web analytics
Header Ads
Beranda Blog Halaman 69

Mengenal Cara Deteksi Varian SARS-CoV-2 dengan WGS dan PCR-SGTF

Pada tanggal 16 Desember 2021, temuan kasus pertama COVID-19 varian Omicron di Indonesia diumumkan secara resmi oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin. Kala itu seorang petugas kebersihan yang bekerja di RSDC Wisma Atlet Kemayoran Jakarta terkonfirmasi Omicron tepat sehari sebelumnya.

Di awal tahun 2022, kasus konfirmasi Omicron di Indonesia semakin bertambah. Tercatat dari data GISAID total kasus konfirmasi Omicron hingga 13 Februari 2022 sebanyak 5.106 kasus. Seiring dengan penyebaran COVID-19 varian Omicron yang cepat, tren kasus COVID-19 di Indonesia terus mengalami peningkatan hingga pertengahan Februari 2022.

Deteksi Dini Varian SARS-CoV-2

Varian SARS-CoV-2 Omicron mulai menjadi varian dominan di Indonesia. Menghadapi fenomena COVID-19 yang terjadi saat ini, Kementerian Kesehatan berupaya meningkatkan pelaksanaan deteksi dini kemunculan varian baru virus SARS-CoV-2.

Seperti yang diketahui, pada dasarnya virus secara alamiah akan terus berubah melalui mekanisme mutasi. Terjadinya mutasi dapat berdampak terhadap penularan, keparahan penyakit, vaksin, pengobatan, dan penanganan kesehatan masyarakat. Oleh karena itu monitoring dan pengawasan harus terus dilakukan terhadap mutasi yang muncul sebagai langkah antisipatif.

Sebelumnya identifikasi mutasi virus SARS-CoV-2 di Indonesia telah dilakukan dengan metode Whole Genome Sequencing (WGS). Namun saat ini pemerintah juga menggencarkan deteksi dini dengan reagen PCR metode SGTF (S-Gene-Target-Failure) yang dinilai mampu memberikan indikasi cepat bahwa kasus yang terkonfirmasi merupakan varian Omicron.

Apa itu WGS dan SGTF?

WGS merupakan proses menentukan urutan DNA lengkap dari genom SARS-CoV2 (±30.000 bp) dengan menggunakan teknologi Next-Generation-Sequencing. Selain digunakan untuk mengidentifikasi varian, WGS dapat pula dimanfaatkan untuk keperluan lain seperti pengembangan vaksin, diagnostik, dan menentukan pola transmisi serta kekerabatan.

Khususnya untuk varian Omicron, terdapat posisi mutasi khas yaitu delesi asam amino gen S posisi 69/70. Posisi mutasi tersebut bisa dikenali dengan gagalnya deteksi dengan metode PCR. Kondisi tersebut dikenali dengan istilah SGTF (S-Gene-Target-Failure) yang kemudian digunakan oleh WHO sebagai panduan skrining varian/mutasi. Metode SGTF dapat mendeteksi varian genetika lebih cepat jika dibandingkan dengan WGS. Tetapi hanya varian yang sudah diketahui atau varian tertentu seperti Omicron. Sedangkan WGS dapat mengidentifikasi semua mutasi/varian, bahkan yang belum diketahui sebelumnya. Identifikasi Omicron dengan SGTF hanya membutuhkan rentang waktu 4-6 jam setelah pengambilan sampel sementara itu dengan tes WGS membutuhkan waktu paling cepat 3-5 hari. (Ripsidasiona)

Menkes Lantik Tiga Pejabat Tinggi Pratama Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan

Jakarta – Menteri Kesehatan, Budi G. Sadikin melantik dan mengambil sumpah jabatan 47 Pejabat Pimpinan Tinggi Madya dan Pratama di lingkungan Kementerian Kesehatan pada Kamis, 10 Februari 2022. Ada tiga Pejabat Tinggi Pratama di lingkungan Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan yang dilantik dan diambil sumpah pada hari ini, yaitu Dr. Drs. Nana Mulyana, M.Kes sebagai Sekretaris Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, Dra. Pretty Multihartina, Ph.D. sebagai Kepala Pusat Kebijakan Upaya Kesehatan, dan Dr. I Gede Made Wirabrata, S.Si., Apt., M.M., M.H. sebagai Kepala Pusat Kebijakan Sistem Ketahanan Kesehatan dan Sumber Daya Kesehatan.

Dalam sambutannya Menteri Kesehatan menyampaikan bahwa pelantikan hari ini adalah kelanjutan dari transformasi sektor kesehatan yang diamanahkan Presiden. Menkes menginstruksikan agar pejabat yang baru dilantik segera mempelajari tugas pokok dan fungsi unit kerja, memahami dengan baik semua aspek yang terkait, termasuk tujuan, sasaran, target indikator yang harus dicapai. Menkes Budi menekankan pentingnya koordinasi yang erat dengan berbagai pemangku kepentingan agar target yang dicanangkan dalam program transformasi kesehatan nasional dapat dicapai pada tahun 2024 mendatang.

Secara khusus Menteri Kesehatan memberikan pengarahan tentang pengelolaan laboratorium selama masa transisi. “Laboratorium Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan akan berada dibawah Pusat Kebijakan Sistem Ketahanan Kesehatan dan Sumber Daya Kesehatan sampai kita menyelesaikan struktur organisasi mengenai UPT-UPT yang tadinya ada dibawah Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan,” tuturnya.  

Pada kesempatan ini Menkes Budi juga mengungkapkan bahwa para pimpinan yang dilantik telah menandatangani pakta integritas. Menurut Menkes hal ini sangat penting bagi organisasi Kementerian Kesehatan karena para pimpinan ini telah menyanggupi untuk tidak melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme. “Saya yakin dan percaya bahwa Saudara-saudara akan mewujudkan tekad untuk membangun Kementerian Kesehatan yang lebih bersih, lebih profesional, dan berintegritas, yang akan menjadi contoh bagi kementerian dan lembaga lainnya di Pemerintah Republik Indonesia,” pesan Menkes Budi menutup sambutannya.

Pelantikan pejabat tinggi pada hari ini memberikan tugas dan amanah baru bagi tiga Kepala Pusat Litbang yang sebelumnya bertugas di Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Para Pimpinan Tinggi yang mendapat tugas baru tersebut adalah Dr. dr. Vivi Setiawaty, M.Biomed. sebagai Direktur Sumber Daya Manusia, Pendidikan, dan Umum RSPI dr. Sulianti Saroso Jakarta; Sugianto, SKM, M.Sc.PH sebagai Sekretaris Direktorat Jenderal Tenaga Kesehatan; dan Ir. Doddy Izwardy, M.A. sebagai Direktur Peningkatan Mutu Tenaga Kesehatan.  Penulis berita: Dian Widiati

Vaksinasi Booster BP Jamsostek, Tidak Ada KIPI

Jakarta, – Vaksinasi booster Covid-19 untuk karyawan BPJS Ketenagakerjaan (BP Jamsostek) berlangsung aman dan lancar. Dalam pelaksanaannya, pihak BP Jamsostek telah menyiapkan sarana prasarana dan dukungan logistik, termasuk SDM yang sangat memadai. Hal tersebut disampaikan oleh Sugianto, Kepala Puslitbang Humaniora dan Manajemen Kesehatan (HMK), Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan. “Ini menjadi sesuatu yang patut kita contoh dan berikan apresiasi,” ujarnya disela-sela memantau kegiatan tersebut, Sabtu (5/2/2022) di Plaza BP Jamsostek.

Sugianto menambahkan, agar tidak ragu atau cemas terhadap vaksin Covid-19, karena apapun jenis vaksinnya sudah aman. “Untuk masyarakat secara umum, sekali lagi mari kita bersama-sama sukseskan pelaksaan vaksinasi, khususnya pada kegiatan vaksinasi booster, dan mari kita tetap patuh pada protokol kesehatan dengan baik,” pesannya.

Sementara itu, Putri dari RS Jakarta melaporkan tidak ada KIPI pasca vaksinasi. Namun, adanya peserta yang memang harus ditunda vaksinasi. Hal tersebut dikarenakan adanya kondisi kesehatan seperti hipertensi. Bila pasien setelah istirahat dan minum obat, hasil tekanan darahnya menurun akan diijinkan untuk vaksinasi. Namun bila pasien tetap diatas angka 200, maka vaksinasinya ditunda.

Pada akhir kegiatan, M.Rijadi wewakili Puslitbang HMK mengatakan bagi karyawan yang belum bisa hadir, BP Jamsostek dapat menghubungi Puskesmas Setiabudi atau Klinik Nayaka. Sehingga diharapkan karyawan yang sesuai dengan persyaratan bisa divaksinasi booster. “Mengingat saat ini angka kenaikan kasus positif meningkat, vaksinasi booster untuk mencegah penularan terutama untuk varian baru,” tambahnya.

Selanjutnya, Budi mewakili BP Jamsostek mengatakan, selama dua hari pelaksanaan vaksinasi ini telah mencapai sebanyak 1375 karyawan yang telah divaksin. “Dengan adanya vaksinasi ini dapat mencegah peningkatan kasus di BP Jamsostek. Upaya ini juga untuk menekan angka kasus di Jakarta,” ujar Budi, menutup kegiatan. (Faza Nur Wulandari)

Tangkal Transmisi Covid-19, Sebanyak 1.914 Karyawan BP Jamsostek Mendapat Vaksin Booster

Jakarta – “Kita juga menyadari saat ini terjadi peningkatan kasus. Oleh karena itu, kami berharap vaksinasi ini merupakan salah satu upaya untuk menangkal transmisi Covid-19. Namun tentunya tidak mungkin hanya dari upaya vaksinasi saja, tetap harus diimbangi dengan protokol kesehatan,” ungkap Sugianto, Kepala Puslitbang Humaniora dan Manajemen Kesehatan (HMK) Kementerian Kesehatan, pada pelaksanaan vaksinasi booster di Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan (BPJAMSOSTEK) Jakarta, Jumat (4/2/2022).

Sebagai langkah pemerintah dalam mempercepat herd immunity, Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesehatan melalui Puslitbang HMK memfasilitasi kegiatan vaksinasi massal diselenggarakan BPJAMSOSTEK selama dua hari, 4-5 Februari 2022. Kegiatan ini disasarkan pada sejumlah 1.914 karyawan BPJAMSOSTEK dengan menggunakan vaksin AstraZeneca sebagai booster.

Direktur Umum dan SDM BPJAMSOSTEK, Abdur Rahman Irsyadi mengatakan bahwa pelaksanaan vaksinasi booster diharapkan dapat meningkatkan imunitas para karyawan dan kegiatan dapat terus berlanjut hingga ke cabang daerah.

“Kita berharap kegiatan ini dapat terus kontinyu hingga ke daerah-daerah. Dan kita akan terus bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan dan Dinas Kesehatan di Kabupaten/Kota,” terang Abdur Rahman saat membuka acara secara resmi. Pelaksanaan vaksinasi dosis lanjutan ini melibatkan 40 tenaga kesahatan dengan membentuk delapan tim vaksinasi. Tak hanya itu, turut berperan serta tim pendukung dari Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan, Pusat Data dan Informasi Kemenkes, Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Suku Dinas Kesehatan Kota Administratif Jakarta Selatan, Puskesmas Kecamatan Setiabudi, tim vaksinator dari RS Bakti Mulya dan Klinik Nayaka, serta RS Fatmawati dan Pertamina sebagai rujukan jika terjadi KIPI. (Ripsidasiona)

Vaksin Covid19, Tiket Menuju Kehidupan Normal

Oleh : Ratih Dian Saraswati, M.Biomed

Sejak hadirnya virus Covid-19 pada awal tahun 2020 yang hingga pertengahan tahun 2021 ini belum usai bahkan bertambah buruk dengan munculnya varian baru covid 19, Banyak orang kemudian berharap pada vaksin. Vaksin lah yang mampu meredakan badai Covid yang melanda dunia. Seiring dengan teknologi yang telah teramat maju, proses pembuatan vaksin kini menjadi lebih singkat. Di awal Januari 2021, CDC dan WHO telah menyetujui penggunaan berbagai merk vaksin Covid.

Meski banyak orang berharap agar vaksinasi segera dilakukan, tidak sedikit orang yang meragukan keamanan vaksin yang akan digunakan. Ada beberapa pertanyaan yang sering muncul terkait keamanan vaksin.

Sama seperti halnya berbagai jenis vaksin yang telah umum digunakan, vaksin covid 19 harus melalui serangkaian penelitian yang ketat melalui berbagai uji prekilinis hingga uji klinis yang dilakukan diberbagai wilayah di dunia untuk menjamin keamanan vaksin saat digunakan.

Proses penelitian dan pembuatan vaksin covid 19 diawali dengan riset menggunakan sel serta uji menggunakan hewan coba di laboratorium, biasa dikenal sebagai uji preklinis. Jika hasil pengujian berjalan baik, langkah selanjutnya penelitian penggunaan vaksin pada manusia yang biasa dikenal sebagai uji klinis.

Semua vaksin Covid yang saat ini resmi digunakan diseluruh dunia merupakan vaksin yang lolos berbagai persyaratan uji tadi. Semua vaksin dinyatakan efektif dalam mencegah keparahan penyakit yang disebabkan virus Sars cov 2 selain itu berdasarkan hasil uji klinis dilaporkan sangat sedikit penerima vaksin yang mengalami efek samping akibat vaksinasi.

Apakah yang menyebabkan vaksin harus melewati serangkaian uji tersebut? Bahan apakah yang terdapat didalam vaksin hingga vaksin mampu memberikan perlindungan terhadap serangan virus sekaligus menyebabkan beberapa efek samping?

Bahan bahan yang terdapat didalam vaksin berbeda beda tergantung tipe vaksin namun secara umum, didalam vaksin terdapat

  1. Komponen protein virus; potongan kode genetic virus (DNA atau mRNA) atau sejumlah kecil virus yang dimatikan atau dilemahkan
  2. Bahan yang digunakan untuk meningkatkan respon imun (adjuvant)
  3. Bahan yang digunakan untuk mencegah vaksin terkontaminasi bakteri (pengawet)
  4. Larutan isotonis (saline) steril untuk injeksi.

Secara umum vaksin aman digunakan untuk masyarakat, meskipun demikian ada beberapa golongan orang yang sebaiknya tidak di beri vaksin terkait kondisi kesehatannya saat ini. Misalnya orang yang alergi terhadap komponen yang terdapat didalam vaksin, orang yang sedang mengalami sakit parah, orang dengan system imun yang lemah seperti pada penderita HIV serta orang yang memiliki Riwayat penyakit pembekuan darah. Orang orang dengan kondisi tersebut sebaiknya konsultasi dengan dokter terlebih dahulu.

Orang yang telah di vaksinasi, biasanya mengalami efek ringan vaksin seperti sakit di area yang disuntik atau demam dan sedikit merasa lemas. Hal tersebut merupakan reaksi normal, dan merupakan pertanda bahwa tubuh sedang memberikan respon dan membentuk antibodi sesuai dengan yang diharapkan. Namun ada juga orang yang tidak merasakan apapun setelah vaksinasi. Apakah pada orang yang tidak merasakan efek apapun, vaksin tetap dianggap bekerja membentuk antibody? Hasil penelitian yang dilakukan oleh CDC, dan dimuat pada MMWR Weekly Report memperlihatkan tidak ada pengaruhnya antara orang yang merasakan efek ringan vaksin dengan orang yang tidak merasakan apapun. Antibodi tetap terbentuk sesuai dengan fungsi vaksin yang disuntikkan.

Lalu, mengapa, pada sebagian orang vaksin memberi pengaruh ringan hingga berat, dan pada sebagian lagi tidak merasakan efek pasca vaksin.

Vaksin berfungsi untuk melatih tubuh agar mengenali pathogen penyebab penyakit, baik itu virus atau bakteri. Agar dapat bekerja sesuai fungsinya, maka, vaksin dibuat sedemikian rupa agar menyerupai dengan pathogen aslinya (mimic) namun sekaligus aman untuk tubuh. Oleh karena itu, hanya bagian dari pathogen yang digunakan untuk membuat vaksin, misalnya protein nya saja, atau DNA nya saja atau virus utuh keseluruhan namun virus tersebut telah dimatikan. Bagian dari pathogen ini disebut sebagai antigen.

Ketika pertamakali vaksin disuntikkan ke tubuh melalui lengan misalnya, antigen tersebut kemudian dibawa masuk kedalam sel tubuh, lalu di dalam sel tersebut, informasi yang diperoleh diubah menjadi protein virus, lalu kemudian dimunculkan ke permukaan sel. Kemudian sel sel imun secara simultan terlibat hingga akhirnya tubuh membentuk pertahanan terhadap virus. Respon simultan dari sel sel imun ini berlangsung selama beberapa jam atau beberapa hari, dan terkadang menyebabkan gejala demam, atau pembengkakan di area yang disuntik. Proses ini sebenarnya merupakan proses alami yang dirancang oleh tubuh untuk membantu sistem imun bekerja. Sistem imun melakukan komunikasi melalui pembuluh darah, agar pembentukan sistem imun berlangsung lebih cepat, diperlukan pembuluh darah yang lebih lebar itulah mengapa di area suntikan terasa bengkak dan sakit (sinyal inflamasi). Jika sinyal inflamasi yang terbentuk cukup kuat, biasanya disertai demam. Hal ini memicu sistem kekebalan tubuh untuk berespon lebih kuat, menyatakan bahwa demam yang terbentuk perlu diatasi secara sistemik. Gejala gejala ini kemudian akan reda dalam beberapa hari. Hal ini disebabkan respon tubuh setelah vaksinasi hanya sekedar melawan antigen sejumlah yang dimasukkan kedalam tubuh.

Inilah yang membedakan antara vaksinasi dengan infeksi yang diperoleh secara alami. Infeksi alami menyebabkan jumlah virus (antigen) yang masuk kedalam tubuh tidak terukur jumlahnya dan akan terus tumbuh secara eksponensial. Pertumbuhan patogen ini jika tidak sebanding dengan kekuatan sistem imun yang terbentuk, menyebabkan manusia menjadi demam, dan kemudian sakit sebagai efek dari serangan virus.

Efek setelah vaksinasi berbeda pada setiap orang, meski belum begitu jelas alasan yang menjadi penyebabnya, secara umum biasanya wanita, anak-anak serta orang yang pernah terinfeksi merasakan efek lebih kuat pasca vaksinasi. Sementara orang orang dengan sistem imun lemah seperti penderita diabetes dan obesitas, biasanya memiliki respon imun yang lemah meski hal tersebut bukan sebuah kepastian. Belum ada riset yang mengidentifikasi hubungan antara reaksi inflamasi awal dan respons jangka panjang terhadap efek perlindungan dari vaksinasi. Sehingga, seberapa baik kualitas vaksin bekerja didalam tubuh anda tidak dapat diukur dari respon yang anda rasakan. Respon tubuh setelah vaksinasi hanya merupakan respons imun adaptif yang membantu tubuh Anda mendapatkan kekebalan dari vaksin.

Komplikasi dan Kematian Akibat Covid-19

Oleh : dr. Lisa Andriani L, M.Biomed

Sejak kemunculannya di penghujung tahun 2019, virus SARS-CoV-2 menjadi agen infeksi yang paling ditakuti dan menimbulkan dampak parah di berbagai sektor. Hal yang ditakuti dari virus ini adalah sifat penyakitnya yang sulit diprediksi oleh klinisi.  Pada beberapa individu, virus ini bahkan tidak menimbulkan gejala, namun pada individu lain dapat mengakibatkan gejala yang parah, gagal nafas dan bahkan kematian. Setelah beberapa bulan berkenalan dengan penyakit COVID-19, baru klinisi dan peneliti mendapatkan informasi beberapa faktor comorbid yang bisa memperparah infeksi virus SARS-CoV-2, antara lain penyakit-penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, penyakit paru-paru kronis, obesitas dan lainnya namun hal tersebut juga tidak sepenuhnya menjawab pertanyaan yang muncul. Kisah-kisah orang yang sudah mendapatkan hasil negatif dari pemeriksaan usap nasofaring atau orofaring, yang tentunya sudah dianggap sembuh dari COVID-19 tapi ternyata justru memburuk dan meninggal pun tentu sering kita baca atau dengar. Jadi sebenarnya bagaimana caranya virus ini menyebabkan penyakit parah atau kematian?

Hingga pertengahan awal November 2021, dalam waktu 1 tahun 11 bulan, sudah tercatat 249.343.498 kasus Covid-19 di seluruh dunia dan menimbulkan kematian sebesar 5.045.077 jiwa (2%). Di Indonesia sendiri, tercatat 4.246.802 kasus hingga 5 November 2021 dengan angka kematian 143.500 (3,4%) jiwa. 

Dari penelitiannya yang menggunakan metode autopsi pada pasien yang meninggal dengan diagnosis COVId-19, Sefer Elezkurtaj dkk dari Jerman melaporkan bahwa umumnya pasien meninggal karena sepsis dan kegagalan fungsi beberapa organ sekaligus. Gejala yang paling banyak didapatkan adalah kegagalan sistem pernafasan. Hasil otopsi juga mendapatkan bahwa ternyata dijumpai ada juga co-infeksi dengan bakteri, terbentuknya sumbatan pada pembuluh darah di paru-paru, kerusakan paru-paru yang luas, gagal jantung, dan ada juga yang dijumpai perdarahan saluran cerna.  Komorbid yang diderita oleh pasien yang meninggal dalam penelitian Elezkurtaj mencakup hipertensi, penyakit jantung atau ginjal kronis dan juga penyakit paru-paru kronis. Pada autopsinya juga didapatkan adanya aterosklerosis di pembuluh darah koroner, pembesaran jantung, kerusakan paru yang berlangsung kronis juga.

Dalam tinjauan ilmiahnya, Himayani dkk menyebutkan bahwa infeksi virus SARS-CoV-2 menimbulkan efek terhadap beberapa organ seperti paru, jantung dan pembuluh darah, ginjal, gastrointestinal, liver, sistem saraf, mata, kulit bahkan ke psikologis pasien. Sebagian besar kasus infeksi SARS-CoV-2 mengalami gagal nafas sehingga harus dibantu dengan ventilator. Pada jaringan paru normal, ternyata 83% sel di paru memiliki reseptor ACE-2 (Angiotensin Converting-Enzyme-2), karena ACE-2 merupakan jalur masuk virus ke dalam sel manusia, maka sel-sel yang memiliki ACE-2 akan menjadi lokasi tempat virus memperbanyak diri. Akibatnya, akan terjadi juga kerusakan sel yang luas dan peradangan. Akibat peradangan dan kerusakan dapat terjadi penumpukan cairan di paru-paru dan mengurangi fungsi paru-paru.

Penyebab utama gangguan jantung pada COVID-19 adalah gangguan pembuluh darah yang menyebabkan terbentuknya plak dan thrombosis, sumbatan dan gangguan pembuluh darah menyebabkan suplai oksigen ke jantung berkurang. Peradangan sistemik yang terjadi sebagai respon badai sitokin juga mengakibatkan peradangan jantung hingga berefek ke gagal jantung atau gangguan irama jantung.  Gangguan pada pembuluh darah yang terjadi dapat juga terjadi pada pembuluh darah di berbagai organ, sehingga menyebabkan organ bersangkutan mengalami iskemia atau turunnya suplai darah dan oksigen ke organ tersebut.

Reseptor ACE-2 juga terdapat di ginjal, sehingga virus SARS-CoV-2 juga dapat menginfeksi sel-sel ginjal. Badai sitokin sebagai reaksi tubuh dapat menyebabkan turunnya suplai oksigen dan nutrisi ke sel ginjal dan berakibat terjadinya Acute Kidney Injury (AKI). Gejala pada saluran gastrointestinal dapat juga disebabkan invasi virus ke sel-sel di saluran pencernaan, umumnya gejala yang timbul adalah mual, muntah, diare, sakit perut, atau hilang nafsu makan. Sering didapatkan juga virus atau fragmen virus pada feses pasien.

Adanya gejala yang terkait dengan sistem saraf juga sering dilaporkan terjadi bersama dengan infeksi SARS-CoV-2, antara lain hilangnya indra penciuman atau perasa, sakit kepala hingga kejang.  Beberapa pasien juga dilaporkan mengalami meningitis dan ensefalitis, menunjukkan invasi virus ke sistem saraf pusat. Badai sitokin yang terjadi juga menyebabkan radang otak dan edema yang dapat menimbulkan kejang. Stroke juga dapat terjadi karena adanya penyumbatan arteri serebral, dimana penyumbatan ini disebabkan karena kondisi darah yang lebih kental dan adanya cedera atau luka pada lapisan endotel pembuluh darah.

Selain pada organ dalam, efek dari infeksi virus SARS-CoV-2 juga dapat mengenai mata atau kulit. Mata sendiri diketahui memiliki reseptor ACE, selain itu mata sendiri menjadi pintu masuk virus ke tubuh.  Adanya konjungtivitis atau mata merah karena radang juga dilaporkan pada sekitar sepertiga pasien rawat inap. Gejala kulit yang sering dialami antara lain berbentuk ruam, urtikaria (bentol-bentol mirip gigitan nyamuk) atau timbul lepuhan kecil berisi cairan mirip cacar air.

Salah satu dasar yang memperkuat dugaan bahwa infeksi virus SARS-CoV-2 tidak hanya berdampak pada pernafasan namun juga memiliki dampak pada pembuluh darah adalah penelitian yang dilaporkan bulan Oktober lalu, Rauti dkk melaporkan bahwa protein-protein dari virus SARS-CoV-2 menimbulkan gangguan fungsi endotel (lapisan terdalam dari struktur pembuluh darah), jadi memang banyak bukti klinis mendukung bahwa COVID-19 merupakan penyakit yang juga mengganggu fungsi peredaran darah sehingga berdampak pada banyak organ, ditopang protein spike virus yang mampu menginfeksi berbagai organ tubuh selama sel dari organ tersebut memiliki reseptor ACE-2 yang tersebar juga di berbagai organ tubuh.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Efek Infeksi Virus SARS-CoV-2 pada Organ. Himayani R dkk. Medula. April 2021:11(1): 43-47
  2. Rauti R et al. Effect of SARS-Co-V-2 proteins on vascular permeability. eLife 2021;10:e69314
  3. https://covid19.go.id/
  4. https://www.worldometers.info/coronavirus/
  5. Elezkurtaj, S., Greuel, S., Ihlow, J. et al. Causes of death and comorbidities in hospitalized patients with COVID-19. Sci Rep 11, 4263 (2021).

Catatan :

  1. Sepsis  : suatu kondisi adanya respon peradangan menyeluruh yang dipicu penyebaran infeksi (agen penyakit maupun toksinnya) melalui aliran darah, berpotensi mengancam jiwa, dan ditandai adanya demam, menggigil, nafas dan denyut nadi yang cepat, penurunan tekanan darah, hingga gagal fungsi organ.
  2. Badai sitokin : terjadinya pelepasan sitokin (sejenis protein yang dihasilkan sel , terutama sel imun, dan memiliki fungsi mengatur atau mempengaruhi sistem imun selain merupakan media komunikasi antar sel) yang tidak terkontrol dari tubuh karena respon sistem imun yang berlebihan.

122 Pejabat Fungsional dan PNS Dilantik Hari Ini

Jakarta – Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan, Kunta Wibawa Dasa Nugraha, SE, MA, Ph.D. melantik dan mengambil sumpah terhadap 122 pejabat fungsional dan Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Kementerian Kesehatan pada Kamis, 20 Januari 2022. Pejabat yang dilantik terdiri 1 Pejabat Fungsional Ahli Utama, 68 Pejabat Fungsional Ahli Pertama hingga Madya, dan 53 Pegawai Negeri Sipil.

Dalam sambutannya, Kunta berpesan kepada Dr. dr. Irmansyah, Sp.KJ(K) sebagai Peneliti Ahli Utama untuk terus menciptakan kreativitas dan inovasi baru bagi program kesehatan. Lebih lanjut Kunta mengatakan bahwa sesuai Peraturan Presiden Nomor 78 Tahun 2021 tugas dan fungsi penelitian dan pengembangan kementerian dan lembaga telah dialihkan ke Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Hal ini diikuti dengan pengalihan tenaga peneliti dan sarana dan prasarana. “Namun bukan berarti kita tidak bisa melakukan sinergi. Kerja disana tetap harus inline dengan kebijakan di Kementerian Kesehatan. Tidak boleh tumpang tindih, tapi saling mengisi,” ujarnya.

Pada kesempatan ini Kunta mengemukakan bahwa Kementerian Kesehatan telah melakukan penyederhanaan struktur organisasi yang diikuti dengan penyesuaian pejabat fungsional terhadap dengan kedudukan dan tugas di struktur organisasi yang baru. Kunta juga mengatakan bahwa saat ini Kementerian Kesehatan juga sedang melakukan transforsebagai masi kesehatan. Ada 6 pilar yang menjadi fokus yaitu transformasi layanan primer, transformasi layanan rujukan, transformasi sistem ketahanan kesehatan, transformasi pembiayaan kesehatan, transformasi SDM kesehatan, dan transformasi teknologi kesehatan.

Berikut ini adalah daftar pejabat fungsional yang dilantik dilingkungan Badan Litbangkes yang bertransformasi menjadi Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan:

  1. Nirmala Ahmad Ma’ruf,  SKM,  M.Si sebagai Analis Kebijakan Ahli  Madya
  2. dr.  Dyah  Armi  Riana, MARS sebagai Administrator Kesehatan Ahli Madya
  3. dr.  Nelly Puspandari,  Sp.M.K sebagai Analis Kebijakan Ahli Muda
  4. Dr.  drg. Masagus Zainuri,  M.Biomed sebagai Administrator Kesehatan Ahli Muda
  5. Dr.  Nelis Imanningsih,  STP, M.Sc sebagai Analis Kebijakan Ahli  Madya
  6. Ida  Susanti,  ST,  M.Si sebagai Analis Kebijakan  Ahli Muda
  7. Nagiot Cansalony Tambunan,  SKM, ME sebagai Analis Kebijakan Ahli Madya
  8. dr.  Muhammad  Karyana,  M.Kes. sebagai Administrator Kesehatan Ahli Madya
  9. dr.  Tetra  Fajarwati,  M.Gizi sebagai Administrator Kesehatan Ahli Muda
  10. dr.  Made Dewi Susilawati,  M.  Epid. Administrator Kesehatan Ahli Muda
  11. Rustam  Effendi,  SKM.,MPH sebagai Analis Kebijakan Ahli Muda
  12. Dr.Agus Triwinarto,  SKM.  ,M.Kes. sebagai Analis Kebijakan Ahli Muda
  13. Heny Lestari,  SKM, MKM sebagai Analis Kebijakan Ahli  Muda
  14. Muhammad Rijadi, SKM, M.Sc.PH. sebagai Analisis Kebijakan Ahli Madya
  15. Pawit Soegiharto, SE, MM sebagai Analis Kebijakan Ahli Muda
  16. dr.  Trijuni Angkasawatil, M.Sc. sebagai Analis Kebijakan  Ahli  Madya
  17. dr.  Yuslely Usman,  M.Kes. sebagai Analis Kebijakan Ahli  Muda
  18. Junediyono, SKM., MKM sebagai Analis Kebijakan Ahli Madya
  19. Awal Prichatin  Kusumadewi,  M.Sc, Apt. sebagai Apoteker Ahli Madya
  20. Agus  Effendi,  ST sebagai Analis  Kebijakan Ahli Muda
  21. Tri Widayat,  M.Sc. sebagai Pranata Laboratorium  Kesehatan Ahli Muda
  22. Nita Supriyati, M.Biotech.  Apt. sebagai Apoteker Ahli Madya
  23. Amalia Damayanti,  M.Si. sebagai Pranata Laboratorium Kesehatan  Ahli  Muda
  24. Santoso,  S.Farm. sebagai Pranata Laboratorium  Kesehatan Ahli Muda
  25. dr.  Bagus  Febrianto, M.Sc sebagai Epidemiolog Kesehatan Ahli Madya
  26. Dhian  Prastowo,  S.Si sebagai Epidemiolog Kesehatan Ahli Muda
  27. Siti Alfiah, SKM,  M.Sc. sebagai Epidemiolog Kesehatan Ahli Madya
  28. Evi Sulistyorini,  SKM, M.Si. sebagai Entomolog Kesehatan Ahli Muda
  29. Lulus  Susanti,  SKM, MPH sebagai Entomolog Kesehatan Ahli Muda
  30. Dewi Marbawati,  S.Si., M.Sc. sebagai Pranata Laboratorium  Kesehatan ahli Muda
  31. Yusran  Udin,  S.K.M.,  M.Kes. sebagai Entomolog Kesehatan  Ahli Muda
  32. Riri Arifah Patuba,  SKM sebagai Epidemiolog Kesehatan Ahli Muda
  33. Sitti Chadijah,  SKM, M.Si. sebagai Epidemiolog Kesehatan Ahli Muda
  34. Marya  Ulfa,  S. Si sebagai Statistisi Ahli Muda
  35. dr. Eka Fitria sebagai Dokter Ahli Muda
  36. Anif Budiyanto,  SKM, M.Epid sebagai Epidemiolog Kesehatan Ahli Muda
  37. Febriyanto,  SKM,  M.Biomed sebagai Perencana Ahli Muda
  38. Yunita Yakomina  Rakhel  Mirino, M.Ked. Trop. sebagai Epidemiolog Kesehatan Ahli Muda
  39. dr.  Prihatin  Broto  Sukandar, M.Sc. sebagai Dokter Ahli  Muda
  40. Andi Rahmawati, SKM, MKM. sebagai Pranata Humas Ahli Pertama
  41. Fairuz Wardaty, SKM. sebagai Perencana Ahli Pertama
  42. Sari Ramadhani, SKM, sebagai Perencana Ahli Muda.

Penulis : Dian Widiati

12,541FansLike
3,200,000FollowersFollow
4,251,000FollowersFollow
3,251,580FollowersFollow
9,320SubscribersSubscribe