ANEMIA PADA REMAJA PUTRI: TANTANGAN PENCEGAHAN MELALUI KONSUMSI TABLET TAMBAH DARAH

30

Penulis: Putri Nabila, Mahasiswa Poltekkes Jakarta 3 (Mahasiswa Magang di BKPK Kemenkes

Hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan bahwa masih banyak remaja putri yang belum mendapatkan Tablet Tambah Darah (TTD) sebagai bagian dari upaya pencegahan anemia. Data menunjukkan bahwa 54,8% remaja putri belum pernah mendapatkan TTD, sementara akses TTD masih sangat bergantung pada sekolah dengan proporsi mencapai 88,9–90,3%.

Masih dari hasil survei yang sama, 51,4% remaja putri tidak mengonsumsi TTD karena tidak mengetahui manfaatnya. Angka ini menunjukkan bahwa selain persoalan distribusi program, pemahaman remaja mengenai pentingnya konsumsi TTD juga masih menjadi tantangan.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa upaya pencegahan anemia pada remaja putri tidak hanya bergantung pada ketersediaan suplemen zat besi, tetapi juga pada keberhasilan edukasi kesehatan dan perubahan perilaku.

Faktor Penyebab Rendahnya Konsumsi TTD

Berdasarkan temuan SKI 2023 dan berbagai kajian kesehatan masyarakat, terdapat beberapa faktor yang memengaruhi rendahnya konsumsi TTD pada remaja putri.

Pertama, ketergantungan distribusi pada institusi sekolah. Sebagian besar TTD disalurkan melalui program kesehatan sekolah sehingga remaja putri yang tidak berada dalam sistem pendidikan formal berpotensi tidak terjangkau program.

Kedua, rendahnya tingkat pengetahuan remaja tentang anemia dan manfaat TTD. Banyak remaja belum memahami bahwa anemia bukan sekadar kondisi mudah lelah atau pucat biasa, melainkan gangguan kesehatan yang dapat berdampak serius jika dibiarkan. kurangnya pemahaman ini membuat sebagian besar remaja putri tidak merasa perlu mengonsumsi TTD secara teratur karena mereka tidak menyadari bahwa kebiasaan yang terbentuk sejak remaja akan memengaruhi kondisi kesehatan mereka di masa depan, termasuk saat hamil dan melahirkan. Padahal, pencegahan jauh lebih mudah dan efektif dilakukan sejak dini daripada menangani dampaknya di kemudian hari.

Baca Juga  Malas Gerak Tingkatkan Kegemukan dan Risiko Penyakit

Ketiga, faktor kebiasaan dan cara pandang remaja terhadap suplemen. Banyak remaja merasa tidak nyaman atau enggan mengonsumsi TTD secara rutin karena efek sampingnya, seperti mual, rasa pahit di lidah, hingga bau amis yang menyengat. Rasa tidak nyaman ini akhirnya menjadi penghalang utama yang membuat remaja kerap sengaja menghindarinya. Masalah ini diperparah oleh anggapan keliru bahwa TTD adalah “obat” yang hanya perlu dikonsumsi saat sakit, padahal fungsinya adalah sebagai suplemen pencegah agar tubuh tetap sehat. Tanpa informasi yang memadai tentang cara mengurangi rasa mual, misalnya dengan mengonsumsinya setelah makan atau disertai buah-buahan, keengganan ini akan terus berlanjut. Jika dibiarkan, cadangan zat besi dalam tubuh tidak akan tercukupi, sehingga risiko anemia akan terus mengancam hingga kelak saat mereka hamil dan melahirkan.

Keempat, dukungan lingkungan yang belum optimal. Peran keluarga, guru, dan tenaga kesehatan sangat penting dalam membangun kebiasaan konsumsi TTD secara teratur.

Baca Juga  GAS TERTAWA DAN CELAH KEBIJAKAN KESEHATAN PUBLIK

Mengapa TTD Penting?

Anemia merupakan kondisi ketika kadar hemoglobin dalam darah berada di bawah normal sehingga kemampuan darah dalam membawa oksigen ke seluruh tubuh menjadi berkurang. Pada remaja putri, kondisi ini dapat menimbulkan berbagai dampak yang tidak hanya dirasakan saat ini, tetapi juga berpotensi terbawa hingga masa kehamilan dan persalinan kelak. Dampak tersebut meliputi perdarahan sebelum maupun saat melahirkan yang mengancam keselamatan ibu dan bayi, pertumbuhan janin terhambat (PJT), kelahiran prematur, berat badan lahir rendah (BBLR), gangguan tumbuh kembang seperti stunting dan gangguan neurokognitif, hingga risiko anemia pada bayi sejak usia dini yang dapat meningkatkan angka kesakitan dan kematian pada masa neonatal.

TTD mengandung zat besi dan asam folat yang berperan penting dalam pembentukan sel darah merah serta menjaga keseimbangan kebutuhan zat besi dalam tubuh. Oleh karena itu, remaja putri dianjurkan mengonsumsi satu tablet TTD setiap minggu sebagai bagian dari upaya pencegahan anemia.

Selain konsumsi TTD, pencegahan anemia juga perlu didukung dengan pola makan bergizi seimbang, seperti mengonsumsi makanan sumber zat besi (daging, hati, sayuran hijau), memperbanyak asupan vitamin C untuk membantu penyerapan zat besi, serta menjaga pola hidup sehat.

Baca Juga  Mengenal Cara Deteksi Varian SARS-CoV-2 dengan WGS dan PCR-SGTF

Rekomendasi Aksi untuk Meningkatkan Konsumsi TTD

Upaya meningkatkan konsumsi TTD pada remaja putri memerlukan pendekatan yang komprehensif dan melibatkan berbagai pihak.

Pertama, memperluas jalur distribusi TTD melalui fasilitas kesehatan seperti puskesmas, posyandu remaja, serta kegiatan berbasis komunitas sehingga dapat menjangkau remaja di luar sekolah.

Kedua, memperkuat edukasi kesehatan remaja melalui media yang sesuai dengan karakteristik generasi muda, seperti media sosial, kampanye digital, dan pendekatan peer educator.

Ketiga, meningkatkan dukungan lingkungan dari keluarga, guru, dan tenaga kesehatan untuk mendorong kepatuhan konsumsi TTD secara rutin.

Keempat, mengintegrasikan program TTD dengan kegiatan kesehatan remaja di sekolah dan masyarakat, sehingga pesan pencegahan anemia dapat disampaikan secara konsisten.

Penutup

Temuan SKI 2023 menunjukkan bahwa pencegahan anemia pada remaja putri masih menghadapi berbagai tantangan, baik dari sisi distribusi program maupun pemahaman masyarakat. Jika tidak diatasi, anemia pada remaja dapat berdampak pada kesehatan, produktivitas, serta kualitas sumber daya manusia di masa depan.

Pencegahan anemia sebenarnya dapat dimulai dari langkah sederhana, seperti mengonsumsi TTD secara rutin, menjaga pola makan bergizi seimbang, serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesehatan sejak usia remaja. Dengan dukungan berbagai pihak, diharapkan upaya ini dapat membantu menciptakan generasi muda yang lebih sehat, kuat, dan produktif.