web analytics
Header Ads
Beranda Blog Halaman 37

Manfaat JKN

Potret Sehat Indonesia dari Kacamata SKI 2023

Kebijakan kesehatan di Indonesia memerlukan data kesehatan berbasis bukti yang dimulai dari perencanaan sampai dengan evaluasi. Hal ini telah diterapkan Kementerian Kesehatan, salah satunya dengan melakukan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) pada tahun 2023 yang merupakan gabungan antara Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) dan Studi Status Gizi Indonesia (SSGI).

SKI 2023 telah selesai dilakukan dan data yang dihasilkan dapat dimanfaatkan. Dalam laporan SKI tematik, data SKI dikelompokkan dalam tujuh tema yaitu Kesehatan Ibu dan Anak, Status Gizi Balita (Stunting dan Determinannya), Akses Fasilitas Pelayanan Kesehatan dan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), Penyakit Tidak Menular dan Faktor Risikonya, Kesehatan Jiwa Remaja, Kesehatan Gigi dan Mulut, dan Penggunaan Antibiotik Oral. Data yang lebih komprehensif, dituangkan dalam laporan SKI dalam angka.

Kesehatan Ibu dan Anak merupakan salah satu fokus dalam tujuan Pembangunan berkelanjutan (SDGs). Kebijakan Kementerian Kesehatan untuk ibu hamil adalah mendapatkan minimal enam kali pelayanan antenatal. SKI 2023 menunjukkan 6 dari 10 ibu hamil telah mendapat pelayanan antenatal terpadu berkualitas. Ibu bersalin ditolong oleh tenaga kesehatan sudah sangat baik yaitu sebesar 96,1%, dan 90% telah dilakukan di fasilitas kesehatan. Namun pada bayi masih terdapat 23,6% bayi dengan berat lahir rendah tidak mendapatkan perawatan khusus.

Selanjutnya adalah temuan stunting, yang merupakan salah satu program prioritas bidang kesehatan. Diketahui telah terjadi tren penurunan stunting dalam 10 tahun terakhir. Namun prevalensi angka stunting tingkat provinsi bervariasi.

Pada program prioritas bidang kesehatan lainnya yakni Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), SKI 2023 menemukan sebesar 27,8% penduduk Indonesia belum memiliki jaminan kesehatan. Angka ini hampir sama dengan temuan Susenas pada tahun yang sama, yaitu sebesar 27,6%. Berkaitan dengan hal ini adalah akses pelayanan kesehatan yang masih belum merata. Masih ada kesenjangan antara kelompok Penerima Bantuan Iuran (PBI) dan juga kelompok tanpa jaminan kesehatan dalam mengakses pelayanan kesehatan. Dalam satu tahun terakhir 44,1% rumah tangga kelompok PBI diikuti oleh 35,9% rumah tangga tanpa jaminan kesehatan tidak mengakses layanan kesehatan.

Pada penyakit tidak menular, penyakit hipertensi dan diabetes terutama menjadi perhatian karena prevalensinya yang tinggi serta perannya sebagai faktor risiko utama penyakit jantung dan pembuluh darah. Jika dibandingkan dengan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, SKI 2023 menunjukkan penurunan prevalensi hipertensi, baik berdasarkan diagnosis dokter maupun pengukuran tekanan darah,. Sebaliknya, tren penyakit Diabetes Mellitus (DM) pada penduduk umur ≥15 tahun berdasarkan diagnosis dokter meningkat (dari 2,0% ke 2,2%), demikian juga untuk DM pada penduduk semua umur (dari 1,5% ke 1,7%). 

Berkaitan dengan kesehatan jiwa, SKI 2023 melakukan penilaian terhadap gangguan depresi dengan menggunakan instrumen Mini International Neuropsychiatric Interview (MINI). Tingginya proporsi depresi pada kelompok anak muda yaitu penduduk yang pada saat SKI 2023 dilakukan berusia 15-24 tahun memerlukan perhatian. Sebanyak 61% anak muda mengalami depresi dan dalam 1 bulan terakhir pernah berfikir untuk mengakhiri hidup.

Pada tema kesehatan gigi dan mulut, masalah kesehatan gigi dan mulut pada penduduk berumur ≥ 3 tahun adalah 56,9%. Dan hanya 11,2% yang berobat ke tenaga medis untuk mengatasi masalah tersebut. Hal ini perlu mendapat perhatian serius karena tidak ada perubahan yang signifikan dalam 5 tahun terakhir apabila dibandingkan dengan hasil Riskesdas 2018.

Sedangkan penggunaan antibiotik oral oleh penduduk Indonesia yang mencapai 22,1%. Sebanyak 41% diantaranya memperoleh antibiotik tanpa resep. SKI 2023 juga menemukan bahwa lebih dari 60% masyarakat mendapatkan obat tanpa resep di apotek atau toko obat berizin. Data SKI 2023 dan Riskesdas 2018 menggunakan metode yang sama sehingga data yang dihasilkan dapat dibandingkan. Hal ini memungkinkan untuk dapat diketahui terjadinya tren kenaikan maupun penurunan atas masalah kesehatan tertentu. Seperti halnya Riskesdas 2018, SKI 2023 juga merepresentasikan data hingga tingkat kabupaten/kota. Tuntas dilakukan, SKI 2023 melibatkan 586.000 rumah tangga, 11.552 enumerator, 3.000 terapis gigi dan mulut, serta 7.500 tenaga kesehatan di Puskesmas.

Butuh Sinergi Pusat dan Daerah Wujudkan Standar Pelayanan Minimal Berkualitas

Tangerang Selatan– Kepala Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesehatan (BKPK Kemenkes) Syarifah Liza Munira dalam sesi Panel Eselon 1 di acara Rapat Kerja Kesehatan Nasional (Rakerkesnas) Tahun 2024 (Rabu, 24/4) menyampaikan dalam rangka mewujudkan enam pilar transformasi Kesehatan, butuh kolaborasi dan sinergi antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah. “Tanpa peran serta dan dukungan Dinas Kesehatan Provinsi maupun Kabupaten/Kota beserta jajaran, transformasi kesehatan tidak akan sampai dampaknya ke masyarakat”, ungkapnya lebih lanjut.

Penerapan kebijakan SPM ditetapkan atas dasar upaya bersama untuk memastikan seluruh warga negara Indonesia mendapatkan pelayanan dasar yang berkualitas.

Menurut Liza, peran pemerintah daerah sangat penting yaitu dapat meningkatkan dan memastikan akses dan mutu pelayanan dasar dirasakan oleh seluruh warga, memastikan setiap warga negara memperoleh akses yang merata terhadap pelayanan dasar serta meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat

Dasar regulasi dari SPM kesehatan sudah jelas yakni adanya amanat dari UU 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah yang  diturunkan ke dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 2 Tahun 2018 yang mengatur jenis layanan dasar kesehatan.

Pengaturan lebih teknis dan operasional SPM kesehatan juga telah dirumuskan ke dalam Permenkes 4/2019 yang baru saja direvisi dengan dikeluarkannya Peraturan Menkes (Permenkes) Nomor 6 Tahun 2024.

Permenkes ini telah diselaraskan dengan UU Kesehatan (UU 17/2023) yang baru dan diharapkan dirasakan dampaknya sampai ke masyarakat

“Pada Permenkes 6/2024 yang baru, untuk jenis layanan dasar pada SPM kesehatan tidak mengalami perubahan,” jelas Kepala BKPK. Jika dilihat didalamnya, untuk layanan dasar di tingkat provinsi, masih terdapat 2 jenis layanan terkait dengan krisis kesehatan dan kejadian luar biasa.

Untuk layanan dasar di tingkat Kabupaten/Kota, juga masih terdapat 12 jenis layanan yang dibagi menjadi 3 kluster. Pertama, mengenai 5 jenis layanan dasar terkait dengan siklus hidup, Kemudian, ada 3 jenis layanan dasar terkait dengan penyakit tidak menular, dan 2 jenis layanan dasar terkait dengan penyakit menular.

Penyesuaian dan updating dilakukan pada detil dari masing-masing jenis layanan dasar yang secara umum meliputi aspek item layanan. Contoh pada Antenatal Care (ANC) yang semula pada layanan ibu hamil dilakukan 4 kali maka sekarang menjadi 6 kali.  Kemudian, pengukuran lingkar kepala pada balita yang sebelumnya tidak ada sekarang diadakan. Skrining TB sekarang mengutamakan penggunaan Tes Cepat Molekuler (TCM).

Ada juga penyesuaian mengenai jumlah dan jenis barang. Misalnya, penambahan tuberculin untuk layanan tuberkulosis, jumlah tablet tambah darah untuk layanan ibu hamil yang sebelumnya diberikan 90 tablet sekarang menjadi 180 tablet, serta dimasukkan juga media komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) pada hampir seluruh layanan.

Selain itu, ada penyesuaian jumlah dan kualifikasi personal. Misalnya, penambahan kebutuhan tenaga farmasi dan gizi pada beberapa layanan dasar.

Untuk capaian SPM tahun 2023 di tingkat Provinsi, akses dan layanan kesehatan yang terstandar belum terdistribusi secara merata dengan capaian rata-rata SPM di tingkat Provinsi sebesar 89%. Baru 24 dari 38 Provinsi telah mencapai 100% indikator krisis kesehatan serta 30 dari 38 Provinsi telah mencapai 100% indikator kejadian luar biasa.

Rata-rata nasional SPM Kab/Kota Tahun 2023 capaiannya adalah 82%. Secara agregat, tren pencapaian SPM Kab/Kota mengalami peningkatan sebesar 22 persen, dari sebelumnya 60% (2019) menjadi 82% (2023).

Analisis capaian berdasarkan indikator layanan dasar kesehatan menunjukkan bahwa layanan untuk bayi baru lahir memiliki pencapaian tertinggi yaitu 86%. Capaian untuk layanan usia produktif dan hipertensi masih rendah yaitu 75% dan 73% secara berturut-turut. Kondisi ini perlu menjadi perhatian penting untuk dilakukan peningkatan pada layanan kesehatan.

Diharapkan terus melakukan inovasi untuk meningkatkan layanan dasar untuk memastikan seluruh lapisan masyarakat dapat mengakses layanan kesehatan berkualitas.

“Dalam melakukan inovasi untuk meningkatkan pelayanan dasar kesehatan, Bapak/Ibu dapat menggunakan berbagai sumber pembiayaan,” Ungkap Liza. Beberapa diantaranya menggunakan dana bagi hasil yang berasal dari pajak maupun sumber daya alam, dana alokasi umum dan khusus, hingga dana desa serta dana otonomi khusus untuk beberapa daerah yaitu di Papua, Pabar, Aceh dan Yogyakarta.

Penting dicatat, pemerintah daerah harus menggunakan APBN secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan peningkatan SPM. Pemerintah daerah perlu akuntabel dalam memastikan dana yang teralokasikan pada program dan kegiatan yang memiliki dampak yang signifikan terhadap peningkatan standar pelayanan kesehatan.

Dalam kesempatan ini, Kepala BKPK mengajak pemerintah daerah untuk memastikan tersedianya kecukupan anggaran terutama pada setiap unit yang melakukan pelayanan dasar langsung dengan masyarakat. “Penting untuk melakukan advokasi pada pemerintah daerah dan DPRD masing-masing,” tambahnya.

Kepala BKPK berkeyakinan dengan kerjasama yang solid dapat tercapai tujuan bersama yakni mewujudkan Indonesia yang sehat dan mencapai visi Indonesia Emas. (Penulis Fachrudin Ali/Edit Timker HDI)

Presiden RI Tekankan Pentingnya Peran Sektor Kesehatan Wujudkan Indonesia Emas 2045

Tangerang Selatan– Presiden Joko Widodo (Jokowi) secara resmi membuka pertemuan Rapat Kerja Kesehatan Nasional (Rakerkesnas) tahun 2024 di ICE BSD, Tangerang Selatan, Banten, Rabu (24/4).

Dalam sambutannya, Presiden menjelaskan 68% penduduk Indonesia ada di usia produktif. Hal ini menjadi kesempatan besar yang dapat terjadi sekali dalam sebuah peradaban negara. “Kesehatan menjadi hal yang sangat penting, sangat fundamental. Pinter-pinter tapi gak sehat mau apa?” tegasnya.

Jokowi juga mengapresiasi keberhasilan Indonesia menurunkan angka stunting, dari 37,6 persen menjadi 21,5 persen dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Selain stunting, Ia juga menyoroti tantangan besar sektor kesehatan mengatasi kematian akibat penyakit tidak menular seperti stroke, jantung, dan kanker yang masih tinggi. Hal lain yang masih perlu dikejar di sektor kesehatan adalah kurangnya dokter spesialis. “Rasio dokter kita 0,47 dan rangking 147 di dunia” ungkapnya.

Selanjutnya, Jokowi juga meminta agar dalam penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP), Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), dan Rencana Induk Bidang Kesehatan harus sinkron, in line, dan seirama. Rencana Induk Bidang Kesehatan akan menjadi pedoman nasional baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, provinsi, kabupaten/kota serta swasta.

Mengakhiri sambutannya, Jokowi meminta pemerintah harus memperkuat industri kesehatan dalam negeri. Ia mengatakan bahwa 1 juta lebih penduduk Indonesia berobat ke luar negeri. “Sehingga kita kehilangan 11,5 miliar US dolar atau 180 triliun rupiah karena penduduk kita tidak mau berobat di rumah sakit dalam negeri,” katanya. Jokowi juga mengungkapkan bahwa 90 persen bahan produksi farmasi masih import. Selain itu 52% alat kesehatan masih didominasi impor.

Rakerkesnas ini dihadiri oleh Menteri Sekretaris Kabinet, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, PJ Gubernur Provinsi Banten, dan Wakil Ketua Komisi IX DPR RI. Pertemuan ini diikuti oleh insan kesehatan dari 514 Kabupaten/Kota di 38 Provinsi di Indonesia.

Pertemuan ini diharapkan menjadi sarana untuk konsolidasi dan integrasi agar menghasilkan hasil konkret dari masalah yang masih kita miliki. Jika kompak berjalan maka akan signifikan kemajuan bidang kesehatan negara kita. Dan semoga mimpi Indonesia emas 2045 bisa kita wujudkan bersama.
(Penulis Nisa Fitriyani/Edit Timker HDI)

Transformasi Kesehatan : Melesat Menuju Indonesia Emas

Tangerang Selatan— Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyelenggarakan Rapat Kerja Kesehatan Nasional (Rakerkesnas) selama dua hari, yakni 24-25 April 2024. Rapat Kerja Kesehatan Nasional (Rakerkesnas) merupakan pertemuan tahunan strategis yang diselenggarakan Kemenkes.

Pertemuan dihadiri oleh peserta pusat dan daerah, yakni seluruh Dinas Kesehatan, RSUD dan Bappeda di tingkat Provinsi/Kabupaten/Kota, UPT Kemenkes, perwakilan Kementerian/Lembaga, dan para mitra pembangunan kesehatan nasional dan internasional.

Tujuan kegiatan untuk mengevaluasi capaian kinerja tahun 2023, merumuskan, serta menyelaraskan langkah strategis mencapai target kinerja ke depan.

Rakerkesnas dibuka secara resmi oleh Presiden Joko Widodo. Tema yang diangkat adalah Transformasi Kesehatan : Melesat Menuju Indonesia Emas.

Dalam kesempatan tersebut, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin melaporkan kepada Presiden Joko Widodo bahwa untuk mencapai target Indonesia Maju 2045, pendapatan rata-rata masyarakat Indonesia harus 15 juta/bulan. Hal ini, disampaikan dalam pembukaan Rapat Kerja Kesehatan Nasional (Rakerkesnas) Tahun 2024 di Tangerang Selatan pada Rabu (24/4).

Lebih lanjut, Menkes Budi menyampaikan pendapatan rata-rata masyarakat Indonesia saat ini sekitar 5 juta per bulan. Selain pendapatan yang naik, infrastruktur bagus, masyarakatnya juga harus sehat dan pintar. Menkes juga menyampaikan bahwa sektor kesehatan memiliki peran penting dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. Untuk itu, Menkes mengajak para pelaku kesehatan agar melakukan perubahan paradigma dalam melayani kesehatan.

“Caranya pastikan masyarakat harus sehat, harus diubah paradigma yang sebelumnya mengobati orang sakit sekarang menjadi menyehatkan masyarakat,” kata Menkes.

Menkes menambahkan, saat ini Kemenkes juga sedang melakukan transformasi kesehatan yang melibatkan 514 kabupaten/kota di 38 provinsi. Selain itu, Kemenkes melibatkan Bappeda dan pihak swasta untuk mendukung transformasi kesehatan. Pelibatan ini karena transformasi kesehatan tidak bisa hanya dilakukan oleh pegawai di lingkungan kesehatan.

“Kita sudah ada program transformasi kesehatan yang melibatkan 514 kabupaten/kota dan 38 provinsi serta juga dinas kesehatan dan RSUD, juga Bappeda, agar Indonesia Emas dapat tercapai,” tutur Menkes.

Selain forum komunikasi untuk mendiskusikan berbagai kendala dan tantangan, serta mencari solusi efektif dalam pembangunan Kesehatan, terdapat juga stan-stan dari unit utama di Kemenkes yang melayani konsultasi daerah terkait program-program kesehatan nasional. (Penulis Nisa Fitriyani/Edit Timker HDI)

Kick off Pelaksanaan Kajian Sejarah Kebijakan Kesehatan

Bekasi – Badan Kebijakan dan Pembangunan Kesehatan (BKPK) bekerjasama dengan Pusat Kajian Manajemen Kesehatan (PKMK) Universitas Gajah Mada akan melaksanakan Kajian Sejarah Kebijakan Kesehatan. Kickoff pelaksanaan kajian ini diselenggarakan di Bekasi pada Selasa (23/4).

Dalam sambutannya Kepala BKPK Syarifah Liza Munira mengutip pernyataan Bung Karno agar jangan pernah melupakan sejarah. “Ini bukan hanya tentang pentingnya kita menghargai jasa dari para pendahulu kita, tetapi juga bahwasanya proses-proses atau fenomena yang kita lihat dan saksikan, rata-rata tidak ada yang betul-betul baru. Umumnya suatu fenomena itu cenderung berulang. Contohnya pada penanganan pandemi. Untuk dapat memahami dan know ‘what to do’, para ahli merujuk pada pandemi-pandemi yang lalu, bahkan sampai dengan pandemi 100 tahun yang lalu,” tutur Liza.

Menurut Liza pada agenda transformasi kesehatan, Kementerian Kesehatan juga merujuk pada apa saja yang sudah dikerjakan sebelumnya. Selain merujuk pada praktik baik di negara lain, sangat penting melihat kebijakan kesehatan yang diterapkan di Indonesia pada masa lampau.

Lebih lanjut Liza mencontohkan pada transformasi kesehatan layanan primer. “Untuk meningkatkan layanan yang lebih dekat pada masyarakat dan mendorong promotif preventif, kita bisa lihat bahwa Indonesia sudah memiliki Puskesmas, juga jejaringnya yaitu pos-pos pelayanan terpadu, Posyandu ini dapat kita perkuat dan berdayakan untuk mengedukasi masyarakat mengenai kesehatan serta melakukan deteksi dini,” jelasnya.

Kajian Sejarah Kebijakan Kesehatan ini akan menghasilkan buku induk sejarah kebijakan kesehatan di Indonesia. Buku ini dapat menjadi salah satu referensi untuk penyusunan kebijakan kesehatan di Indonesia. Selain itu  juga menjadi legacy dalam penyusunan kebijakan Kesehatan, baik untuk Kemenkes saat ini, maupun untuk generasi selanjutnya.

Kickoff pelaksanaan kajian kebijakan kesehatan ini dihadiri oleh Menteri Kesehatan Periode 2004-2009 Siti Fadilah Supari dan para Sekjen Kementerian Kesehatan periode sebelumnya yaitu Ratna Rosita, Syafii  Ahmad,  dan Oscar Primadi (Penulis: Irwan Fazar/Edit Timker HDI)

Lima Fokus dalam Penanganan Penyakit Akibat Arbovirus

Denpasar – Kementerian Kesehatan Indonesia dan Kementerian Kesehatan Brazil menjadi penyelenggara International Arbovirus Summit 2024 di Bali yang berlangsung pada 22-23 April 2024. Kegiatan ini bertujuan untuk mengumpulkan para pembuat kebijakan, pakar kesehatan, dan peneliti arbovirus global dalam kesiapan menghadapi peningkatan kasus penyakit yang ditularkan melalui vektor seperti nyamuk.

Dalam sambutannya Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan perubahan iklim merupakan salah satu faktor yang memengaruhi penyebaran penyakit yang disebabkan oleh arbovirus. Menkes Budi menjelaskan falsafah masyarakat Bali, Tri Hita Karana yang bermakna harmonisasi hidup antara tiga unsur, yaitu Tuhan, manusia, dan alam. Harmonisasi dengan alam perlu dijaga sebagai upaya menurunkan penularan arbovirus.

Menkes Budi juga menerangkan belajar dari peristiwa pandemi COVID-19 yang sangat kompleks, maka harus dilakukan desain ulang sistem layanan kesehatan nasional secara terstruktur. Kementerian Kesehatan telah melakukan upaya transformasi tersebut melalui enam pilar transformasi yang berfokus pada upaya promotif dan preventif termasuk sistem pengawasan.

Lebih lanjut Menkes Budi menyampaikan, setidaknya ada lima hal yang menjadi fokus dalam penanganan penyakit menular. Pertama, mengajar, mendidik, melatih masyarakat untuk menghindari penyakit menular. Menurut Menkes Budi salah satu media edukasi yang sangat berpengaruh pada masa pandemi adalah media sosial yang dapat dimanfaatkan untuk merubah perilaku dan pola hidup masyarakat.

Kedua, pengendalian vektor atau hewan pembawa penyakit. Salah satu contoh upaya pengendalian vektor yang telah berhasil dilakukan adalah penyebaran nyamuk ber-wolbachia untuk menurunkan penularan virus dengue. Salah satu program nyamuk ber-wolbachia yang berhasil dilaksanakan adalah di Yogyakarta.

“Wolbachia diterapkan di Yogyakarta sejak 15 tahun lalu. Saat ini angka kejadian DBD semakin meningkat di banyak kota, namun tidak di Yogya,” ungkap Menkes Budi.

Upaya ketiga yang disampaikan oleh Menkes Budi adalah pengawasan atau surveilans. Sistem pengawasan sangat bermanfaat untuk mengenali ancaman penyakit yang bisa menyerang di masa yang akan datang. Saat pandemi COVID-19, Indonesia belum memiliki laboratorium kesehatan masyarakat yang terstruktur. Laboratorium ini sangat membantu dalam proses pengawasan yang tepat berdasarkan data yang diperoleh selama proses skrining penyakit.

Keempat, melakukan penelitian, pengembangan, dan produksi vaksin. Berkaca dari kejadian COVID-19, Menkes Budi mengatakan bahwa vaksin, terutama vaksin mRNA, dapat dikembangkan lebih cepat menggunakan teknologi terkini. Para ilmuwan, bahkan di tingkat universitas, didorong agar dapat melakukan penelitian untuk menemukan vaksin untuk pencegahan penyakit menular. Adapun upaya kelima yaitu terapi atau pengobatan.

Menkes Budi berharap melalui pertemuan ini peserta dapat melakukan diskusi, kerjasama, dan belajar dari pengalaman satu sama lain. Senada dengan Menkes Budi, Menteri Kesehatan Brazil Nísia Trindade Lima menyatakan harapannya pada semua pihak untuk melakukan dialog yang produktif sehingga memungkinkan berbagai negara mencapai kemajuan dalam pengendalian arbovirus.

Brazil mengalami kemajuan yang signifikan dalam inovasi dan penelitian terkait vaksin demam berdarah. “Brasil menjadi negara pertama di dunia yang menawarkan vaksin demam berdarah dalam sistem kesehatan masyarakatnya. Vaksin yang merupakan hasil penelitian dan pengembangan selama bertahun-tahun ini menawarkan pendekatan baru untuk mencegah penyebaran demam berdarah dan dapat menjadi model bagi negara-negara lain yang terkena penyakit ini,” tutur Nisia.

Menurut Nisia, diperlukan peningkatan perhatian semua negara di bidang kesehatan untuk memungkinkan perluasan akses terhadap teknologi pemberantasan penyakit, khususnya virus nyamuk demam berdarah.
Pertemuan ini juga dihadiri secara virtual oleh Direktur Jenderal World Health Organization (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus. Tedros menyampaikan WHO telah membentuk inisiatif global arbovirus untuk memperkuat negara-negara dalam kesiapan pencegahan dan pengendalian arbovirus.

Menurut Tedros, penting untuk dilakukan sistem pengawasan yang terintegrasi, mengurangi kesenjangan kapasitas antar negara, sehingga diperlukan kerjasama dalam penelitian terkait arbovirus dan memprioritaskan kesehatan masyarakat. “Kemitraan berbagai negara ini sangat penting dalam upaya bersama untuk melindungi masyarakat dunia dari penyakit dan penderitaan yang diakibatkannya,” ujarnya. (Penulis: Sri Lestari/Edit Pusjak KGTK, Timker HDI)

GISAID Academy sebagai Sarana Membangun Kolaborasi Upaya Kesehatan Masyarakat

Denpasar – Kepala Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Syarifah Liza Munira memberikan closing remarks dalam kegiatan GISAID Academy pada pelatihan dengan topik Accelerated NGS Bioinformatics I di Denpasar, Minggu (21/4). Liza mengapresiasi Global Initiative on Sharing Avian Influenza Data (GISAID) yang telah menyelenggarakan GISAID Academy. Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara pemerintah Indonesia dengan GISAID dalam memanfaatkan ekosistem kesehatan yang ada saat ini.

Menurut Liza, pandemi COVID-19 menjadi saksi bagaimana semua pihak harus melakukan respon cepat. Pandemi menghambat pemberian layanan kesehatan rutin karena penyebaran penyakit menular. Selain itu juga terjadi resistensi antimikroba. Hal ini merupakan ancaman berkelanjutan bagi sistem kesehatan, khususnya dalam penggunaan teknik mikrobiologi secara efisien untuk mempelajari patogen.

Lebih lanjut Liza menyampaikan selama pandemi penggunaan data genom yang diperoleh melalui Next Generation Sequencing (NGS) telah merevolusi bidang penelitian genom virus. Hal ini terbukti sangat membantu dalam pengelolaan penyakit menular dengan memberikan wawasan tentang distribusi patogen, jalur penularan, dan ukuran epidemi sepanjang waktu. “Kami menyadari ketersediaan data genetik dapat memungkinkan pengembangan alat diagnostik, membantu penemuan obat dan vaksin baru, dan menyediakan data untuk mendukung pemantauan kemanjuran vaksin,” ungkapnya.

Pada kesempatan ini Liza menuturkan untuk menangani penyakit menular secara efektif Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Labkesmas) memiliki peran penting. Beberapa kemampuan yang harus dimiliki Labkesmas yaitu mengidentifikasi patogen penyebab infeksi,melihat sumber dan jalur penularan, melakukan surveilans untuk mengidentifikasi patogen emerging/re-emerging, dan memperhatikan munculnya resistensi antimikroba. Oleh karena itu, sangat penting untuk terus meningkatkan keterampilan sumber daya manusia di bidang kesehatan, sejalan dengan kemajuan teknologi kesehatan.

Liza pun mengajak semua peserta yang hadir untuk terus berkolaborasi dan mendukung satu sama lain dalam upaya menjaga kesehatan masyarakat. Pelatihan yang telah diterima peserta akan memungkinkan dalam meningkatkan deteksi dan analisa terhadap wabah di masa depan dan juga mendukung ketahanan sistem kesehatan secara individu dan kolektif.

Senada dengan Liza, Presiden GISAID USA Peter Bogner menyampaikan hal yang sama. “Belajar dari kejadian pandemi flu burung yang pernah terjadi di Indonesia dan juga pandemi COVID-19 pada tahun 2020, tidak seorangpun dapat memprediksi bahwa pandemi saat itu akan memburuk tidak hanya di Indonesia, namun hampir di seluruh dunia,” katanya.

Menurut Peter salah satu langkah penting yang berhasil dilakukan saat terjadinya pandemi yang lalu adalah dengan melakukan kolaborasi data serta peningkatan SDM. Salah satu inisiatif dari Kemenkes untuk hal tersebut adalah mendirikan GISAID Academy untuk pelatihan dan kolaborasi lintas sektor. Pada pelatihan yang diselenggarakan pertama kali di Indonesia ini, peserta tidak hanya mempelajari teori tetapi juga melakukan praktik kerja untuk analisa data. Kindi Adam, selaku ketua panitia kegiatan GISAID Academy, berharap bahwa pelatihan ini dapat terus berlanjut  secara reguler dan diikuti peserta dalam dan luar negeri dari tingkat dasar hingga lanjutan. (Penulis: Sri Lestari/Edit Pusjak KGTK/Timker HDI)

Pelantikan sebagai Momentum Perubahan Kinerja Lebih Baik

Jakarta SekretarisBadan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Etik Retno Wiyati melantik dan mengambil sumpah Jabatan Pejabat Fungsional dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di lingkungan BKPK pada hari Jumat (19/3). Enam belas pegawai yang dilantik dan diambil sumpah terdiri tiga orang pejabat fungsional dan 13 orang PPPK.

Dalam sambutannya, Etik berharap pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan dapat dijadikan momentum berharga untuk melakukan perubahan kinerja ke arah yang lebih baik. Selain itu ia berharap para pejabat  fungsional dan PPPK yang baru saja dilantik dapat melaksanakan tugas dan fungsinya sesuai dengan  peraturan dan keahliannya untuk menghasilkan kinerja yang lebih baik.

“BKPK yang didukung oleh pejabat fungsional dan PPPK harus mampu bertransformasi menjadithink tankKementerian Kesehatan. Seluruh kebijakan harus berdasarkan evidence based. Ini menjadi tugas kita bersama,” ujar Etik.

Etik megatakan Kementerian Kesehatan sedang berupaya melakukan proses transformasi sistem kesehatan yang berfokus pada enam pilar. Keenam pilar tersebut adalah transformasi sistem pelayanan kesehatan primer; transformasi sistem pelayanan kesehatan rujukan; transformasi sistem ketahanan kesehatan; transformasi sistem pembiayaan kesehatan; transformasi sumber daya manusia kesehatan; dan transformasi sistem teknologi kesehatan.

Keenam pilar transformasi tersebut menuntut adanya perubahan struktur organisasi dan kebijakan termasuk kebutuhan dan peran pejabat fungsional di BKPK. Perubahan struktur dilakukan sebagai bagian dari upaya untuk menciptakan organisasi yang agile, fleksibel, dan profesional.

Lebih lanjut Etik mengimbau agar para pegawai BKPK dapat menunjukkan diri sebagai ASN yang BerAKHLAK bangga melayani bangsa, serta selalu berorientasi terhadap Pelayanan, Akuntabel, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif. Etik pun menyinggung tentang penerapan budaya kerja baru yaitu Eksekusi Efektif, Cara Kerja Baru, dan Pelayanan Unggul.

Pada kesempatan ini Etik juga meminta kepada pegawai yang di lantik agar mempunyai wawasan jauh kedepan dan mampu melakukan terobosan yang positif melalui pemikiran yang kreatif, inovatif, dan sistematik untuk kepentingan organisasi. Sebagai pejabat fungsional, Etik  berpesan untuk memberikan makna dan ketulusan dalam setiap pekerjaan yang lakukan.

Berikut ini adalah daftar nama  pejabat fungsional  dan PPPK yang dilantik:

  1. Erna sebagai JFT Penata Laksana Barang Mahir
  2. Nyoman Fitri sebagai JFT Adminkes Ahli Pertama
  3. Dedy Widjaya sebagai JFT Arsiparis Ahli Pertama
  4. Nurul Kartikawati sebagai PPPK Administrator Kesehatan Ahli Pertama
  5. Siti Mulyani sebagai PPPK Administrator Ahli Pertama
  6. Rr Harshinta Puspitasari sebagai PPPK Administrator Ahli Pertama
  7. Refliyana sebagai PPPK Administrator Ahli Pertama
  8. Hendrik Rudiansyah sebagai PPPK Administrator Ahli Pertama
  9. Rahmawati Martha Putri sebagai PPPK Analis Kebijakan Ahli Pertama
  10. Indra Cans Yunina sebagai PPPK Analis Kebijakan Ahli Pertama
  11. Siti Arda Mauliti sebagai PPPK Analis Kebijakan Ahli Pertama
  12. Achmad Syarif sebagai PPPK Arsiparis Ahli Pertama
  13. Eka Sri Setyaningsih sebagai PPPK Arsiparis Terampil
  14. Eko Prawira Niagara sebagai PPPK Perencana Ahli Pertama
  15. Fitri Mardiyanti sebagai PPPK Perencana Ahli Pertama
  16. Nowo Setiyo Raharjo sebagai PPPK Pranata Hubungan Masyarakat Ahli Pertama

(Penulis Irwan Fazar Wibowo Edit Timker HDI)

Pelatihan GISAID Academy untuk SDM Laboratorium Kesehatan Masyarakat Unggul

Denpasar – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bekerjasama dengan Global Initiative on Sharing Avian Influenza Data (GISAID) menyelenggarakan Pelatihan GISAID Academy dengan topik Accelerated NGS Bioinformatics I di Denpasar, Bali (18-21/4).Tujuan pelatihan ini untuk meningkatkan kapasitas praktisi Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Lab Kesmas) Tier 4 dan Tier 5 Kemenkes serta jejaringnya dalam bidang Bioinformatika dan Next Generation Sequencing.

GISAID merupakan inisiatif global yang berfokus pada pertukaran data virus secara cepat, terbuka, dan terkoordinasi. Didirikan sebagai respon terhadap pandemi influenza H5N1 pada 2006, GISAID bertujuan untuk mempromosikan kerja sama internasional dan mempercepat penemuan ilmiah di bidang virologi.

GISAID juga berperan dalam menjaga keseimbangan kebebasan berbagi data dan penghormatan terhadap hak dan kepentingan negara yang memberikan data tersebut. Ini menjadikan GISAID alat penting dalam penanggulangan pandemi global, termasuk COVID-19.

Tahun lalu pemerintah Indonesia dan GISAID bekerja sama mendirikan GISAID Academy yang akan memberi manfaat bagi kedua pihak. Bagi Indonesia agar dapat terus membangun ketahanan dan respon terhadap wabah dengan memanfaatkan ekosistem kesehatan yang sudah ada dan bagi GISAID sendiri kerjasama ini menegaskan komitmen terhadap pengelolaan data genomik berkualitas tinggi untuk memajukan kesehatan dan keputusan kebijakan berbasis bukti.

Kepala Pusat Pengembangan Kompetensi Aparatur Sipil Negara Dwi Meilani mewakili Wakil Menteri Kesehatan membuka Pelatihan GISAID Academy yang bertempat di United in Diversity (UID) Campus, Bali.

Disampaikan Dwi Meilani bahwa saat ini Indonesia sedang mengalami transformasi yang signifikan dalam sistem kesehatan termasuk restrukturisasi sistem lab kesmas, yang ditujukan untuk mendukung penyelenggaraan pelayanan kesehatan primer, sistem rujukan dan peningkatan ketahanan kesehatan.

“Seperti yang kita ketahui Pemerintah Indonesia dan GISAID telah bekerja sama mendirikan GISAID Academy di Bali. Peluncuran dilakukan oleh Menteri Kesehatan pada 28 November 2023 lalu. Menkes menekankan dengan pemahaman lebih mendalam mengenai pemeriksaan genetik dan hasilnya, maka penelitian dan pengembangan obat dapat diarahkan secara lebih tepat, memungkinkan terapi yang lebih efektif dan minim efek samping,” tutur Dwi Meilani.

Lebih lanjut dikatakan Dwi Meilani bahwa GISAID Academy di Bali mendukung kawasan regional dalam memberikan pelatihan dan pembangunan kapasitas dalam sekuensing genomik dan analisis data yang diharapkan akan membantu mengurangi kesenjangan pengetahuan dan keterampilan yang ada di bidang ini, di Indonesia juga di seluruh region.

“Kita berharap agar pelatihan ini akan melatih para petugas lab, khususnya Lab Kesmas untuk melakukan analisis data sebagai bagian dari deteksi dini terhadap wabah. Dengan hadirnya para pengajar yang memiliki pengalaman luas, para peserta akan diajarkan ketrampilan dasar bioinformatika untuk menganalisis hasil pemeriksaan,” ungkapnya.

Sebelum mengakhiri sambutannya, Dwi Meilani juga mengungkap harapannya agar Kemenkes dapat menyiapkan sumber daya manusia (SDM) Lab Kesmas yang unggul sebagai bagian dari Pilar Transformasi Kesehatan yang ke-7 yaitu Transformasi Internal.

“Kami berharap Kemenkes dapat menyiapkan SDM Lab Kesmas yang unggul sebagai bagian dari Pilar Transformasi Kesehatan yang ke-7, dimana kita menyiapkan Organisasi dan SDM Kemkes yang unggul salah satunya dengan melakukan peningkatan kompetensi,” pungkasnya. Pelatihan GISAID Academy diikuti oleh 30 orang praktisi laboratorium kesehatan yang berasal dari laboratorium kesehatan masyarakat tier 4 dan tier 5 Kemenkes, RSPI Sulianto Saroso, Poltekkes Denpasar, Etana Biotechnology Indonesia, Kalbe Farma, dan 4 peserta luar negeri berasal dari Filipina dan Kamboja. (Penulis: Kurniatun Karomah Edit Pusjak KGTK/Timker HDI)

12,541FansLike
3,200,000FollowersFollow
4,251,000FollowersFollow
3,251,580FollowersFollow
9,320SubscribersSubscribe