web analytics
Header Ads
Beranda Blog Halaman 68

Sebanyak 1.659 Pegawai BRIN Sudah di Vaksin Booster Covid-19

Jakarta – Vaksinasi booster Covid-19 di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah berhasil menyuntik 1.659 pegawai. Selama dua hari, 15-16 Februari 2022, vaksinasi yang difasilitasi oleh Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) ini dilakukan pada tiga titik lokasi yaitu di Kantor Pusat BRIN Thamrin yang berhasil menyuntik 819 pegawai, di Kantor BRIN Gatot Subroto 367 pegawai, dan Kantor BRIN Pasar Jumat sebanyak 472 pegawai.

Ditiap lokasi pemberian vaksinasi ini tidak ditemukan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) berat dan 6 orang dilaporkan mengalami KIPI ringan. Dokter Nurhidayati yang bertugas di mini ICU sentra vaksinasi di BRIN Thamrin menjelaskan KIPI yang dikeluhkan demam ringan, pusing, dan nyeri. “KIPI serius tidak ada. Rata-rata ngeluhnya menjadi meriang, pusing. Diberi paracetamol dan diobservasi sebentar sudah enakan, bisa pulang,” jelasnya.

Lebih lanjut Nurhidayati menjelaskan bahwa jika keluhan KIPI berlanjut dapat menghubungi dokter yang kontaknya tertera di kartu vaksinasi. Selain itu juga dapat langsung datang ke Pukesmas terdekat.

Menurut Nurhidayati mayoritas pegawai datang ke mini ICU dengan keluhan hipertensi. Namun setelah istirahat, di observasi dan diberikan obat, dinyatakan layak vaksin. Lebih lanjut dokter yang sehari-hari bertugas di RSPI Sulianti Saroso ini menjelaskan perawatan hipertensi adalah dengan pemeriksaan tensi dan minum obat secara rutin.

“Kebanyakan pasien hipertensi tidak rutin minum obat. Yang tadi datang kesini hanya 2 atau tiga orang yang rutin minum obat, rata-rata juga jarang kontrol karena merasa tidak ada keluhan,” tutur dokter Nurhidayati.

Penulis berita: Dian Widiati

Vaksinasi Booster di Kawasan BRIN Pasar Jumat Berlangsung Lancar

Jakarta – Kementerian Kesehatan terus meningkatkan upaya pencegahan penularan dan pengurangan kematian akibat Covid-19. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan program vaksinasi booster di Kementerian/Lembaga. Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan secara serentak, memfasilitasi vaksinasi booster Covid-19 di Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) pada  3 lokasi, yaitu di Kantor Pusat Thamrin, Kantor Ex.LIPI Gatot Subroto dan Kawasan BRIN Pasar Jumat (15/2/2022).

Pelaksanaan vaksinasi booster Covid-19 di Kawasan BRIN Pasar Jumat menyasar sedikitnya 700 orang pegawai yang sudah mendapatkan dosis primer Sinovac atau Astrazeneca. Para pegawai akan menerima vaksin Astrazeneca setengah dosis, jika dosis primernya adalah Sinovac. Bagi pegawai yang mendapatkan dosis primer Astrazeneca akan menerima suntikan booster Astrazeneca dosis penuh. “Sudah dicatat pada saat registrasi di depan apakah sasaran ini primernya  Sinovac atau AZ, sehingga memudahkan tenaga medis didalam untuk menentukan apakah penerima akan diberikan half dose maupun full dose,”terang dokter Yasinta dari Puskesmas Kecamatan Cilandak.

Lebih lanjut Dokter Yasinta menuturkan perencanaan pembuangan limbah medis juga sudah direncanakan dengan baik. Limbah medis akan di gabungkan menjadi satu di BRIN Kawasan Thamrin sebagai titik akhir, sebelum dibuang ke tempat pembuangan khusus. Limbah non infeksius dibuang menggunakan plastik hitam, limbah medis menggunakan plastik kuning, dan limbah suntik menggunakan kotak pengaman. Pada akhir kegiatan, akan dilakukan pemilahan limbah dengan benar, kemudian limbah-limbah ini akan diantar ke Thamrin dan dibuang bersama-sama dengan limbah suntik dari Thamrin dan Gatot Subroto.

Pada kesempatan ini hadir perwakilan dari Kementerian Kesehatan Kepala Pusat Kebijakan Sistem Ketahanan Kesehatan dan Sumber Daya Kesehatan, I Gede Made Wirabrata. “Pelaksanaan vaksinasi booster berlangsung lancar dan dipersiapkan dengan baik. Alur vaksinasi sudah tidak ada hambatan, internet yang digunakan untuk mengakses Pcare juga lancar.  Juga dukungan logistik dan vaksinator yang luar biasa semangatnya untuk membantu kelancaran kegiatan vaksinasi di BRIN, ”tutur Wirabrata.

Kelancaran pelaksaan vaksinasi booster di BRIN Kawasan Pasar Jumat terselenggara atas kerjasama Kementerian Kesehatan, BRIN, Dinas Kesehatan Kota Administrasi Jakarta Selatan, Puskesmas Cilandak, dan Rumah Sakit Prikasih.

Penulis berita: Ully Adhie Mulyani, Penyunting: Dian Widiati

Percepat Program Vaksinasi, BRIN Gatot Subroto Vaksin Booster 700 Pegawainya

Jakarta – Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan melalui Pusat Kebijakan Upaya Kesehatan hari ini (15/2/2022) memfasilitasi pelaksanaan vaksinasi booster di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Kampus Gatot Subroto Jakarta. 

Sasaran vaksinasi ini adalah 700 pegawai BRIN kampus Gatot Subroto dengan vaksin Astrazeneca sebagai vaksin booster. Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Kebumian, Prof. Ocky Karna Rajasa yang turut berpartisipasi dalam vaksinasi hari ini mengatakan bahwa seluruh Civitas peneliti BRIN berterima kasih atas penyelenggaraan dan pelayanan yang sangat baik. 

“Harapannya semoga cakupan vaksinasi booster hari ini cukup baik dan tidak ada kendala atau gangguan yang berarti selama kegiatan,” ujar Ocky. 

Seperti pada pelaksanaan vaksinasi dosis pertama dan kedua, petugas pelayanan terdiri dari meja pendaftaran, meja skrining, meja vaksinasi dan meja observasi. Ada tujuh tim vaksinator yang merupakan tenaga kesehatan dari RS Kartika Pulomas dan klinik BRIN. Sementara itu, pelaksanaan vaksinasi ditargetkan mencapai 100 orang per jam untuk memenuhi cakupan harian dan diberlakukan pembagian waktu pelaksanaan vaksinasi untuk mencegah antrian yang menumpuk.

Selain Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kemenkes RI, pihak-pihak lain yang terlibat antara lain Dinkes Prov. DKI Jakarta, Puskesmas Mampang, dan RS Kartika Pulomas sebagai rumah sakit rujukan jika terjadi KIPI. 

Tak hanya di kampus Gator Subroto, pelaksanaan vaksinasi booster di BRIN juga digelar di dua tempat lainnya yaitu kantor pusat BRIN Thamrin dan Kantor Ex BATAN Pasar Jumat Jakarta. (Nisa Fitriyani)

Vaksinasi Booster BRIN Sasar 2.459 Pegawai

Jakarta – Kementerian Kesehatan melakukan percepatan cakupan vaksinasi Covid-19 dengan memfasilitasi kegiatan vaksinasi dosis ketiga atau vaksinasi booster di kementerian/lembaga. Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan melalui Pusat Kebijakan Upaya Kesehatan memfasilitasi kegiatan vaksinasi booster Covid-19 di Badan Riset dan Inovasi (BRIN) pada Selasa dan Rabu, 15 dan 16 Februari 2022.

Pada kesempatan ini Kepala Pusat Kebijakan Upaya Kesehatan, Pretty Multihartina menuturkan bahwa vaksinasi adalah salah satu cara untuk memitigasi penyakit terutama dalam situasi pandemi Covid-19. Pemerintah berusaha memvaksinasi masyarakatnya untuk mengurangi tingkat kematian atau tingkat keparahan penyakit. “Hasil studi dan pantauan yang dilakukan bersama-sama diberbagai negara menunjukkan vaksin memiliki manfaat yang besar. Hal ini dibuktikan dengan tingkat kematian dan kesakitan yang menurun. Kemudian WHO menetapkan kebijakan vaksin booster,” ujarnya.

Penggunaan vaksin dalam kegiatan vaksinasi booster di BRIN adalah astrazeneca. “Kita tidak bisa memilih jenis vaksin yang digunakan karena ketersediaannya. Semua vaksin yang telah keluar ijin penggunaan atau Emergency Use Authorization itu baik. Artinya telah memenuhi standar atau kaidah dan bisa memproteksi,” jelasnya.

Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko yang meninjau pelaksanaan vaksinasi booster menyampaikan bahwa program vaksinasi dosis ketiga ini adalah kontribusi kita dalam meningkatkan kekebalan komunitas atau herd immunity sehingga tidak lagi terjadi transmisi lokal. Meskipun terjadi tidak sampai berdampak berat.

Pelaksanaan vaksinasi booster di BRIN dilakukan di tiga lokasi yang berbeda yaitu di Kantor BRIN Jalan M.H. Thamrin, Kantor BRIN Jalan Gatot Subroto, dan Kantor BRIN Pasar Jumat. Plt. Sekretaris Utama BRIN, Rr Nur Tri Aries Suestiningtyas yang turut memantau jalannya vaksinasi menyampaikan apresiasi atas dukungan Kementerian Kesehatan dalam kegiatan vaksin booster ini.

“Pelaksanaannya terlihat jauh lebih rapi dibandingkan dengan pelaksanaan vaksinasi sebelumnya. Antusiasme pegawai juga cukup tinggi. Meskipun terjadi penurunan jumlah sasaran, bukan karena takut, namun karena ada sebagian yang telah mendapatkan fasilitas vaksinasi booster di fasilitas kesehatan lainnya,” terangnya. 

Nur Tri Aries berharap dengan dilakukannya vaksinasi booster ini pegawai akan merasa lebih percaya diri. Pegawai juga diharapkan dapat menjaga kualitas kinerja yang sama baik saat work from home maupun work from office.

Sebagai Ketua Satgas Covid-19 BRIN, Plt. Kepala Biro Komunikasi Publik, Umum, dan Kesekretariatan, Driszal Fryantoni menyampaikan bahwa kegiatan vaksinasi booster BRIN menyasar 2.459 pegawai. “Secara teknis pelaksanaan vaksinasi booster ini didukung oleh Rumah Sakit Ketergantungan Obat dan Puskesmas Menteng untuk pelaksanaan di Kantor

BRIN Jalan Thamrin. Di Pasar Jumat didukung oleh Puskesmas Cilandak dan RS Prikasih, dan yang di Gatot Subroto didukung oleh Puskesmas Mampang dan RS Kartika Pulomas,” ujarnya. Penulis berita: Dian Widiati

Mengenal Cara Deteksi Varian SARS-CoV-2 dengan WGS dan PCR-SGTF

Pada tanggal 16 Desember 2021, temuan kasus pertama COVID-19 varian Omicron di Indonesia diumumkan secara resmi oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin. Kala itu seorang petugas kebersihan yang bekerja di RSDC Wisma Atlet Kemayoran Jakarta terkonfirmasi Omicron tepat sehari sebelumnya.

Di awal tahun 2022, kasus konfirmasi Omicron di Indonesia semakin bertambah. Tercatat dari data GISAID total kasus konfirmasi Omicron hingga 13 Februari 2022 sebanyak 5.106 kasus. Seiring dengan penyebaran COVID-19 varian Omicron yang cepat, tren kasus COVID-19 di Indonesia terus mengalami peningkatan hingga pertengahan Februari 2022.

Deteksi Dini Varian SARS-CoV-2

Varian SARS-CoV-2 Omicron mulai menjadi varian dominan di Indonesia. Menghadapi fenomena COVID-19 yang terjadi saat ini, Kementerian Kesehatan berupaya meningkatkan pelaksanaan deteksi dini kemunculan varian baru virus SARS-CoV-2.

Seperti yang diketahui, pada dasarnya virus secara alamiah akan terus berubah melalui mekanisme mutasi. Terjadinya mutasi dapat berdampak terhadap penularan, keparahan penyakit, vaksin, pengobatan, dan penanganan kesehatan masyarakat. Oleh karena itu monitoring dan pengawasan harus terus dilakukan terhadap mutasi yang muncul sebagai langkah antisipatif.

Sebelumnya identifikasi mutasi virus SARS-CoV-2 di Indonesia telah dilakukan dengan metode Whole Genome Sequencing (WGS). Namun saat ini pemerintah juga menggencarkan deteksi dini dengan reagen PCR metode SGTF (S-Gene-Target-Failure) yang dinilai mampu memberikan indikasi cepat bahwa kasus yang terkonfirmasi merupakan varian Omicron.

Apa itu WGS dan SGTF?

WGS merupakan proses menentukan urutan DNA lengkap dari genom SARS-CoV2 (±30.000 bp) dengan menggunakan teknologi Next-Generation-Sequencing. Selain digunakan untuk mengidentifikasi varian, WGS dapat pula dimanfaatkan untuk keperluan lain seperti pengembangan vaksin, diagnostik, dan menentukan pola transmisi serta kekerabatan.

Khususnya untuk varian Omicron, terdapat posisi mutasi khas yaitu delesi asam amino gen S posisi 69/70. Posisi mutasi tersebut bisa dikenali dengan gagalnya deteksi dengan metode PCR. Kondisi tersebut dikenali dengan istilah SGTF (S-Gene-Target-Failure) yang kemudian digunakan oleh WHO sebagai panduan skrining varian/mutasi. Metode SGTF dapat mendeteksi varian genetika lebih cepat jika dibandingkan dengan WGS. Tetapi hanya varian yang sudah diketahui atau varian tertentu seperti Omicron. Sedangkan WGS dapat mengidentifikasi semua mutasi/varian, bahkan yang belum diketahui sebelumnya. Identifikasi Omicron dengan SGTF hanya membutuhkan rentang waktu 4-6 jam setelah pengambilan sampel sementara itu dengan tes WGS membutuhkan waktu paling cepat 3-5 hari. (Ripsidasiona)

Menkes Lantik Tiga Pejabat Tinggi Pratama Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan

Jakarta – Menteri Kesehatan, Budi G. Sadikin melantik dan mengambil sumpah jabatan 47 Pejabat Pimpinan Tinggi Madya dan Pratama di lingkungan Kementerian Kesehatan pada Kamis, 10 Februari 2022. Ada tiga Pejabat Tinggi Pratama di lingkungan Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan yang dilantik dan diambil sumpah pada hari ini, yaitu Dr. Drs. Nana Mulyana, M.Kes sebagai Sekretaris Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, Dra. Pretty Multihartina, Ph.D. sebagai Kepala Pusat Kebijakan Upaya Kesehatan, dan Dr. I Gede Made Wirabrata, S.Si., Apt., M.M., M.H. sebagai Kepala Pusat Kebijakan Sistem Ketahanan Kesehatan dan Sumber Daya Kesehatan.

Dalam sambutannya Menteri Kesehatan menyampaikan bahwa pelantikan hari ini adalah kelanjutan dari transformasi sektor kesehatan yang diamanahkan Presiden. Menkes menginstruksikan agar pejabat yang baru dilantik segera mempelajari tugas pokok dan fungsi unit kerja, memahami dengan baik semua aspek yang terkait, termasuk tujuan, sasaran, target indikator yang harus dicapai. Menkes Budi menekankan pentingnya koordinasi yang erat dengan berbagai pemangku kepentingan agar target yang dicanangkan dalam program transformasi kesehatan nasional dapat dicapai pada tahun 2024 mendatang.

Secara khusus Menteri Kesehatan memberikan pengarahan tentang pengelolaan laboratorium selama masa transisi. “Laboratorium Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan akan berada dibawah Pusat Kebijakan Sistem Ketahanan Kesehatan dan Sumber Daya Kesehatan sampai kita menyelesaikan struktur organisasi mengenai UPT-UPT yang tadinya ada dibawah Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan,” tuturnya.  

Pada kesempatan ini Menkes Budi juga mengungkapkan bahwa para pimpinan yang dilantik telah menandatangani pakta integritas. Menurut Menkes hal ini sangat penting bagi organisasi Kementerian Kesehatan karena para pimpinan ini telah menyanggupi untuk tidak melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme. “Saya yakin dan percaya bahwa Saudara-saudara akan mewujudkan tekad untuk membangun Kementerian Kesehatan yang lebih bersih, lebih profesional, dan berintegritas, yang akan menjadi contoh bagi kementerian dan lembaga lainnya di Pemerintah Republik Indonesia,” pesan Menkes Budi menutup sambutannya.

Pelantikan pejabat tinggi pada hari ini memberikan tugas dan amanah baru bagi tiga Kepala Pusat Litbang yang sebelumnya bertugas di Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Para Pimpinan Tinggi yang mendapat tugas baru tersebut adalah Dr. dr. Vivi Setiawaty, M.Biomed. sebagai Direktur Sumber Daya Manusia, Pendidikan, dan Umum RSPI dr. Sulianti Saroso Jakarta; Sugianto, SKM, M.Sc.PH sebagai Sekretaris Direktorat Jenderal Tenaga Kesehatan; dan Ir. Doddy Izwardy, M.A. sebagai Direktur Peningkatan Mutu Tenaga Kesehatan.  Penulis berita: Dian Widiati

Vaksinasi Booster BP Jamsostek, Tidak Ada KIPI

Jakarta, – Vaksinasi booster Covid-19 untuk karyawan BPJS Ketenagakerjaan (BP Jamsostek) berlangsung aman dan lancar. Dalam pelaksanaannya, pihak BP Jamsostek telah menyiapkan sarana prasarana dan dukungan logistik, termasuk SDM yang sangat memadai. Hal tersebut disampaikan oleh Sugianto, Kepala Puslitbang Humaniora dan Manajemen Kesehatan (HMK), Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan. “Ini menjadi sesuatu yang patut kita contoh dan berikan apresiasi,” ujarnya disela-sela memantau kegiatan tersebut, Sabtu (5/2/2022) di Plaza BP Jamsostek.

Sugianto menambahkan, agar tidak ragu atau cemas terhadap vaksin Covid-19, karena apapun jenis vaksinnya sudah aman. “Untuk masyarakat secara umum, sekali lagi mari kita bersama-sama sukseskan pelaksaan vaksinasi, khususnya pada kegiatan vaksinasi booster, dan mari kita tetap patuh pada protokol kesehatan dengan baik,” pesannya.

Sementara itu, Putri dari RS Jakarta melaporkan tidak ada KIPI pasca vaksinasi. Namun, adanya peserta yang memang harus ditunda vaksinasi. Hal tersebut dikarenakan adanya kondisi kesehatan seperti hipertensi. Bila pasien setelah istirahat dan minum obat, hasil tekanan darahnya menurun akan diijinkan untuk vaksinasi. Namun bila pasien tetap diatas angka 200, maka vaksinasinya ditunda.

Pada akhir kegiatan, M.Rijadi wewakili Puslitbang HMK mengatakan bagi karyawan yang belum bisa hadir, BP Jamsostek dapat menghubungi Puskesmas Setiabudi atau Klinik Nayaka. Sehingga diharapkan karyawan yang sesuai dengan persyaratan bisa divaksinasi booster. “Mengingat saat ini angka kenaikan kasus positif meningkat, vaksinasi booster untuk mencegah penularan terutama untuk varian baru,” tambahnya.

Selanjutnya, Budi mewakili BP Jamsostek mengatakan, selama dua hari pelaksanaan vaksinasi ini telah mencapai sebanyak 1375 karyawan yang telah divaksin. “Dengan adanya vaksinasi ini dapat mencegah peningkatan kasus di BP Jamsostek. Upaya ini juga untuk menekan angka kasus di Jakarta,” ujar Budi, menutup kegiatan. (Faza Nur Wulandari)

Tangkal Transmisi Covid-19, Sebanyak 1.914 Karyawan BP Jamsostek Mendapat Vaksin Booster

Jakarta – “Kita juga menyadari saat ini terjadi peningkatan kasus. Oleh karena itu, kami berharap vaksinasi ini merupakan salah satu upaya untuk menangkal transmisi Covid-19. Namun tentunya tidak mungkin hanya dari upaya vaksinasi saja, tetap harus diimbangi dengan protokol kesehatan,” ungkap Sugianto, Kepala Puslitbang Humaniora dan Manajemen Kesehatan (HMK) Kementerian Kesehatan, pada pelaksanaan vaksinasi booster di Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan (BPJAMSOSTEK) Jakarta, Jumat (4/2/2022).

Sebagai langkah pemerintah dalam mempercepat herd immunity, Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesehatan melalui Puslitbang HMK memfasilitasi kegiatan vaksinasi massal diselenggarakan BPJAMSOSTEK selama dua hari, 4-5 Februari 2022. Kegiatan ini disasarkan pada sejumlah 1.914 karyawan BPJAMSOSTEK dengan menggunakan vaksin AstraZeneca sebagai booster.

Direktur Umum dan SDM BPJAMSOSTEK, Abdur Rahman Irsyadi mengatakan bahwa pelaksanaan vaksinasi booster diharapkan dapat meningkatkan imunitas para karyawan dan kegiatan dapat terus berlanjut hingga ke cabang daerah.

“Kita berharap kegiatan ini dapat terus kontinyu hingga ke daerah-daerah. Dan kita akan terus bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan dan Dinas Kesehatan di Kabupaten/Kota,” terang Abdur Rahman saat membuka acara secara resmi. Pelaksanaan vaksinasi dosis lanjutan ini melibatkan 40 tenaga kesahatan dengan membentuk delapan tim vaksinasi. Tak hanya itu, turut berperan serta tim pendukung dari Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan, Pusat Data dan Informasi Kemenkes, Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Suku Dinas Kesehatan Kota Administratif Jakarta Selatan, Puskesmas Kecamatan Setiabudi, tim vaksinator dari RS Bakti Mulya dan Klinik Nayaka, serta RS Fatmawati dan Pertamina sebagai rujukan jika terjadi KIPI. (Ripsidasiona)

Vaksin Covid19, Tiket Menuju Kehidupan Normal

Oleh : Ratih Dian Saraswati, M.Biomed

Sejak hadirnya virus Covid-19 pada awal tahun 2020 yang hingga pertengahan tahun 2021 ini belum usai bahkan bertambah buruk dengan munculnya varian baru covid 19, Banyak orang kemudian berharap pada vaksin. Vaksin lah yang mampu meredakan badai Covid yang melanda dunia. Seiring dengan teknologi yang telah teramat maju, proses pembuatan vaksin kini menjadi lebih singkat. Di awal Januari 2021, CDC dan WHO telah menyetujui penggunaan berbagai merk vaksin Covid.

Meski banyak orang berharap agar vaksinasi segera dilakukan, tidak sedikit orang yang meragukan keamanan vaksin yang akan digunakan. Ada beberapa pertanyaan yang sering muncul terkait keamanan vaksin.

Sama seperti halnya berbagai jenis vaksin yang telah umum digunakan, vaksin covid 19 harus melalui serangkaian penelitian yang ketat melalui berbagai uji prekilinis hingga uji klinis yang dilakukan diberbagai wilayah di dunia untuk menjamin keamanan vaksin saat digunakan.

Proses penelitian dan pembuatan vaksin covid 19 diawali dengan riset menggunakan sel serta uji menggunakan hewan coba di laboratorium, biasa dikenal sebagai uji preklinis. Jika hasil pengujian berjalan baik, langkah selanjutnya penelitian penggunaan vaksin pada manusia yang biasa dikenal sebagai uji klinis.

Semua vaksin Covid yang saat ini resmi digunakan diseluruh dunia merupakan vaksin yang lolos berbagai persyaratan uji tadi. Semua vaksin dinyatakan efektif dalam mencegah keparahan penyakit yang disebabkan virus Sars cov 2 selain itu berdasarkan hasil uji klinis dilaporkan sangat sedikit penerima vaksin yang mengalami efek samping akibat vaksinasi.

Apakah yang menyebabkan vaksin harus melewati serangkaian uji tersebut? Bahan apakah yang terdapat didalam vaksin hingga vaksin mampu memberikan perlindungan terhadap serangan virus sekaligus menyebabkan beberapa efek samping?

Bahan bahan yang terdapat didalam vaksin berbeda beda tergantung tipe vaksin namun secara umum, didalam vaksin terdapat

  1. Komponen protein virus; potongan kode genetic virus (DNA atau mRNA) atau sejumlah kecil virus yang dimatikan atau dilemahkan
  2. Bahan yang digunakan untuk meningkatkan respon imun (adjuvant)
  3. Bahan yang digunakan untuk mencegah vaksin terkontaminasi bakteri (pengawet)
  4. Larutan isotonis (saline) steril untuk injeksi.

Secara umum vaksin aman digunakan untuk masyarakat, meskipun demikian ada beberapa golongan orang yang sebaiknya tidak di beri vaksin terkait kondisi kesehatannya saat ini. Misalnya orang yang alergi terhadap komponen yang terdapat didalam vaksin, orang yang sedang mengalami sakit parah, orang dengan system imun yang lemah seperti pada penderita HIV serta orang yang memiliki Riwayat penyakit pembekuan darah. Orang orang dengan kondisi tersebut sebaiknya konsultasi dengan dokter terlebih dahulu.

Orang yang telah di vaksinasi, biasanya mengalami efek ringan vaksin seperti sakit di area yang disuntik atau demam dan sedikit merasa lemas. Hal tersebut merupakan reaksi normal, dan merupakan pertanda bahwa tubuh sedang memberikan respon dan membentuk antibodi sesuai dengan yang diharapkan. Namun ada juga orang yang tidak merasakan apapun setelah vaksinasi. Apakah pada orang yang tidak merasakan efek apapun, vaksin tetap dianggap bekerja membentuk antibody? Hasil penelitian yang dilakukan oleh CDC, dan dimuat pada MMWR Weekly Report memperlihatkan tidak ada pengaruhnya antara orang yang merasakan efek ringan vaksin dengan orang yang tidak merasakan apapun. Antibodi tetap terbentuk sesuai dengan fungsi vaksin yang disuntikkan.

Lalu, mengapa, pada sebagian orang vaksin memberi pengaruh ringan hingga berat, dan pada sebagian lagi tidak merasakan efek pasca vaksin.

Vaksin berfungsi untuk melatih tubuh agar mengenali pathogen penyebab penyakit, baik itu virus atau bakteri. Agar dapat bekerja sesuai fungsinya, maka, vaksin dibuat sedemikian rupa agar menyerupai dengan pathogen aslinya (mimic) namun sekaligus aman untuk tubuh. Oleh karena itu, hanya bagian dari pathogen yang digunakan untuk membuat vaksin, misalnya protein nya saja, atau DNA nya saja atau virus utuh keseluruhan namun virus tersebut telah dimatikan. Bagian dari pathogen ini disebut sebagai antigen.

Ketika pertamakali vaksin disuntikkan ke tubuh melalui lengan misalnya, antigen tersebut kemudian dibawa masuk kedalam sel tubuh, lalu di dalam sel tersebut, informasi yang diperoleh diubah menjadi protein virus, lalu kemudian dimunculkan ke permukaan sel. Kemudian sel sel imun secara simultan terlibat hingga akhirnya tubuh membentuk pertahanan terhadap virus. Respon simultan dari sel sel imun ini berlangsung selama beberapa jam atau beberapa hari, dan terkadang menyebabkan gejala demam, atau pembengkakan di area yang disuntik. Proses ini sebenarnya merupakan proses alami yang dirancang oleh tubuh untuk membantu sistem imun bekerja. Sistem imun melakukan komunikasi melalui pembuluh darah, agar pembentukan sistem imun berlangsung lebih cepat, diperlukan pembuluh darah yang lebih lebar itulah mengapa di area suntikan terasa bengkak dan sakit (sinyal inflamasi). Jika sinyal inflamasi yang terbentuk cukup kuat, biasanya disertai demam. Hal ini memicu sistem kekebalan tubuh untuk berespon lebih kuat, menyatakan bahwa demam yang terbentuk perlu diatasi secara sistemik. Gejala gejala ini kemudian akan reda dalam beberapa hari. Hal ini disebabkan respon tubuh setelah vaksinasi hanya sekedar melawan antigen sejumlah yang dimasukkan kedalam tubuh.

Inilah yang membedakan antara vaksinasi dengan infeksi yang diperoleh secara alami. Infeksi alami menyebabkan jumlah virus (antigen) yang masuk kedalam tubuh tidak terukur jumlahnya dan akan terus tumbuh secara eksponensial. Pertumbuhan patogen ini jika tidak sebanding dengan kekuatan sistem imun yang terbentuk, menyebabkan manusia menjadi demam, dan kemudian sakit sebagai efek dari serangan virus.

Efek setelah vaksinasi berbeda pada setiap orang, meski belum begitu jelas alasan yang menjadi penyebabnya, secara umum biasanya wanita, anak-anak serta orang yang pernah terinfeksi merasakan efek lebih kuat pasca vaksinasi. Sementara orang orang dengan sistem imun lemah seperti penderita diabetes dan obesitas, biasanya memiliki respon imun yang lemah meski hal tersebut bukan sebuah kepastian. Belum ada riset yang mengidentifikasi hubungan antara reaksi inflamasi awal dan respons jangka panjang terhadap efek perlindungan dari vaksinasi. Sehingga, seberapa baik kualitas vaksin bekerja didalam tubuh anda tidak dapat diukur dari respon yang anda rasakan. Respon tubuh setelah vaksinasi hanya merupakan respons imun adaptif yang membantu tubuh Anda mendapatkan kekebalan dari vaksin.

12,541FansLike
3,200,000FollowersFollow
4,251,000FollowersFollow
3,251,580FollowersFollow
9,320SubscribersSubscribe