kesehatan yang diusulkan; (2) Dokumen petunjuk penggunaan alat kesehatan yang diusulkan

3. File pendukung terkait komparator/pembanding dari teknologi yang diusulkan (contoh: Nomor Izin Edar, Foto Produk, dll), bila ada

4. Informasi, data, keterangan, dan dokumen pendukung terkait teknologi:
   – Perkiraan biaya satuan penggunaan teknologi per episode sakit atau per pasien atau per tahun penggunaan;
   – Data insidens, prevalensi dan beban penyakit yang terkait dengan teknologi kesehatan yang diusulkan (disertai sumber)
   – Data utilisasi atau data klaim penggunaan teknologi kesehatan (disertai sumber)
   – Publikasi dalam jurnal ilmiah yang relevan dengan topik yang diusulkan yang menyangkut keamanan, efikasi, efektivitas, dan mutu teknologi kesehatan
   – Dokumen yang tidak dipublikasi (grey literature, bila ada) yang relevan dengan topik yang diusulkan;
   – Data pendukung lain yang relevan (misalnya dokumen kebijakan yang selaras dengan teknologi)

Usulan Topik dapat disampaika di tautan berikut : link.kemkes.go.id/UsulanTopikPTKTh2022

Narahubung:

[email protected]

Inisiatif One Health Untuk Dunia Yang Lebih Baik

Bali– Bersamaan dengan pelaksanaan pertemuan Para Menteri Kesehatan Negara G20 yang Kedua (The 2nd Health Minister Meeting), telah dilaksanakan konferensi pers Side Event One Health dengan tema Implementing One Health to Achieve Health Security and Economic Stability di Bali (27/10). Side Event One Health dilaksanakan secara back-to-back dengan forum Health Working Group Kedua yang dilaksanakan pada tanggal 8 Juni 2022 di Lombok.

Pandemi COVID-19 memberikan peringatan kepada dunia dengan dampak yang luas terhadap ekonomi dan kehidupan sosial. Pandemi tidak dapat diatasi secara efektif tanpa koordinasi dan komunikasi kerja sama lintas sektor antara dan di dalam negara terutama melalui pendekatan One Health.

One Health adalah pendekatan pemersatu yang diindikasikan yang bertujuan untuk secara berkelanjutan menyeimbangkan dan mengoptimalkan hubungan erat dan ketergantungan diantara manusia hewan dan ekosistem, mengakui kesehatan hewan peliharaan dan liar, tumbuhan, dan  lingkungan yang lebih luas.

Pendekatan One Health, memobilisasi banyak sektor, disiplin ilmu dan komunitas yang memberikan arahan kepada berbagai tingkatan masyarakat untuk bekerja bersama dalam  mendorong kesejahteraan dan menghadapi ancaman taktis yang mengganggu kestabilan ekosistem. Hal ini diupayakan sambil mengatasi Kebutuhan kolektif akan air bersih, energi, dan udara, langkah penghematan energi dan makanan, serta mengambil tindakan terhadap perubahan iklim, yang berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan. 

“Berdasarkan pengalaman mempelajari respons global terhadap pandemi COVID- 19. Kami menganggap bahwa  forum  G20 akan menjadi forum yang paling tepat  untuk mengambil   cara terbaik untuk menghadapi pandemi saat ini  dan krisis kesehatan di masa depan. Inilah sebabnya mengapa kami memutuskan untuk menyelenggarakan acara side-event tentang One Health bersamaan dengan masa  kepresidenan Indonesia di forum G20,” Ungkap Imran Pambudi, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Menular Direktorat Jenderal P2P Kementerian Kesehatan (27/10).  

Pertemuan Lombok 8 Juni lalu itu menghasilkan dua luaran penting utama. Pertama, Lombok G20  One Health Policy Brief dan Gap Analysis on The One Health Implementation For Zoonotic  Diseases. Kedua, luaran ini telah dikonsultasikan melalui tiga pertemuan pre-event G20 One Health Side Event  dan rangkaian diskusi intensif yang melibatkan  pemangku kepentingan nasional dan  internasional. Hasil dari analisis kesenjangan didasarkan pada kuesioner penilaian mandiri yang dikembangkan oleh Indonesia, dan dianalisis lebih lanjut  oleh One Health Iniciatives oleh WHO.

One Health Iniciatives  adalah suatu Sekretariat Kerja berbagai panel ahli tingkat tinggi yang membahas tentang topik One Health yang diinisiasi WHO. Sekretariat ini juga berfungsi sebagai Sekretariat WHO untuk koordinasi internal (WHO Internal Coordination on One Health), kerjasama antara FAO/UNEP/WHO/WOAH (dikenal dengan istilah quadripartite).

Dalam Lombok G20 Policy Brief, ada tujuh langkah untuk meningkatkan dan optimalisasi kerangka One Health. Pertama, meningkatkan kesadaran. Kedua, mengidentifikasi kesenjangan dan peluang. Ketiga, mengembangkan mekanisme untuk mendukung satu  kerangka kesehatan, tata kelola dan koordinasi secara menyeluruh;  mengembangkan ilmu pengetahuan, dipandu oleh quadripartit, rencana aksi bersama satu kesehatan yang juga berfungsi sebagai cetak biru rencana tindakan. Kemudian yang terakhir adalah menerapkan pendekatan One Health secara nyata, yakni satu kebijakan untuk lebih baik, mencegah,  mendahului dan mendeteksi, mempersiapkan respon terhadap ancaman kesehatan.

“Kami berharap bahwa Lombok One Health Policy Brief akan dapat memandu kita melalui upaya kolektif kita dalam memperkuat arsitektur kesehatan global yang telah menjadi tema sentral Presidensi Indonesia di G20. Kami akan sangat berterima kasih atas dukungan berbagai pemangku kepentingan dalam upaya untuk membuat dunia sebagai tempat tinggal yang lebih baik bagi kita semua,” ungkap Imran lebih lanjut.

(Penulis Ully Adhie M/Editor Fachrudin Ali)

The 2nd HMM Sepakati 6 Aksi Kunci Perkuat Arsitektur Kesehatan Global

Suasana penutupan 2nd Health Minister Meeting G20 di Bali, 28 Oktober 2022. Sumber Biro Komunikasi dan Yanlik Kemenkes

Bali– Pertemuan Kedua Menteri Kesehatan Negara G20 (G20 the 2nd HMM) resmi ditutup. Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin dalam penutupannya mengatakan terlepas dari perbedaan, negara-negara G20 telah bersatu dan berbicara dalam bahasa yang sama yaitu bahasa kemanusiaan yang tidak mengenal batas dalam memperkuat arsitektur kesehatan global (Jumat, 28/10).

Terdapat 6 Aksi Kunci yang dihasilkan dalam pertemuan kedua para menteri kesehatan G20 yang dituangkan dalam dokumen teknis. Aksi kunci tersebut telah diterima oleh setiap negara G20 dan berkomitmen untuk melaksanakannya. Hal ini menjadi bagian dari pencegahan, kesiapsiagaan, dan respons terhadap pandemi di masa depan.

Aksi kunci pertama menghasilkan kesepakatan pembentukan dana kesiapsiagaan dan respon pandemi melalui Dana Perantara Keuangan (FIF). Ini merupakan pencapaian besar dan nyata dari G20 yang membutuhkan dukungan, kreativitas, dan koordinasi di seluruh negara.

“Kami menghargai kolaborasi yang kuat antara kesehatan dan keuangan. Kami senang dengan kesepakatan untuk melanjutkan upaya penguatan Ketahanan Kesehatan Global melalui JFHTF,” ucap Menkes Budi.

Aksi kunci kedua, pasca evaluasi Access to COVID-19 Tools Accelerator (ACT-A) Initiative, negara-negara G20 bersepakat meneruskan dan memperkuat mekanisme ACT-A sebagai sebuah entitas formal untuk memperluas akses dan memobilisasi berbagai sumber daya dalam menghadapi pandemi selanjutnya. Termasuk membangun mekanisme untuk mengakses Dana Perantara Keuangan (FIF) bagi semua negara.

Aksi Ketiga, Presidensi G20 Indonesia membuka jalan untuk penguatan surveilens genomik sebagai bagian penting dari upaya pencegahan, kesiapsiagaan, dan respon terhadap pandemi. Semua laboratorium genomik di seluruh negara akan bekerja bersama membangun suatu sistem surveilans sebagai kewaspadaan dini menghadapi pandemi ke depan.

Aksi kunci keempat terkait sertifikat perjalanan dalam bentuk digital, yang berisikan informasi terkait vaksin dan hasil tes yang dapat dikembangkan pemanfaatannya lebih luas lagi.

Indonesia juga berkomitmen untuk mendorong digitalisasi dokumen pelaku perjalanan menjadi bagian dalam International Health Regulation (IHR) yang akan disuarakan saat World Health Assembly.

Aksi kunci kelima, dilakukan analisa kesenjangan dan pemetaan kondisi saat ini terkait jejaring pusat penelitian dan manufaktur, yang selanjutnya akan diteruskan oleh Presidensi yang akan dipimpin India.

Indonesia dan 6 negara anggota G20 terutama yang berada di kawasan selatan, telah menyepakati pembentukan jejaring pusat penelitian dan manufaktur untuk Vaksin, Terapi/Pengobatan dan Diagnostik (VDT).

Aksi kunci ke 6 yakni capaian nyata dari pertemuan side event dengan call for action peningkatan pembiayaan untuk penanggulangan Tuberkulosis, komitmen untuk mengimplementasikan inisiatif One Health, serta meningkatkan kapasitas, deteksi, dan respon AMR.

Sebanyak 80% penyakit yang menyebabkan pandemi merupakan penyakit yang bersumber hewan/zoonotik, sehingga diperlukan penguatan pengawasan inisiatif One Health sebagai bentuk kewaspadaan dalam merespons pandemi.

Dalam kesempatan ini Menkes Budi menyampaikan untuk melanjutkan upaya Indonesia, tongkat estafet Kepresidenan G20 diberikan ke India. “Kami berharap untuk terus berkolaborasi di bawah kepemimpinan India pada 2023. Dengan ini saya secara resmi menutup pertemuan kedua Menteri Kesehatan G20,” tutur Menkes.

Selanjutnya berbagai kesepakatan pada dokumen teknis ini akan dibawa pada pembahasan Pertemuan Para Menteri Keuangan dan Menteri Kesehatan serta diteruskan pada Konferensi Tingkat Tinggi pertemuan Kepala Negara G20 untuk menjadi kesepakatan bersama negara G20.

Penutupan gelaran the 2nd HMM bertepatan dengan perayaan Hari Lahir Sumpah Pemuda yang diperingati tiap tanggal 28 Oktober. (Penulis Faza & Ahdiyat F/Editor Fachrudin Ali)

Penguatan Jejaring Demi Kebijakan Kesehatan Berkualitas

Bogor– Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengadakan pertemuan Penguatan Jejaring Kebijakan Kesehatan di Bogor (26-28 Oktober 2022). Acara dibuka Sekretaris BKPK Nana Mulyana.

Dalam sambutannya Nana berharap pertemuan ini untuk memperkuat forum kemitraan dalam pengambilan kebijakan, khususnya para pengambil kebijakan dengan tim penyusun kebijakan.

BKPK punya peranan besar untuk menyinergikan dan mengintegrasikan tercapainya sasaran pembangunan kesehatan. Hal ini tidak akan tercapai tanpa kerjasama lintas kementerian, lintas unit, bahkan melibatkan semua stakeholders baik di pusat maupun di daerah.

Bahkan BKPK juga diberikan mandatori untuk mengawal Kabupaten/Kota bisa mengadopsi transformasi kesehatan yang saat ini sedang digulirkan. “Hal ini tidak akan terwujud tanpa penguatan jejaring kebijakan,” pungkasnya.

Nirmala Ahmad Ma’ruf Project Management Office (PMO) BKPK sekaligus penyelenggara pada kegiatan ini memperkenalkan Indonesia Health Policy Network (IHPNet) yakni program Jejaring kebijakan berbasis kemitraan sebagai upaya meningkatkan kualitas dan pemanfaatan rekomendasi kebijakan dengan mengkoordinasikan berbagai aktor kebijakan.

Lebih lanjut Ma’ruf mengatakan tujuan diadakanya acara ini untuk membangun jejaring kebijakan kesehatan khususnya untuk menjembatani pengambil kebijakan serta analis kebijakan untuk membangun formulasi kebijakan yang berkualitas.

Dukungan penguatan jejaring kebijakan ini datang dari Koordinator Jaringan Kesehatan Indonesia Prof. dr. Laksono Trisnantoro,  BAPENAS, CISDI, WHO SEARO, WHO Representatif Indonesia serta dari BRIN yang terdiri dari berbagai kedeputian maupun dari organisasi riset (OR) khususnya OR Kesehatan.

“Ini baru awal mendiseminasikan peran dari BKPK, mensosialisasikan BKPK dan membangun komitmen kedepan untuk bekerjasama memformulasikan rekomendasi kebijakan yang baik melalui penguatan jejaring ini,” jelas Ma’ruf.

Acara yang di inisiasi PMO BKPK ini juga dihadiri secara daring oleh Bappenas, WHO Representatif Indonesia, WHO SEARO serta dihadiri secara luring Sri Nuryanti dari Direktorat Kebijakan Riset dan Inovasi Daerah (Dit. Krida BRIN). (Penulis Nowo/Editor Fachrudin Ali)

Konsensus Plan of Action G20 Hadapi Pandemi Akan Datang

Bali– Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin saat memberikan keterangan di acara Press Conference G20 2nd Health Minister Meeting di Bali (27/10) mengemukakan ada lima luaran yang dihasilkan dari pertemuan G20 bidang kesehatan yakni membangun pendanaan untuk pandemi kedepan. “Dan kita telah sukses melakukannya, ungkap Menkes Budi.

Kemudian, membangun mekanisme dalam penggunaan pendanaan untuk memberikan akses ke vaksin, terapeutik, obat-obatan dan diagnostik (VTD) ke berbagai negara. Juga membangun jejaring kerjasama genome sequencing secara global sebagai early warning measure jika patogen muncul di suatu negara. Hal ini dapat dengan cepat mengidentifikasi, mendisain diagnosis, obat, dan vaksin untuk penyakit tersebut. Selain itu, menyepakati paspor kesehatan berstandar global yang dapat digunakan publik selama pandemi sehingga tetap dapat bepergian ke berbagai wilayah. Selain itu, mendistribusikan kembali kapasitas riset dan pengembangan untuk vaksin, terapeutik, dan diagnostik (VTD) di seluruh dunia

Menurut Menkes Budi untuk menghasilkan lima luaran tersebut, pertemuan G20 bidang kesehatan dibagi menjadi tiga grup pertemuan Kelompok Kerja Kesehatan (Health Working Group/HWG). Pertemuan HWG pertama membahas teknologi digital dalam harmonisasi standar protokol kesehatan global. Selanjutnya, pertemuan HWG kedua membahas luaran 1, 2 dan 3. Pertemuan HWG ketiga membahas upaya mendistribusikan kembali kapasitas riset dan pengembangan untuk vaksin, terapeutik, dan diagnostik (VTD).

Menkes Budi menyampaikan dalam pertemuan G20 bidang kesehatan, diadakan juga Side Events melibatkan lembaga-lembaga non pemerintah untuk bersama-sama membahas permasalahan kesehatan global, yaitu tuberkulosis dipimpin oleh organisasi Stop TB. “Jumat besok kita harapkan dihasilkannya dokumen berisi upaya meningkatkan pendanaan untuk mengakhiri TB di 2030,” harap Menkes.

Side Event Kedua dengan topik One Health dipimpin empat organisasi internasional yaitu WHO, UNEF, FAO, dan WOAH. Menkes juga menyatakan setiap pandemi ditemukan penyakit biasanya berasal dari binatang yang menularkan ke manusia seperti halnya terjadi saat pandemi Covid-19 dengan adanya virus Avian Influenza, MERSCoV dan sebagainya. Adanya konsep One Health untuk mempersiapkan secara dini pandemi berikutnya.

Side Event Ketiga membahas Anti Microbial Resistance (AMR) dipimpin Fleming Fund untuk memastikan bahwa tidak adanya overused dalam menggunakan antibiotik (secara berlebihan/tidak sesuai aturan). Penggunaan Antibiotik yang tidak sesuai dapat membuat bakteri bermutasi sehingga antibiotik tersebut menjadi tidak efektif lagi.

“Kita mengharapkan konsensus dari negara-negara anggota G20 pada isu kesehatan global dan terciptanya ‘Plan of Action’ untuk mempersiapkan pandemi yang akan datang,” tegas Menkes. Menkes Budi optimis walau saat ini tensi geopolitik meningkat karena perang Rusia dan Ukraina, tapi tetap percaya bahwa kesehatan global lebih penting. “Dan kita harus fokus pada hal ini, ujarnya lebih lanjut. (Penulis Kurniatun K/Editor Fachrudin Ali)

InaRI Expo Platform Mengeksplorasi Jejaring Kemitraan Baru

Cibinong– Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI turut berpartisipasi dalam pameran riset dan inovasi “Indonesia Research & Innovation Expo 2022” (InaRI Expo 2022) yang diselenggarakan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Pameran ini digelar di Gedung ICC, Cibinong Science Center, Jawa Barat, dari 27-30 Oktober 2022. 

InaRI Expo merupakan pameran yang digelar secara periodik dengan menampilkan berbagai hasil riset dan inovasi karya anak bangsa. Tema yang diusung tahun ini adalah “Digital Blue, & Green Economy: Riset dan Inovasi untuk Kedaulatan Pangan dan Energi.

Di bawah koordinasi BKPK, stand pameran Kementerian Kesehatan menampilkan berbagai produk inovasi dari unit eselon satu di lingkungan Kementerian Kesehatan. Di antaranya aplikasi Pedulilindungi, aplikasi Perizinan Distribusi Alat Kesehatan, Alkes Mobile, Whole Genome Sequencing di Indonesia, Sero Survei, Biomedical And Genome Science Initiative (BGSI), hasil Global Adult Tobacco Control 2021 dan hasil Global Youth Tobacco Survey 2019.

Enam pilar transformasi kesehatan yang saat ini sedang diusung Kementerian Kesehatan turut ditampilkan. Hal itu bertujuan untuk membumikan transformasi di bidang kesehatan yang tengah dilakukan Kementerian Kesehatan ke masyarakat luas.

Kepala BRIN Laksana Tri Handoko mengatakan InaRI Expo 2022 diharapkan menjadi etalase kemajuan riset dan inovasi teknologi di Indonesia. “Melalui InaRI Expo 2022, BRIN juga mengajak seluruh periset dan innovator dari berbagai lembaga untuk berbagi kesuksesan yang menginspirasi para periset dan inovator generasi berikutnya”, ungkapnya.

Lebih lanjut Tri Handoko menyampaikan pergelaran ini tidak hanya dimaksudkan untuk menjadi ajang pamer dari berbagai produk riset dan inovasi. Namun, juga sebagai platform agar seluruh pihak dapat berbagi, mengeksplorasi jejaring kemitraan baru, dan mendorong terjadinya kolaborasi dengan banyak pihak.

Diungkapkan Ketua Pelaksana InaRI Expo 2022 Irwadhi Marzuki, animo terhadap gelaran InaRI Expo 2022 sangat luar biasa. Ini dibuktikan dengan jumlah kepesertaan pameran yang mencapai 239 peserta.

Adapun dari kepesertaan tersebut terdiri dari perwakilan BUMN, perwakilan BUMD, ASIA-India Start Up Festival, perwakilan negara G20, perusahaan swasta nasional, perguruan tinggi, dan sekolah-sekolah setingkat SMP-SMA.

Sementara itu, tercatat sebanyak 151 orang pengunjung mendatangi stand Kementerian Kesehatan. Tak hanya mendapatkan pelayanan informasi, pengunjung juga mendapatkan buku terbitan LPB (Lembaga Penerbit BKPK) dan mengisi survei branding BKPK. (Penulis Ripsidasiona/Editing Fachrudin Ali)

12,541FansLike
3,200,000FollowersFollow
4,251,000FollowersFollow
3,251,580FollowersFollow
9,320SubscribersSubscribe