web analytics
Header Ads
Beranda Blog Halaman 33

Penggunaan Artificial Intelligence dalam tugas Pranata Humas BKPK Kemenkes

Jakarta– Di abad ke 21 ini perkembangan teknologi semakin maju, terbaru adalah perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) atau AI yang mendorong perubahan signifikan di berbagai sektor termasuk pemerintahan. Penggunaan AI dalam pemerintahan membawa berbagai manfaat karena dapat meningkatkan efisiensi operasional, memperbaiki pelayanan publik, dan mendukung pengambilan keputusan berbasis data. Humas pemerintah sebagai komunikator publik perlu beradaptasi dan menguasai penggunaan AI untuk semakin meningkatkan pelayanan pada publik.

“Praktik humas pemerintah di era globalisasi dan digitaliasasi sekarang ini memerlukan pendekatan yang canggih dan adaptif untuk mengelola komunikasi, membangun hubungan dengan publik, dan menangani krisis,” demikian disampaikan Sekretaris Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Etik Retno Wiyati saat memberikan sambutan secara daring pada acara Forum Humas Kesehatan yang diselenggarakan di Jakarta pada Rabu (14/8).

Dijelaskan Etik penguasaan teknologi informasi berbasis AI ini untuk meng-update kompetensi para humas BKPK di era yang maju dan serba cepat.  Isu terkait BKPK dan Unit Utama Kemenkes perlu dikomunikasikan dengan baik oleh humas BKPK kepada masyarakat dan stakeholder yang heterogen, dengan latar belakang pendidikan, sosial, ekonomi serta usia yang berbeda. Penggunaan AI dalam penyampaian informasi oleh humas mungkin dapat lebih menjangkau dan menarik perhatian publik.

Humas dapat menggunakan AI sebagai alat bantu dalam menyelesaikan tugasnya seperti pembuatan konten di media sosial, desain visual dan kreatif, analisis sentimen ataupun manajemen krisis. Penulisan narasi atau artikel dapat dibantu dengan ChatGPT atau Canva sementara pembuatan desain visual bisa menggunakan Ideogram atau Artbreeder. Untuk memahami respons publik melalui analisis media sosial dan berita humas bisa menggunakan NoLimit atau Emotic sedangkan untuk mengidentifikasi isu dan memberikan rekomendasi cepat saat krisis humas juga dapat menggunakan NoLimit atau Signal AI. Dengan pemanfaatan AI, humas dapat meningkatkan efisiensi, ketepatan, dan dampak dari komunikasi mereka.

Ini seperti yang disampaikan Jojo S. Nugroho, Praktisi Humas Indonesia sekaligus pendiri IMOGEN Public Relations yang membawakan topik Pemanfaatan AI dalam Praktik Humas Pemerintah pada kegiatan ini. Dikatakan Jojo bahwa kompetensi humas bisa ditingkatkan dengan memahami penggunaan AI untuk pekerjaan kehumasan sehari-hari. Saat ini banyak tools AI baik yang gratis ataupun yang berbayar yang dapat dimanfaatkan untuk membantu humas mengoptimalkan tugasnya dalam penyampaian informasi pada publik.

Dari sekian banyak tools yang ditawarkan AI, humas pemerintah minimal harus menguasai AI text to text dan AI text to image. Kedua tools tersebut bisa sangat berguna dalam membantu membuat konten dan visual yang lebih menarik, terkini dan sesuai minat pasar saat ini ,” ujar Jojo.

Selain mendapat ilmu tentang penggunaan AI, para humas juga diminta untuk praktik langsung dalam pembuatan konten dan desain visual menggunakan beberapa tools gratis AI seperti ChatGPT, IBing, Ideogram, Artbreeder dan Remaker. Setelah melakukan praktik langsung diharapkan humas BKPK dapat menggunakannya untuk mendukung output kinerja pranata humas.

Forum humas kesehatan merupakan pertemuan praktisi humas pemerintah atau pranata humas yang bergerak di sektor kesehatan. Humas kesehatan adalah bagian dari humas pemerintah yang tersebar pada berbagai instansi baik pusat maupun daerah diseluruh Indonesia. Kegiatan ini selain dihadiri pranata humas di lingkungan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) juga dihadiri perwakilan pranata humas dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemen Kominfo), Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Kemen PPN/BAPPENAS), Badan Pusat Statistik (BPS), serta Anggota Ikatan Pranata Humas Indonesia (IPRAHUMAS) sebagai organisasi profesi Jabatan Fungsional Pranata Humas.

Dalam kegiatan ini diadakan pula sesi sharing session mengenai Peran dan Praktik Humas Pemerintah dalam Kerjasama Internasional Bidang Kesehatan yang dibawakan oleh Ketua Tim Kerja Humas Data dan Informasi Sekretariat BKPK, Grace Lovita Tewu, Diseminasi Hasil Utama SKI 2023 dengan narasumber Plt. Kepala Pusat Kebijakan Upaya Kesehatan Dwi Puspasari, serta Informasi Penetapan Usulan Kebutuhan (Formasi) JFPH dan Fasilitasi Uji Kompetensi (UKOM) di Lingkungan Kemenkes dengan narasumber perwakilan dari Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes. Sharing Session tersebut dimaksudkan agar para humas dari kementerian lain terpapar akan isu-isu yang ada di BKPK atau Unit Utama Kemenkes lainnya. (Penulis Kurniatun K/Edit Timker HDI)

Penandatanganan Komitmen Bersama Pelaksanaan Riset Implementasi antara BKPK dengan Ditjen Nakes

Jakarta– Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) bersama dengan Direktorat Jenderal Tenaga Kesehatan (Ditjen Nakes) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melakukan penandatanganan komitmen bersama sebagai bentuk dukungan Politeknik Kesehatan (Poltekkes) terhadap pelaksanaan Riset Implementasi Kebijakan pada Senin (12/8) di Jakarta. Penandatanganan dilakukan oleh seluruh Kepala Pusat Kebijakan di lingkungan BKPK bersama dengan Direktur Penyediaan Tenaga Kesehatan dan disaksikan oleh Direktur Jenderal Tenaga Kesehatan, Kepala BKPK, serta Sekretaris BKPK dan Sekretaris Ditjen Nakes.

Kemenkes telah melakukan beberapa langkah strategis penguatan Riset Implementasi untuk meningkatkan partisipasi Poltekkes. Pertama, BKPK membuat komitmen bersama dengan Ditjen Nakes untuk mendukung pelaksanaan riset implementasi. Selanjutnya, sesuai arahan Menteri Kesehatan, Ditjen Nakes menunjuk satu unit kerja khusus sebagai koordinator riset implementasi yang akan bekerja sama dengan BKPK. Selain itu, Kemenkes juga akan mendayagunakan semua profesor di Poltekkes dalam pelaksanaan riset implementasi. Langkah-langkah ini diharapkan dapat memperkuat implementasi kebijakan kesehatan, serta meningkatkan kualitas layanan kesehatan di Indonesia.

“Sebagai bagian dari Tansformasi Kesehatan, BKPK diberikan amanah dalam pelaksanaan Riset Implementasi dengan melibatkan semua stakeholder baik swasta maupun pemerintah. Atas arahan Menkes, program Kemenkes yang sudah berjalan dilihat pelaksanaannya di lapangan, apa hambatan dan tantangan yang dihadapi serta identifikasi apa yang bisa diperbaiki secara teknis maupun regulasi,” ujar Kepala BKPK Syarifah Liza Munira pada saat memberikan sambutan.

Dijelaskan Liza sebanyak 5 topik Riset Implementasi yang melibatkan 6 Poltekkes sudah dimulai di tahun 2023, yaitu Antropometri, USG, PMT lokal, Imunisasi, dan Bahan Baku Obat. Meskipun telah dilakukan sejak tahun lalu, menurut Liza masih banyak yang belum mengetahui dan memahami tentang riset ini.

Untuk itu, BKPK mengadakan Sosialisasi Riset Implementasi yang mengundang 38 Poltekkes di seluruh Indonesia. Penandatanganan yang dilakukan antara BKPK dengan Ditjen Nakes selaku pembina Poltekkes merupakan langkah awal koordinasi pelaksanaan riset implementasi.

“Sosialisasi ini merupakan momen yang baik untuk mengoordinasikan kebijakan-kebijakan yang ada di tingkat pusat dan daerah khususnya di Poltekkes. Kita butuh komitmen dalam pelaksanaannya sehingga hari ini kita melakukan penandatanganan untuk menguatkan sinergitas antar pihak yang terlibat,” ujar Liza.

Hal senada juga disampaikan Sekretaris BKPK Etik Retno Wiyati. Menurutnya forum ini untuk menguatkan program Transformasi Kesehatan. Dijelaskan Etik bahwa baik BKPK, Poltekkes ataupun Unit Utama lain di Kemenkes perlu menguatkan implementasi dari kebijakan kunci program-program prioritas sektor kesehatan.

“Salah satu fungsi Poltekkes adalah melaksanakan penelitian dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan teknologi. Kami menyadari Poltekkes sudah melakukan riset, begitupun di Pusat. Oleh karena itu kesempatan kali ini dapat digunakan untuk berkoordinasi dalam hal kegiatan riset. Menkes mengamanahkan riset implementasi yang inklusif, melibatkan perguruan tinggi, poltekkes maupun swasta agar terbiasa berkolaborasi antar perguruan tinggi dan regulator,” jelas Etik.

Tahun ini BKPK sudah mengidentifikasi 15 topik riset implementasi kebijakan yang melibatkan Poltekkes dan Universitas. 15 topik tersebut yaitu Integrasi Layanan Primer (ILP), Satu Sehat, Program TB, Uji Klinis Vaksin TB, Kesehatan jiwa komunitas, Jejaring RS untuk empat penyakit dengan beban biaya tertinggi Kanker Jantung Stroke dan Uronefrologi (KJSU), Substitusi obat dan alat kesehatan impor, Wolbachia, RAN kanker serviks, Pelaksanaan Bantuan Operasional Kesehatan (BOK), Integrasi peningkatan kualitas layanan antenatal dengan USG di Puskesmas, Pemberian makanan tambahan lokal, Antropometri, Bahan baku obat, dan Biomedical Genome Science Initiative (BGSi).

Topik riset implementasi tersebut telah ditentukan bersama dengan unit utama pengampu program. Kemungkinan akan ada penambahan topik-topik baru sesuai kebutuhan dari Kemenkes. Saat ini baru 21 Poltekkes yang terlibat, harapannya seluruh 38 Poltekkes yang ada di Indonesia juga terlibat dalam pelaksanaan riset implementasi.

“15 topik tersebut adalah permulaan. Nantinya kita ingin semua program Kemenkes juga dilakukan riset implementasi. Kita akan identifikasi lagi untuk penambahan 15 riset implementasi ini dan mungkin akan dilakukan call for proposal serta penguatan kompetensi pelaksana implementasi risetnya,” terang Liza.

Mengakhiri sambutannya Liza mengharapkan agar koordinasi dengan Poltekkes terkait riset implementasi kebijakan semakin meningkat dan dapat tersusun roadmap pelaksanaan riset implementasi kebijakan bersama Poltekkes. Sosialisasi Riset Implementasi dihadiri oleh 38 Poltekkes yang terdiri dari Direktur Poltekkes dan Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Acara ini berlangsung di Jakarta pada 11-13 Agustus 2024 (Penulis Kurniatun K/Timker HDI)

BKPK Ramaikan InaRI Expo 2024

Cibinong – Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Megawati Soekarnoputri didampingi Kepala BRIN Laksana Tri Handoko membuka Indonesia Research and Inovation Expo (InaRI Expo 2024). Pameran ini merupakan bagian dari rangkaian Hari Teknologi Nasional ke-29 yang dilaksanakan pada tanggal 8-11 Agustus 2024 bertempat di kawasan kantor BRIN, Cibinong.

“InaRI Expo 2024 merupakan agenda tahunan yang sudah berjalan selama tiga kali,” terang Handoko dalam sambutannya pada Kamis (8/8). Menurut Ia InaRI Expo kali ini merupakan yang terbesar dan termegah dibandingkan yang sebelumnya.

Pameran riset tahun ini, kata Handoko, juga menggandeng Badan Riset dan Inovasi Daerah atau BRIDA yang baru terbentuk. “BRIDA ikut meramaikan dan karyanya dipamerkan pada gelaran ini,” tambah Handoko.

InaRI Expo 2024 juga menghadirkan sejumlah event besar seperti Indonesia Electric Motor Show (IEMS), pameran Perusahaan Pemula Berbasis Riset, UMKM, Indonesia Research and Innovation Fair (IRI Fair), dan Indonesia Inovator Lecture (IIL).

Pada kesempatan ini, Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) turut meramaikan InaRI Expo 2024. BKPK menampilkan 7 tema laporan tematik hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Materi tersebut yaitu data penggunaan antibiotik tanpa resep dokter, prevalensi stunting, prevalensi hipertensi dan diabetes mellitus, cakupan kepesertaan program Jaminan Kesehatan Nasional, depresi pada anak muda (15-24 tahun), pelayanan kesehatan ibu dan neonatus, serta data kesehatan gigi dan mulut.

Untuk memeriahkan, booth BKPK mengadakan kuis interaktif “Seberapa BKPK Kamu”. Pertanyaan-pertanyaan yang diberikan seputar profil BKPK dan hasil SKI 2023. Selain itu tersedia buku terbitan LPB (Lembaga Penerbit BKPK) yang pengunjung dapat miliki.

Hingga Minggu (11/8) tercatat jumlah pengunjung booth BKPK mencapai Kurang lebih 400 orang. Pengunjung dari berbagai profesi yaitu peneliti, mahasiswa, pelajar, organisasi masyarakat, inventor dan lain-lain. Salah satu pengunjung Peneliti Ahli Utama  BRIN Irmansyah, menilai positif informasi yang disampaikan di booth BKPK serta dapat menginspirasi peneliti.

“Data-data kesehatan lengkap disini, booth ini ditampilkan dengan informatif tentunya membuat pemerhati kesehatan dan peneliti, saya sebagai peneliti kesehatan mudah-mudahan hal ini menginspirasi kita semua untuk melakukan penelitian lebih lanjut, sehingga health based on evidence based menjadi nomor satu di negara kita,” ujar Irmansyah (11/8).

Hal serupa disampaikan oleh Peneliti Pusat Riset Kedokteran Pra Klinis dan Klinis BRIN Ika Saptarini. Ia menyampaikan booth BKPK memberikan informasi terkait kesehatan dan hasil survey yang sudah dilakukan oleh BKPK.

“Booth BKPK sangat informatif terutama terkait kesehatan dan khususnya apa yang sudah dilakukan oleh BKPK, dan petugas pelayanan di booth sangat ramah sehingga dapat membantu kami dalam mendapatkan informasi” ungkap Ika.

Pengunjung lainnya, Mahasiswa Universitas Malang Riski Firmansyah mengatakan salah satu daya tarik booth BKPK adanya permainan kuis. Firman mengatakan booth BKPK memberikan informasi yang menarik dan mudah diingat dengan cara permainan kuis.

“Daya tarik booth BKPK adalah permainan kuis yang berisi informasi sekitar hasil Survei Kesehatan Indonesia 2023 dan hadiahnya yang bagus, sehingga membuat saya mengetahui angka stunting, prevalensi diabetes dan data yang lainya., meskipun memerlukan effort agar bisa menang dalam permainan kuis ini” tutur Riski usai meraih keberhasilan menjawab pertanyaan kuis. (Irwan/Yuli, edit Humas BKPK)

Pengajuan Klaim INA-CBG Butuh Pengkodingan Diagnosis dan Tindakan Yang benar

Bandung– Staf Khusus Menteri Kesehatan RI Bidang Pelayanan Kesehatan Masyarakat Prastuti Soewondo mengatakan tenaga koder di Fasilitas Kesehatan Rujukan TIngkat Lanjut (FKRTL) berperan penting agar pengkodingan diagnosis dan tindakan menghasilkan grup kode INA-CBG yang tepat dan besaran tarif yang sesuai. “Pengajuan klaim INA-CBG menuntut adanya pengkodingan diagnosis dan tindakan yang benar, sesuai dengan pelayanan kesehatan yang diberikan’” jelasnya lebih lanjut.

Hal itu disampaikannya dalam acara Penutupan Pelatihan Pengkodean Diagnosis Penyakit dan Tindakan bagi Tenaga Koder di FKRTL dalam Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) Tahun 2024 untuk Gelombang 3 Angkatan 9, 10, 11, dan 12 (10/8/2024).

Prastuti menyebutkan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) bertujuan memberikan akses kepada seluruh masyarakat Indonesia terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas tanpa hambatan finansial agar masyarakat Indonesia dapat hidup sehat, produktif, dan sejahtera.

Program JKN telah diselenggarakan sejak tahun 2014 oleh Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) dengan pembiayaan kapitasi dan Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjut (FKRTL) dengan pembiayaan INA-CBG yang diklaim ke BPJS Kesehatan sebagai pengelola dana jaminan sosial.

Apresiasi sebesar-besarnya disampaikan kepada rumah sakit dan tenaga koder yang terlibat pada pelatihan ini dan para tenaga koder dapat menjadi agent of change serta berkontribusi pada keberlangsungan Program JKN. “Dengan mengikuti pelatihan ini, tenaga koder diharapkan dapat melakukan pengkodean diagnosis dan tindakan dengan benar dan tepat sesuai aturan yang ada,” jelas Prastuti.

Kepala Balai Pelatihan Kesehatan Cikarang Agus Purwono Kartiko dalam sambutan penutupan (10/8) menjelaskan semua peserta yang dinyatakan lulus berarti peserta telah memiliki kompetensi sesuai tujuan pelatihan yaitu melakukan analisis kelengkapan rekam medis sebagai dasar klaim JKN, melakukan kodifikasi penyakit dan masalah kesehatan lainnya sesuai ICD 10 tahun 2010. Juga memiliki kodifikasi Tindakan atau prosedur sesuai dengan ICD 9 CM tahun 2010, melakukan input data dan troubleshooting pada aplikasi e-klaim serta melakukan analisis data klaim.

Menurut Agus, target tenaga yang dilatih saat ini dirasa kurang sehingga diharapkan peserta pelatihan bisa melakukan sosialisasi ke tenaga kesehatan lain agar dapat juga memahami kodifikasi diagnosis dan Tindakan berdasarkan ICD 10 tahun 2010 dan ICD 9 CM tahun 2010.

Agus berpesan agar para peserta mampu bangun dan kembangkan jejaring lintas program dan lintas sektor, Hal ini dilakukan untuk saling bertukar informasi dan pengalaman dalam melaksanakan tugas di instansi masing-masing sehingga capaian kegiatan bisa lebih maksimal.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Tim Kerja Perubahan Tarif dan CBG dalam Program JKN Pusat Kebijakan Pembiayaan dan Desentralisasi Kesehatan BKPK Kemenkes Riris Dian Hardiani mengemukakan peserta sebanyak 119 orang dari total 120 peserta dinyatakan lulus.

Peserta berasal dari rumah sakit yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan baik milik pemerintah maupun swasta di 22 provinsi di Indonesia. Total peserta sebanyak 120 orang dengan jumlah peserta tiap angkatan sebanyak 30 orang

“Pelatihan pengkodean diagnosis dan Tindakan bagi tenaga koder di FKRTL dalam program Jaminan Kesehatan Nasional yang berpedoman pada kurikulum yang telah terakreditasi telah diselenggarakan pada 6-11 Agustus 2024 dengan metode blended, 2 hari online dan 4 hari luring di Bandung,” terang Riris (Penulis Fachrudin Ali & Annisa Clarasinta/Edit Pusjak PDK/Timker HDI)

Peningkatan Kapasitas Ahli Epidemiologi Lapangan ASEAN Agar Lebih Siap Kelola Kedaruratan Kesehatan Masyarakat

Bali– ASEAN Field Epidemiology Training Network (FETN) Plus Three menyelenggarakan kegiatan The Strengthening Field Epidemiologist: Bridging Gaps in Rapid Response Terms Workshop di Bali. Acara ini berlangsung dari tanggal 5 hingga 9 Agustus 2024. ASEAN FETN merupakan jejaring epidemiolog lapangan tingkat regional sebagai forum berbagi informasi dan membantu negara anggota ASEAN dalam meningkatkan kapasitas para epidemiolog lapangan. Kegiatan ini sebagai tindak lanjut dari The kick-off meeting FETN yang telah dilaksanakan pada tanggal 4 – 6 September 2023, di Vientiane, RDR Laos, dimana diperoleh kesepakatan untuk meningkatkan Kapasitas Tanggap Darurat Tanggap Cepat dari Jaringan Pelatihan Epidemiologi Lapangan (FETN).

Peserta workshop ini adalah para epidemiolog lapangan negara-negara anggota ASEAN dan Plus Three yaitu Jepang, Korea, dan China. Kementerian Kesehatan Indonesia berpartisipasi dalam kegiatan ini dengan mengirimkan perwakilan dari Direktorat Tata Kelola Kesehatan Masyarakat Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat, Direktorat Surveilans dan Karantina Kesehatan Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, dan Balai Besar Laboratorium Kesehatan Lingkungan.

Dalam sambutannya Direktur Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan Kamboja Dr. Ly Sovann, selaku Ketua Komite ASEAN FETN, menyampaikan terima kasihnya pada Indonesia yang telah menjadi tuan rumah penyelenggaraan workshop ini. “Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Indonesia khususnya Kementerian Kesehatan RI yang telah menyediakan lokasi untuk penyelenggaraan workshop ini,” ujar Ly pada Selasa (6/8).

Disampaikan Ly bahwa untuk mengidentifikasi pelajaran penting yang dapat dipetik dari pandemi COVID-19 serta mengevaluasi hambatan dan rintangan yang dihadapi oleh ahli epidemiolog lapangan diperlukan peningkatan kapasitas para ahli epidemiolog lapangan melalui latihan simulasi untuk memastikan penerapan pengetahuan dan keterampilan yang efektif.

“Untuk meningkatkan kapasitas berarti kita harus membangun, merespons segala bahaya yang mengancam dan tidak membiarkan wabah semakin parah. Kita harus pastikan memiliki kapasitas respons, jika tidak memiliki kapasitas respon untuk mengatasi wabah yang sedang melanda maka jangan berharap kita dapat menanggulangi kedaruratan yang tiba-tiba terjadi,” ujar Ly.

Workshop ini merupakan kolaborasi antara FETN dengan Training Programs in Epidemiology and Public Health Intervention Network (TEPHINET), dan jejaring Epidemiologi Lapangan tingkat internasional serta Thailand selaku panitia penyelenggara.

Workshop yang dilakukan di Hotel Sheraton Bali ini mengintegrasikan pembelajaran dengan modul yang sebelumnya telah didistribusikan via email kepada peserta untuk mendapatkan instruksi dan teori dan selanjutnya latihan simulasi yang dilakukan secara luring untuk mendapatkan pengalaman praktis. Kurikulum yang digunakan sebagai kerangka kerja percontohan merupakan hasil kolaborasi dari TEPHINET, CDC, dan WHO.

Melalui pelatihan ini Ly mengharapkan para peserta dapat mencapai hasil dan kompetensi yang terintegrasi, yaitu melakukan analisis situasi kesehatan masyarakat (Public Health Situation Analysis/PHSA) , merencanakan dan melakukan penilaian kebutuhan Kesehatan secara cepat (Rapid Health Assesment/RHA), mengembangkan peringatan dini dan respons (EWAR system), membuat Situation Report (Sitrep) serta dapat melakukan komunikasi risiko dan pelibatan masyarakat (RCCE).

“Saya berharap setelah menyelesaikan pelatihan ini ahli epidemiologi lapangan semakin terasah skill-nya dalam hal mengumpulkan, menganalisis, dan menginterpretasikan data untuk menilai situasi kesehatan masyarakat; melakukan penilaian risiko, analisis data, logistik, dan keterampilan komunikasi yang kuat sesuai dengan kepekaan budaya; memantau indikator kesehatan, mendeteksi anomali, memahami sistem peringatan, dan mengoordinasikan respons cepat; serta melakukan strategi komunikasi risiko untuk melibatkan masyarakat, memastikan respons yang cepat dan terkoordinasi terhadap keadaan darurat kesehatan,” pungkas Ly.

Fasilitator dalam kegiatan ini berasal dari beberapa institusi dan negara yaitu Dr. Panithee Thammawijaya dari Kementerian Kesehatan Thailand, Dr. Pantila Taweewigyakarn dari Pusat Pengembangan Pengoperasian Kedaruratan Kementerian Kesehatan Thailand, Dr. Phanthanee Thitichai dari FETP Thailand, Dr. Charatdao Bunthi dari Thailand and US CDC Collaboration (TUC), Holly Zanoni dan Peter Williams dari TEPHINET, Nabil Tabbal dari (World Health Organization) WHO, serta Mays Shamout dan Lana O’Son dari US Center for Disease Control (CDC).

Evaluasi akan dilaksanakan satu bulan setelah workshop ini melalui pertemuan online, untuk membahas kesesuaian modul dan potensi integrasi ke dalam kurikulum Program Pelatihan Epidemiologi Lapangan (FETP). (Penulis Kurniatun K/Edit Ditjen P2P)

Masih Ada Permasalahan Koding dalam Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)

Jakarta– Kepala Pusjak PDK BKPK Kemenkes Ahmad Irsan A. Moeis membuka secara resmi kegiatan Pelatihan Pengkodean Diagnosis Penyakit dan Tindakan bagi Tenaga Koder di FKRTL dalam Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) Tahun 2024 untuk Gelombang 3 Angkatan 9, 10, 11, dan 12 secara daring (6/8/2024).

Dalam sambutannya, Irsan menyebutkan peserta yang mengikuti peltihan ini adalah orang-orang pilihan dan tidak semua bisa mengikuti pelatihan ini. “Semoga ini bisa dimanfaatkan,” ungkapnya lebih lanjut.

Menurut Irsan sesuai dengan Peraturan Presiden No. 82 Tahun 2018 tentang Jaminan Kesehatan Pasal 71 ayat (1), BPJS Kesehatan melakukan pembayaran kepada FKRTL secara Indonesian Case Groups. Proses pengajuan klaim dalam sistem pembayaran INA-CBG menuntut adanya pengkodingan yang baik oleh tenaga koder yang profesional dan terstandarisasi, diikuti dengan sistem IT yang handal. Ini akan menghasilkan pengelompokkan kode INA-CBG yang akurat dan akan diperoleh tarif INA-CBG yang sesuai dengan pelayanan kesehatan yang telah diberikan oleh pemberi pelayanan kesehatan di FKRTL.

“Tidak dapat dipungkiri, saat ini masih banyak kita temukan berbagai permasalahan dalam pelaksanaan program JKN,” kata Irsan. Salah satunya peningkatan utilisasi penyakit yang disebabkan antara lain penggunaan layanan kesehatan yang tidak diperlukan dengan melakukan pemecahan layanan (fragmentasi dan readmisi), ataupun klaim yang tidak sesuai seperti pengajuan klaim fiktif FKRTL yang menyebabkan pemutusan kerjasama dengan BPJS Kesehatan.

Irsan juga menjelaskan masih terdapat permasalahan koding yang mengakibatkan adanya dispute dan pending klaim sehingga terjadi penundaan pembayaran dari BPJS Kesehatan kepada rumah sakit. Berdasarkan hal tersebut, maka Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memberikan rekomendasi untuk perbaikan pelaksanaan Program JKN. Salah satunya melalui  penguatan kompetensi koder JKN agar semua koder yang ada di Indonesia memiliki kemampuan, kompetensi dan rujukan yang sama serta terstandar tentang kodifikasi.

Kemenkes juga berkewajiban mencapai Disbursement Link Indicator (DLI) sebagai indikator yang digunakan dalam proyek pembiayaan pembangunan. Yakni, melaksanakan pelatihan dan sertifikasi untuk paling sedikit satu koder di setiap 1.800 FKRTL (kumulatif) sejak tahun 2022 hingga tahun 2025.“Pelatihan ini bekerjasama dengan Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) Cikarang dan sudah diselenggarakan mulai bulan Juni lalu,” jelasnya.

Pelaksanaan pelatihan ini sesuai wilayah regional selama 4 (empat) hari efektif. Namun pelatihan ini akan dilaksanakan secara bertahap setiap tahun agar semua tenaga koder yang ada di seluruh rumah sakit di Indonesia yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan dapat memiliki kompetensi yang sama.

Untuk gelombang 3 ini, pelatihan diselenggarakan secara hybrid yaitu daring dari instansi masing-masing pada 6-7 Agustus dan klasikal yang akan dilaksanakan dari tanggal 8 hingga 11 Agustus 2024 di Bandung.

Siti Nur Anisah, Ketua Panitia Penyelenggara dari Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) Cikarang dalam kesempatan yang sama mengatakan pelatihan ini telah terakreditasi dengan jumlah jam Pelajaran (JPL) sebesar 38 JPL.

Tujuan pelatihan menurut Anisah agar peserta mampu melakukan kodifikasi diagnostik dan tindakan berdasarkan ICD-10 tahun 2010 dan ICG-9 CM tahun 2010 dengan benar “Kompetensi setelah mengikuti pelatihan ini, peserta mampu melakukan dan menganalisis kelengkapan rekam medis sebagai dasar klaim JKN,” tutur Anisah. (Penulis Fachrudin Ali & Riris Dian H/Edit Timker HDI)

Pusjak PDK Gelar Santunan Anak Yatim Piatu

Jakarta, Pusat Kebijakan Desentralisasi dan Pembiayaan Kesehatan (Pusjak PDK) Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) mengadakan kegiatan sosial berupa santunan anak yatim piatu pada Jumat (2/8). Mengangkat tema “Berbagi dan Peduli untuk Kebahagiaan Bersama Anak Yatim Piatu” dihadiri oleh 35 anak yatim piatu.

Kepala Pusjak PDK Ahmad Irsan menyampaikan bahwa kegiatan ini untuk berbagi bersama anak-anak yatim piatu. Selain itu, Ia mengatakan kegiatan ini untuk lebih mengenal masyarakat lingkungan sekitar kantor BKPK. “Kegiatan ini sebagai bentuk silahturahmi dan harapannya semoga kegiatan ini akan berkelanjutan, meskipun dalam bentuk yang berbeda,” ungkapnya saat memberikan sambutan.

Hal senada juga disampaikan oleh Lemi, Ketua Tim Milenial. “Acara ini merupakan bentuk kepedulian terhadap sesama terutama anak yatim dan piatu pada usia sekolah. Selain itu membantu sesuai dengan kemampuan kita untuk meringankan kebutuhan sekolah pada tahun ajaran baru,” tuturnya.

Lebih lanjut Lemi berharap agar kegiatan ini dapat menambah keceriaan anak-anak. Dan yang lebih penting meningkatkan empati antar sesama di lingkungan pegawai Pusjak PDK.

Tim juga berterima kasih kepada segenap pejabat dan staf Pusjak PDK yang telah berkontribusi dan berkolaborasi untuk kesuksesan acara ini.

Acara diinisiasi oleh Tim Milenial Pusjak PDK dan merupakan rangkaian kegiatan capacity building yang telah dilaksanakan pada 24-26 Juli lalu. Tim millenial dibentuk sebagai wadah silahturahmi dan mendekatkan antar pegawai serta melakukan kegiatan lainnya. (Humas BKPK)

BKPK Menerima Kunjungan DPRD Provinsi Sumatera Utara

Jakarta – Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) diwakili Sekretaris BKPK Etik Retno Wiyati menerima kunjungan DPRD Provinsi Sumatera Utara (Prov. Sumut) pada Senin (29/7) di kantor BKPK. Tujuan kedatangan ini adalah untuk berkonsultasi terkait pembahasan Rancangan Peraturan Daerah tentang Perubahan atas Peraturan Daerah (Perda) Nomor 2 tahun 2008 tentang Sistem Kesehatan Provinsi Sumatera Utara.

Ketua Panitia Khusus (Pansus) Sistem Kesehatan M. Faisal menyampaikan bahwa Perda Sistem Kesehatan di Prov. Sumut perlu dilakukan perubahan. “Melalui pertemuan ini kami mohon masukan dan diskusi terkait perubahan Perda tersebut agar masyarakat Sumut mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik serta sistem kesehatan yang paripurna kedepannya,” katanya.

Dalam sambutannya, Etik menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Daerah Prov. Sumut karena menaruh perhatian besar terhadap aksesibilitas pelayanan kesehatan masyarakat Sumut. “Tiga hal yang menjadi acuan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dalam penyiapan layanan kesehatan, yaitu mudah diakses, berkualitas dan harganya terjangkau oleh masyarakat baik melalui jaminan kesehatan maupun tidak,” jelasnya.

Pada kesempatan tersebut, Analis Kebijakan Ahli Madya BKPK Nirmala Ahmad Ma’ruf dalam paparannya menjelaskan bahwa Kemenkes saat ini berkomitmen untuk melakukan transisi sistem kesehatan melalui 6 Pilar Transformasi Kesehatan. Yaitu Transformasi Layanan Primer, Transformasi Layanan Rujukan, Transformasi Sistem Ketahanan Kesehatan, Transformasi Sistem Pembiayaan Kesehatan, Transformasi SDM Kesehatan, dan Transformasi Teknologi Kesehatan.

Pertemuan dilanjutkan dengan diskusi mengenai berbagai macam topik dan isu kesehatan. Utamanya mengenai isu banyaknya masyarakat Indonesia yang berobat ke luar negeri. Selain itu isu mengenai pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional di Prov. Sumut. Isu lainnya yaitu ketersediaan dokter dan alat kesehatan, serta layanan rujukan di rumah sakit.

Terkait banyaknya warga yang berobat di luar negeri, Etik menekankan bahwa sebenarnya layanan kesehatan di dalam negeri tidak kalah bagus dengan di luar negeri. Isu tersebut juga sudah menjadi perhatian Pemerintah Pusat, dan itulah salah satu dasar Pemerintah Pusat melakukan Transformasi Kesehatan.

Lebih lanjut, Etik menjelaskan bahwa kedepannya pelaksanaan pembangunan kesehatan akan diselaraskan antara pusat dan daerah. Untuk menyelaraskannya, Kemenkes mengembangkan Rencana Induk Bidang Kesehatan (RIBK). “RIBK ini akan menjadi acuan dalam penyusunan RPJMN yang akan menjadi alat menyinergikan perencanaan di pusat dan di daerah,” terangnya.

Terakhir, Etik mendukung pemerintah daerah dalam membuat regulasi untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di Prov. Sumut. Disampaikan juga, saat ini Kemenkes menerapkan mekanisme pembinaan wilayah, dan Prov. Sumut merupakan wilayah binaan Direktorat Produksi dan Distribusi Alat Kesehatan, Direktorat Jenderal Kesehatan Kefarmasian dan Alat Kesehatan. Diharapkan kedepannya, terjadi komunikasi yang lebih intensif antara pemerintah daerah dengan unit kerja pembina wilayah yang akan memfasilitasi pemecahan masalah terkait dengan integrasi program transformasi antara pusat dan daerah.

Selain Pansus Sistem Kesehatan DPRD, hadir mendampingi rombongan yaitu Kepala Dinas Kesehatan Prov. Sumatera Utara, Direktur Utama RSU Haji Medan, Wakil Direktur RSU Haji Medan, Perwakilan Dinas Sosial Prov. Sumut, dan Tim Tenaga Ahli DPRD Prov. Sumut. (Penulis Nisa Fitriyani/Edit Timker HDI)

Mendorong Budaya Kerja Pusjak PDK yang Efektif dan Efisien

Bogor– Pusat Kebijakan Pembiayaan dan Desentralisasi Kesehatan (Pusjak PDK) Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI (BKPK Kemenkes) mengadakan Capacity Building bertajuk Pemantauan Evaluasi, Efektifitas dan lmplementasi Kebijakan Kementerian Kesehatan Tahun 2024, serta penguatan transformasi kerja Pusjak PDK. Acara di helat Rabu s.d. Jumat, 24-26 Juli 2024 di Bogor.

Menurut Kepala Pusjak PDK BKPK Kemenkes Ahmad Irsan A. Moeis, kegiatan ini dilakukan untuk menguatkan dua hal. Pertama, melakukan perubahan mindset. Perubahan ini penting supaya Pusjak PDK paham saat ini sedang berada dimana dan mau kemana sekaligus mengetahui cara menjalankan atau mencapai tujuan tersebut,

“Biasanya mindset yang diharapkan adalah mengenal customer kita”, ungkap Irsan. Harapannya, melalui CB ini seluruh keluarga besar Pusjak PDK memiliki pemahaman yang sama terhadap customer yang harus dilayani oleh Pusjak PDK.

Kedua, dalam rangka terus mentransformasi budaya kerja. Budaya kerja yang diinginkan terkait keinginan masyarakat agar pemerintah bekerja lebih efisien dan efektif. “Budaya kerja yang efektif dan efisien ini yang akan kita dorong terus terjadi di Pusjak PDK,” harapnya lebih lanjut.

Irsan mencermati selama kegiatan berlangsung ada spirit besar dari pegawai Pusjak PDK untuk merubah mindset dan budaya kerja lebih agile dan mengedepankan customer perspektif dibandingkan kepentingan personal. Selain itu, terbentuk juga sinergi diantara pegawai. “Harapannya sinergi kolaborasi kedepan semakin lebih baik sehingga pusjak PDK bisa menjadi leaders factory di Kementerian Kesehatan,” tegas Irsan.

Metode yang dilakukan dalam acara ini dilakukan secara mix. Yakni dengan mengundang para narasumber kompeten yang dapat memberi pengetahuan dan pemahaman akan tujuan merubah mindset dan budaya kerja. Selanjutnya dikombinasikan dengan permainan untuk meningkatkan soliditas, kekeluargaan dan saling keterhubungan antar satu sama lain. Tidak hanya antar individu tetapi antar tim kerja. “Harapan kami para timker ini bisa bekerja cross cutting,” kata Irsan.

Irsan juga berharap setiap individu di Pusjak PDK bisa memahami seluruh tugas dan bisa menjelaskannya kepada masyarakat mengenai tugas dan fungsi lembaga.

Peserta kegiatan adalah seluruh pegawai aktif Pusjak PDK, pegawai yang sudah purna bakti serta pegawai yang sudah mutasi ke unit kerja lain. Menurut Irsan kontribusi pegawai yang sudah purna bakti selama ini cukup besar terhadap organisasi. Pusjak PDK bisa berada saat ini karena adanya kontribusi dan peran dari para pegawai ini di masa lalu. Hal ini perlu diberikan apresiasi sekaligus dapat memperkaya pengetahuan dan memberi motivasi bagi pegawai yang saat ini masih aktif.

Irsan menjelaskan dengan mengundang pegawai yang telah mutasi, pegawai ini dapat memberi warna baru dan pengalaman terbaik yang pernah didapatkan di Pusjak PDK untuk diterapkan di tempat yang baru.

Dalam kesempatan pembukaan acara, hadir Kepala BKPK Syarifah Liza Munirah memberi sambutan dan arahan. (Penulis Fachrudin Ali/Edit Pusjak PDK/Timker HDI)

12,541FansLike
3,200,000FollowersFollow
4,251,000FollowersFollow
3,251,580FollowersFollow
9,320SubscribersSubscribe