web analytics
Header Ads
Beranda Blog Halaman 65

Teknologi Bedah Robotik di Indonesia

Teknologi Bedah Robotik (Robotic Telesurgery) telah masuk tahun kedua dari peta jalan (roadmap) pembangunan Pusat Bedah Robotik di Indonesia 2021-2024, yaitu penyusunan Kurikulum Pelatihan Virtual Reality (VR) Simulator Robotic Telesurgery. Modul kurikulum ini mendapat dukungan yang luar biasa dari para Dokter Spesialis Bedah di Rumah Sakit, Kolegium Bedah dan Perhimpunan Dokter Bedah.

Bermula dari business matching para industri alat kesehatan berteknologi canggih, dibuatlah suatu disain proyek multi tahun dan multi stakeholders Robotik Telesurgeri 2021-2024, yang tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga mempunyai nilai edukasi dengan diberikannya akses transfer pengetahuan dan alih teknologi sehingga industri dalam negeri juga mampu memproduksi alat dan sparepart-nya di dalam negeri dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang mencukupi.

Tangkapan Layar: Prof Laksono Trisnantoro memberikan pengarahan pada pembukaan
Seminar Kurikulum Pelatihan Virtual Reality (VR) Simulator Robotic Telesurgery

Akses terhadap pelayanan kesehatan rujukan bagi masyarakat di daerah terpencil kerap menjadi tantangan tersendiri bagi Kemenkes. “Proyek Robotik merupakan project multi-years yang bertujuan untuk meningkatkan akses layanan dan mutu layanan kesehatan untuk daerah yang tidak terjangkau di Indonesia. Strateginya adalah menggunakan Robotik Telesurgeri sebagai bagian dari program telemedisin,” jelas Prof Laksono Trisnantoro, Staf Khusus Menkes Bidang Ketahanan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan, pada sesi pembukaan seminar.

Pembangunan Pusat Bedah Robotik sudah dilakukan dua Rumah Sakit Vertikal Kemenkes, yaitu di RSUP Dr. Hasan Sadikin (RSHS) Bandung dan RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Program ini menjadi prioritas karena dapat meningkatkan akses layanan operasi/bedah jarak jauh bagi masyarakat secara lebih luas lagi walaupun di Provinsi dan Kabupaten/Kota tidak ada tenaga spesialis/sub spesialis bedah. Proyek ini bertujuan untuk menurunkan jumlah antrian pasien rujukan di RS tipe A atau RS nasional sekaligus dapat menurunkan beban JKN dan meningkatkan ketahanan industri alkes dalam negeri.

Dokter Ahli Bedah Robotik di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung, Dr. Reno Rudiman, menjelaskan dengan baik perkembangan proyek robotik telesurgeri yang telah berjalan di RSHS sejak 2020. Beliau bahkan dengan gamblang menjabarkan pentingnya keberlangsungan project ini di jangka panjang sesuai roadmap yang telah disepakati.

Tangkapan Layar: Dr. Reno Rudiman menjelaskan perbedaan menggunakan alat robotik DaVinci dan Sina

Dr. Reno yang memiliki pengalaman dalam mengoperasionalkan Robotik DaVinci dan Robotik Sina menjelaskan perbedaan menggunakan kedua Robotik. Robotik Davinci melakukan pembedahan menggunakan instrumen dari satu konsul tower (sisi) yang dihubungkan ke pasien. Robotik Sina sistemnya menggunakan moduler dengan dua tower sehingga pergerakkannya lebih fleksibel. Instrumen yang digunakan DaVinci memiliki ukuran 10 mm. Sina memiliki ukuran 5 mm sehingga luka yang diakibatkan operasi bisa lebih minimally invassive lagi.

Dilihat dari skema pembiayaan, menurut Dr. Reno, Robotik Sina dinilai lebih ekonomis lebih feasible untuk usulan pembiayaan JKN. Apalagi program ini akan alih teknologi dimana instrumennya nanti bisa diproduksi oleh industri dalam negeri. Di sinilah peran PT. Indofarma, sehingga biaya akan jauh lebih ekonomis.

Proyek ini merupakan contoh konkret dari Transformasi Sistem Kesehatan yang diinisiasi oleh Kemenkes, yang terdiri dari gabungan lima pilar Transformasi Kesehatan, yaitu: Layanan Rujukan, Pembiayaan Kesehatan, Ketahanan Industri Alkes, SDM Kesehatan untuk Layanan Spesialis Bedah Jarak Jauh, dan Teknologi Kesehatan. Rekomendasi kebijakan untuk mengimplementasikan program Robotik Telesurgeri di Indonesia membutuhkan komitmen besar dari semua stakeholders, yaitu Kementerian Kesehatan, Rumah Sakit, Universitas dan BUMN. Tahapan selanjutnya dari proyek ini adalah dilakukannya kolaborasi riset dan uji klinis bersama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung dan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta di tahun 2023. (Hardini Kusumadewi)

Pranata Humas agar Kenalkan Lembaga BKPK ke Masyarakat

Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes RI) saat ini sedang melakukan transformasi pembangunan kesehatan dengan 6 pilar transformasi kesehatan. Keenam pilar itu yakni transformasi layanan primer, transformasi layanan rujukan, transformasi sistem ketahanan kesehatan, transformasi sistem pembiayaan kesehatan, transformasi sumber daya manusia kesehatan, serta transformasi teknologi kesehatan. Untuk itu dalam arahannya di kegiatan Bimbingan Teknis Bagi Calon Pejabat Fungsional Pranata Humas (JF Prahum) dan Pemangku JF Prahum di Jakarta (8/6) Sekretaris Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kemenkes RI Nana Mulyana berharap Prahum dapat menggaungkan keenam pilar ini.

Kemenkes saat ini telah melakukan perubahan dan penataan unit kerja. Salah satunya dibentuknya BKPK berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 18 Tahun 2021 dengan tugas melaksanakan perumusan dan pemberian rekomendasi kebijakan pembangunan kesehatan. Untuk itu Nana menegaskan Prahum Selaku corong harus memperoleh informasi terkini situasi dan kondisi organisasi Kemenkes. Khususnya, yang terjadi dengan transformasi kelembagaan.

Dalam kesempatan itu, Nana menjelaskan peran dan fungsi krusial Prahum agar mengkomunikasikan peran dan tugas BKPK kepada pemangku kepentingan. “Lakukan ekspose agar BKPK dikenal di unit eselon 1 dan diluar Kemenkes”, ujar Nana. Hal yang perlu dilakukan dengan mengidentifikasi sejauhmana masyarakat awam tahu tentang BKPK.

Kedepan, Prahum harus mengetahui informasi terlebih dahulu. Humas harus seperti inteligen. Prahum harus mencari informasi terkini. “Harus tahu positioning lembaga BKPK selanjutnya harus mengetahui dan menyusun strategi komunikasi yang tepat”, lanjut Nana.

Bekerjalah secara proaktif dan sesekali dalam bekerja menggunakan teropong atau sudut pandang orang lain. Menurut Nana hal ini akan menjadikan lebih bijak dan tidak akan menjadi manusia yang arogan.

Dalam laporannya Dini Yulianti selaku Ketua Tim Kerja Organisasi dan Sumber Daya Manusia Sekretariat BKPK menyampaikan kegiatan bimbingan teknis ini sebagai upaya peningkatan kapasitas dan kompetensi bagi JF Prahum untuk melaksanakan perannya sebagai pelayan informasi dan kehumasan serta menambah wawasan terkait jenjang karir jabatannya.

Acara ini dihelat 3 hari dari 8 hingga 10 Juni 2022 menghadirkan narasumber dari Media Indonesia, Ikatan Pranata Humas (Iprahumas), dan Meta Indonesia (Instagram dan facebook), pakar strategi komunikasi dan podcast. Selain itu hadir Tim Penilai JF Prahum Kemenkes yang akan menerangkan butir kerja dan penyusunan Daftar Usulan Penetapan Angka Kredit (DUPAK). Acara diikuti Prahum BKPK di pusat maupun daerah secara luring dan daring.

Narasumber dari Media Indonesia Eko Suprihatno (8/6) menjelaskan struktur penulisan berita terdiri dari judul, lead, angle atu sudut pandang, dan body tulisan. Menurut Eko informasi belum termasuk karya jurnalistik. Pasalnya, setiap karya jurnalistik harus melalui lima tahapan.

Eko juga menjelaskan artikel merupakan karya jurnalistik yang sepenuhnya berisi pikiran, pendapat, sikap, argumentasi penulisnya. Bila ada data atau fakta, itu semua berfungsi sebagai pendukung. Selin itu menulis itu ibarat naik sepeda, tidak ada teorinya. Menurut Eko lakukan 3 M.”Menulis, Menulis, Menulis”, sarannya.

Dalam kesempatan yang sama Thoriq Ramadani selaku ketua Umum Iprahumas menjelaskan untuk menjadi humas tak memandang apa background dari pendidikan seseorang, namun dengan pendidikan yang sesuai dan pengalaman serta kompetensi mumpuni akan menjadi nilai tambah. “Humas harus serba bisa”, ungkap Thoriq.

Prahum harus menjadi humas bintang lima. Humas yang bergerak cepat, valid, dan terkonfirmasi. Prahum harus menjaga hubunngan baik, aktif berorganisasi, terus belajar. “Ikut kompetisi”, jelasnya lebih lanjut.

Emilia Bassar (Kamis, 9/6) sebagai pakar strategi komunikasi menerangkan untuk menyusun strategi advokasi terlebih dahulu mendefinisikan problem yang hendak diangkat. Selanjutnya, identifikasi dan mengetahui solusi kebijakan mana yang hendak diadvokasikan dan diubah. Ketahui juga sasaran advokasi yang yang menjadi target dan mitra yang bisa diajak aliansi dan kerjasama. Kemudian tentukan aksi advokasi yang dipakai untuk mempengaruhi target yang akan dipengaruhi. Jangan lupakan proses mengukur dan mengevaluasi kegiatan advokasi yang dilakukan.

(Penulis Fachrudin Ali Ahmad)

BKPK Gelar Sosialisasi Survei SSGI dan Sero-Survei Antibodi COVID-19

Jakarta – Pandemi COVID-19 memberikan dampak pada semua aspek kehidupan. Salah satunya pada Status Gizi Indonesia. Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes RI) gelar Sosialisasi Survei Kesehatan Nasional Tahun 2022 : Survei Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) dan Sero-Survei Antibodi COVID-19 di Gedung Pelayanan Publik BKPK Kemenkes, Rabu (8/6/2022). Acara digelar secara daring dan luring.

Pertemuan dibuka Pelaksana tugas (Plt) Kepala BKPK Kunta Wibawa Dasa Nugraha dan dihadiri Sekretaris BKPK Nana Mulyana,  Deputi Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) Agus Suprapto, Kepala Pusat Kebijakan (Pusjak) Upaya Kesehatan Pretty Multihartina, Kepala Pusjak Sistem Ketahanan Kesehatan dan Sumber Daya Kesehatan I Gede Made Wirabrata,  Unit Utama dilingkungan Kemenkes, perwakilan dari lintas sektor, Direktur Poltekkes dan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi/Kabupaten/Kota di 34 Provinsi di Indonesia.

Angka stunting saat ini masih menyentuh angka 24% ditahun 2021. Hal ini masih menjadi perhatian khusus karena cukup jauh dari target angka prevalensi stunting tahun 2024  sebesar 14%. Inilah yang menjadi dasar dilaksanakannya kembali Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) di 2022. Selain untuk meningkatkan kualitas kesehatan, namun juga menjadi acuan bagi Kementerian Keuangan dalam upaya pengendalian anggaran di daerah.

“Ini menjadi saat yang pas untuk bekerja sama dan juga melihat siapa sebenarnya stunting dan bagaimana nanti kita bisa melakukan intervensi sesuai target” ujar Kunta. Plt BKPK yang juga Sekretaris Jenderal Kemenkes menambahkan kondisi COVID-19 sudah mulai terkendali. Tercatat 61% penduduk telah mendapat vaksinasi dosis lengkap.

Sero-survei antibodi COVID-19 merupakan kerjasama antara Kementerian Kesehatan dan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia yang bertujuan mengetahui perubahan kadar antibodi SARS-CoV2. Kunta mengajak seluruh pihak terkait untuk dapat mendukung, bekerja sama, dan memahami bersama akan pentingnya survei ini guna menjadi dasar pembuatan kebijakan terkait peningkatan kualitas kesehatan Indonesia. “Mari kita tingkatkan harmonisasi kerja kita dan berkomitmen untuk melaksanakannya, agar tujuan kebijakan pembangunan kesehatan kita capai bersama”, ajaknya.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Pusjak Upaya Kesehatan memaparkan hasil survei SSGI tahun 2021 dan rencana kegiatan tahun 2022. Pada Juni ini, sosialisasi dilakukan sebagai pembuka dari segala rangkaian kegiatan yang akan dilaksanakan hingga akhir 2022.

Agus Suprapto selaku Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan dan Pembangunan Kependudukan Kemenko PMK berpesan sangat penting untuk bisa mengatasi stunting. Harapannya, dapat merangsang daerah bisa melakukan perbaikan. Kemenko PMK akan terus memonitor pelaksanaan survei ini karena menjadi bahan utama dari kegiatan monitoring dan evaluasi dengan Presiden.

Agus Triwinarto selaku Ketua Pelaksana SSGI 2022 menambahkan validitas data sudah disesuaikan dengan sebaik mungkin. Penguatan data akan terus ditingkatkan sehingga data yang dihasilkan berkualitas, baik dari sisi SDM maupun alat yang akurat dan presisi. Diharapkan akan ada strategi yang terbaik untuk mencapai kualitas data yang dihasilkan. Data akan disampaikan di dinkes Kab/Kota dan dianalisis dengan Poltekkes di provinsi sehingga dapat langsung diketahui determinannya terkait indikator sensitif.

I Gede Made Wirabrata selaku Kepala Pusjak Sistem Ketahanan Kesehatan dan Sumber Daya Kesehatan menjelaskan Sero-Survei Antibodi COVID-19 tahun 2022 ini merupakan Serosurvei ke-3 yang akan dilaksanakan pada Juni hingga Juli 2022 dengan total sampel 20.501 di 100 Kab/Kota dari 34 provinsi. Dengan dilakukannya serosurvei ini, diharapkan dapat menghasilkan sebuah rekomendasi kebijakan pengendalian COVID-19 dan vaksinasi booster yang dapat diimplementasikan di Indonesia. (Penulis Salisa Kurnia Sari/Penyunting Eni Yuwarni)

BKPK sebagai Pusat Pemikiran Kemenkes

Anung Sugihantono Chief Expert Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes RI) menyampaikan besarnya harapan pimpinan Kemenkes RI akan peran BKPK sebagai unit yang berperan sebagai pusat pemikiran saat menyampaikan arahan dalam acara Rapat Koordinasi Staf (Rakorstaf) yang dihadiri seluruh pegawai di lingkungan Sekretariat BKPK, Selasa (7/6/2022). Dalam kesempatan itu, Anung berharap semua yang di BKPK dituntut berfikir kritis dan komprehensif.

Tentunya hal ini membutuhkan perubahan-perubahan yang mendasar. “Yang tadinya pelayanan administrasi saja sekarang menjadi pelayanan administrasi dan pelayanan manajerial untuk mengontrol, melihat, mengamati, dan terus mengawal hal-hal yang menjadi isu nasional, isu pembangunan kesehatan, dan isu terkait pelayanan atau upaya kesehatan dan isu lain yang terkait dengan kesehatan. “Ini yang harus disesuaikan dengan tatanan yang benar dan lebih konkrit”, ungkap Anung.

Menurut Anung saat ini telah dilakukan transformasi di bidang kesehatan. Salah satunya berubahnya Badan Litbang Kesehatan menjadi BKPK. Tentunya transformasi ini harus disyukuri. Tidak saja dari rasa syukur setelah melewati masa pandemi Covid-19, namun harus disikapi dengan perlunya melakukan perubahan. Perubahan yang tidak hanya terhadap pola pikir, tetapi juga terhadap pola sikap dan pola tindak. “Transformasi tidak bisa di tolak. Tetapi pegawai yang harus menyesuaikan”, lanjut Anung.

Dalam kesempatan tersebut, Sekretaris BKPK Nana Mulyana menyampaikan pertemuan bertajuk Rakorstaf yang dihadiri seluruh pegawai Sekretariat BKPK merupakan media silaturahmi dan pertemuan pertama yang dilakukan secara luring setelah melalui masa pandemi Covid-19. Pertemuan ini selanjutnya bisa dilakukan tiap bulan atau minimal 2-3 bulan sekali untuk melakukan evaluasi.

Nana mengungkapkan setiap pegawai harus memiliki komitmen untuk melakukan pekerjaan bersama. Selain itu harus merubah pola pikir. “Sekarang pegawai juga harus proaktif”, tegas Nana.

Nana menyampaikan jam kerja pegawai sudah seratus persen bekerja di kantor. Harapannya, pegawai tetap menjaga protokol kesehatan. Waktu kerja juga dioptimalkan sebaik-baiknya.

Dini Yulianti sebagai Ketua Tim Kerja Organisasi dan Sumber Daya manusia (OSDM) Sekretariat BKPK dalam acara ini menjelaskan Ketua Tim Kerja melaksanakan penugasan sesuai dengan subtansi bidang yang telah ditetapkan berdasarkan surat Keputusan Sekretaris Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Nomor HK.02.03/2/2301/2022 tentang Tim Pelaksana Tugas di Lingkungan Sekretariat BKPK.

Sementara PNS yang mendapat penugasan sebagai Penanggung Jawab kelompok subtansi memiliki tugas untuk melakukan koordinasi dengan Ketua Tim Kerja dan Anggota Tim Kerja lainnya, melakukan pembagian peran dan tugas anggota kelompok substansi serta mengkoordinir penyiapan bahan subtansi. Selain itu, melaporkan kepada Ketua Tim Kerja yang menjadi penanggungjawab substansi kegiatan dan atasan langsungnya

(Penulis Fachrudin Ali Ahmad)

Fitofarmaka Menjadi Unggulan Produk Dalam Negeri

Peluncuran Formularium Fitofarmaka oleh Wakil Menteri Kesehatan. Foto: Ni Kadek Ayu Krisma Agneswari, Pustakawan Sekretariat BKPK Kementerian Kesehatan.

Pada 31 Mei 2022, Wakil Menteri Kesehatan, Dante S. Harbuwono, telah meluncurkan Formularium Fitofarmaka dalam rangkaian acara Business Matching Tahap III: Peran Rantai Pasok Dalam Negeri untuk Mendukung Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (BBI) di Jakarta Convention Center (JCC).

Formularium Fitomarka merupakan pedoman acuan untuk pengembangan produk obat asli Indonesia di sarana pelayanan kesehatan, yang telah dilegalkan dalam Kepmenkes No. HK.01.07/MENKES/1163/2022 pada tanggal 19 Mei 2022.

Fitofarmaka berasal dari bahasa Yunani, phyto yang berarti tanaman dan pharmakon yang berarti obat. Fitofarmaka merupakan salah satu bentuk obat tradisional Indonesia.

Pengembangan obat tradisional di Indonesia digolongkan menjadi tiga. Pertama adalah jamu, yang keamanan dan khasiatnya dibuktikan secara uji klinis. Lebih dari 12.000 jenis jamu ada di Indonesia. Kedua, Obat Herbal Terstandar (OHT) yang telah melalui uji pra klinik (pada hewan percobaan) dan bahan bakunya yang telah terstandarisasi. Saat ini, terdapat sekitar 86 OHT di Indonesia.

Ketiga, adalah obat yang masuk dalam pengobatan esensial yang lebih lengkap yaitu fitofarmaka. Fitofarmaka adalah bagian OHT yang sudah melalui uji pra klinik (pada hewan percobaan) dan uji klinik (pada manusia) dimana bahan baku dan produk jadinya sudah distandarisasi.

Saat ini, terdapat 24 jenis obat fitofarmaka di Indonesia yang sudah diproduksi, antara lain: obat imunomodulator, obat tukak lambung, obat anti diabetes untuk menurunkan gula darah, obat antihipertensi untuk menurunkan tekanan darah, obat untuk melancarkan sirkulasi darah supaya tidak terjadi sumbatan di pembuluh darah, dan obat untuk meningkatkan albumin bagi pasien yang membutuhkan protein seperti pasien haemodialisa/cuci darah. Adapun standar pra syarat mutu uji klinik bahan baku herbal yang akan digunakan dalam produksi obat tradisional ditetapkan dalam Farmakope Herbal Indonesia. Dalam masa paska pengolahan panen tanaman obat, akan dilakukan pengujian obat tradisional yang bisa menjadi OHT atau fitofarmaka di laboratorium pengujian mutu, pembuatan simplicia dan saintifikasi jamu yang ada di seluruh Indonesia.

Tanggapan Layar Formularium Fitofarmaka. Sumber: https://t.ly/FormulariumFitofarmaka2022.

Indonesia dengan hutan tropis dengan luas sekitar 143 juta hektar mempunyai keanekaragaman budaya spesies baik tumbuhan/tanaman maupun hewan, dan 80% atau sekitar 2.800 spesies tanaman obat di dunia berasal dari hutan tropis di Indonesia.

“Obat tradisional sering dimanfaatkan secara luas di masa pandemi yang baru dilewati masa puncaknya. Sekitar 79% masyarakat mengkonsumsi obat tradisional untuk meningkatkan daya tahan tubuh pada masa pandemi Covid-19. Ini akan memberikan kontribusi pengobatan terhadap 270 juta penduduk Indonesia yang cakupannya 82,3 persen adalah peserta JKN dan ini merupakan pasar potensial bagi produk yang akan terbentuk berasal dari fitofarmaka tersebut,” jelas Wamenkes Dante.

Mengutip laman sehatnegeriku.kemkes.go.id, peningkatan pemanfaatan fitofarmaka sebagai salah satu unggulan produk dalam negeri merupakan rancangan menuju kemandirian pengobatan untuk masyarakat Indonesia, karena fitofarmaka dibuat dengan menggunakan bahan baku asli Indonesia, diproduksi di Indonesia, dan memenuhi standar yang ditetapkan di Indonesia.

Kementerian Kesehatan telah berkomitmen untuk melakukan transformasi sistem kesehatan, salah satunya adalah transformasi sistem ketahanan kesehatan yang ada di dalamnya sektor farmasi dan alkes. Di awal pandemi, 90% bahan baku obat dan 85% alkes masih harus diimpor. Saat itu, industri kesehatan Indonesia belum bisa memproduksi masker dan hand sanitizer dalam jumlah banyak dan belum punya bisa memproduksi Alat Pelindung Diri (APD). Pandemi telah mengajarkan untuk melakukan penguatan di bidang kesehatan. “Kementerian Kesehatan sedang melakukan transformasi sistem ketahanan kesehatan dalam rangka meningkatkan resiliensi sektor kefarmasian. Formularium Fitofarmaka merupakan acuan bagi sarana pelayanan kesehatan dalam pemilihan, pengadaan dan penggunaan fitofarmaka. Formularium fitofarmaka diharapkan dapat meningkatkan pemanfaatan fitofarmaka yang pada akhirnya akan meningkatkan kegiatan riset dan produksi fitofarmaka di Indonesia,” tutup Wamenkes Dante. (Hardini Kusumadewi)

Teknologi Telemedicine Mendekatkan Yang Jauh

Pada 3-6 Juni 2022, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah melakukan serah terima alat kesehatan telemedicine di 3 Puskesmas di Provinsi Maluku. Kegiatan ini adalah bagian dari roadmap pilot project telemedicine 2021-2023 yang merupakan kerja sama antara Kemenkes dan PT Indofarma, Tbk. Selain serah terima alat telemedicine, PT Indofarma juga melakukan instalasi langsung di Puskesmas yang menjadi lokus pilot project.

Tiga Puskesmas di Provinsi Maluku yang menerima bantuan alat telemedicine (tele-EKG, tele-USG, tele-vital sign) adalah Puskesmas Hutumuri, Puskesmas Watsin dan Puskesmas Weduar.

Bupati Maluku Tenggara menerima bantuan alat telemedicine dari Kemenkes yang diwakili oleh Pusat Kebijakan Kesehatan Global dan Teknologi Kesehatan

Bupati Maluku Tenggara, Muhamad Thaher Hanubun, secara lagsung menerima bantuan dari Kemenkes yang diwakili oleh Pusat Kebijakan Kesehatan Global dan Teknologi Kesehatan (KGTK). “Saya sangat mengapresiasi cara-cara konsultasi medis dengan dokter melalui teknologi pelayanan medis jarak jauh (telemedicine) yang sedang dilakukan oleh Kemenkes ini. Saya sudah mencoba sendiri alat ini dan saya berharap dengan adanya alat ini, dokter yang melakukan pemeriksaan kesehatan di Weduar dan Watsin, bisa langsung berkonsultasi dengan dokter spesialis di Ambon,” ungkap Thaher.

Kementerian Kesehatan terus berkomitmen dan melakukan berbagai upaya untuk mewujudkan 6 pilar dalam Transformasi Sistem Kesehatan, yakni Transformasi Layanan Primer, Layanan Rujukan, Sistem Ketahanan Kesehatan, Sistem Pembiayaan Kesehatan, SDM Kesehatan, dan Teknologi Kesehatan.

Beberapa permasalahan yang kerap terjadi dalam sistem pelayanan kesehatan adalah kurangnya akses terhadap pelayanan kesehatan yang memadai dan terbatasnya akses terhadap layanan kesehatan rujukan, terutama di daerah luar Jawa. Untuk itu, Kemenkes berusaha untuk mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat menggunakan teknologi pengobatan jarak jauh digital, atau biasa disebut telemedicine.

Pandemi Covid-19 telah mendorong banyak sektor industri untuk melakukan transformasi digital, tidak terkecuali sektor kesehatan. Arah strategi transformasi digital Kemenkes berfokus pada sistem pelayanan kesehatan dan keamanan data. Digitalisasi kesehatan membutuhkan transformasi besar-besaran, terlepas dari banyaknya tantangan yang dihadapi, seperti infrastruktur dan jaringan, akses internet, SDM dan komitmen Pemerintah Daerah.

PT Indofarma sebagai bagian dari holding BUMN farmasi, anak perusahaan Biofarma yang berfokus pada pengembangan alat kesehatan, bersinergi dengan Kemenkes dalam untuk melaksanakan Pilot Project Telemedicine. Sebagai BUMN, PT Indofarma tidak hanya melihat aspek komersial, namun juga dari aspek sosial dari sisi kesehatan. Dalam waktu dekat, PT Indofarma juga akan melakukan produksi lokal alat telemedicine di Indonesia. Telemedicine merupakan program prioritas nasional yang perlu didorong dari semua sektor. Kesuksesan pilot project ini akan memperkuat implementasi rekomendasi kebijakan telemedicine untuk peningkatan akses pelayanan kesehatan primer, khususnya di daerah terpencil. Wakil Pusat Kebijakan KGTK, Devi Senja Ariani, menjelaskan, “Keberhasilan pilot project sangat tergantung pada dukungan dan komitmen semua sektor, baik dari Rumah Sakit, Dinkes Provinsi serta Dinkes Kabupaten untuk bersinergi dalam implementasi pilot project telemedicine sehingga bisa menghadirkan Dokter Spesialis di Puskesmas.”

Direktur Utama RSUP Dr. J. Leimena menyampaikan sambutan dimulainya pilot project telemedicine di 3 Puskesmas di Provinsi Maluku

Direktur Utama RSUP Dr. J. Leimena, drg. Saraswati, MPH, menyatakan kesiapannya dan mendukung penuh pilot project telemedicine ini. Saat ini, RSUP Dr. J. Leimena sudah menyiapkan 4 dokter spesialis: Spesialis penyakit dalam, Spesialis kandungan, Spesialis mata dan Spesialis kulit dan kelamin. “Melalui tagline Dokter Spesialis ada di Puskesmas, bukan berarti Dokter Spesialis ini harus berada di Puskesmas, namun melalui teknologi telemedicine masyarakat dapat menjangkau Dokter Spesialis melalui Puskesmas serta mempercepat akses dan mengurangi biaya rujukan. Hal tersebut sangat bermanfaat, terutama di Provinsi Maluku, yang daerahnya banyak kepulauan dan akses terhadap layanan kesehatan masih sulit dijangkau,” jelas Dirut Saras.

Serah terima alat telemedicine dari Wakil Direktorat Tata Kelola Kesehatan Masyarakat Kemenkes ke Puskesmas Watsin

Kemenkes telah menetapkan 10 Puskesmas di 4 Provinsi yang akan menjadi lokus pilot project telemedicine, yaitu: Puskesmas Sei Berombang, Pematang Johar dan Kotanopan di Provinsi Sumatera Utara; Puskesmas Kaliori dan Bumiayu di Provinsi Jawa Tengah; Puskesmas Ulaweng dan Samaenre di Provinsi Sulawesi Selatan; serta Puskesmas Hutumuri, Watsin dan Weduar di Provinsi Maluku. Launching pilot project telemedicine pertama kali dilakukan oleh Wakil Menteri Kesehatan pada tanggal 3 Desember 2021, di sela-sela Health Business Gathering (HBG) di Bali, ditandai dengan penandatanganan MOU Telemedicine oleh RSUP Dr. J. Leimena dengan Dinas Kesehatan Provinsi Maluku dan Dinkes Kabupaten Maluku Tenggara untuk lokus uji coba di Puskesmas Watsin dan Puskesmas Weduar.

Serah terima alat telemedicine dari Wakil Wakil Digital Tranformation Office (DTO) Kemenkes ke Puskesmas Hutumuri

Pilot project ini merupakan salah satu upaya melakukan transformasi kesehatan di tiga pilar, yaitu peningkatan akses pelayanan kesehatan primer, peningkatan kualitas pelayanan kesehatan rujukan, dan pemanfaatan teknologi digitalisasi kesehatan.

Sebagai fungsi pemantauan, PT. Indofarma akan memasang dashboard di Kemenkes untuk menampilkan implementasi pilot project telemedicine di 10 lokus yang ditetapkan secara secara real-time guna melakukan monitoring kegiatan pilot project telemedicine. Rencana instalasi alat telemedicine selanjutnya dijadwalkan pada minggu kedua sampai keempat Juni 2022 di 7 lokus Puskesmas Provinsi Jawa Tengah, Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan. (Hardini Kusumadewi)

KEPPKN dan MTA Ikut Kawal Transformasi Kesehatan

Jakarta – Chief Expert Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes RI) Anung Sugihantono mengatakan Komisi Etik Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Nasional (KEPPKN) dan Material Transfer Agreement (MTA) akan terus diperlukan dan dibutuhkan dalam rangka mengawal transformasi Kesehatan, Kamis (2/6/2022).

Dalam kesempatan yang sama, Plt. Kepala BKPK, Kunta Wibawa Dasa Nugraha menyampaikan BKPK diharapkan melakukan koordinasi intensif dengan pemangku kepentingan dalam pelaksanaan riset Kesehatan baik dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), lembaga penelitian, laboratorium Kesehatan. Lebih lanjut Kunta berharap sinergitas ini dapat mempererat jejaring pelaksana riset di seluruh Indonesia dalam pemanfaatan data dan informasi. Hal itu disampaikan Kunta saat memberikan sambutan dan arahan acara Sosialisasi MTA dan KEPPKN di Jakarta (Kamis, 2/6/2022).

Acara ini digelar untuk memperoleh pemahaman yang sama dalam melaksanakan sinergitas BKPK dengan tim KEPPKN dan MTA dalam mengawal kualitas riset Kesehatan. Sosialisasi KEPPKN dan MTA disampaikan Wakil Ketua KEPPKN, Ondri Dwi Sampurno dan Ketua Tim MTA, Prof. Herkutanto.

Sekretaris BKPK Nana Mulyana dalam laporannya mengungkapkan penetapan kebijakan reorganisasi turut berdampak pada lembaga dengan fungsi penelitian dan pengembangan kesehatan di Kementerian Kesehatan diantaranya KEPPKN dan Tim MTA. “KEPPKN dan MTA masih perlu dikawal oleh Kemenkes untuk mendukung kualitas pelayanan Kesehatan di Indonesia” lanjut Nana.

Anung turut merespon kejelasan tentang permasalahan alih material ini sangat ditunggu karena banyak sekali permintaan dari institusi yang mengirimkan spesimen untuk ke luar negeri atau kepentingan lain. “Isu sensitifnya adalah tentang perlindungan terhadap seluruh kekayaan hayati yang kita miliki”, tutur Anung.

Lebih lanjut Anung menyampaikan ada dua isu yang harus segera diputuskan. Pertama, yaitu channel atau unit utama mana yang akan dijadikan pintu masuk tatanan administrasi KEPPKN dan MTA. Dalam konteks regulasi, BKPK tidak lagi melakukan kegiatan penelitian. Dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 5 Tahun 2022 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan, secara eksplisit juga tidak tertulis ruang lingkup yang masih bisa dipakai untuk tatanan administrasi dari KPPKN dan MTA. Namun, BKPK akan tetap mengampu karena secara administrasi dan sumber Daya tidak ada persoalan.”Hanya perlu keputusan konkret dari pimpinan mengingat dua lembaga ini dibentuk berdasar Keputusan Menkes”, jelas Anung.

Kedua, operasionalisasi kegiatan KEPPKN dan MTA dalam berbagai hal, khususnya akreditasi. Dua aspek ini jika pengampuan masih di Kemenkes melalui BKPK, maka standardisasi dalam proses merupakan hal yang sangat penting dan mendasar. Mekanisme kerja harus di sinkronkan dan dimaksimalkan dengan perspektif pelayanan kepada masyarakat sehingga setiap permohonan harus segera ditelaah dan direspon. Anung meyakini kolaborasi dan support akan terus dilakukan untuk saat ini dan kedepan.

Dalam kesempatan sosialisasi ini dihasilkan kesimpulan bahwa hasil penelitian yang telah di kaji etik oleh KEPK merupakan bagian dari pelayanan publik. Hasilnya dapat dimanfaatkan oleh BKPK untuk menyusun rekomendasi kebijakan. Selanjutnya, rekomendasi yang dikeluarkan Tim MTA bisa menjadi bahan kajian yang dilakukan Pusat Kebijakan di lingkungan BKPK.

(Penulis: Nisa Fitriyani/ Editor Fachrudin Ali)

Wakil Menkes Ungkap Strategi Pengendalian Tembakau di Indonesia

Jakarta – Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono secara resmi meluncurkan hasil Survei Global Penggunaan Tembakau/Global Adult Tobacco Survey (GATS) di Indonesia tahun 2021 yang bertepatan dengan Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS), di Gedung Adhyatma Kementerian Kesehatan, Selasa (31/5/2022).

Survei ini merupakan kerja sama antara Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan yang saat ini bertransformasi menjadi Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan dengan World Health Organization (WHO) dan US– Center for Disease Control and Prevention (CDC).

GATS pernah dilaksanakan pertama kali pada tahun 2011 dan dilakukan kembali pada tahun 2021 untuk mengetahui tentang kebiasaan merokok pada masyarakat. Berdasarkan data GATS dalam sepuluh tahun terakhir, meski tidak signifikan, terjadi penurunan angka prevalensi merokok sebesar 1,6%. Namun terjadi pengingkatan pada jumlah perokok dewasa, yaitu 60,3 juta pada 2011 menjadi 69,1 juta pada 2021.

Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat (Kesmas), Maria Endang Sumiwi dalam laporannya menyebutkan temuan yang dihasilkan GATS 2021 diantaranya sebanyak 34,5% atau kurang lebih 70 juta penduduk menggunakan tembakau yang sebagian besar laki-laki. Sebanyak 68,9 juta orang dewasa menghisap tembakau dan 6,2 juta orang merupakan pengguna rokok elektronik.

Selain itu menurut Dirjen Kesmas sebanyak 121,6 juta orang terpapar asap rokok di rumah dan 20,3 juta terpapar di tempat kerja. Pengeluaran untuk rokok rerata Rp. 382.000/bulan.

Dante Arahkan Tindak Lanjut Survei GATS

Terkait hasil survei ini, Dante mengarahkan agar semua pihak dapat menindaklanjuti survei GATS dengan empat cara, yaitu:

Pertama, melaksanakan kebijakan program yang dapat mengurangi paparan iklan tembakau di media cetak, elektronik, dan media sosial. Menurutnya, ini tugas yang terlihat mudah tetapi sangat sulit untuk dikerjakan, namun dapat dikerjakan secara bersama-sama.

Kedua, para perokok yang terdata dalam survei GATS atau survei lain, atau yang belum terdata perlu dipastikan mendapat ajakan berhenti merokok baik melalui layanan quickline Kementerian Kesehatan ataupun layanan lainnya.

Ketiga, gunakan media sosial dan ajak para influencer untuk mempromosikan dampak buruk merokok serta layanan berhenti merokok. Sehingga upaya yang dilakukan tidak berjalan secara ekslusif, melainkan inklusif melibatkan seluruh elemen masyarakat yang ada.

Keempat, bersama mengawal peningkatan jumlah peraturan kawasan tanpa rokok di lingkungan tempat tinggal, perkantoran, dan sarana publik lainnya. Dante menyebutkan empat hal di atas cukup konkret untuk melengkapi strategi pengendalian tembakau yang ada. Dante berpesan agar GATS ke depannya tidak hanya dilaksanakan dalam bentuk survei, tetapi harus dibuat dalam bentuk data individu yang terintegrasi di data Jaminan Kesehatan Nasional (JKN ) atau satu data kesehatan yang dirancang untuk seluruh penduduk.

*(Penulis Ripsidasiona/Penyunting Fachrudin Ali)

Perokok Dewasa di Indonesia Meningkat Dalam Sepuluh Tahun Terakhir

Jakarta – Jumlah perokok dewasa di Indonesia mengalami peningkatan dalam sepuluh tahun terakhir. Hasil Global Adult Tobacco Survey (GATS) 2021 yang diluncurkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), terjadi penambahan jumlah perokok dewasa sebanyak 8,8 juta orang, yaitu dari 60,3 juta pada 2011 menjadi 69,1 juta perokok pada 2021. Meskipun prevalensi merokok di Indonesia mengalami penurunan dari 1,8% menjadi 1,6%.

“Ini adalah tantangan yang penting bagi kita semua untuk melakukan upaya-upaya dalam penghentian merokok,” ungkap Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono saat peluncuran hasil data GATS 2021 di Gedung Adhyatma, Kemenkes RI, Selasa (31/5/2022).

Dante mengungkapkan secara sosial ekonomi angka yang digunakan untuk belanja rumah tangga rokok lebih tinggi daripada angka yang digunakan untuk belanja makanan bergizi. Data GATS 2021 mencatat jumlah bulanan rata-rata untuk rokok adalah Rp. 382.091,72.  “Ini juga sebuah tantangan secara sosial ekonomi untuk memberikan edukasi kepada masyarakat agar hal itu tidak terjadi,” ujarnya.

Jakarta – Jumlah perokok dewasa di Indonesia mengalami peningkatan dalam sepuluh tahun terakhir. Hasil Global Adult Tobacco Survey (GATS) 2021 yang diluncurkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), terjadi penambahan jumlah perokok dewasa sebanyak 8,8 juta orang, yaitu dari 60,3 juta pada 2011 menjadi 69,1 juta perokok pada 2021. Meskipun prevalensi merokok di Indonesia mengalami penurunan dari 1,8% menjadi 1,6%.

“Ini adalah tantangan yang penting bagi kita semua untuk melakukan upaya-upaya dalam penghentian merokok,” ungkap Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono saat peluncuran hasil data GATS 2021 di Gedung Adhyatma, Kemenkes RI, Selasa (31/5/2022).

Dante mengungkapkan secara sosial ekonomi angka yang digunakan untuk belanja rumah tangga rokok lebih tinggi daripada angka yang digunakan untuk belanja makanan bergizi. Data GATS 2021 mencatat jumlah bulanan rata-rata untuk rokok adalah Rp. 382.091,72.  “Ini juga sebuah tantangan secara sosial ekonomi untuk memberikan edukasi kepada masyarakat agar hal itu tidak terjadi,” ujarnya.

Lebih lanjut Dante menyebutkan terpenting angka promosi untuk merokok ini semakin meningkat baik melalui media sosial, elektronik, maupun media promosi lainnya. “Yang paling signifikan adalah peningkatan melalui media internet dimana tahun 2011 iklan di internet hanya sekitar 1,9%. Naik sepuluh kali lipat menjadi 21,4% tahun 2021,” tegas Dante.

Wamen mengatakan tantangan semua pihak untuk melakukan berbagai macam konsep strategi agar rokok menjadi salah satu elemen yang harus dibangun edukasinya. “Karena itu saya mengharapkan beberapa hal yang harus kita perbaiki sama-sama,” ungkapnya lebih jauh.

Wamen mengajak media dapat turut berperan untuk menggaungkan kepada anak muda bahwa merokok itu bukan sesuatu yang baik dan akan mengganggu kesehatan saat usia lanjut. Komplikasi bahaya rokok akan membawa implikasi pada pembiayaan jangka panjang. Hal ini disebabkan risiko berbagai macam penyakit seperti penyakit jantung, pembuluh darah, dan kanker dapat meningkat setelah penggunaan rokok dalam waktu panjang.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Maria Endang Sumiwi menyatakan salah satu temuan yang baik dari survei GATS 2021 adalah 2/3 dari perokok ingin berhenti. Terkait hal itu Maria mengungkapkan Kemenkes telah menyediakan layanan untuk berhenti merokok di fasilitas kesehatan. Representatif WHO Indonesia N. Paranietharan berharap pemerintah Indonesia dapat berperan dalam penurunan prevalensi penggunaan tembakau di dunia. Khususnya, untuk mencapai target SDGs mengurangi prevalensi penggunaan tembakau sebanyak 40% di tahun 2030.

*(Penulis Ripsidasiona/Penyunting Fachrudin Ali Ahmad)

Lebih lanjut Dante menyebutkan terpenting angka promosi untuk merokok ini semakin meningkat baik melalui media sosial, elektronik, maupun media promosi lainnya. “Yang paling signifikan adalah peningkatan melalui media internet dimana tahun 2011 iklan di internet hanya sekitar 1,9%. Naik sepuluh kali lipat menjadi 21,4% tahun 2021,” tegas Dante.

Wamen mengatakan tantangan semua pihak untuk melakukan berbagai macam konsep strategi agar rokok menjadi salah satu elemen yang harus dibangun edukasinya. “Karena itu saya mengharapkan beberapa hal yang harus kita perbaiki sama-sama,” ungkapnya lebih jauh.

Wamen mengajak media dapat turut berperan untuk menggaungkan kepada anak muda bahwa merokok itu bukan sesuatu yang baik dan akan mengganggu kesehatan saat usia lanjut. Komplikasi bahaya rokok akan membawa implikasi pada pembiayaan jangka panjang. Hal ini disebabkan risiko berbagai macam penyakit seperti penyakit jantung, pembuluh darah, dan kanker dapat meningkat setelah penggunaan rokok dalam waktu panjang.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Maria Endang Sumiwi menyatakan salah satu temuan yang baik dari survei GATS 2021 adalah 2/3 dari perokok ingin berhenti. Terkait hal itu Maria mengungkapkan Kemenkes telah menyediakan layanan untuk berhenti merokok di fasilitas kesehatan. Representatif WHO Indonesia N. Paranietharan berharap pemerintah Indonesia dapat berperan dalam penurunan prevalensi penggunaan tembakau di dunia. Khususnya, untuk mencapai target SDGs mengurangi prevalensi penggunaan tembakau sebanyak 40% di tahun 2030.

*(Penulis Ripsidasiona/Penyunting Fachrudin Ali Ahmad)

25 Pejabat Fungsional dan PNS BKPK dilantik

Jakarta – Sekretaris Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK), Nana Mulyana melantik enam pejabat fungsional perencana dan mengambil sumpah 19 Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan BKPK pada Senin, 30 Mei 2022. Dalam sambutannya Nana menyampaikan bahwa BKPK adalah institusi hasil transformasi dari Badan Litbangkes. Menurut Nana pejabat fungsional yang ada dilingkungan internal BKPK adalah pejabat fungsional yang dibutuhkan dalam pelaksanaan organisasi BKPK.

“Sebagai think thank-nya Kementerian Kesehatan, BKPK memiliki enam tugas dan fungsi. Yang paling krusial ada tiga, yang pertama adalah bagaimana BKPK harus melakukan analisis dan mengawal rekomendasi kebijakan. Yang kedua BKPK harus melakukan sinergi dan integrasi dalam pencapaian pembangunan kesehatan, dan yang ketiga melakukan evaluasi pembangunan kesehatan,” tutur Nana.

Lebih lanjut Nana menjelaskan bahwa selain tugas yang termaktub dalam Permenkes Nomor 5 tahun 2022 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan, ada beberapa tugas yang melekat di masing-masing Pusat Kebijakan. “Di Pusat Kebijakan Upaya Kesehatan ada tugas tambahan dari Menteri Kesehatan untuk mengawal studi atau riset kesehatan dan mengoordinasikan uji vaksin. Sementara di Pusat Kebijakan Sistem Ketahanan Kesehatan dan sumber Daya Kesehatan mengawal laboratorium dalam masa transisi; Pusat Kebijakan Pembiayaan dan Desentralisasi Kesehatan mengawal pembiayaan dan jaminan kesehatan; dan Pusat Kebijakan Kesehatan dan Teknologi Kesehatan mengawal kerjasama luarnegeri ,” jelas Nana.

Pada akhir sambutannya, Nana menyampaikan harapannya kepada para pejabat fungsional yang dilantik dan PNS yang diambil sumpah untuk mempelajari tugas dan fungsi masing-masing Pusat Kebijakan. Nana juga berpesan untuk para pejabat fungsional dan PNS untuk menyinergikan indikator kinerja individu dengan indikator kinerja organisasi yang tertuang dalam Indikator Kinerja Program (IKP) dan Indikator Kinerja Kegiatan (IKK).

Berikut adalah daftar nama pejabat fungsional yang dilantik dan diambil sumpah:

  1. Agnes Putri Apriliani, S.Si, M.E sebagai Perencana
  2. Ervina Agustin Rantauwati, S.A.B sebagai Perencana
  3. Frita Ramdaniar,S.I.Kom, MAP sebagai Perencana
  4. Syofa Nur Akperawati, SE sebagai Perencana
  5. Audra Heningtyas, SKM, MKM sebagai Perencana
  6. Tinton Mohammad Akbar, S.IP, MKM sebagai Perencana
  7. Ni Kadek Krisma Agneswari, A.Md.
  8. Afrida Hayati Ritonga, S.A.P.
  9. Elfys Ferdynan, S.Si.
  10. Raras Anasi, S.Stat.
  11. Ely Hujjatul Fikriyah, S.Stat.
  12. Afifah Nsyahta Dila, M.P.H.
  13. Ana Farida, S.KM.
  14. Rahmi Amelia, S.Si.
  15. Aprilia Safrida Putry, S.E.
  16. Muhammad Arif Mustofa, SE.
  17. Putri Widya Astuti, A.Md.AK.
  18. Ahmad Khumaidi Annaja, S.Si.
  19. Fraschiska Rizky Restuningtyas, S.Stat.
  20. Kristiana Yunitaningtyas, S.Si.
  21. Siswa Puput Pamungkas, A.Md.
  22. Putri Novianti, S.Stat.
  23. Willy Kurniadi, A.Md.
  24. Herianti, S.Si.
  25. Anggrini Siringoringo, S.Kom.

*(Penulis berita:Dian Widiati)

12,541FansLike
3,200,000FollowersFollow
4,251,000FollowersFollow
3,251,580FollowersFollow
9,320SubscribersSubscribe